分享

Misi mengerjai Raka

作者: Tinta_Jojon
last update publish date: 2026-06-01 19:17:26

Keesokan paginya, sinar matahari yang menembus jendela hotel menerangi sosok Raka yang berdiri di depan cermin. Jas hitam yang telah dikenakannya tampak rapi tanpa sedikit pun lipatan, sementara kedua tangannya sibuk merapikan kerah kemeja untuk terakhir kali.

"Jika nanti aku bertemu Dokter Calista, aku akan meminta maaf atas ucapanku kemarin," gumamnya pelan sambil menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.

Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Raka meraih tas kerjanya dan mel
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pertemuan tak Terduga

    “Dokter Raka...” panggil Dokter Hadi sambil mengenakan tas kerjanya. Ia berdiri dari kursinya dan menoleh ke arah Raka yang masih menatap layar komputer. “Kau tidak pulang?”"Sebentar lagi," jawab Raka tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang sedang diperiksanya. Jemarinya masih bergerak membolak-balik hasil pemeriksaan pasien. "Masih ada beberapa hal yang harus kuselesaikan untuk persiapan besok.""Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan." Dokter Hadi menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. "Jangan bekerja terlalu malam."Raka hanya membalas dengan anggukan kecil. Tak lama kemudian, pintu ruangan tertutup pelan, meninggalkan dirinya kembali larut dalam tumpukan berkas dan keheningan ruang dokter spesialis.Namun tiba-tiba, Dokter Hadi berbalik dan kembali membuka pintu kaca ruang dokter spesialis."Oh iya, dokter Raka," ucap dokter Hadi. "Sekarang kita sudah menjadi rekan kerja. Tidak usah terlalu formal denganku."Raka tertawa sebentar sebelum kembali berkata,"Siap, dokter

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pemeriksaan Ulang

    Waktu terus berlalu, tetapi Calista belum juga kembali. Raka beberapa kali mengangkat pandangannya ke arah jam itu sebelum kembali menatap meja kerja Calista yang masih kosong."Kenapa kau terlihat gelisah seperti itu, Dokter Raka?" tanya Dokter Hadi. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menoleh ke arah Raka yang sejak tadi tampak tidak tenang."Saya akan melakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh kepada Tuan Adrian sebentar lagi," jawab Raka sambil mengembuskan napas pelan. Tatapannya kembali tertuju pada meja Calista. "Tapi Dokter Calista belum juga kembali.""Oh, jadi itu penyebabnya." Dokter Hadi menganggukkan kepala. Ia melirik jam dinding sebelum kembali menatap Raka. "Sepertinya kau harus melakukannya sendiri. Dokter Calista memang sangat jarang kembali ke departemen kalau hari sudah sore."Raka terdiam beberapa saat. Ia akhirnya mengangguk, lalu meraih map rekam medis yang telah dipersiapkannya sejak tadi."Baiklah kalau begitu," ucap Raka sambil berdiri dari kursinya.

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Permintaan Maaf

    Di ruang krematorium, peti jenazah Tuan Baskoro telah dipersiapkan untuk memasuki mesin kremasi. Dua orang petugas berdiri di sisi peti, sementara Raka dan Kevin ikut membantu mendorongnya dengan perlahan. Di sudut ruangan, Nita tetap berada di samping Arvin, menemaninya sejak tadi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Calista melangkah masuk dengan tenang. Kehadirannya membuat beberapa orang menoleh, termasuk Nita dan Arvin yang langsung mengalihkan pandangan ke arahnya."Kakak..." ucap Arvin lirih.Calista membalas dengan senyum tipis, lalu menghampiri Arvin hingga berdiri di sampingnya. "Arvin," ucapnya lembut, "ini adalah kesempatan terakhirmu untuk berpamitan kepada ayahmu."Arvin mengangguk pelan. Ia tidak melangkah mendekati peti jenazah, melainkan memejamkan mata sambil merapatkan kedua telapak tangannya.Ketika peti itu perlahan bergerak memasuki mesin kremasi, bibirnya bergetar menahan tangis. "Ayah... selamat tinggal," ucapnya lirih.

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Nyaris Kehilangan Kendali

    "Rangga Tirta..." ucap Putri Jayasari lirih. Kepalanya masih bersandar di bahu pria itu. "Apakah kau senang telah diangkat menjadi Jenderal Perang?"Rangga Tirta yang semula menegang perlahan memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia menatap lurus ke depan sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan."Sepertinya lebih banyak tidak senangnya," jawab Rangga Tirta."Kenapa?" tanya Putri Jayasari. Ia sedikit mengangkat wajahnya, berusaha mencari jawaban dari ekspresi pria di sampingnya."Tanggung jawab yang hamba pikul kini jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya," ucap Rangga Tirta tenang. "Jika hamba memimpin perang, bukan hanya nyawa hamba yang dipertaruhkan, tetapi juga nyawa seluruh prajurit yang berada di bawah komando hamba.""Lalu?" Putri Jayasari kembali bertanya. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah pria itu. "Apa lagi yang membuatmu tidak senang?"Rangga Tirta terdiam sejenak. Pandangannya kosong menatap lantai sebelum akhirnya tersenyum tipis."Entahlah." Ia menggeleng pelan.

