LOGINJudul: Istri Polosku yang Menggairahkan Female lead : Melati Anjani (23 Tahun) Male Lead : Arka Dirgantanra (35 Tahun) Istri pertama ML : Kirana Paramitha (28 Tahun) Ayah FL : Slamet Riyadi (60 tahun) Langit kelabu di atas proyek pembangunan gedung pencakar langit seolah merangkum kedukaan yang meretak di hati Melati Anjani (23 tahun). Gadis desa yang lugu itu harus menanggung derita ganda setelah ibunya tiada sejak usia 12 tahun, dan kini sang ayah, Slamet Riyadi, tewas tertimpa besi penyangga demi menyelamatkan nyawa pemilik proyek. Semasa hidup, Melati kerap dititipkan pada sang bibi saat ayahnya merantau. Di detik-detik terakhir di rumah sakit, Slamet mengajukan permintaan berat kepada Arka Dirgantara (35 tahun), pengusaha sukses yang diselamatkannya. Tanpa tahu Arka sudah beristri, Slamet meminta Arka menikahi Melati agar putrinya tidak sebatang kara. Dilanda rasa bersalah dan hutang nyawa, Arka terpaksa berjanji dan mengikatkan diri sebelum Slamet wafat. Hari-hari berikutnya membawa Melati ke dalam pusaran dunia mewah Arka. Arka pulang membawa beban batin yang menghancurkan hatinya karena harus berhadapan dengan Kirana Paramitha (28 tahun), istri tercinta yang sangat ia agungkan. Kirana seketika terguncang saat mendapati suaminya membawa pulang seorang istri kedua demi memenuhi sumpah di ambang kematian. Di bawah satu atap, ketiganya terjebak dalam dilema yang menyesakkan. Melati dengan kepolosan alaminya tanpa sadar memancarkan pesona memikat yang memicu gejolak hasrat dan menguji pertahanan batin Arka. Di tengah rasa bersalah Melati yang merasa menjadi duri serta kecemburuan Kirana yang menggerogoti jiwa, Arka terombang-ambing di antara janji suci kepada mendiang Slamet dan cinta mendalam pada istri pertamanya. Akankah pesona lugu Melati meruntuhkan segalanya, atau justru menghancurkan hati mereka bertiga dalam pusaran dilema yang memabukkan?
View MoreDeru angin proyek pencakar langit di pusat ibu kota mendadak berubah menjadi jeritan ngeri ketika bunyi besi bergemeretak patah di udara.
Sebuah crane pengangkut material berat kehilangan keseimbangan, meluncur deras dari lantai atas dan menghantam struktur kerangka utama. Di bawahnya, Arka Dirgantara pria berusia 35 tahun tengah melakukan inspeksi lapangan bersama beberapa mandor. Pria berdarah dingin dan sukses besar itu terpaku seketika, menatap bayangan maut yang jatuh tepat ke arahnya tanpa sempat menghindar. Namun, sebelum hantaman besi seberat ratusan kilogram itu meremukkan tulangnya, sebuah tubuh paruh baya menerjang dari samping dengan sekuat tenaga. Brak! Tubuh Arka terpelanting jauh keluar dari zona bahaya, jatuh berguling di atas hamparan beton kasar dengan napas terengah-engah dan luka lecet di sekujur tangan serta jas kerjanya yang robek. Tapi nahas bagi sang penyelamat. Slamet Riyadi yang sudah berusia 50 tahun, buruh bangunan senior yang bertaruh nyawa di detik-detik krusial itu, tidak sempat menyelamatkan diri. Besi raksasa tersebut menimpa tubuh bagian bawahnya, mengakhiri napas penuh peluh dari seorang ayah yang selama ini hidup setengah mati demi masa depan putri tunggalnya. Suara monitor detak jantung di ruang IGD Rumah Sakit Central Medika berderu monoton, mengiringi detik-detik terakhir kehidupan Slamet. Di sisi ranjang, Arka berdiri kaku bagai patung batu. Jas mewahnya kotor oleh debu proyek dan bercak darah sang buruh yang merembes ke lantai putih rumah sakit. Rasa bersalah yang begitu pekat menghantam dada Arka tanpa ampun, menguras seluruh oksigen di paru-parunya. Nyawanya utuh, raga dan kesuksesannya terselamatkan, tetapi harga yang harus dibayar adalah nyawa seorang pria tak berdosa yang memiliki keluarga yang menantinya di rumah. Dengan