LOGINSanay si Daecon na palagi lang nandiyan si Bianca dahil lumaki siyang kasa-kasama na ang babae kaya nang makilala niya ni Zoe Charvi ay nakalimutan niya ito. He enjoyed being together with Zoe not until he learned that Bianca is already seeing some other guy. His mind disagree. His whole being says no. Bianca left with Asher and a realization hit him... He wants his Bianca back. But what if he has to fight against the world just to keep her safe, will he? Pero hanggang saan kayang ilaban ni Daecon si Bianca kung ito mismo ay gusto nang sumuko? Love conquers all, sabi nga...
View More"Sepertinya Ayah membagikan warisan kita sekarang." Bramasta berucap sesaat setelah dirinya masuk ke ruang kerja ayahnya.
Di dalam ruangan, ternyata sudah duduk dengan santai dua orang saudara tirinya. Maria dan Alfa, keduanya sedang asyik dengan ponselnya dan hanya menoleh sekilas ketika melihat kedatangan saudaranya yang paling tua."Aku malah berpikir dia mengumpulkan kita untuk membicarakan rencana pernikahannya yang ke empat," balas Maria. Seperti mereka ketahui, Ayah mereka adalah seorang miliarder yang terkenal sangat royal dan senang bermain wanita."Aku harap, wanitanya lebih tua darimu, aku tidak bisa membayangkan memiliki ibu tiri lagi yang ternyata usianya jauh di bawah usiaku dan usiamu," sela Alfa.Bram hanya terdiam mendengar lelucon kedua adiknya itu, walaupun mereka beda ibu, tapi ayah mereka memperlakukan ketiga anaknya dengan sangat baik, walaupun dirinya telah berpisah dengan semua wanita yang pernah dia nikahi."Iya, aku harap juga demikian. Tapi, aku sedikit ragu, jangan sampai Ayah mengumpulkan kita untuk membahas tentang siapa yang seterusnya akan menjadi penerusnya nanti," ucap Maria lagi, dari bahasanya dia terlihat sedikit sedih."Kamu sebenarnya bodoh atau pura-pura bodoh?" Alfa bertanya dengan tatapan frustasi ke arah Maria, bisa-bisanya kakaknya itu berkata sesuatu yang keduanya sudah tahu jawabannya."Maksud mu?" Maria bertanya balik, walaupun dia bisa menebak kemana arah pembicaraan adiknya, namun dia tak ingin berspekulasi."Kamu tau sendiri, di antara kita bertiga, Bram lah yang paling tua, dia anak pertama dan anak tunggal dari pasangan Ayah dan Mama Janet. Sudah di pastikan hampir semua harta dan kerajaan bisnis jatuh ke tangannya." Alfa berkata dengan sangat jujur, dia tak takut hal itu menyinggung perasaan Bram yang juga sedang berada di ruangan itu bersama mereka."Alfa! Bisakah sekali saja kamu tidak mengungkit hal itu? Walaupun kita ini beda ibu, tetapi aku yakin Ayah akan melihat kita dari potensi, bukan dari silsilah keluarga, lagian Bram pun sudah mendapatkan banyak harta dari Mama Janet, aku rasa dia tak seserakah itu."Ketika sedang berdebat, pintu ruangan kantor Ayahnya terbuka, nampak sosok tua yang sejak tadi di bicarakan berjalan ke arah mereka. Ardiyansyah menatap heran ketiga anaknya."Ada apa kalian ke sini?" tanyanya. Ketiga anaknya saling bertatapan. "Bukankah Ayah yang memanggil kami?" tanya Alfa balik, sebagai anak bungsu, dia memang masih sering ceplas-ceplos kepada orang yang lebih tau tanpa tau melihat situasi."Sepertinya info yang kalian dapatkan salah, aku hanya memanggil Bram, jadi kalian pergilah dari sini!"Tanpa menunggu di usir, Maria dan Alfa bangkit, terlihat wajah kesal dari keduanya."Ya, sepertinya kamu benar. Ayah pasti akan membicarakan tentang warisan. Kadang aku menyesal lahir dari keluarga ini," gumam Alfa kepada Maria.Wanita itu tak menjawab, dia sama kesalnya dengan Alfa, namun karena mereka masih hidup di bawah nama besar Ardiansyah, maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut.Sementara itu, Bram sama sekali tidak mencegah keduanya pergi, dia sebaliknya penasaran apa yang membuat Ayahnya memintanya bertemu berdua saja di jam sibuk dan di kantornya."Sebaiknya, Ayah mengatakan sesuatu yang penting. Aku tidak ingin waktuku terbauang sia-sia," ucap Bram dengan nada sarkastik."Apakah kamu tidak bisa sopan sedikit kepada ku? Walau bagaimanapun, aku adalah Ayahmu," ucap Pak Ardi.Bram hanya diam, tak ingin menanggapi pertanyaan ayahnya itu, dia tak sabar lagi harus menunggu hal apa yang ingin di katakan oleh lelaki yang duduk di depannya itu."Kapan sebenarnya kamu akan benar-benar menghargai hidupmu ini? Berhentilah bersikap kekanak-kanakan, kamu sudah dewasa, umurmu sudah 35tahun.""Aku sudah menghargai hidupku, aku senang dengan apa yang aku jalani sekarang," jawab Bram tegas, dia tidak memberi waktu untuk ayahnya memojokkannya."Apakah benar? Apa kamu tidak ingin mengakui sesuatu kepada ayahmu ini?" Pak Aldy belum menyerah untuk membuat Bram mengatakan kebenaran yang selama ini di tutupi oleh putra yang menjadi kebanggaannya saat ini."Hem, aku tidak mengerti apa yang Ayah maksud," jawab