LOGINDamian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak. Sampai Fraya Alexandrea datang. Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding. Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulainya sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. Rindu. Candu. Obsesi. Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
View More"Hati-hati dengan kardus itu! Isinya buku-buku putriku semua. Dia bisa membunuhku kalau ujungnya penyok sedikit saja!"
Fraya, yang baru saja hendak melangkah masuk ke rumah barunya di bilangan London, langsung berbalik. Ia menatap Papanya dengan kening berkerut dalam sembari mendekap sebuah kotak berukuran sedang. "Hei! That's not nice, Dad!" Fraya tahu itu hanya gurauan. Eric, pria bertubuh tegap dengan binar jenaka di matanya, langsung tertawa lepas melihat Fraya berkacak pinggang. Bahkan petugas angkut yang berdiri di dekat mereka pun tak tahan untuk tidak ikut terkekeh. Tak lama, Mama muncul dari dalam rumah dengan napas yang memburu pendek. Wajahnya kemerahan, tampak kelelahan karena bersikeras ikut mengangkat barang yang sebenarnya tak seberapa banyak. Jika tadi Fraya membalas Papanya dengan bahasa Inggris, kini giliran Mama yang mengeluarkan jurus protes khasnya dalam bahasa Indonesia. "Papa kamu ini gimana, sih? Kenapa cari rumah seluas ini? Barang kita kan cuma sedikit. Lihat nih, hampir semuanya sudah masuk tapi ruangan masih terasa kosong melompong gini. Mama ngomong saja suaranya sampai bergema!" Meski Eric tidak paham setiap kata yang diucapkan istrinya, ia sudah hafal nada komplain itu-lagu lama yang sudah ia dengar sejak mereka masih di Jakarta. "It's from the company, Honey. We should be grateful for not having a small townhouse," jawab Eric lembut, mencoba menenangkan. Melihat perdebatan kecil yang mulai berlanjut, Fraya memilih "melarikan diri". Ia menyelinap masuk, menelusuri lorong rumah yang harus ia akui memang jauh lebih megah dibanding rumah mereka di Jakarta. Sebagai Kepala IT di perusahaan internasional, Eric memang sering berpindah tugas. Kali ini, kontraknya di Inggris tergolong lama: dua tahun. Demi mendukung impian Fraya untuk berkuliah di universitas ternama, Eric memutuskan untuk memboyong anak dan istrinya untuk ikut ke London. Begitu menemukan kamarnya, Fraya langsung jatuh cinta. Ruangan itu dibanjiri cahaya alami dari jendela besar yang menghadap langsung ke halaman depan. Ia sudah bisa membayangkan dirinya duduk di sana, ditemani segelas cokelat panas dan tumpukan buku pelajaran. Fraya meletakkan kardusnya dan mengeluarkan selembar poster kampus impian yang ia bawa dengan penuh hati-hati. Ia memandanginya dengan mata berbinar sebelum menempelkannya di dinding. Oxford University. Dulu, saat dunianya hanya sebatas hiruk-pikuk Jakarta bersama Mama, bermimpi tentang Oxford terasa seperti mengharapkan bulan jatuh ke pangkuan. Namun, kehadiran Eric Moore mengubah segalanya. Pria yang dulu merupakan kekasih masa muda Mamanya di Connecticut itu memperlakukan Fraya seperti darah dagingnya sendiri. Sejak hari pertama mereka bertemu, Eric telah berjanji akan membawa Fraya selangkah lebih dekat ke mimpinya. Dan hari ini, janji itu terwujud. Fraya menghirup udara London yang segar-sangat berbeda dengan aroma polusi Jakarta. Walau ia tahu, dalam beberapa minggu ke depan, ia pasti akan merindukan semangkuk bakso urat di pinggir jalan. Tok, tok. Ketukan ringan di pintu yang terbuka membuatnya menoleh. Mama berdiri di sana dengan senyum simpul. "Lusa kamu sudah mulai masuk sekolah, lho," Mama mengingatkan, masih sambil berdiri