sisa tenaga terakhirnya yang kian menipis, tangan kasar, legam, dan penuh kapalan milik Slamet terulur lemah dari balik selimut putih, meraba jemari Arka yang masih gemetar. Napasnya tersengal-sengal, berpacu dengan detik-detik maut yang kian mendekat. "Tuan... anak saya... Melati..." bisik Slamet patah-patah, suaranya nyaris tenggelam di antara bunyi alat medis yang bising. "Ibunya sudah tiada sejak ia berusia dua belas tahun... Dia sendirian di dunia ini, Tuan... Tolong... demi nyawa yang Tuan ambil... nikahi dia... jadikan ia isterimu... Lindungi masa depannya..." Arka tertegun, darahnya mendadak berdesir dingin hingga ubun-ubun. Permintaan itu begitu gila, begitu berat untuknya. Arka ingin menolak, ingin segera menjelaskan bahwa ia telah memiliki Kirana Paramitha, istri tercinta yang sangat ia agungkan, perempuan lembut yang menjadi belahan jiwa sekaligus rumah tempat ia pulang. Lidahnya kelu, sebelum kata-kata penolakan itu sempat meluncur dari bibirnya, mata sayu Slamet menatapnya dengan keputusasaan mutlak seorang ayah yang sebentar lagi meninggalkan putrinya seorang diri di dunia yang kejam. Di detik-detik terakhir itu, beban hutang nyawa meremukkan pertahanan Arka sepenuhnya. Tanpa sadar, bibir Arka bergetar lalu mengangguk lemah. "Saya... saya berjanji," bisik Arka lirih, mengikat takdirnya pada sebuah sumpah mati yang berat. Seketika itu juga, garis pada layar monitor EKG melurus, menandakan berhentinya denyut nadi Slamet Riyadi. Pria paruh baya itu pergi dengan sisa senyum kelegaan di wajahnya, meninggalkan Arka dalam kurungan janji yang siap menghancurkan seluruh hidup yang telah ia bangun. Malam telah larut ketika mobil mewah Arka memasuki pekarangan rumah megah bergaya modern minimalis di kawasan elit. Di ruang keluarga yang hangat, Kirana Paramitha, menyambut kepulangan suaminya. Perempuan bergaun tidur sutra lembut itu tersenyum manis, melangkah mendekat untuk mengambil tas kerja dari tangan Arka sebelum memberikan pelukan hangat yang biasanya selalu menjadi pelabuhan teraman bagi pria itu. Kirana sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan maut di proyek, tidak pula tahu tentang janji sakral yang baru saja diikrarkan suaminya di rumah sakit. Namun, malam itu, Arka tampak begitu berbeda. Pelukannya terasa hampa, dan tatapannya kosong menerawang jauh menembus dinding kaca rumah mereka. Kirana mengerutkan keningnya, meletakkan secangkir teh chamomile hangat di atas meja marmer di hadapan Arka yang duduk melamun di sofa. Ia duduk di sebelah suaminya, lalu mengusap lembut punggung tangan Arka yang terasa dingin. "Kamu dari tadi melamun terus, Mas," ucap Kirana dengan suara halusnya yang menenangkan. "Apa ada masalah di proyek pembangunan gedung baru itu? Wajahmu pucat sekali, bajumu juga... ada noda apa ini?" tanya Kirana cemas, jarinya hampir menyentuh bercak kecokelatan di lengan jas Arka. Arka dengan cepat menarik tangannya, menghindari sentuhan itu bukan karena benci, melainkan karena rasa bersalah yang teramat besar membakar dadanya. Ia menatap mata jernih Kirana, perempuan yang mengisi setiap jengkal napas dan hatinya dengan tatapan penuh tersiksa. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya kelelahan biasa di kantor," bohong Arka dengan suara serak yang dipaksakan stabil. Ia meneguk teh buatan istrinya, berharap cairan hangat itu bisa melunturkan batu besar yang menyumbat tenggorokannya. Kirana menghela napas panjang, menatap suaminya dengan penuh kelembutan dan sorot mata sarat kasih sayang. "Jangan terlalu memforsir diri, Mas. Apapun beban pekerjaan itu, kita hadapi bersama. Kamu tahu aku selalu ada untukmu, kan?" Mendengar kalimat tulus itu, hati Arka serasa dihujam ribuan jarum tak