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pertemuan Terlarang

    Setelah pelantikan resmi selesai, para prajurit mengadakan pesta besar untuk merayakan pengangkatan Rangga Tirta sebagai Jenderal Perang Kerajaan Jayantara. Sebelumnya, Rudha Wisesa telah meminta izin kepada Maharaja Jayawardhana untuk mengadakan perayaan tersebut, dan sang raja mengizinkannya. Hingga malam tiba, suara tawa, dentingan gelas, serta alunan musik masih memenuhi camp para prajurit."Rangga Tirta," ucap Rudha Wisesa dengan wajah memerah karena pengaruh arak. "Sedikit sekali kau minum. Ini pesta untukmu, jadi habiskan semuanya."Rangga Tirta hanya tersenyum tipis sambil menatap gelas di tangannya. "Jenderal tahu aku tidak terbiasa minum sebanyak itu," jawabnya tenang sebelum meneguk sedikit arak di dalam gelasnya."Tidak, aku tahu itu bukan alasanmu." Rudha Wisesa menunjuknya dengan gelas yang hampir kosong. "Jika kau benar-benar seorang lelaki, minumlah sampai tidak sadarkan diri. Percayalah, itu sedikit membantu menghadapi perasaan yang tidak bisa kau lawan."Rangga Tirta

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pelantikan

    Siang hari di alun-alun Kerajaan Jayantara, ribuan orang telah berkumpul untuk menyaksikan pengangkatan Jenderal Perang yang baru. Para prajurit berdiri berbaris dengan tombak dan panji-panji kerajaan yang berkibar mengikuti embusan angin, sementara rakyat memenuhi setiap sisi alun-alun dengan wajah penuh antusias.Di atas panggung batu bertingkat yang dibangun khusus untuk upacara kerajaan, Maharaja Jayawardhana duduk di atas singgasananya. Di samping sang Maharaja, Putri Jayasari, Patih Wiranega, Jenderal Rudha Wisesa, dan para pejabat tinggi kerajaan telah bersiap mengikuti prosesi sakral tersebut.Sementara itu, di bawah panggung batu, Rangga Tirta berlutut dengan satu kaki sambil menundukkan kepala. Zirah peraknya memantulkan cahaya yang membuat sosoknya tampak gagah dan berwibawa."Angkat kepalamu, wahai prajurit terpilih," ucap Maharaja Jayawardhana sambil berdiri dari singgasananya.Rangga Tirta segera mengangkat kepalanya. Tatapannya lurus tertuju kepada sang raja yang berdir

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Sesuatu yang Berbeda

    Di ruang VVIP, Raka duduk santai di sofa yang berada di samping tempat tidur pasien. Di hadapannya, Sena dan istrinya duduk berdampingan, sementara Tuan Adrian bersandar tenang di atas ranjang.Tak seorang pun menyadari bahwa di sudut ruangan, Adeline tengah berdiri dengan tenang. Sosok wanita itu

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Resiko yang Pantas

    "Tunggu." Dirga yang baru saja tiba di depan ruang kerjanya mendadak menghentikan langkah. Tangannya yang sudah hampir menyentuh gagang pintu kembali ditarik."Aku harus menyusun kata-kata yang tepat untuk menghadapi Nona Adeline," gumamnya pelan. Ia bahkan sempat mengusap wajahnya sendiri sebelum

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Dipercayakan

    Di ruang kerjanya, Dirga duduk santai di sofa tamu sambil menunggu kedatangan Raka. Sesekali ia melirik jam tangan di pergelangan kirinya, sementara jemarinya mengetuk pelan sandaran sofa.“Kemana sebenarnya Nona Adeline pergi?” gumamnya pelan. Sudut bibirnya perlahan terangkat. “Padahal rumah saki

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Bukan Tentang Reputasi

    Raka mengembuskan napas pelan sebelum menggeleng kecil. Tatapannya kembali tertuju pada layar besar yang masih menampilkan rekonstruksi tiga dimensi mediastinum pasien."Masalahnya, pasien ini juga mengalami kompresi arteri pulmonalis kanan, penyempitan bronkus utama kanan, dan ancaman hipertensi p

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status