Masuk"Sari sudah masuk," jawab Sari pelan. Tapi suaranya mantap. "Tadi pagi. Tadi malam. Sari sudah tandai dia."
Caca terdiam 3 detik. Lalu... dia tertawa. Tawanya melengking, memecah keheningan kuburan. Burung gagak di pohon beringin terbang berhamburan. "Hahaha... Sari gila! Sari benar-benar gila!" Caca memegang perutnya yang tidak ada isinya. "Kau tahu tidak? Desi bilang kau cuma berani bisikin nama target latihan. Ternyata kau langsung sikat CEO Anderson Group?! Gila, Sar! Kau gila!" "Aku tidak gila," Sari mendongak. Matanya menatap tajam ke mata Caca. "Aku mencintainya." Tawa Caca berhenti seketika. Wajahnya berubah. Tidak lagi mengejek. Sekarang serius. Serius seperti wajah orang yang mau menyampaikan berita kematian. Dia meraih tangan Sari. Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Sama-sama dingin. "Dengar, Sar," bisik Caca. Suaranya pelan, hanya Sari saja yang dapat mendengarnya. "Aku sahabatmu. Sahabat terbaikmu. Makanya aku bilang jujur. Manusia itu... mereka tidak setia. Bahkan setelah mati. Terutama setelah mati mereka akan tetap berulah." Caca menunjuk nisan Bu Devani di kejauhan. "Lihat Ibu Guru. Dulu dia manusia paling cantik di kota ini. Suaminya mengatakan sumpah setia sampai mati. Tapi begitu Ibu Guru mati... 7 hari. Hanya 7 hari, Sar. Suaminya membawa wanita lain ke rumah mereka. Tidur di ranjang yang sama." Sari menarik tangannya. "Stiven tidak seperti itu." "Semua manusia bilang begitu di awal," Caca menirukan suara Bu Devani. Lalu dia menghela napas. Gaun merahnya meredup, seperti kehilangan cahaya. "Aku tidak mau kau sakit, Sar. Aku sudah melihat kau mati sekali. Aku tidak mau melihat kau mati untuk kedua kalinya. Mati karena patah hati. Itu lebih sakit daripada mati ketabrak kereta." Sari memeluk Caca erat. Tubuh mereka saling menembus, tapi anehnya... terasa hangat. Hangatnya hubungan persahabatan. "Aku tahu, Ca. Aku tahu semua risikonya," bisik Sari di telinga Caca. "Tapi kalau Sari tidak mencobanya... Sari akan menyesal selamanya. Di alam ini. Di alam baka. Di neraka manapun itu Sari berada." Caca membalas pelukan itu. Tangannya mengelus rambut Sari yang kusut. "Bodoh kau, Sar. Bodoh tapi... aku iri." "Iri?" "Iri karena kau berani," Caca melepaskan pelukan. Matanya berkaca-kaca. Tapi hantu tidak bisa menangis. Air matanya tidak akan jatuh. "Aku suka Glen juga. Anak manusia yang kerja di toko bunga depan pemakaman ini. Tapi aku tidak berani seperti kau. Aku hanya bisa melihat dia dari kejauhan. Setiap pagi. Sambil membawa buket bunga yang dia tidak akan pernah lihat." Sari tersenyum tipis. Senyum pertama malam itu yang terlihat tulus. "Lalu kenapa kau memakai gaun merah? Gaun ini... gaun yang Glen bilang cantik waktu dia cerita ke pelanggannya." Caca terkejut. Lalu dia tertawa kecil, merasa malu. "Ketahuan ya? Dasar kau, Sar. Mata hantu memang tajam ya?" Mereka berdua terdiam. Duduk bersebelahan di atas nisan tanpa nama milik Sari. Kaki mereka melayang. Gaun putih dan gaun merah kontras di bawah sinar bulan yang tertutup awan. "Jadi... bagaimana rasanya?" tanya Caca akhirnya. Suaranya penasaran seperti anak kecil. "Masuk ke mimpi manusia? Menyentuh dia? Menggigit pipinya?" Sari menutup mata. Mengingat sentuhan terakhirnya ke leher Stiven. Dingin, tapi Stiven mengerang pelan. Mengingat rasa takut di mata Stiven... tapi juga ada rasa yang lain. Rasa yang Sari tidak mengerti namanya. "Hangat," jawab Sari jujur. "Bukan hangat seperti matahari. Tapi hangat seperti... ingin pulang." Caca menyandarkan kepalanya di bahu Sari. "Kalau begitu... aku akan mendukungmu, Sar. Tapi berjanjilah padaku. Kalau kau sakit, kalau Stiven itu menyakitimu... bilang padaku. Kita hantui dia bareng-bareng. Kita buat hidupnya seperti di neraka." Sari mengangguk. Air mata darahnya sudah berhenti. Yang tersisa hanya tekad. "Janji," kata Sari. Dia membuka buku catatannya lagi. Di halaman kosong, dia menulis nama baru di bawah nama Stiven. Dengan lipstik merahnya. _"Caca. Sahabat dunia akhiratku."