kasat mata. Bagaimana jika kamu tahu aku baru saja berjanji untuk membawa perempuan lain ke rumah ini sebagai istriku? batin Arka berteriak nelangsa. Pergulatan batin yang hebat seketika meremukkan jiwanya. Di satu sisi, ada cinta sucinya kepada Kirana, perempuan yang tak boleh sedikit pun tersakiti oleh kehadiran orang asing. Di sisi lain, ada sumpah atas nama nyawa yang harus ditepati kepada seorang pahlawan yang telah terbujur kaku di kamar jenazah. Malam itu, di balik dekap hangat Kirana yang tidak tahu apa-apa, Arka mengambil keputusan paling kejam dan pengecut yang pernah ia buat dalam hidupnya. Ia memutuskan untuk menyembunyikan kebenaran ini rapat-rapat untuk sementara waktu. Keesokan paginya, ambulans yang membawa peti jenazah Slamet Riyadi diberangkatkan menuju sebuah desa terpencil di kaki bukit. Arka memerintahkan asisten pribadinya untuk mengurus semua administrasi kantor dan kompensasi besar bagi keluarga korban, sementara ia sendiri memilih ikut mengawal kepulangan jenazah sang buruh hingga ke liang lahat. Di balik niatnya menghormati sang pahlawan, tersimpan sebuah misi berat yang akan mengubah jalannya takdir tiga manusia. Setibanya di rumah duka yang sederhana dan berdinding bilik bambu di desa tersebut, suasana langsung pecah oleh isak tangis pilu para pelayat yang memadati halaman. Di sisi pusara yang baru digali, berdiri seorang gadis belia berbalut pakaian hitam sederhana. Melati Anjani. Gadis berusia 18 tahun dan berwajah sangat polos, dengan mata sembab akibat menangis seharian, memancarkan pesona alami yang begitu rapuh sekaligus memikat di tengah duka mendalam yang melilit tubuhnya. Saat prosesi pemakaman selesai dan para tetangga perlahan membubarkan diri meninggalkan area pemakaman yang basah oleh sisa hujan, Arka melangkah mendekati Melati yang kini terduduk seorang diri di atas tanah makam ayahnya. Langkah kaki sepatu mahalnya berderak di atas tanah becek, menghentikan tangis tertahan gadis itu. Arka menarik napas dalam-dalam, menelan seluruh sisa harga diri dan arogansinya sebagai seorang konglomerat besar. Dengan sorot mata penuh beban penyesalan, pria itu berlutut satu kaki di hadapan Melati, menyetarakan pandangannya dengan gadis belia yang tengah menatapnya dengan tatapan kosong penuh air mata. "Melati..." panggil Arka pelan, suaranya bergetar berat di udara sore yang mulai kelabu. "Ayahmu... Slamet Riyadi, telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan nyawaku di proyek itu." Melati mendongak perlahan, menatap pria asing berjas rapi yang tampak begitu kontras dengan kesederhanaan desa tempat tinggalnya, bibir gadis itu bergetar. "Dan sebelum napas terakhirnya berhenti di rumah sakit," lanjut Arka dengan nada yang semakin serak, menatap lurus ke dalam manik mata Melati yang polos, "Ayahmu meminta satu hal yang berat kepadaku. Ia tidak ingin kamu hidup sebatang kara di dunia ini tanpa perlindungan." Melati terdiam, air matanya kembali tumpah membasahi pipi mulusnya. "Ayah... ayahku sudah tidak ada..." cicitnya pilu. Arka memejamkan mata sejenak, mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya untuk mengucapkan kalimat yang akan menjungkirbalikkan hidup mereka berdua. "Mulai hari ini, kamu ikut aku ke kota, Melati. Bukan sebagai tanggungan, bukan pula sebagai pekerja... tapi sebagai istri sahku. Sesuai dengan janji terakhir yang harus aku tepati kepada ayahmu."Langkah kaki Arka bergegas meninggalkan kamar pengantin dengan dada yang bergemuruh hebat dan napas tersengal. Ia tidak kembali ke kamar utama, melainkan melarikan diri ke kamar tamu, tempat ia menghabiskan malam sebelum resmi menikahi Melati. Di dalam ruangan yang sunyi itu, pertahanan pria matang yang terbiasa memegang