menutupi ambang pintu kamar Fraya. Fraya seketika refleks menepuk jidatnya. "Kita datangnya terlalu mepet, Ma! Fraya bahkan belum menyiapkan apa pun untuk ke Milford besok." Ia langsung sibuk membongkar kardus lain, mencari jurnal jadwalnya. "Ya, salahin Papa, dong," sahut Mama santai sambil ikut membantu mencari. "Lagipula, hari pertama paling cuma perkenalan. Jangan terlalu tegang." "Ma, ini Milford. Salah satu sekolah internasional terbaik. Isinya murid-murid jenius. Kalau Fraya tidak siap, Fraya bakal terlihat seperti remah-remah di sana." Mama menarik sebuah buku dari tumpukan dan menyerahkannya pada Fraya. "Duh, tua banget deh bicaramu itu! Tenang, Sayang. Kamu lolos jalur akselerasi itu saja sudah bukti kalau kemampuan kamu itu bahkan lebih dari standar Milford. You don't need to prove anything else, sweetheart." Fraya cemberut, lalu menjatuhkan diri ke atas kasur yang bahkan belum beralas sprei. Kalimat pujian Mama tak lantas mengusir rasa cemasnya. Ia membuka jurnalnya, berharap tanggal masuk sekolah itu salah. Namun, tulisan tanggalan lusa yang Fay lingkari pakai spidol merah terpampang nyata di sana. "Fay," Mama duduk di sampingnya, merangkul bahu gadis itu. "Mama tahu kamu mengejar Oxford, tapi jangan sampai kamu melewatkan masa remajamu. You need to loosen up, Hun. Make friends, have fun!" "Versi have fun Mama itu seperti apa?" Fraya menyipitkan mata, pura-pura curiga. "Ya... mungkin mulai melirik satu atau dua cowok keren di sekolah? Cinta monyet bisa jadi penyemangat belajar, lho. Apalagi ini di London. Bayangkan punya pacar British yang aksennya seksi! Mama sih sudah siap punya menantu Inggris." Fraya melongo, lalu mendengus kesal. "Ih Mama! Kok jadi genit begitu? Nggak ada ya! Fokus Fraya itu Oxford. Pacaran cuma buang-buang waktu!" "Buang waktu, atau takut nggak ada yang naksir?" Mama mulai menggoda sambil menggelitik perut Fraya. Gelak tawa pun pecah di kamar yang masih berantakan itu. Di bawah langit sore London yang menyejukkan, kekhawatiran Fraya sejenak menguap. Fraya masih terpana saat berdiri di depan gerbang Milford Hall. Mengenakan seragam biru gelap dengan rok motif kotak-kotak di atas lutut, ia merasa seperti karakter utama dalam film drama remaja. Bangunannya bergaya klasik Eropa abad ke-18, dengan hamparan rumput hijau yang luasnya nyaris tak masuk akal. Setelah melewati sesi administrasi dan sambutan singkat dari kepala sekolah, Fraya diantar menuju kelas akselerasi pertamanya. Sesuai dugaan, kehadirannya langsung memicu bisik-bisik. Kelas itu hanya berisi lima belas murid, namun aura "kelas atas" terpancar kuat dari setiap meja. Fraya, yang berpenampilan sederhana tanpa barang branded yang mencolok, langsung dihadiahi tatapan merendah oleh sekelompok gadis di barisan depan. "Nama saya Fraya Alexandrea. You can call me Fraya, or Fay," ucapnya lugas di depan kelas. "Can I call you mine?" celetuk seorang cowok berambut keriting dengan nada menggoda, memicu siulan riuh dari seisi kelas. "Quiet, please!" tegur Mrs. Witherspoon tegas. "Terima kasih, Fraya. Silakan duduk di kursi kosong di belakang Mr. Partridge." Fraya mengangguk dan mulai melangkah. Namun, baru beberapa langkah, seorang gadis berambut cokelat terang dengan sengaja menjulurkan kakinya ke lorong. Fraya yang waspada langsung menyadarinya. Dengan gerakan tenang, ia melangkahi kaki itu dengan anggun, seolah-olah hal itu bukan masalah besar. Gadis itu menoleh dengan ekspresi terkejut sekaligus kesal karena rencananya gagal total. Fraya membalas tatapannya dengan wajah datar tanpa ekspresi, lalu duduk di