Bram."Ayah baru dapat laporan kalau sebenarnya kamu telah memiliki anak dan aku telah menjadi Kakek!"Bram diam, wajah tampan dan arogannya mendadak datar, sementara pupil matanya membesar namun tak terlihat oleh ayahnya. Sayangnya, perubahan ekspresi Bram hanya sesaat, dia segera merubah air wajahnya dan mengangkat dagu di depan ayahnya.Walaupun rahasia yang selama ini di kuburnya, akhirnya di ketahui oleh orang ayahnya. Dia tak merasa bersalah dan dengan santainya dia membalas ucapan sang ayah."Kalaupun itu benar, aku pastikan Ayah tak akan pernah melihat anak itu, walaupun Ayah menyuruh semua orang kepercayaan Ayah mencarinya ke seluruh tempat." Jawabannya tidak mengelak dan terkesan membenarkan perkataan ayahnya."Katakan, apa maksud mu melakukan itu?" tanya Pak Aldi, dia sama sekali tidak mengerti cara berpikir anaknya."Aku hanya menjaga nama baik keluarga kita, aku mencegah agar Ayah tak malu kepada para kolega dan semua rekan kerja Ayah.""Oh, benarkah seperti itu? Aku ragu. Ayah malah berpikir kamu melakukan itu agar semua kebusukanmu terbongkar, kebiasaan mu bermain perempuan masih bisa tetap kamu lakukan dan kamu tidak harus terikat dengan pernikahan," jawab Pak Aldy, dari sorot matanya yang tajam, dia terlihat benar-benar mengejek anaknya.Bram menyugar rambutnya, dia sama sekali tak suka dengan tuduhan Ayahnya walaupun dalam hati kecilnya, dia membenarkan sedikit dari pernyataan sang Ayah."Apa lagi yang akan kamu katakan, aku harap kamu tidak berpikir untuk mengelabui aku saat ini. Perlu kamu ketahui, orang-orang yang bekerjasama dan menutupi semua kelakuan mu adalah mantan orang-orang kepercayaan ku, jadi tidak akan sulit mencari informasi tentang siapa dan di mana anakmu sekarang."Bram mengangkat dagunya, dia yang beberapa saat menunduk, menatap tak percaya kepada ayahnya."Itu sebuah kesalahan, hanya cinta semalam, itu kecelakaan dan aku sudah membereskan nya!" Bram bersikeras bahwa apa yang telah di lakukannya adalah sesuatu yang benar.Brak!Tanpa Bram duga, Pak Aldi menggebrak meja, kali ini emosinya langsung naik mendengar ucapan Bram yang seperti lelaki tak bertanggungjawab."Kesalahan? Apa kamu pikir anak kecil itu berhak menanggung kesalahan dari kebodohan dan kelicikan mu?" tanyanya dengan rahang mengeras.Bram memalingkan wajah, jika orang yang berdiri di depannya, bukan ayahnya sendiri, sudah pasti dia akan menarik lelaki itu dan menghajarnya habis-habisan."Lalu, apa yang Ayah harapkan?" tanyanya setelah bisa menguasai emosinya. Tangannya masih terkepal kuat di sisi tubuhnya, dia masih berusaha mengendalikan diri.Dia lelaki dewasa berpikiran terbuka, dia sama sekali tak terima di intimidasi seperti itu walaupun oleh ayahnya sendiri."Setidaknya kamu bisa menikahi wanita itu dan memberikan status yang jelas kepada anak kalian," jawab pak Aldi akhirnya."Menikah!" pekik Bram, seketika dunianya rasanya telah kiamat.Ang bilis ng mga pangyayari. Hindi alam ni Daecon kung may oras pa ba siya para mag-isip dahil sa mga sandaling iyon ay nakatulala na lamang siya maging ang katabi niyang si Caelan. Batid niyang maging ang isa sa dalawang founder ng CAU ay nabigla rin dahil sa bilis ng mga pangyayari. Hindi pa man tuluyang na-a-absorb ng isipan nila ang tungkol kay Jean pero heto at nakaharap naman sila sa panibagong rebelasyon. Sa harapan kasi nila ay nakatayo si Jean na nasa anyong lobo at balot ang katawan ng malakas na mahikang maging si Christine ay hindi ito magawang labanan. Nasa labas na silang lahat ng ancestral house ng High Priestess ng Night Shade. Nang makawala si Zoe mula sa pagpipigil ni Kathleen ay kaagad nitong tinulungan si Jean kaya mas lalong lumakas ang babae. At ngayon nga ay pareho nang nakalutang ang dalawang vessel ni Princess Shayna habang balot ang mga katawan ng nakakasilaw na liwanag. Ang huling naalala ni Daecon bago sila napunta sa labas ng bahay ay nang may tila kulay
"Alessia..."Natigilan si Bianca nang marinig ang malamyos na tinig na iyon. Hindi niya alam kung saang lugar siya naroroon. Ang natatandaan lamang niya ay nagising siyang nasa ginta ng walang hanggang kakahuyan. Pamilyar sa kanya ang lugar pero hindi niya maalala kung saan niya ito nakita."Alessia..."Muling narinig ni Bianca ang tinig ngunit hindi niya alam kung saang bahagi ng kakahuyan ito nanggagaling.Luminga sa paligid si Bianca. Sinuyod ng kanyang paningin ang bawat bahaging tanaw ng mga mata niya. Umaasa siyang makikita niya ang babaeng tumatawag sa kanya."Nasaan ka?" pasigaw na tanong ni Bianca ngunit wala siyang nakuhang sagot.Sandaling tumayo sa pagitan ng dalawang matatayog na puno si Bianca at matamang pinagmasdan ang paligid. Talagang pamilyar sa kanya ang lugar na kinaroroonan niya. Alam niyang minsan na siyang nakapunta rito.
