Chapter: Bab 15. *Sinar Dibalik Luka*Angin malam berdesir pelan di antara celah-celah jendela gedung tua itu. Cat temboknya sudah terkelupas, memperlihatkan bata merah yang kusam. Sebagian kaca pecah, dan pagar besinya berkarat seperti sudah puluhan tahun tidak disentuh manusia. Rumput liar tumbuh menembus celah paving, dan di plang depannya masih terbaca samar dengan cat yang mengelupas: _RS. Harapan Sejahtera_. Tempat ini dulu rumah sakit. Sekarang orang-orang menyebutnya gedung seram. Anak-anak tidak berani lewat sini saat magrib. Ojek online menolak kalau dapat orderan ke daerah sini malam-malam. Katanya sering ada suara tangisan dari lantai 3. Katanya sering ada bayangan perempuan di jendela kamar 204.Dan di depan gerbangnya, seorang gadis berdiri sendirian.Sari.Dia tertawa.Tawanya pecah, nyaring, menggema sampai memantul di dinding kosong gedung itu. Tawa yang kalau didengar orang lewat pasti akan membuat bulu kuduk merinding. Karena tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya dia. Hanya bayangan dan rongsokan masa l
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 14. *Tembok Darah Di Pemakaman Tua* Jam sudah menunjukkan pukul 23.55. Udara hutan seperti basah. Tapi bukan bau air yang tercium. Bau anyir besi tua memenuhi hutan. Langkah Stiven patah-patah di tanah licin. Napasnya berat. Jesika di belakangnya menggenggam ujung baju Stiven erat-erat, sampai buku jarinya putih. Nenek Rouli paling depan. Tongkat kayunya mengetuk batu tiap 3 langkah. _Tok... tok... tok..._ seperti menghitung mundur nyawa mereka. "Kokokan kedua," bisik Nenek Rouli tanpa menoleh. Suaranya serak, ketelan angin. "Tinggal satu. Kalau ayam ketiga berkokok sebelum kita sampai ke batu nisan Sari... roh itu akan ikut pulang bersama kita." Jesika menelan ludah. "Masih jauh, Nek?" "Di ujung. Lewat pohon beringin yang batangnya berdarah itu." Stiven mendongak. Dan darahnya dingin. Di depan mereka, pohon beringin tua. Batangnya sebesar 3 orang dewasa. Kulit kayunya retak-retak. Dan dari retakan itu, merembes cairan merah kental. Bukan getah. Terlalu kental. Terlalu berbau besi. "Astaga..." Jesi
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: Bab 13. *Nenek Rouli di Desa Terpencil*Rambut putih panjang disanggul rapi, mata tajamnya seperti bisa melihat isi hati keduanya. Di tangannya tongkat kayu tua menjadi penyangga tubuh rentanya. "Kalian terlambat," suara nenek itu terdengar serak tapi tegas. "Roh itu sudah marah karena kalian membawa dia sampai ke sini." Stiven langsung bersujud. "Nenek Rouli? Tolong kami, Nek. Ada roh gadis SMA namanya Sari. Dia bilang saya takdirnya. Dia selalu mengganggu saya tiap jam 10 malam. Teman saya koma karena ulah dia." Nenek Sumi menatap Stiven lama. Lalu menatap Jesika. Hidungnya kembang kempis seperti mencium bau tidak sedap. "Kau membawa bau kuburan," kata Nenek Rouli ke Stiven. "Dan kau," dia menunjuk Jesika, "kau membawa bau darah segar. Kau mau mati untuk sahabatmu." Tubuh Jesika menggigil. "Saya... saya hanya mau Cindi hidup, Nek." Nenek Rouli masuk ke dalam rumah. "Masuk. Sebelum ayam jantan berkokok ketiga kali. Kalau tidak, roh itu akan ikut masuk." Di dalam rumah: dinding dipenuhi jimat, tengkorak ayam,
