MasukRadja mengusap lembut bahu Djiwa yang masih bergetar dalam tangis. Tubuh mereka berbaring berdampingan di atas brankar rumah sakit, dalam diam yang terasa menyesakkan. “Ssstt ….” bisik Radja pelan, suaranya rendah, sarat rasa bersalah. Tangannya terangkat, menghapus jejak air mata di pipi istrinya yang tak kunjung berhenti mengalir. Namun Djiwa perlahan bangkit. Ia duduk, berhadapan dengan Radja. Tatapannya kosong, rapuh, tapi menyimpan ribuan pertanyaan yang menyesakkan dada. “Ini gak masuk akal, Mas,” suaranya lirih, bergetar. “Gimana bisa kamu kena edema otak, dan langsung divonis waktu kamu gak lama lagi?” Ia menggenggam tangan Radja erat. Dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang masih bernapas di hadapannya. “Kecelakaan kamu itu belum lama, Mas … jangan bohongin aku,” lanjutnya, hampir memohon. Radja menghela napas pelan. Tatapannya tenang, terlalu tenang. “Sebelum kamu menikah dengan Kai, saya sudah pernah kecelakaan,” ucapnya akhirnya. Napas Djiwa tercekat. Dadanya
Djiwa membeku. Dunia seolah berhenti berputar. “Nggak …,” suaranya nyaris tak terdengar. “Gak mungkin.” “Kami sudah menyarankan operasi,” lanjut dokter itu hati-hati. “Tapi tingkat keberhasilannya tidak mutlak. Hanya sekitar lima puluh persen.” Djiwa menatap dokter itu dengan mata yang mulai basah. “Dan Tuan Radja menolak.” “Kenapa?” suara Djiwa pecah. “Kenapa dia nolak?” Dokter itu terdiam, lalu menjawab pelan, “Mungkin beliau sudah mempertimbangkan semua resikonya.” Djiwa menunduk, bahunya mulai bergetar. “Lalu ... waktu dia?” ia tak sanggup melanjutkan. Dokter itu menatapnya penuh arti. “Kami tidak bisa memastikan secara pasti,” ucapnya hati-hati. “Tapi ... waktu beliau tidak sebanyak yang Anda kira, Nyonya.” _____ Pintu ruang rawat itu terbuka dengan hentakan keras, nyaris membentur dinding. Radja yang baru saja menutup panggilan dari Arga langsung menoleh, alisnya berkerut tajam saat melihat sosok istrinya berdiri di ambang pintu—napasnya tersengal, matanya merah, dan
Pagi itu, Djiwa sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Meski jarak di antara mereka terasa begitu nyata, ia tetap menjalankan perannya dengan sepenuh hati. Di atas nakas, obat-obatan Radja sudah tersusun rapi. Menunggu disentuh setelah suapan terakhir. Djiwa duduk di tepi ranjang, menyuapi pria itu dengan gerakan pelan dan telaten. Namun tak ada satu pun kata yang terucap di antara mereka. Wajah Djiwa pun datar—tanpa senyum, tanpa kelembutan yang biasanya selalu hadir. Hal itu membuat Radja akhirnya bersuara. “Terserah kamu mau marah atau tidak,” ucapnya dingin, tanpa menatap. “Kalau memang marah, tunjukkan saja. Jangan lakukan semua ini seolah kamu terpaksa.” Gerakan tangan Djiwa terhenti sejenak. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus pada pria di hadapannya. Tatapannya sama dinginnya. “Aku masih istri kamu. Dan kamu masih suami aku,” ucapnya pelan, namun tegas. “Ini kewajiban aku.” Radja menggeser pandangannya. “Kalau kamu tidak mau melakukannya, tidak masalah,” balasnya
“Aku udah kehabisan cara buat ngomong sama kamu,” ucap Djiwa pelan, namun nadanya dingin. “Makanya aku minta Ratu yang bilang. Siapa tahu, kamu lebih mau denger omongan anak kamu daripada aku.” Radja hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan. “Saya bekerja untuk menghilangkan rasa bosan di rumah,” jawabnya datar. Djiwa tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip luka yang dipaksa tertutup. “Kamu gak akan bosen kalau mau dengerin penjelasan aku, dan kita sama-sama berusaha memperbaiki ini,” balasnya tegas. “Mau sampe kapan hubungan kita begini terus?” Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang semakin menekan. Djiwa menarik napas dalam, mencoba menahan sesuatu yang terus mendesak keluar dari dadanya. “Aku juga bosen di rumah, Mas,” lanjutnya lirih. “Sejak kamu menjauh, sejak kamu diemin aku, dan gak mau percaya sama aku.” Radja akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, menelusup tanpa ampun. “Percaya?” ulangnya pelan. “Kamu minta saya percaya, sementara setiap yang saya li
“Dok.” Djiwa nyaris berlari saat tiba di rumah sakit. Begitu pintu ruangan dibuka, langkahnya terhenti seketika. Radja terbaring di atas brankar. Wajahnya pucat, dan belum sadarkan diri. Di sisi lain, dokter yang sebelumnya menghubunginya sudah berdiri di sana, seolah memang menunggu kedatangannya. “Selamat siang, Nyonya,” sapa dokter itu dengan nada ramah. “Siang, Dok,” suara Djiwa terdengar tercekat. Ia mendekat beberapa langkah, matanya tak lepas dari sosok suaminya. “Bagaimana kondisi suami saya? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit lagi?” Dokter itu menarik napas pelan, lalu menatap Djiwa dengan serius. “Begini, Nyonya. Tuan Radja dilaporkan pingsan di kantornya, setelah menghadiri rapat penting bersama rekan bisnisnya.” Tatapannya sempat beralih pada Radja yang masih belum sadar. “Kondisinya memang sudah stabil, tapi saya sangat menyarankan agar beliau tidak memaksakan diri bekerja terlalu berat.” Djiwa menelan ludahnya. “Pekerjaan kantor mungkin tidak menguras tenaga fi
Pagi itu, langkah Djiwa terhenti begitu memasuki ruang makan. Tatapannya langsung tertuju pada satu pemandangan yang tak ia duga. Radja duduk di kursinya seperti biasa—namun kali ini, Ratu berada di pangkuannya. Keduanya tampak begitu dekat. Seolah tak pernah ada jarak di antara mereka sebelumnya. Sejak kapan? Djiwa menelan ludahnya pelan. Semalam, ia memilih tidak bergabung di meja makan. Dengan alasan sudah kenyang, ia menghindari kebersamaan yang terasa canggung—meninggalkan ketiga anaknya yang sempat bertanya ke mana ia pergi. Dan pagi ini semuanya terasa berubah. “Ratu mau roti lagi, Dad,” ucap bocah itu manja, sambil memeluk leher ayahnya. Radja tersenyum tipis, lalu mengecup kening putrinya tanpa ragu. “Ayo makan yang banyak, biar kuat,” balasnya lembut, nada suaranya jauh berbeda dari dingin yang biasa Djiwa rasakan. Ratu terkikik kecil, tampak begitu nyaman di pangkuan ayahnya. Radja kembali mengecup pipinya sekilas, memperlakukan gadis kecil itu seolah dunia hanya
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama
“Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.
“Anggita, babay ....” seru Celine, anak kecil itu, sambil melambaikan tangan pada temannya yang sudah dijemput orang tuanya lebih dulu. Anggita tersenyum lebar, membalas lambaian Celine dengan senyum lebar. Kemudian tatapannya kembali mencari-cari mobil jemputannya. Akhir-akhir ini, semenjak Radj







