Share

BAB 102

Author: Langit Parama
last update Last Updated: 2025-12-30 07:22:26

“Sakit, Mas,” lirih Djiwa. Suaranya nyaris tak terdengar, sementara perut bagian bawahnya terasa nyeri hebat, menusuk hingga membuat tubuhnya gemetar.

“Bagian mana yang sakit?” tanya Radja. Nada suaranya terdengar dingin, namun jelas terselip kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan.

Djiwa tak sanggup menjawab. Air matanya jatuh begitu saja. Ia hanya menggeleng pelan, seolah menolak kenyataan bahwa rasa sakit itu semakin menjadi.

Tak lama, Sekar, Sultan, dan Inggrit muncul hampir bersamaan. Pemandangan di hadapan mereka membuat Sekar refleks meninggikan suara.

“Ada apa ini?” tanyanya panik. Pandangannya langsung tertuju pada Fairish. “Kamu kenapa, Rish?”

Fairish yang sudah berdiri dan dirangkul Kaisar menoleh dengan wajah pucat. “Aku jatuh, Mi. Tabrakan sama Djiwa. Jadi kami sama-sama jatuh.”

Sekar tanpa menunda langsung menghampiri Fairish. Tangannya mengusap perut menantunya itu penuh perhatian. “Kamu tidak apa-apa, kan? Jangan sampai kenapa-kenapa.”

Lalu ia menoleh pad
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Idadalia Mutiara79
yeeeyyyy akhirnyaa mas Radja punya penerus.... wah ini hamil silang nih... Thor kok aku ingin tahu POV sultan yah...
goodnovel comment avatar
Null_null
Akhirnya radja tahu
goodnovel comment avatar
radayinta
akhirnya Radja dan Djiwa tau kalo Djiwa sudah hamil
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 131

    “Djiwa nggak mau, Mas.” Suara Djiwa terdengar pelan, namun tegas. Tatapannya lurus ke depan, menolak menoleh. Radja melirik singkat ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan. “Maksudnya?” “Djiwa gak mau ke dokter obgyn. Apalagi USG untuk tahu jenis kelamin anak ini.” Sudut bibir Radja terangkat tipis. “Kenapa?” “Nggak apa-apa. Djiwa gak mau aja,” jawabnya tanpa ragu. “Hanya tidak mau?” Radja menahan senyum. “Pasti ada alasannya, kan?” Mobil melambat saat mereka hampir tiba di area parkir basement perusahaan. “Gak ada alasan,” potong Djiwa, kali ini nadanya lebih tegas. “Djiwa gak mau. Dan jangan paksa Djiwa, meskipun di dalam perut ini ada anak Mas Radja.” Ia menarik napas, menahan emosi. “Tetep butuh persetujuan Djiwa juga sebagai ibunya kalau mau USG. Tapi jangan pernah maksa, ataupun ngerayu. Gak mempan.” Mobil berhenti. Tanpa menunggu respons, Djiwa langsung membuka pintu dan turun. Langkahnya cepat, seolah tak ingin memberi celah bagi Radja untuk berkata apa pu

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 130

    “Anggita, kamu tahu, kan?” ucap Radja dengan nada rendah, namun dingin. “Tahun depan kamu masuk SD. Itu artinya kamu sudah bertambah dewasa. Kamu juga punya adik. Jadi tidak usah manja, tidak usah cengeng. Tunjukkan kalau kamu itu kakak.” Kalimat itu jatuh terlalu berat, terlalu keras—untuk anak kecil berusia lima tahun. Meski Anggita bukan anak kandungnya, tapi dia masih terlalu kecil menerima kritikan itu. Djiwa yang berdiri di samping Radja menelan ludah berat. Dadanya tercekat, terkejut dengan respons Radja yang terasa kasar bagi anak sekecil itu. Ia tak tahu, di balik nada dingin itu, ada kekecewaan yang mengendap diam-diam di dada Radja—kekecewaan yang tak pernah ia ucapkan pada siapapun. Tangis Anggita mendadak terhenti. Namun bahunya masih bergetar hebat. Bukan karena ia sudah tenang, melainkan karena ia terpaksa berhenti—karena tak mendapatkan pembelaan dari sosok yang ia anggap sebagai ayahnya sendiri. “Anggi …,” Djiwa melangkah maju, menjauhkan bocah itu dari Radja. I

