LOGINKaisar membulatkan mata, tubuhnya menegang. Tatapannya mengarah tajam pada Radja—bukan tatapan menantang, melainkan permohonan bisu agar sang kakak tidak membuka rahasia yang selama ini ia kubur rapat. Radja menangkap itu. Ia tetap tenang, malah menyunggingkan senyum miring di wajah tampannya, seolah sedang memainkan sesuatu yang hanya ia pahami sendiri. “Radja?” Sekar mendesak, suaranya dingin dan penuh kecurigaan. Radja mengalihkan pandangannya pada sang ibu. “Entahlah,” ujarnya santai. “Hanya firasat.” Tatapannya lalu bergeser pada Djiwa, turun perlahan ke perut wanita itu. “Karena … ada perbedaan yang cukup jelas.” Ia melirik Fairish sekilas, lalu kembali pada Djiwa. “Perut Djiwa lebih terlihat dibanding Fairish. Padahal usia kehamilan mereka hampir sama. Bahkan, usia kandungan Fairish lebih dulu.” Sekar ikut menelisik. Pandangannya berpindah dari perut Djiwa ke perut Fairish, mengamati bentuk yang memang tak serupa. Keduanya sama-sama berisi, tinggi badan mereka pun sama.
Kaisar menegakkan punggungnya, tatapannya terkunci pada Fairish. “Ma-maksud kamu … a-apa?” suaranya tercekat, bola matanya membulat kaget, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. Fairish menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kasar. Dadanya naik turun menahan emosi. “Iya,” ucapnya akhirnya, tajam. “Anak yang ada di dalam perut aku perempuan. Bukan laki-laki. Puas kamu?” Ia bangkit dari duduknya, tak ingin memperpanjang pembahasan dengan Kaisar yang di matanya tak jauh berbeda dari Sekar. Sama-sama terobsesi pada satu hal, anak laki-laki. Kaisar tersentak. Ia buru-buru berdiri dan menahan lengan Fairish. “Kamu bercanda, kan, Rish?” tanyanya cepat, nada suaranya meninggi tanpa sadar. “Ini prank? Atau kamu lagi marah sama aku?” Fairish menepis tangannya dengan kasar. “Ini kenyataan,” balasnya gemetar. “Anak kita perempuan. Dan iya, aku bohong. Ke kamu, ke Mami, ke semua orang di rumah itu.” Kaisar terdiam. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh, rahang
“Ini Bu, iPad-nya sudah selesai,” ucap tukang servis barang digital, yang memperbaiki iPad milik Inggrit sebelumnya. Inggrit menerima benda digital itu, dan segera memeriksa isinya. Sudah dua hari benda itu menginap di konter ini untuk diperbaiki, dan dia tak sabar dengan hasilnya. “Apa pekerjaan saya bisa dipulihkan?” tanya Inggrit pada pria di hadapannya. Sambil tangannya cekatan membuka layar untuk memeriksa sendiri. “Semuanya kembali, tanpa terkecuali,” jawab pria itu tenang. Inggrit mengangguk cepat. “Terima kasih, kalau begitu ... saya permisi.” Tanpa menunggu tanggapan, Inggrit lantas meninggalkan konter tersebut dengan perasaan lega. Akhirnya dia tidak perlu membuat gambar ulang. Namun, sebelum Inggrit sempat membuka pintu mobilnya yang terparkir rapi, sebuah tangan besar lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya. Inggrit tersentak. Ketika menoleh, wajahnya langsung menegang saat mendapati Dante berdiri tepat di hadapannya. “Kamu?” sorot matanya berubah tajam. “Ng
“Pokoknya aku gak ikhlas,” Djiwa membuka suara saat mereka baru saja keluar dari ruang dokter kandungan. Langkahnya cepat, napasnya masih belum stabil.“Gak ikhlas kamu nanya macam-macam ke dokter. Bahkan aku sendiri gak mau tahu hasil pemeriksaan USG tadi. Jenis kelaminnya, plasentanya ada berapa—aku gak mau tahu apa pun.”Radja tetap berjalan di sampingnya dengan tenang, kedua tangan masuk ke saku celana. Wajahnya lurus menghadap depan, seolah kata-kata Djiwa hanya angin lalu.“Mas,” Djiwa berhenti mendadak dan berdiri tepat di hadapan Radja. “Kamu denger aku ngomong, gak?”Radja ikut menghentikan langkahnya. Ia menurunkan pandangan, menatap Djiwa dengan sorot mata yang jauh lebih lembut dari sikapnya barusan.“Iya, sayang,” jawabnya singkat, hampir berbisik.Satu kata itu membuat dada Djiwa mengencang. Panggilan itu, lagi, untuk kedua kalinya. Pipinya langsung memanas, jantungnya berdetak tidak beraturan.Radja mengulurkan tangan, menggenggam lengan Djiwa dengan mantap. “Sekarang k
Radja melangkah masuk dengan santai, namun wibawanya langsung memenuhi ruangan.Aura dominan itu membuat udara terasa menegang seketika, seolah kehadirannya menggeser seluruh poros perhatian ke satu titik.Djiwa kembali menatap dokter di hadapannya. Tatapannya dingin, menuntut penjelasan tanpa kata. Dokter itu hanya menggeleng singkat, jelas tak tahu apa-apa, ia bahkan juga kaget.“Kamu datang ke sini tidak mengajak suami kamu, sayang?” tanya Radja ringan sambil mendekat, kedua tangannya terselip santai di saku celana.Ia menarik kursi di samping Djiwa, lalu duduk tanpa ragu. Satu tangannya terangkat dan merangkul bahu wanita itu seolah tindakan tersebut adalah hal biasa.Djiwa melirik tangan Radja di pundaknya, lalu menatap wajah pria itu dengan napas tertahan.“Mas ….” bisiknya menegur, tak nyaman karena masih ada dokter di hadapan mereka.“Hm?” Radja mengangkat kedua alisnya santai, sama sekali tak merasa bersalah.Ia menunduk, lalu mengecup kening Djiwa dengan lembut. Terlalu lemb
Dokter kandungan itu tersenyum ramah setelah selesai memeriksa. Ia meletakkan pulpen, lalu menatap Djiwa dengan ekspresi menenangkan, cara khas dokter yang ingin memastikan pasiennya tidak cemas. “Baik, Bu Djiwa,” ucapnya dengan suara tenang dan profesional. “Dari hasil pemeriksaan hari ini, kehamilan Anda dalam kondisi sehat dan normal.” Djiwa mengangkat pandangan, napasnya sedikit lega. “Tekanan darah ibu stabil, detak jantung janin terdengar baik, dan perkembangan janin sesuai dengan usia kehamilan,” lanjut dokter itu sambil membuka lembar catatan medis. “Tidak ada tanda-tanda kontraksi dini atau gangguan pada rahim.” Dokter kemudian menjelaskan lebih rinci, menggunakan bahasa yang mudah dipahami. “Selama ibu tidak mengalami keluhan seperti nyeri hebat, pendarahan, atau pusing berlebihan, kehamilan ibu tergolong aman.” Djiwa mengangguk pelan, jemarinya refleks menyentuh perutnya. “Untuk aktivitas sehari-hari,” sambung dokter itu, “Ibu tetap boleh bekerja dan beraktivitas ri







