ANMELDEN“Jadi … bukan kamu yang bales?” gumam Djiwa pelan. Ia menarik napas panjang, lalu menghela perlahan. Jarinya kembali menekan tombol rekam. “Mas … kalau memang kamu yang bales, kamu gak akan manggil aku ‘Bu’,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Kamu lagi sibuk, aku ngerti. Tapi jangan sampai chat aja kamu serahin ke orang lain.” Ada jeda. Nada suaranya melembut. “Jangan lupa istirahat, kalau sakit jangan dipaksain kerja. Aku marah kalau sampe ada apa-apa sama kamu.” Pesan itu terkirim. Djiwa menatap layar lagi. Kali ini lebih lama, namun tak ada balasan. Layar tetap sunyi. “Mommy ….” Djiwa tersentak pelan saat mendengar suara itu. Ia menoleh, mendapati Regan berdiri tak jauh darinya—masih dengan wajah tenangnya, tapi sorot matanya penuh perhatian. “Mommy belum tidur?” tanya bocah itu sambil melangkah mendekat. Djiwa tersenyum tipis, cepat-cepat merapikan posisi duduknya. “Belum ngantuk, Nak,” jawabnya lembut. “Kamu sendiri? Kenapa belum tidur? Malah nyamperin Mommy ke sini?” Regan
“Saya sudah melihat rekaman yang Mas Sultan dapatkan,” ucap Kaisar pelan, setelah suasana di kamar kembali tenang. Karin tak langsung menoleh. Tatapannya tetap lurus ke langit-langit, namun tangannya bergerak pelan mengusap perutnya—seolah mengingatkan, atau mungkin menegaskan sesuatu. Kaisar menarik napas panjang. “Di rekaman itu memang ada kamu,” lanjutnya, suaranya rendah namun tegas. “Masuk ke mobil Mas Radja sambil membawa paper bag. Tapi saat keluar barang itu sudah tidak ada.” Karin akhirnya mengedip pelan, lalu menoleh sedikit ke arah suaminya. “Itu makanan,” jawabnya tenang. “Aku yang buat.” Kaisar menyipitkan mata tipis. “Untuk siapa?” “Untuk Djiwa,” jawab Karin tanpa ragu. “Malam sebelumnya aku dengar mereka lagi berantem. Tentang kematian Sankara yang selama ini Mas Radja tutupi.” Nada suaranya tetap stabil. Kaisar memperhatikannya lekat. “Makanan apa?” tanyanya lagi, singkat. Karin menarik napas pelan sebelum menjawab. “Makanan yang dulu paling dia suka,” ucapny
“Mommy, kenapa semuanya sakit? Nenek sakit, Daddy juga sakit. Meskipun Daddy udah sembuh, tapi kenapa gantian jadi Nenek sekarang?” Suara polos Naren memecah suasana makan malam di kantin rumah sakit. Djiwa tersenyum tipis. Ia meraih tisu, lalu mengusap lembut sudut bibir anaknya. “Namanya juga manusia, sayang,” ucapnya pelan. “Kadang sehat, kadang sakit. Itu hal yang gak bisa kita hindari.” Naren mengangguk kecil, meski jelas belum sepenuhnya paham. “Kapan Nenek bangun, Mom? Udah malam belum bangun juga. Besok pagi bangun, ya?” tanyanya lagi, penuh harap. Djiwa menahan napas sejenak. “Naren … nanti kalau Nenek sudah sadar, Mommy kabarin, ya. Sekarang kamu makan dulu.” Nada suaranya terdengar datar. Fairish yang duduk di seberangnya melirik sekilas. Ia tahu Djiwa sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya bercabang. Radja yang tak ada kabar, dan Karin dengan segala masalahnya. “Mommy … nanti Ratu mau telepon Daddy, ya,” ucap Ratu pelan dari samping. Gerakan tangan Djiwa terhenti
“Kamu yang laporin istri aku, Mas?” suara Kaisar rendah, namun sarat tekanan. Ada jeda. Sultan melirik Karin sekilas, tatapan yang dingin, tajam—sebelum kembali menatap adiknya. “Ini bukan keputusan ringan, Kai,” ucapnya pelan, berusaha menahan emosi yang jelas bergejolak di balik ketenangannya. “Karin itu istri kamu. Adik ipar saya. Menantu di keluarga ini.” Ia menarik napas dalam. “Dan dia sedang mengandung anak kamu. Tapi saya tidak bisa tutup mata setelah saya tahu semuanya. Setelah saya pegang bukti yang kuat kalau dia pelakunya.” Napas Kaisar tercekat di tenggorokan. Rahangnya mengeras. “Kamu tahu saya,” lanjut Sultan, suaranya tetap stabil. “Saya tidak akan bertindak sejauh ini kalau tidak yakin.” Kaisar menelan ludahnya berat. “Asal kamu tahu dampak dari perbuatannya—” “Usia Mas Radja divonis beberapa bulan lagi?” potong Kaisar tiba-tiba, suaranya bergetar tipis. Sultan mengernyit. Informasi itu belum pernah ia dengar secara langsung, tapi ia tahu bahwa kondisi kakakn
