LOGIN“Di dunia yang hancur ini, kau bukan lagi manusia. Kau adalah Aset 01—rahim murni milik Sektor 7.” Aruna dididik untuk melayani lima pria elit demi mengembalikan peradaban yang telah runtuh. Dengan prosedur terlarang dan batas waktu 360 hari, rahimnya menjadi satu-satunya harapan Dewan untuk melahirkan generasi baru umat manusia. Namun di balik misi itu, lima pria berbahaya mulai terobsesi padanya. Satu rahim murni. Lima pria yang haus untuk mengklaimnya. Siapa yang akan berhasil menanam benih pertama di dalam tubuh Aruna?
View More"Luruskan punggungmu, Aruna! Kau bukan pelacur murahan dari Sektor Luar!"
Suara Paman Juna menggelegar di ruang makan bunker yang kedap suara. Aruna tersentak. Tangannya yang memegang sendok perak gemetar hebat. "Maaf, Paman," bisik Aruna pelan. Ia segera memperbaiki posisi duduknya. Belasan tahun ia hidup seperti ini. Terisolasi, didoktrin, dan dipaksa menjadi sesempurna mungkin. Paman Juna batuk tersedak. Ia menekan dadanya yang tampak sesak. Darah segar merembes di saputangan sutranya yang mahal. "Ingat, dunia di luar sana sudah mati sejak 2110. Radiasi nuklir sudah membusukkan paru-paru manusia," rintih Juna. Aruna menatap piringnya dengan kosong. "Tapi Paman bilang, aku akan segera ke Sanktuari?" "Hanya kamu yang murni, Aruna. Kamu dididik dengan etiket kelas atas agar layak menginjakkan kaki di sana." Juna mencengkeram lengan Aruna dengan kuku-kukunya yang tajam. Matanya yang merah menatap Aruna dengan tatapan lapar dan obsesif. "Kau harus menjadi wanita paling anggun. Kau adalah tiket kita untuk keluar dari lubang tikus ini." Namun, sore itu segalanya berubah. Batuk Juna semakin parah hingga ia jatuh tersungkur di lantai marmer. "Paman!" Aruna menjerit, melupakan semua aturan etiketnya. Juna menarik kerah gaun Aruna dengan sisa tenaganya. Matanya membelalak, seolah melihat kiamat di depan wajahnya sendiri. "Lari ... Aruna, kau harus lari sekarang juga!" rintih Juna dengan suara serak. Aruna menggeleng bingung. "Lari ke mana? Di luar sana hanya ada polusi!" "Sanktuari ... itu bohong. Mereka tidak menginginkan kecerdasanmu atau tata kramamu." Juna terengah-engah. "Lalu apa yang mereka inginkan dariku?" tanya Aruna dengan suara bergetar. Juna menatap rahim Aruna dengan tatapan penuh penyesalan. "Mereka butuh rahimmu. Kau hanya laboratorium berjalan bagi mereka!" Boom! Ledakan dahsyat menghancurkan pintu baja bunker. Beton-beton runtuh, menciptakan lubang besar yang menganga. Aruna terlempar ke lantai. Telinganya berdenging hebat. Debu polusi yang berbau belerang mulai merangkak masuk ke dalam ruangan. Di tengah kepulan asap, sesosok pria melangkah masuk. Sepatu militer beratnya menginjak pecah-pecah kristal di lantai. "Lama tidak jumpa, Juna," suara itu berat dan dingin. Itu Dante. Komandan Sektor 7. Jubah tempurnya yang hitam legam memberikan tekanan yang menyesakkan dada. "Dante ... jangan ambil dia!" Juna berteriak histeris, mencoba merangkak mengambil senjata. Dor! Satu lubang menganga muncul di kening Juna. Darah merah pekat menyemprot, membasahi wajah dan gaun putih Aruna. Aruna membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia melihat satu-satunya orang yang ia kenal tewas mengenaskan dalam hitungan detik. "Jangan menangis, Aset 01. Itu merusak wajah cantikmu," desis Dante. Dante menjambak rambut Aruna dengan kasar. Ia menyeret gadis itu keluar dari bunker tanpa ampun. Aruna meronta, kakinya terseret di atas tanah yang kasar. "Lepaskan! Paman Juna bilang kau iblis!" "Iblis?" Dante tertawa rendah, tawanya terdengar seperti gesekan logam. Dante melempar Aruna ke dalam kendaraan tempur yang sempit dan gelap. Ia ikut masuk dan membanting pintu hingga tertutup rapat. Di dalam keremangan, Dante menindih tubuh Aruna. Lututnya menekan paha Aruna hingga gadis itu memekik kesakitan. "Udara di luar sana akan membunuhmu dalam sepuluh menit, Aruna." Dante menghirup aroma leher Aruna dengan rakus. Aruna memalingkan wajah, trauma auditori membuatnya ingin menutup telinga rapat-rapat. "Kenapa kalian melakukan ini?" "Karena kamu berharga. Sangat berharga bagi masa depan umat manusia yang sekarat ini." Tangan Dante yang kasar merayap masuk ke balik pakaian Aruna yang ketat. Ia mencengkeram pinggul Aruna dengan kekuatan yang tak masuk akal. "Kamu tahu kenapa Juna mengajarimu cara bicara yang sopan dan cara melayani pria?" tanya Dante sinis. Aruna menggeleng dengan air mata yang mulai mengalir. Ia benci betapa kuatnya aroma mesiu dari tubuh pria ini. "Agar kau tidak memberontak saat kami menggunakan tubuhmu untuk memproduksi pasukan baru." Dante menarik dagu Aruna agar menatap matanya yang tajam dan tak berperasaan. "Selamat datang di Sektor 7, Aruna. Kamu akan segera merindukan kematian Pamanmu." Aruna ingin berteriak, tapi Dante membungkam mulutnya dengan ciuman yang kasar dan penuh klaim. Kendaraan tempur itu meluncur membelah langit Eldoria yang kelabu, menuju tempat yang lebih buruk dari kematian. Aruna memejamkan mata, merasakan getaran mesin yang seakan menertawakan nasibnya. "Apakah aku akan mati di sana?" tanya Aruna dengan suara yang hampir habis. Dante melepaskan tautan bibir mereka, menatap Aruna dengan seringai yang membuat bulu kuduk berdiri. "Mati? Tidak, Sayang. Kami tidak akan membiarkanmu mati sebelum kamu memberikan setidaknya sepuluh anak untuk Dewan." Aruna tersentak. ‘Sepuluh anak? Di dunia yang sudah hancur ini?’ "Dan tebak siapa yang akan menjadi ayah dari bayi pertamamu?" bisik Dante tepat di depan bibir Aruna."Tembak siapa saja yang mendekati kendaraan ini! Jangan biarkan tikus-tikus Sektor Luar itu menyentuh Aruna!"Suara komando Dante menggelegar melalui radio taktis. Kendaraan tempur raksasa itu berhenti dengan sentakan keras tepat di depan Gerbang Batas Sektor 7.Di luar, badai polusi kelabu tampak bergulung-gulung. "Ada apa? Siapa mereka?" tanya Aruna melirik ribuan pasukan Scavenger yang dipimpin oleh Kael sudah mengepung wilayah pertahanan dengan senjata rakitan mereka yang mematikan."Mereka musuh kita. Oksigen di gerbang depan sudah menipis hingga dua puluh persen. Kita harus bergerak cepat." Zen memperingatkan dari layar dasbor, suaranya berderit tidak stabil akibat gangguan frekuensi."Eros, ambil posisi di lini depan! Malik, tetap di belakangku dan amankan aset!" perintah Dante sambil mengokang senjata beratnya.Aruna terengah-engah di kursi belakang, tangannya meremas dadanya yang terasa sesak.Hawa panas dari feromon reproduksinya membuat kepalanya semakin pening, memi
"Suhu tubuhnya terus meningkat, Dante. Stimulan Valeska mempercepat reaksi kimia di rahimnya."Suara Cilian menggema di dalam kamar mewah milik Dante. Aruna terbaring lemah di atas ranjang sutra, napasnya memburu dengan keringat yang membanjiri pelipisnya.Dante berdiri di dekat jendela, menatap badai polusi di luar. "Apakah dia akan bertahan?""Tubuhnya kuat, tapi dia butuh penstabil biologis sesegera mungkin," Cilian menyuntikkan cairan bening ke lengan Aruna.Tiba-tiba, lampu kamar berkedip merah secara serentak. Seluruh sistem elektronik di mansion itu mengeluarkan suara mendengung yang memekakkan telinga.Bzzt!Layar monitor besar di dinding kamar terputus dari jaringan pusat Sektor 7. Wajah digital Zen menghilang, digantikan oleh lambang tengkorak besi yang berkarat."Siapa yang berani meretas jaringanku?" suara Zen mendadak terdengar dari interkom cadangan, ada nada panik yang jarang terjadi pada sang penguasa digital.Sesosok pria dengan topeng gas yang retak dan jub
"Berdiri, Aset 01! Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan postur seperti binatang!"Suara Madam Valeska menggelegar, memecah kesunyian ruang latihan yang berdinding perak steril. Aruna tersentak. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar dari dalam."Maaf, Madam," rintih Aruna, suaranya parau dan bergetar hebat.Efek dari prosedur Cilian kemarin membuat rahimnya berdenyut nyeri tanpa henti. Kepalanya pusing akibat demam tinggi yang tiba-tiba menyerang sejak subuh tadi.Valeska melangkah maju, memukulkan tongkat logam kecil yang dibawanya ke tulang kering Aruna dengan keras.Tak!"Jangan beralasan! Juna mendidikmu belasan tahun hanya untuk menjadi wanita lemah seperti ini?" desis Valeska tanpa belas kasihan.Aruna menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, mencoba menahan rasa sakit yang menusuk kakinya. "Tubuhku ... sedang tidak sehat, Madam. Tolong beri aku waktu.""Kau sehat atau tidak, itu bukan urusanku. Tugasmu adalah tampil sempurna di depan Dewan besok!" bentak Vale
"Berbaringlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni ketakutanmu."Suara sedingin es itu membuat Aruna langsung terduduk di ranjangnya. Suasana kamar yang semula sunyi mendadak terasa mencekam.Seorang pria dengan jubah putih kaku melangkah masuk tanpa mengetuk pintu logam kamarnya. Sarung tangan latex di tangannya berderit nyaring saat ia merapikan alat suntik besar di atas nampan perak yang dibawanya."Siapa kau? Zen bilang tidak ada yang boleh masuk ke kamar ini tanpa izin," Aruna mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang."Zen hanya bertugas mengawasimu lewat layar, sedangkan aku yang mengatur isi tubuhmu," jawab pria itu datar. Tatapan klinisnya memindai tubuh Aruna dari atas sampai bawah tanpa emosi.Pria itu adalah Cilian, Kepala Riset Medis Sektor 7. Bagi Cilian, Aruna hanya spesimen biologi tingkat tinggi yang siap dioptimalkan demi Dewan."Naik ke atas meja pemeriksaan sekarang, Aruna," perintah Cilian, suaranya sangat rendah namun tidak menerima penola












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.