LOGINNathan Hill adopted a very obedient little thing who dares not go west when he tells her to go east. She treats him as her heaven and loves him with all her heart. But he took away one of her kidneys for his first love. A few years later, she achieved greatness and ultimately cross paths with him at the top. He said: I regret letting you leave me! She said: I never regretted leaving you and you can't Win Me Back!
View MoreKUIKUTI PERMAINAN MANISMU
"Huh-Hah!" "Kenapa, Mas? Nggak kuat, ya?" "Iya, kamu sih malah minta malam-malam begini." "Ya gimana, dong, Mas, orang aku lagi pengen." Akhirnya, kami melanjutkan aktifitas. Bersama keringat dan napas yang muai tak beraturan. Tak lupa, cairan dari dalam hidung pun sudah keluar. "Meli, lain kali kalau ngajak makan mie pedes kaya gini, jangan malam-malam, ya? Siang aja biar makin hot! Kalah juga sinar mataharinya," ucap suamiku sambil mengelap ingusnya. "Ah, justru enak malam-malam begini, Mas!" "Tetap aja, aku nggak biasa, Mel." Mas Hendi memang tak kuat makan pedas, itu sebabnya ia selalu menggerutu saat aku mengajaknya untuk makan mie instan dari negeri ginseng ini. Aku menyeruput mie terakhir, sungguh nikmat memang. Rasanya seperti menjadi Jeni Blackpink! "Sudah ah, Mel, nggak kuat aku. Buat kamu aja," ucapnya sambil mengangsurkan mangkuk padaku. Aku menerimanya dengan senang hati. Mumpung anak-anak sedang tidur di rumah neneknya, jadi aku puas-puasin sekarang. Yolla dan Friska memang tak kuizinkan memakan mie instan. Selain umur mereka yang masih kecil, juga karena tak baik bagi kesehatan. Tetapi, kenapa aku juga memakannya, ya? Ah, sudahlah. "Mas mau mandi dulu. Gerah." Aku hanya mengangguk sambil terus menghabiskan mie dalam mangkuk. Aku terpaku pada ponsel Mas Hendi yang berkedip lampunya. "Chat dari siapa, ya?" gumamku. Aku pun mengambilnya dan memeriksa dari jendela pop up. Selama ini emang kami saling percaya. Itu sebabnya, memeriksa hal macam ini, sangatlah canggung. Tapi apa daya? Membuatku penasaran saja. Kulirik ke arah kamar mandi, lalu mulai membuka. Terdapat sebuah pesan dari kontak yang hanya diberi tanda baca titik sebagai nama. [Mas, uangnya kurang. Transfer lagi, ya!] Aku termenung. Siapakah ini? Kenapa minta ditransfer uang lagi? Sedang sibuk berpikir, pintu kamar mandi terbuka. Suamiku keluar hanya dengan mengenakan handuk. "Mel, yuk!" "Nggak ah, Mas. Lagi haid!" Aku berdiri mengangkat mangkuk. Sebenarnya bukan sedang haid, hanya saja aku ingin menyelidiki dulu, siapakah pemilik nomor tersebut? Usai membereskan bekas makan tadi, aku masuk ke kamar, menyusul Mas Hendi yang sudah duluan. Saat tiba di sana, kulihat lelaki itu tengah menatap ponsel serius. Dahinya sampai mengkerut begitu. "Kenapa, Mas?" tanyaku. "Oh, nggak. Udah beres?" tanyanya sambil menyimpan ponsel. Aku mengangguk kemudian mengambil baju tidur dan memakainya. Mas Hendi memerhatikanku sejak tadi, namun aku cuek. Pertanyaan demi pertanyaan melintas di otak. Tentang siapa pemilik nomor tadi? "Kenapa, Mas?" "Nggak papa." Aku langsung naik ke ranjang dan memejamkan mata. Namun, belum benar-benar terlelap, terasa badan Mas Hendi turun lalu tak lama kemudian suara pintu berderit kemudian ditutup. Mau ke mana dia? Kenapa tingkahnya seperti maling? Aku mencoba tak peduli. Namun hati tak bisa berbohong. Akhirnya, akupun ikut bangkit dan berjalan mengendap ke luar. Lho, ke mana Mas Hendi? Kucari di dapur, tak ada, di kamar mandi pun sama. "Iya aku tahu. Tapi jangan suka kirim pesan sewaktu aku di rumah. Nanti kalau ketauan Meli gimana?" Samar-samar terdengar suara Mas Hendi dari luar, namun aku cukup mendengarnya. Aku berjalan menuju sumber suara, lalu mengintipnya dari balik tirai. "Iya iya, nanti Mas transfer." ".." "Iya, Sayang. Besok ke kantor aja, oke?" "Ya udah, tidur sana. Nanti cantiknya hilang kalau begadang terus." Ya Allah, Mas! Apakah kamu sudah mengkhianati pernikahan kita? Aku segera berjalan menuju kamar dan membenamkan wajah. Tidak! Aku tak boleh menangis. Aku harus mengusut ini semua. Kriet! Aku segera menutup mata begitu terdengar langkah kaki suamiku mendekat. "Maafkan aku, Meli." Kenapa ia minta maaf? - Pagi menyapa. Sinar matahari mulai menyusup dari celah-celah jendela. Semalaman aku tak dapat tidur. Beruntung tak ada anak di rumah sehingga aku tak begitu kerepotan. "Mas, bangun." Meskipun hati kesal, namun tetap saja aku membangunkannya. Lalu beranjak keluar untuk menyiapkan sarapan. "Nggak ada anak-anak, sepi, ya, Mel?" "Hmmm." Mas Hendi terlihat menengok padaku. Mungkin ia merasa aneh dengan sikapku pagi ini. Setelah mandi, ia bergabung denganku yang tengah sarapan. Tak ada yang berubah dari perilakunya, jatah belanja dan juga ia selalu tepat pulang ke rumah ketika sedang tak ada dinas ke luar