Hindi alam ni Zoe kung anong oras na nang imulat niya ang kanyang mga mata basta ang sigurado lang niya ay madilim na sa labas. Wala na siyang nakikitang liwanag na nakikita mula sa siwang ng nakasarang malaking bintana. Sandali niyang ikinurap-kurap ang mga mata para masanay sa malamlam na liwanag na nagmumula sa nakasinding kandila.Biglang natigilan si Zoe. Kandila? Brown out ba?Nagmamadaling bumangon si Zoe mula sa pagkakahiga sa kamang saka pa lang din niya napansing kakaiba ang desenyo na tiyak niyang pang sinauna. Kulay ang pintura ng headboard at tanging ang may kakapalang tela na tila comforter lamang ag sapin. Walang malambot na kama na kagaya ng nakasanayan niya.Wala sa loob na nahilot niya ang balikat na saka pa lang din niya napansing nananakit. Maging ang likod niya ay masakit din dahil siguro sa higaang may katigasan.Ipinig ni Zoe ang ulo bago inalis ang pansin sa higaan niya. Tumayo siya at kahit ma
"Sigurado ka ba sa gagawin mo?" Mula sa ginagawa ay dahan-dahang nag-angat ng paningin si Christine. Binitawan niya ang hawak na kandila at tinitigan si Daecon na bakas sa mukha ang pinaghalong labis na pag-aalala at alinlangan. Pag-aalala para sa kahihinatnan ng gagawin ng High Priestess ng Night Shade at alinlangang baka hindi sila magtagumpay. Paano na si Bianca at si Zoe? Seryoso ang anyo at deritso ang mga matang tiningnan ni Christine si Daecon bago ibinuka ang bibig para magsalita. "This is the only way that I know, Daecon. I need to unlink the soul of Princess Shayna from Zoe's body—" Napatigil sa pagsasalita si Christine nang itaas ni Daecon ang mga kamay at tulirong nagpalakad-lakad sa harapan niya at ni Caelan. "What if we just do the sacri—" "Are you nuts, Sinfield?!" halos dumandong sa loob ng apat na sulok ng library ang boses ni Caelan na siyang nagpatigil sa pinuno ng Frostwood. "And, wh
"Daecon!"Natigilan si Daecon nang marinig ang pamilyar na boses ni Bianca. Kaagad siyang lumingon sa pinanggalingan ng boses at kaagad na lumiwanag ang mukha. His wife is finally home!"Bianca!" Tuwang sigaw ni Daecon bago nagmamadaling humakbang para salubungin ang
"Hey, where are the newly weds?!" Malakas na sigaw ni Akila habang hawak sa isang kamay kopitang may lamang alak at nakatayo kasama si Zachary.Magkasamang dumating ang apat na members ng CAU sa Frostwood na sina Akila, Zachary, Tobias at Austin para dumalo sa celebration ng pag-iisan
"Hey, are you okay?" Tanong Asher kay Bianca na kasalukuyang nakapangalumbaba sa mesa at blangko ang mukhang nakatitig sa kawalan.Nakilala ni Bianca si Asher nang minsang atakehin siya ng mga rebeldeng taong-lobo ilang linggo pagkaraang umalis si Daecon patungo sa M
"What?" Blangko ang mukhang untag ni Daecon kay Bianca nang maramdaman niya ang mahinang paghila nito sa suot niyang leather jacket.Kasalukuyan silang nasa airport dahil ngayon ang alis niya patungo sa Mystic Shadow. Isang teritoryo sa kanluran kung saan siya ipi
Ratings
reviewsMore