kursinya. Astaga, kupikir perundungan di hari pertama sekolah cuma ada di film, batin Fraya jengkel. "I bet you're gonna be the hot news here right away," sebuah suara berbisik dari depan. Cowok berambut cokelat gelap yang duduk di depannya berbalik badan. Ia memiliki senyum ramah dan tatapan yang-jujur saja-sangat memikat. Jantung Fraya memberikan reaksi kecil yang tak terduga. This guy is ridiculously beautiful, just like coming straight out of W*****d, pikirnya. "Jangan khawatir, gadis-gadis di depan sana tidak perlu digubris," lanjut cowok yang kemungkinan bernama Partridge itu. "No worries. Im just as chill the wind blowin' away," balas Fraya sekenanya. Cowok itu terkekeh pelan sebelum kembali menghadap ke depan. Namun sedetik kemudian, ia berbalik lagi, menyisakan senyum miring yang manis. "Nice to meet you, Fraya. Or... Fay. I like Fay better. Beautiful name, for a beautiful girl." Bukannya tersipu, Fraya justru tertawa kecil sembari menutup mulutnya. Ia tidak terbiasa dipuji se-gamblang itu. "Biasanya cewek-cewek akan merona dipuji begitu, kenapa kamu malah tertawa?" tanya si cowok, masih dengan nada berbisik mengabaikan Mrs. Witherspoon yang mulai menerangkan pelajaran didepan kelas. "Aku memang agak susah dipuji. Reaksiku biasanya otomatis tertawa. Anyway, nice to meet you too, Mr..." "Louis," potongnya. "Panggil saja Louis. Jangan panggil 'Mister', ya." Louis mengulurkan tangan secara sembunyi-sembunyi di bawah meja. Fraya menyambutnya dengan senyum tertahan. Hari pertamanya benar-benar campur aduk: sebuah sambutan dingin dari sekelompok gadis populer, dan perkenalan manis dengan cowok British bermata indah. Fraya membuka bukunya, mencoba fokus pada pelajaran. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di baris kedua, seorang cowok berambut pirang yang sedari tadi diam, terus memperhatikannya dengan kening berkerut penuh rasa penasaran.Fraya sempat meyakini satu hal, bahwa menjalin hubungan asmara dengan sosok paling berpengaruh di Milford Hall akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan. Ia begitu percaya diri bahwa dirinya dan Damian akan sanggup mengontrol setiap gerak-gerik mereka di sekolah, menjaga setiap jarak, dan memoles semua interaksi agar tetap terlihat sangat biasa saja di hadapan publik. Dalam benak Fraya, selama mereka dapat mengontrol diri, sebesar apapun hasrat mereka muncul dalam setiap pertemuan di muka umum, tidak akan ada satu pun orang yang bisa mencium rahasia yang Fraya dan Damian simpan rapat-rapat.Namun, ternyata keyakinan naif Fraya ini salah total.Ia lupa satu hal yang paling tidak bisa diatur di dunia ini, yaitu perasaan dan tingkah laku Damian Harding.Walaupun Damian sudah menyanggupi akan menjaga hubungan mereka tersimpan dengan rapat hanya untuk mereka berdua saja, namun sifat posesifnya memang sudah mendarah daging. Dan tampaknya Damian sendiri jadi kesulitan untuk menahan k
"Apa-apaan sih ini!"Suara lengkingan Alana memecah kesunyian balkon. Ia nyaris membanting ponsel mahal dalam genggamannya saat panggilan satu arah yang sudah dilakukannya selama belasan kali dalam lima menit terakhir ini tidak kunjung mendapat respon. Kekesalannya sudah mendidih, meluap hingga ke ubun-ubun. Kukunya yang dipulas cat merah menyala tampak berkilat tajam, seolah ingin sekali mencakar layar ponsel itu, menganggap benda tak berdosa tersebut harus bertanggung jawab penuh atas hancurnya mood Alana sore hari ini. Bagi Alana, diabaikan adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima.Matanya yang tajam dan sarat akan kilatan emosi terangkat saat sosok Axel muncul di balkon teras Mansion Alana yang megah, berdiri kokoh dan angkuh bak sebuah istana di tengah pusat London. Suasana hatinya bukannya membaik sedikit pun, kehadiran Axel malah membuat Alana berdesis kesal, sebuah suara yang keluar dari celah giginya yang terkatup rapat. Ia memukul dada Axel dengan ponselnya—se