Begitu Sekar jatuh dengan tangan mencengkeram dada, Fairish langsung sigap memanggil ambulans, sementara Djiwa berdiri membeku beberapa detik sebelum akhirnya tersadar dan ikut membantu. Kaisar tidak ikut. Ia memilih tetap di mansion, menjaga Karin yang masih terbaring lemah—atau setidaknya terlihat seperti itu. Sultan tidak bisa dihubungi. Dan Radja jauh di Jerman. Lampu merah bertuliskan UGD menyala terang di atas pintu rumah sakit. Pintu dorong terbuka, lalu tertutup kembali dengan cepat saat tubuh Sekar dibawa masuk oleh tim medis. “Dok, pasien serangan jantung, tekanan turun!” terdengar suara panik perawat. Fairish berdiri tepat di depan pintu itu, napasnya masih memburu. Kedua tangannya mengepal tanpa sadar, menahan cemas yang terus merayap naik. Sementara itu di sudut ruang tunggu, Djiwa duduk sendiri. Tubuhnya lemas, bahunya turun, dan tatapannya kosong lurus ke depan. Air mata masih terus mengalir tanpa suara, seolah tak ada lagi yang bisa ia tahan. Semua terasa
“Bagaimana kondisi menantu saya, Dok?” tanya Sekar begitu dokter kandungan yang ia panggil selesai memeriksa Karin. Dokter itu tidak langsung menjawab. Ia melepas stetoskop dari telinganya, lalu mengalungkannya kembali ke leher dengan tenang. “Secara keseluruhan, kondisinya baik,” ujarnya akhirnya. “Tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Hanya kelelahan dan sedikit stres. Jadi Anda tidak perlu terlalu cemas, Nyonya.” Sekar mengangguk pelan, meski sorot matanya masih menyimpan kegelisahan. “Baik, Dok. Terima kasih.” Dokter itu tersenyum sopan sambil merapikan tas medisnya. “Kalau begitu saya pamit.” “Hati-hati di jalan, Dok,” balas Sekar. Pintu kamar itu terbuka sesaat, lalu kembali tertutup rapat. Di luar, Fairish dan Djiwa berdiri tak jauh dari sana. Keduanya terdiam, namun jelas menangkap setiap kata yang keluar dari dalam. Tak ada yang serius. Kalimat itu seharusnya menenangkan. Namun entah kenapa, justru membuat dada Djiwa terasa semakin sesak. Ia menunduk, menarik
Inggrit baru saja tiba di mansion. Langkah kakinya menghentak keras, cepat, dan penuh amarah—seolah dia sengaja ingin seluruh penjuru rumah tahu bahwa saat ini dia sedang berada di titik paling emosional. Di belakangnya, Anggita menyusul dalam keadaan terisak halus. Arga mengantar bocah itu pu
“Kenapa kamu melakukan itu pada Djiwa, Inggrit?” tanya Sekar saat yang lain berangkat kerja, hanya menyisakan mereka berdua, dan juga Aprilia yang diletakkan di bouncer bayi. Inggrit menghela napas panjang. “Aku gak suka aja sama Djiwa, bener-bener gak suka. Selama ini aku gak pernah satu frame sa
Pagi itu, meja makan begitu sepi—tidak sama seperti hari biasanya. Hanya diisi oleh Sekar yang duduk di ujung meja, Radja, Inggrit, Anggita dan yang terakhir Djiwa. Sekar melirik pada Djiwa yang makan dengan tenang, padahal sebenarnya wanita itu tengah memikirkan perihal semalam Sekar memintanya u
“Mbak, seriusan Djiwa sampe pagi ini belum keluar juga?” bisik Fairish pada Inggrit pagi itu di ruang tengah saat semuanya berkumpul. Hanya para lelaki yang akan pergi bekerja hari ini. Radja, Sultan dan juga Kaisar. Inggrit dan Fairish akan mengambil cuti lagi, merasa lelah karena acara kemarin.







