“Nona, berhenti. Jika tidak, aku akan melaporkannya kepada Ayah,” ucap Dirga; suaranya bergetar. Pandangannya terpaku pada pot-pot besar yang melayang, berputar pelan di udara, seolah menunggu aba-aba.“Cih… kau ternyata penakut,” balas Adeline dingin. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Ayahmu tidak akan berani berkata apa pun. Yang ada, dia akan merelakanmu mati di tanganku.”Dirga terdiam. Bahunya turun sedikit, napasnya terlepas panjang. Kedua tangannya perlahan terangkat, telapak menghadap ke depan. “Baiklah… aku akan merelakan tubuh ini,” ujarnya pelan. “Tapi jika aku mati, tidak akan ada lagi yang mengurus semua hal di rumah sakit ini. Apakah kau ingin semua orang mengetahui rahasiamu?”Pot-pot itu bergetar lebih kuat sesaat, lalu berhenti. Adeline mengembuskan napas panjang, jemarinya mengendur.Satu per satu, pot kembali turun ke tempatnya. Tanah yang tercecer jatuh pelan, menyisakan garis kotor di lantai taman.“Benar juga,” gumamnya singkat. Ia menoleh sedikit. “Jadi, ada perl
Last Updated : 2026-05-11 Read more