kendali dunia bisnis seketika runtuh berkeping-keping. Arka menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang, mencengkeram kuat-kuat rambutnya dengan kedua tangan, lalu membiarkan isak tangis yang menyayat hati pecah dari tenggorokannya.Arka tersedu-sedu, air matanya tumpah menahan beban batin yang teramat berat. Ia merasa jijik sekaligus hancur pada dirinya sendiri, selama sepuluh tahun pernikahannya dengan Kirana, ia selalu membanggakan diri sebagai seorang suami yang setia, pria yang menjaga kesucian ikrar suci tanpa pernah melirik perempuan lain barang sedetik pun. Namun, malam ini, hanya karena kecantikan alami dan kepolosan luar biasa dari seorang gadis desa bernam
Suara sahutan para saksi dan tetangga yang mengamini akad pernikahan tadi masih menyisakan kehangatan di udara. Sesaat setelah penghulu menutup doanya, Melati Anjani menoleh ke samping. dengan gerakan yang masih canggung namun penuh rasa takzim seorang istri, gadis itu meraih tangan kanan Arka Dirgantara, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Air mata kelegaan meleleh di pipi mulusnya.Melihat ketulusan luar biasa dari istri mudanya, Arka merasakan desiran hangat yang asing di dadanya. Pria matang itu mengangkat tangan kanannya, lalu menangkup lembut puncak kepala Melati yang tertutup jilbab putih sederhana. Di hadapan para kerabat dan Bibi Rasti yang memandang dengan senyum penuh haru, Arka memejamkan mata dan melantunkan doa dalam hati, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk melindungi, membimbing, dan adil pada takdir baru yang kini berada dalam genggamannya."Alhamdulillah... barakallah, Nak Melati, Nak Arka," ucap Bibi Rasti tersedu samb
Suara ketukan pelan di daun pintu kamar menyadarkan Melati dari isak tangisnya yang panjang. Gadis itu mendongak, menyeka sisa air mata di pipinya yang masih basah. Pintu berderit pelan, memperlihatkan sosok wanita paruh baya berwajah teduh melangkah masuk. Bibi Rasti menghampiri keponakannya, lalu duduk di tepi ranjang sempit itu. Tanpa kata, ia merengkuh tubuh gemetar Melati ke dalam dekapannya yang hangat. "Nangislah sepuasmu, Nak..." bisik Bibi Rasti seraya mengelus lembut rambut panjang Melati. "Keluarkan semua sesak di dadamu. Tapi setelah ini, kamu harus mendengar Bibi bicara dari hati ke hati." Melati mendongak, menatap mata bibinya yang juga berkaca-kaca. "Bi... apa benar Ayah pergi karena menyelamatkan pria asing itu? Dan pria itu... dia datang untuk meminta aku menikahinya?" Melati memegang tangan Rasti. "Bibi, aku takut. Aku tidak kenal siapa dia, dan aku tidak ingin hidup dalam keterpaksaan," ucap Melati lirih. Bibi Rasti tersenyum tipis, sorot matanya meny
Kata-kata Arka barusan menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan di antara deru napas tertahan Melati.Gadis berusia delapan belas tahun itu terkesiap, mundur selangkah dengan mata terbelalak tak percaya. Di tengah badai duka yang meremukkan hatinya karena kehilangan sang ayah, tiba-tiba seorang pria asing berpenampilan mewah datang menawarkan diri untuk menikahinya, menjadikannya istri, menggantikan posisi seorang ayah."Menikah...?" suara Melati tercekat, terdengar begitu rapuh dan bergetar hebat. Ia menatap Arka dengan tatapan tidak suka sekaligus ketakutan yang nyata. "Anda ini bicara apa, Tuan? Jangan bercanda di atas makam Ayah saya! Ini sama sekali tidak lucu!"Arka berdiri perlahan, merapikan jasnya yang sedikit kotor dengan gerakan kaku. Hatinya bergemuruh hebat, terasa sangat berat dan sesak saat bayangan wajah Kirana, istri tercintanya, tiba-tiba melintas tajam di benaknya. Rasa bersalah menghantam dada Arka seperti palu godam. Kirana... maafkan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.