_ Caca melihat tulisan itu. Dia tersenyum. Kali ini senyumnya tidak menyeramkan. Senyum tulus seorang sahabat. Dari kejauhan, suara lonceng gereja tua berbunyi 12 kali. Di tengah malam. "Jam 12," bisik Caca. "Stiven pasti sudah tidur sekarang." Sari berdiri. Mata hitamnya menyala merah. "Kalau begitu... Sari pamit dulu, Ca. Ada calon suami yang harus Sari temani tidurnya." Caca ikut berdiri. Dia merapikan rambut Sari yang berantakan. "Hati-hati, Sar. Ingat pesan Ibu Guru. Jangan serakah. Ambil sedikit-sedikit jiwanya. Kalau kau ambil semua sekaligus... dia mati. Dan kau akan kehilangan dia selamanya." "Aku tahu," Sari mencium kening Caca. Ciuman dingin seorang hantu untuk sahabatnya. "Terima kasih, Ca. Untuk tidak melarang Sari." Caca melambai saat tubuh Sari perlahan menghilang jadi kabut putih. Sebelum hilang sepenuhnya, Sari berbisik: "Doakan Sari, Ca. Doakan Sari bisa buat Stiven mencintai Sari balik... sebelum fajar menyingsing." Kabut itu lenyap. Hanya menyisakan aroma melati busuk dan satu helai rambut hitam di atas nisan. Caca memungut helai rambut itu. Dia genggam erat-erat seakan takut kehilangan. "Selamat berjuang, sahabatku," bisiknya ke udara kosong. "Semoga kau mendapatkan cinta yang tidak pernah aku dapatkan." Di kejauhan, pintu gerbang pemakaman berderit terbuka sendiri. Seakan menyambut Sari yang mau pergi ke dunia manusia. Malam masih panjang. Dan cinta seorang hantu... baru saja dimulai.Angin malam berdesir pelan di antara celah-celah jendela gedung tua itu. Cat temboknya sudah terkelupas, memperlihatkan bata merah yang kusam. Sebagian kaca pecah, dan pagar besinya berkarat seperti sudah puluhan tahun tidak disentuh manusia. Rumput liar tumbuh menembus celah paving, dan di plang depannya masih terbaca samar dengan cat yang mengelupas: _RS. Harapan Sejahtera_. Tempat ini dulu rumah sakit. Sekarang orang-orang menyebutnya gedung seram. Anak-anak tidak berani lewat sini saat magrib. Ojek online menolak kalau dapat orderan ke daerah sini malam-malam. Katanya sering ada suara tangisan dari lantai 3. Katanya sering ada bayangan perempuan di jendela kamar 204.Dan di depan gerbangnya, seorang gadis berdiri sendirian.Sari.Dia tertawa.Tawanya pecah, nyaring, menggema sampai memantul di dinding kosong gedung itu. Tawa yang kalau didengar orang lewat pasti akan membuat bulu kuduk merinding. Karena tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya dia. Hanya bayangan dan rongsokan masa l
Jam sudah menunjukkan pukul 23.55. Udara hutan seperti basah. Tapi bukan bau air yang tercium. Bau anyir besi tua memenuhi hutan. Langkah Stiven patah-patah di tanah licin. Napasnya berat. Jesika di belakangnya menggenggam ujung baju Stiven erat-erat, sampai buku jarinya putih. Nenek Rouli paling depan. Tongkat kayunya mengetuk batu tiap 3 langkah. _Tok... tok... tok..._ seperti menghitung mundur nyawa mereka. "Kokokan kedua," bisik Nenek Rouli tanpa menoleh. Suaranya serak, ketelan angin. "Tinggal satu. Kalau ayam ketiga berkokok sebelum kita sampai ke batu nisan Sari... roh itu akan ikut pulang bersama kita." Jesika menelan ludah. "Masih jauh, Nek?" "Di ujung. Lewat pohon beringin yang batangnya berdarah itu." Stiven mendongak. Dan darahnya dingin. Di depan mereka, pohon beringin tua. Batangnya sebesar 3 orang dewasa. Kulit kayunya retak-retak. Dan dari retakan itu, merembes cairan merah kental. Bukan getah. Terlalu kental. Terlalu berbau besi. "Astaga..." Jesi