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 129

    Pagi itu, meja makan keluarga Reinard dipenuhi para anggota keluarga yang bersiap menjalani aktivitas masing-masing. Ada yang akan berangkat bekerja, ada pula yang tetap tinggal di rumah. Suasana sarapan berlangsung hening, tanpa percakapan berarti—termasuk dari Sekar. Wanita paruh baya itu memilih diam, karena ia tahu, sekali ia membuka suara, waktu sarapan akan menjadi jauh lebih lama. Namun keheningan itu akhirnya pecah. “Mi.” Fairish membuka suara tiba-tiba. Semua mata tertuju padanya. Fairish menelan ludah lebih dulu sebelum melanjutkan, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. “Kemarin … aku sempet mampir ke dokter obgyn setelah urusan kerja aku selesai.” “Oh ya?” Sekar langsung mengangkat kepala. Mata wanita itu membulat, antusias tak disembunyikan. “Terus, gimana hasilnya?” Fairish kembali menelan ludah, kali ini lebih berat. Tangannya mengepal erat, seolah menahan sesuatu di dadanya. Sultan melirik ke samping. Tatapannya jatuh pada tangan Fairish yang gemetar halus,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 128

    “Bu dokter, maaf ….” Dokter obgyn yang dipanggil itu menoleh ke arah perawat yang menyapanya. “Ada apa?” “Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Bu dokter.” “Siapa?” tanyanya, sambil mengalihkan pandangan ke pintu. Pintu ruangan terbuka perlahan, menampilkan seorang pria berdiri di ambang. Sultan. Ia mengenakan jas putih, rapi, nametag dokter tersemat di saku dada. Dokter obgyn itu segera bangkit dari duduknya. “Ada yang bisa saya bantu, dok?” Matanya melirik sekilas nametag Sultan. “Oh … Dokter Sultan.” “Maaf kalau saya mengganggu waktu Anda,” ucap Sultan dengan nada profesional. “Apalagi saya datang tanpa membuat janji lebih dulu.” Dokter itu tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, dok. Kebetulan saya sedang kosong. Ada yang bisa saya bantu?” Sultan berdehem pelan, seolah menimbang kalimatnya. “Saya ingin meminta hasil cetak USG dari istri saya yang tadi siang. Saya harap itu tidak menjadi masalah.” Ia berhenti sejenak, sebelum kembali melanjutkan. “Saya juga tidak akan memberita

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 127

    “Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya yang tak jauh dari ranjang pasien. “Em, dok,” Fairish lantas turun dari ranjang, meraih tas mahalnya yang diletakkan di atas meja. “Gak usah dicetak, saya gak terlalu butuh foto hasil USG-nya. Yang penting udah tahu jenis kelaminnya.” Dokter itu terdiam beberapa saat, karena baru pertama kalinya menemukan pasien yang menolak hasil USG-nya untuk dicetak. Sebagai kenang-kenangan mungkin. “Oh, Ibu yakin? Fotonya bisa Ibu simpan di dompet sebagai kenang-kenangan. Atau untuk ditunjukkan keluarga mungkin?” tanya dokter itu memastikan, tak ingin Fairish menyesal. Fairish tetap teguh, menggeleng tegas. “Nggak usah, dok. Karena saya mau kasih kejutan ke mereka. Meski saya sendiri penasaran juga,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 126

    “Pemandangannya bagus banget ya, Mas?” gumam Djiwa sambil menatap keluar jendela ruang kerja Radja di perusahaan. Gedung-gedung tinggi berdiri anggun di bawah cahaya siang, seolah menjadi latar sempurna untuk ketenangan yang jarang ia rasakan. Radja tak menjawab. Pria itu justru terus memperhatikan Djiwa yang duduk di atas pangkuannya, tanpa berkedip sedikit pun. Tatapannya tenang, dalam, seolah sedang menghafal setiap detail wajah wanita itu. Sudut bibir Radja terangkat samar. Cantik. Itu kata yang terlalu sederhana, tapi paling jujur. Wajah Djiwa terlihat lembut, hidungnya mungil namun mancung, bibirnya tipis dengan garis senyum yang menenangkan, dan matanya terlalu indah untuk sekadar dilewatkan. Djiwa akhirnya menurunkan pandangan. Ia mendapati Radja masih menatapnya seperti itu. Kedua tangannya reflek bertumpu di dada bidang pria tersebut. “Kenapa Mas ngelihatin Djiwa segitunya?” tanyanya pelan, senyum kecil tersungging di bibirnya. “Karena kamu cantik,” jawab Radja ringan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status