Seharusnya ketika sepasang kaki terus bergerak dengan kecepatan di atas batas manusiawi, seseorang akan merasakan keletihan luar biasa yang membuat mereka berhenti sejenak untuk sekadar menarik napas dalam yang menyakitkan.Namun, sudah sejak tadi, yang dilakukan Fraya hanyalah berlari menembus kegelapan di depan matanya yang terasa seakan tak berkesudahan.Fraya memacu kedua kakinya, mengabaikan rasa sakit yang muncul akibat telapak kakinya yang polos menusuk ranting-ranting kecil sepanjang ia berlari membelah sunyi.Kepekatan deretan pepohonan yang seakan menghalangi jalannya berubah menjadi labirin hitam yang menyesakkan.Jika ditanya apa yang Fraya lakukan sekarang ini, jawabannya sederhana: Fraya sendiri tidak tahu.Yang jelas, seluruh raganya seakan sedang dikepung ketakutan. Seolah sesuatu yang purba tengah mengejarnya dari belakang, berusaha meraih Fraya ke dalam hampa. Namun jika dilihat secara kasat mata, tidak ada siapapun di belakang gadis itu. Pun di depan matanya.Fray
Louis Partridge berlari secepat yang kaki panjangnya mengizinkan, menembus koridor Milford Hall dengan paru-paru yang terasa terbakar.Dunianya seolah menyempit hanya pada satu misi, yaitu menemukan Fraya Alexandrea.Tujuan utamanya saat ini langsung ke kelas Kimia, tempat di mana mata-mata suruhan Damian tadi menginformasikan keberadaan Fraya atas insiden memuakkan yang terjadi di bawah pengawasan Mr. Humblot.Pikirannya bising oleh skenario buruk yang mungkin menimpa gadis itu.Namun, saat Louis mencapai pintu berkusen kayu ek yang kokoh itu dan menerjang kenop pintunya dengan kasar hingga pintu membelalak terbuka lebar, yang didapatnya justru hantaman sunyi yang menyesakkan.Seluruh atensi kelas yang tadinya sedang serius memerhatikan penjelasan Mr. Humblot menoleh bersamaan ke ambang pintu, menatap Louis yang berdiri mematung sambil terengah-engah dengan peluh yang membasahi pelipisnya."Bloody Hell, Mr. Partridge. What on earth got into you, storming into my class like a madman
"Damian, nama keluarga kamu itu... sebenarnya membuat saya merasa sedikit segan."Papa Fraya baru saja menyesap kopi hitamnya setelah sesi makan malam penuh kehangatsn sekaligus candaan dengan menu bakso buatan Mama-sebuah kekontrasan yang hampir terasa aneh bagi seseorang dengan nama belakang se
"Kalau kamu tanya sama aku, apa hal yang Fraya sukai—sesuatu yang kira-kira bisa bikin dia tidak langsung mengusirmu di menit pertama kamu muncul di depan pintu rumahnya—kamu salah besar kalau sampai membawakan dia bunga."Florence mengucapkannya dengan nada final, seolah itu adalah hukum alam ya
Fraya yakin sekarang wajahnya pasti sudah berubah semerah tomat. Kalimat Florence barusan seperti sebuah tinju yang menghantam langsung ke wajah Fraya dengan keras.Kali ini bukan hanya alisnya saja yang naik, tapi matanya membelalak lebar kearah Florence. "Kamu ini bicara apa, sih! Ngelantur, deh.
Damian menutup pintu mobil di belakang punggungnya. Namun untuk sesaat, ia tetap berdiam diri seperti itu, membiarkan punggungnya bersandar pada sisi mobil yang masih hangat oleh sisa perjalanan. Ia merasakan senyumnya yang tidak bisa berhenti mengembang sepanjang kepulangannya dari rumah Fraya t
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.