kota. "Mel, kamu kenapa?" "Kenapa apanya, Mas?" "Kamu kayak beda." "Cuma perasaan Mas aja, kali." Kami melanjutkan makan dalam diam. Beberapa kali Mas Hendi mencuri pandang padaku, namun aku tetap acuh. "Mas berangkat dulu," ucapnya sambil mengulurkan tangan. "Iya, hati-hati," kataku sambil mencium takzim punggung tangannya. Setelah kepergiannya, aku buru-buru membersihkan rumah, lalu menelpon orang tuaku. "Assalamu'alaikum, Ma." "Wa'alaikum salam." "Ma, Meli titip anak-anak dulu, ya? Ada urusan. Mungkin nanti sore baru bisa pulang." "Oh, yasudah." Gegas mandi dan menata diri. Kemarin Mas Hendi menyuruh orang itu untuk datang ke kantornya pukul sembilan. Sekaran sudah pukul delapan lebih tujuh menit. Jarak rumah ke kantornya memakan waktu setangah jam. Oke baiklah, kupesan ojek online dan berangkat ke sana. "Bu, Meli!" panggil sekretaris suamiku sambil meremas tangannya. Dari gerakan ini saja, aku tahu ia tengah terkejut dan juga gugup.Samuel howled, "But I didn't want to accept it."It was late.Drake came in holding a roster. He opened the roster, which had photos of the blind date participants - some with makeup, some without, as well as candid shots and work photos. It also contained the archival records of the individuals from birth until now."Please take a look."Kassidy eagerly took the boys' roster, while Samuel held the girls' roster and they both started flipping through them."Wow. They're all so good." Kassidy exclaimed enthusiastically, "So handsome and talented... I like every one of them. Except for this rich young man... What a nickname, 'Foodie'? This photo must have been photoshopped, definitely a chubby person..."She threw the roster to Drake, "Everyone except him."Drake smirked.Samuel pouted and said, "This chest is too small.""This hair color was too yellow." "This leg was a bit thick.""This waist would be perfect if i
Eric returned home and only then did he realize that his mother, Hana, had already been discharged from the hospital. Ingrid's attitude towards him had become much colder. In fact, she even showed a hint of disgust towards him."Eric, where have you been hiding these days when mom had a car accident and was hospitalized?"Eric, with the postoperative sequelae, was very weak and feeble, saying, "I had a little accident..."Hana finally noticed something unusual about her son, “What's wrong with you?"Eric lifted up the hem of his shirt, revealing the surgical scar on his lower back. "I had my kidney taken away by someone."Hana's pupils dilated, filled with fear. "How could this happen?"Eric closed his eyes in pain and said, "This matter is hard to put into words."Ingrid, who was skilled in calculations, immediately realized that the value of Eric's utilization had been discounted."You were not feeling well now, so will you b
Eric said, "Kassidy, please stop talking. I believe this wasn't done by you. Your character is just like your mother's, both of you are honest and kind people, who would never stoop to such despicable means."He lowered his head in shame and said, "I am getting what I deserved."Kassidy stared at Eric expressionlessly. It was strange, as once she had faced Nathan's myriad of turbulent and grand emotions, but now she was calm like dead ashes.In the end, she simply said, "I didn't mean to not save you. I truly didn't realize how difficult your situation was."With boundless hatred towards that man, Emma pleaded with Kassidy, "So now, could you please help us seek justice?" Despite the pleading tone, her voice was firm, tinged with a hint of reluctant inexperience.Kassidy stared at her coldly and said, "Why should I help you?"Emma was stunned, and then her little face turned bright red.Yeah, why did Kassidy save her?She shoul
Emma trembled as she asked, "Which place do you want?"The man's gaze fell on Eric's waist, “Kidney."Eric couldn't help but feel a chill run through his entire body, as if every nerve was connected to his heart. A sense of unbearable despair washed over him from his heart."I disagreed," Eric roared.The man looked at him with an increasingly cold gaze, “My son was sick. He was the same age as you all, but he developed kidney failure at such a young age. The doctor said he must have surgery as soon as possible, otherwise he won't survive this year. I won't let him die, so I must find a suitable kidney source for him... As long as he can live, I don't care about breaking the law..."Eric shouted impatiently, "You idiot, not everyone's kidney is suitable for him. If we give him our kidney, it could cause rejection, and your son would die even faster."Snap-The man slapped Eric in the face and menacingly said, "How dare you curse my so
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.