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: Bab 12. *Malam Yang Mengerikan*Hari Kedua Hukuman Sari - 19.47, Apartemen Stiven.Jam dinding menunjuk 19.47. Tinggal 13 menit lagi menuju jam 10 malam. Jam yang Sari janjikan.Stiven duduk di sofa, dasinya berantakan. Di pipinya bekas lipstik merah sudah dia hapus 7 kali, tapi tetap muncul lagi. Tulisan "Milik Sari" di dadanya terasa panas seperti disetrika."Kau yakin mau ikut?" Stiven menatap Jesika yang sedang scroll HP cepat. "Ini bukan urusan manusia biasa, Jes."Jesika tidak menoleh. Matanya fokus ke layar. "Kalau bukan urusan manusia biasa, terus urusan siapa? Stiven, Cindi koma karena hantu yang tergila-gila padamu itu. Kau juga hampir mati tiap jam 10 malam. Jadi ini urusan kita bertiga."Dia mengetuk layar HP. "Dapat! Grup Facebook 'Misteri Sumatera Utara'. Ada yang bahas 'Nenek Rouli, dukun pengusir roh gentayangan'. Komentar orang-orang: 'Anak saya kesurupan 3 tahun, sekali diterapi nenek langsung sembuh'. 'Lokasinya di Desa Huta Silalahi, 2 jam dari jakarta. Masuk hutan sekitar 3 jam-an, Stive'."Stiv
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: Bab 11. *Penjelasan* "Stiven, boleh bicara sebentar?" Jesika menarik Stiven keluar ruangan. Di koridor kosong, Jesika langsung menatap Stiven tajam. "Jujur, Stiven. Apa yang sebenarnya terjadi pada Cindi?" Stiven menggosok pelipisnya. "Dia ketabrak truk. Sopir bilang dia berhenti di tengah zebra cross. Tidak fokus." "Tidak fokus?" Jesika menyilangkan tangan. "Cindi meneleponku malam sebelum kecelakaan. Dia bilang... dia melihat 'sesuatu' di kantor. Dia bilang dia mendengar kau menyebut nama 'Sari' dalam tidur." Stiven membeku. Punggungnya kaku. "Siapa Sari, Stiven?" Jesika maju selangkah. "Cindi bilang kau ngigau dan menyebut nama itu 3 kali. 'Sari... Sari... Sari'. Dan sejak itu dia berubah aneh. Dia bilang ada bau melati busuk di kantor. Dia bilang kursi sebelahmu sering bergerak sendiri." Stiven tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Jesika menatap mata Stiven dalam-dalam. Mata CEO itu tidak bisa bohong. Ada rasa bersalah. Ada rasa takut. "Stiven," suara Jesika melembut. "Aku tidak tahu
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 10. Mimpi Diantara Hidup Dan Mati*"Saat itu aku menggenggam foto pria yang sangat mirip dengannya." Sari membuka telapak tangannya. Di sana muncul foto kusut, hitam putih. Foto pria berjas mahal, mata tajam, senyum tipis. Wajahnya... 99% mirip Stiven Anderson. Cindi menutup mulut. "Tidak mungkin..." "Mungkin, Cin," Sari menutup foto itu. "10 tahun aku menunggu kehadirannya di kuburan. 10 tahun aku melihat manusia hilir mudik. Tertawa. Menikah. Punya anak. Tapi tidak ada yang mencari aku. Sampai Stiven datang. Dia CEO. Dia bersikap dingin. Dia tidak percaya hantu. Tapi dia memanggil namaku." Sari melangkah maju lagi. Kini jarak mereka hanya 30 cm. Cindi bisa lihat pantulan dirinya di mata hitam Sari yang satu lagi. "Cindi," bisik Sari. Napasnya dingin, tapi tidak mematikan. "Kau sekretarisnya bukan? Kau yang selalu mengantar kopi. Kau yang hafal jadwalnya. Kau yang suka padanya diam-diam." Cindi terkejut. "Aku... aku tidak--" "Bohong," Sari menyentuh pipi Cindi dengan jari dinginnya. Jari itu menembus ku
Last Updated: 2026-06-29