Masuk"Saya nikah dan kawinkan Kirana binti Wijaya Kusuma dengan mahar 500 perak dibayar tunai." Ucapan Aditya barusan menggugah rasa terkejut di antara tamu undangan sekaligus keluarga masing-masing mempelai. Kirana, istrinya, menunduk malu saat mendengar itu. Dia menghela napas. "Kenapa hanya 500 perak? Apa menurutmu pernikahan ini main-main?" Aditya tidak menjawab pertanyaan Kirana. Dia hanya tersenyum tipis. Pria itu menyembunyikan sesuatu dibalik mahar yang dia berikan pada pasangannya. Sebuah rahasia yang menjadi pegangan hati selama ini. Rahasia yang membuat hati semua orang merendahkan dirinya karena mahar yang dia berikan tanpa tahu bahwa dibalik itu semua ada hal paling berharga dalam hidup.
Lihat lebih banyakPagi itu, Kirana sedang membersihkan halaman rumah dengan pelan. Dia sama sekali tidak terlihat muram atau lesu. Bahkan senyuman terus menghiasi wajahnya walau sedikit ada paksaan. Itu tidak mengurangi kecantikannya. Udara yang sejuk membuat hati Kiran terasa tenang. "Hai, Kiran," sapa seorang wanita berambut pirang memakai kaca mata hitam. Pakaian yang dia kenakan cukup modis dengan kaos kemeja putih dan celana jeans abu-abu. Dia segera menghampiri Kirana setelah memarkirkan mobilnya di pojok lapangan di dekat rumah kecil Aditya. Kirana mendengar ada yang memanggil, seketika menoleh. Dia masih diam memegang sapu sambil terpaku memandang perhiasan kalung dari emas yang melingkar di leher wanita itu. Saat wanita itu mengangkat tangan sekilas, dia juga tak sadar menunjukkan dua gelang emas di pergelangan tangannya. Kirana menunduk, dia menghela napas. Kenapa dia harus pamer seperti ini? batin Kirana yang merasa iri dengan perhiasan emas wanita itu sementara dia hanya memakai daste
Suara tawar-menawar bercampur dengan aroma tanah basah dan sayuran segar yang baru dibongkar dari karung. Di tengah hiruk pikuk itu, seorang pemuda dengan kemeja lusuh tampak sibuk menata tumpukan telur di meja kayu. Aditya berjualan telur karena sang pemilik sedang keluar kota dan Aditya dikenal sebagai pria serba bisa di pasar. “Dua kilo, Dit. Yang gak retak ya,” seru seorang ibu langganan sambil membawa tas belanja. "Iya, Bu. Saya pilihkan yang bagus." Aditya menatap tumpukan telur, lalu dengan cekatan menghitung dan menimbang. “Pas dua kilo, Bu. Empat puluh ribu aja. Saya tambahin satu bonus, biar besok belanja lagi di sini.” Senyum kecil mengembang di wajah pelanggan. “Wah, rezekinya istri kamu tuh, suami rajin dan murah hati.” Aditya tersenyum kikuk, mengelap peluh di kening. “Hehe, iya, Bu. Rezekinya istri saya memang di sini.” "Makasih ya, Dit." "Sama-sama, Bu. Balik lagi besok ya, Bu." Ibu itu hanya mengangguk dan buru-buru pergi. Pembeli kian berdatangan, tapi Adity
Malam, Lampu redup di sudut ruangan menyinari wajah Kirana yang sedang tertidur pulas di ranjang kecil. Napasnya teratur, rambut panjangnya terurai di bantal, dan wajah yang biasanya keras kini tampak tenang. Aditya duduk di tepi ranjang, memperhatikan perempuan itu lama. Ada senyum tipis yang tak bisa ia tahan."Kamu keliatan sangat cantik bahkan saat tidur, Kirana. Sayangnya kamu harus terjebak dalam kasur itu."Ia tahu, di balik sikap dingin dan cemberut Kirana selama ini, ada hati yang sedang berjuang menyesuaikan diri. Mungkin Kirana belum bisa mencintai kehidupannya yang sekarang, tapi Aditya yakin waktu akan menuntun semuanya."Maaf, tapi aku akan berusaha sebisaku."Perlahan, ia menundukkan kepala, menatap jemari Kirana yang halus. “Kamu nggak pernah tahu, Ran, seberapa besar artinya kamu buat aku,” bisiknya lirih.Aditya kemudian menoleh ke meja kecil di dekat jendela. Di sana, sebuah toples bening berisi uang logam 500 perak berdiri tenang. Ia berjalan mendekat, mengambil t
Pagi di sekitar rumah terasa aneh bagi Aditya. Biasanya orang-orang tersenyum ramah ketika ia lewat, tapi sejak pernikahannya dengan Kirana, semua berubah. Setiap langkahnya diiringi bisikan-bisikan yang menusuk seperti duri di telinga.“Lihat tuh, pengantin baru. Mahar cuma 500 perak,”“Beli permen aja nggak cukup. Kirana pasti nyesel setengah mati.”"Kenapa mereka terus membahas itu, gimana kalau Kirana dengar ini," gumam Aditya."Lihat itu, suaminya. Bahkan berpenampilan menarik aja dia nggak bisa. Kerja serabutan."Ibu-ibu tersebut menatap sinis pada Aditya. Mereka tidak takut didengar oleh Aditya. Seakan terang-terangan menjelekkan Aditya dan Kirana. Aditya menunduk, berusaha seolah tidak mendengar. Tapi dari pantulan kaca jendela toko di pinggir jalan, ia bisa melihat senyum sinis dan lirikan tajam yang mengikuti langkahnya. Tangannya mengepal di saku celana, menahan emosi yang mendesak keluar. Namun ia tetap melangkah.Sesampainya di rumah kecilnya, Aditya menghela napas panja












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.