Rambut putih panjang disanggul rapi, mata tajamnya seperti bisa melihat isi hati keduanya. Di tangannya tongkat kayu tua menjadi penyangga tubuh rentanya. "Kalian terlambat," suara nenek itu terdengar serak tapi tegas. "Roh itu sudah marah karena kalian membawa dia sampai ke sini." Stiven langsung bersujud. "Nenek Rouli? Tolong kami, Nek. Ada roh gadis SMA namanya Sari. Dia bilang saya takdirnya. Dia selalu mengganggu saya tiap jam 10 malam. Teman saya koma karena ulah dia." Nenek Sumi menatap Stiven lama. Lalu menatap Jesika. Hidungnya kembang kempis seperti mencium bau tidak sedap. "Kau membawa bau kuburan," kata Nenek Rouli ke Stiven. "Dan kau," dia menunjuk Jesika, "kau membawa bau darah segar. Kau mau mati untuk sahabatmu." Tubuh Jesika menggigil. "Saya... saya hanya mau Cindi hidup, Nek." Nenek Rouli masuk ke dalam rumah. "Masuk. Sebelum ayam jantan berkokok ketiga kali. Kalau tidak, roh itu akan ikut masuk." Di dalam rumah: dinding dipenuhi jimat, tengkorak ayam,
Hari Kedua Hukuman Sari - 19.47, Apartemen Stiven.Jam dinding menunjuk 19.47. Tinggal 13 menit lagi menuju jam 10 malam. Jam yang Sari janjikan.Stiven duduk di sofa, dasinya berantakan. Di pipinya bekas lipstik merah sudah dia hapus 7 kali, tapi tetap muncul lagi. Tulisan "Milik Sari" di dadanya terasa panas seperti disetrika."Kau yakin mau ikut?" Stiven menatap Jesika yang sedang scroll HP cepat. "Ini bukan urusan manusia biasa, Jes."Jesika tidak menoleh. Matanya fokus ke layar. "Kalau bukan urusan manusia biasa, terus urusan siapa? Stiven, Cindi koma karena hantu yang tergila-gila padamu itu. Kau juga hampir mati tiap jam 10 malam. Jadi ini urusan kita bertiga."Dia mengetuk layar HP. "Dapat! Grup Facebook 'Misteri Sumatera Utara'. Ada yang bahas 'Nenek Rouli, dukun pengusir roh gentayangan'. Komentar orang-orang: 'Anak saya kesurupan 3 tahun, sekali diterapi nenek langsung sembuh'. 'Lokasinya di Desa Huta Silalahi, 2 jam dari jakarta. Masuk hutan sekitar 3 jam-an, Stive'."Stiv
"Stiven, boleh bicara sebentar?" Jesika menarik Stiven keluar ruangan. Di koridor kosong, Jesika langsung menatap Stiven tajam. "Jujur, Stiven. Apa yang sebenarnya terjadi pada Cindi?" Stiven menggosok pelipisnya. "Dia ketabrak truk. Sopir bilang dia berhenti di tengah zebra cross. Tidak fokus." "Tidak fokus?" Jesika menyilangkan tangan. "Cindi meneleponku malam sebelum kecelakaan. Dia bilang... dia melihat 'sesuatu' di kantor. Dia bilang dia mendengar kau menyebut nama 'Sari' dalam tidur." Stiven membeku. Punggungnya kaku. "Siapa Sari, Stiven?" Jesika maju selangkah. "Cindi bilang kau ngigau dan menyebut nama itu 3 kali. 'Sari... Sari... Sari'. Dan sejak itu dia berubah aneh. Dia bilang ada bau melati busuk di kantor. Dia bilang kursi sebelahmu sering bergerak sendiri." Stiven tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Jesika menatap mata Stiven dalam-dalam. Mata CEO itu tidak bisa bohong. Ada rasa bersalah. Ada rasa takut. "Stiven," suara Jesika melembut. "Aku tidak tahu
"Saat itu aku menggenggam foto pria yang sangat mirip dengannya." Sari membuka telapak tangannya. Di sana muncul foto kusut, hitam putih. Foto pria berjas mahal, mata tajam, senyum tipis. Wajahnya... 99% mirip Stiven Anderson. Cindi menutup mulut. "Tidak mungkin..." "Mungkin, Cin," Sari menutup foto itu. "10 tahun aku menunggu kehadirannya di kuburan. 10 tahun aku melihat manusia hilir mudik. Tertawa. Menikah. Punya anak. Tapi tidak ada yang mencari aku. Sampai Stiven datang. Dia CEO. Dia bersikap dingin. Dia tidak percaya hantu. Tapi dia memanggil namaku." Sari melangkah maju lagi. Kini jarak mereka hanya 30 cm. Cindi bisa lihat pantulan dirinya di mata hitam Sari yang satu lagi. "Cindi," bisik Sari. Napasnya dingin, tapi tidak mematikan. "Kau sekretarisnya bukan? Kau yang selalu mengantar kopi. Kau yang hafal jadwalnya. Kau yang suka padanya diam-diam." Cindi terkejut. "Aku... aku tidak--" "Bohong," Sari menyentuh pipi Cindi dengan jari dinginnya. Jari itu menembus ku







