Compartir

BAB 217

last update Fecha de publicación: 2026-02-06 01:05:45

Satya menatap putrinya dengan mata menyipit, menangkap jelas ketegangan yang tak biasa di wajah Inggrit, campuran penasaran dan waspada.

“Telepon dari siapa?” tanyanya, meletakkan berkas di tangannya ke atas meja.

“Fairish,” jawab Inggrit singkat.

“Ada apa dia menghubungi kamu?” kening Satya berkerut lebih dalam.

Inggrit mengedikkan bahu. “Katanya ada masalah di rumah. Aku penasaran, jadi mau nemuin dia hari ini.”

Sudut bibir Satya terangkat membentuk senyum tipis—tenang, tapi penuh perhit
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (12)
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklanya buat emosi
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
tambah rumit ceritanya
goodnovel comment avatar
Marsinta Hutabarat
kasihan djiwa jadi korban
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 519

    “Selamat sore, Nyonya,” sapa seorang wanita muda saat Djiwa sedang berjalan santai di taman depan mansion. Djiwa sedikit terkejut, namun segera tersenyum ramah. “Sore. Maaf … dengan siapa, ya?” Wanita itu mengulurkan tangan dengan sopan. “Saya Bila, guru les privat baru untuk anak-anak Tuan Radja.” “Oh …,” Djiwa membalas uluran tangan itu dengan hangat. “Selamat datang. Saya Djiwa, ibunya anak-anak.” “Senang berkenalan dengan Anda, Nyonya,” ucap Bila dengan sikap profesional. “Langsung mulai hari ini, ya?” tanya Djiwa. “Atau hanya perkenalan dulu?” “Langsung mulai, Nyonya. Tuan Radja menyampaikan anak-anak sudah cukup banyak tugas yang harus dikejar.” Djiwa mengangguk pelan. “Baiklah. Mari masuk.” Bila mengikuti dari belakang, langkahnya tenang. Sesampainya di ruang tengah, ia duduk dengan rapi sambil menunggu. Matanya tak bisa menahan diri untuk tidak berkeliling. Mewah. Megah. Elegan. Rumah itu lebih dari sekadar besar. Terlalu sempurna. Sementara itu, Djiwa sudah menaiki

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 518

    “Ratu gak mau dicium Daddy,” tolak Ratu, bibirnya mengerucut, wajahnya cemberut. Radja tersenyum tipis, mencoba tetap tenang. “Kamu marah sama Daddy, hm?” “Daddy jahat sama Ratu, Daddy bentak Ratu kemarin,” jawab bocah itu lirih, suaranya bergetar. Radja terdiam. Perlahan, tatapannya beralih pada Djiwa—dingin, dalam, dan menyiratkan sesuatu yang tak terucap. Djiwa langsung menelan ludahnya susah payah. Kepalanya menggeleng kecil, seolah menolak tuduhan yang bahkan belum dilontarkan. Di sisi lain, Regan dan Naren hanya saling melirik, sama-sama memilih diam. “Daddy kemarin tidak sengaja, Nak,” ucap Radja akhirnya, suaranya tetap tenang. “Bukan kemauan Daddy buat bentak kamu.” Namun Ratu memalingkan wajahnya, menolak menatap ayahnya. “Kalau begitu … Daddy minta maaf, ya. Kalau kamu marah, Daddy janji tidak akan marahin kamu lagi.” “Ratu gak mau maafin Daddy,” lirihnya, suaranya pecah. Radja menarik napas pelan. “Kenapa gak mau maafin Daddy?” Tak ada jawaban. Hanya mata kecil

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 517

    “Saya pikir kamu tulus meminta maaf kemarin,” ucap Radja pelan, namun setiap katanya terasa menekan. “Saya pikir kamu benar-benar menyesal.” Djiwa menahan napas. “Tapi apa yang Ratu katakan hari ini …,” lanjutnya, sorot matanya mengeras, “Membuat saya mulai ragu.” “Mas ….” suara Djiwa lirih, nyaris tak terdengar. “Seberapa dekat kamu dengan Bagas?” potong Radja tiba-tiba, dingin, tajam, tanpa jeda. “Sampai bukan cuma anak kita yang ingin dia kembali, tapi kamu juga.” Djiwa langsung menggeleng tegas, matanya berkaca. “Aku gak pernah berharap itu, Mas. Demi apa pun, aku gak—” “Kamu tidak akan pernah mengakuinya semudah itu, Djiwa,” sela Radja, suaranya semakin rendah, namun sarat kekecewaan. “Karena dari awal, kamu sudah memilih menyembunyikannya.” Djiwa terdiam. Dadanya sesak. “Aku gak nyembunyiin apa-apa, Mas. Aku cuma ....” “Tapi kamu cerita ke dia.” Radja kembali memotong, kali ini lebih dingin. “Masalah rumah tangga kita. Hal yang seharusnya hanya kita berdua sebagai suami

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 516

    “Kamu udah gak ngajar lagi di rumah Tuan Radja, Gas?” tanya Devi pelan sore itu, suaranya terdengar hati-hati, seolah takut mengusik sesuatu yang belum benar-benar selesai. Bagas menghembuskan napas panjang, bahunya sedikit merosot. “Udah. Sekitar seminggu lebih.” Ia lalu menoleh, menatap Devi dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Kamu juga, udah lama gak kelihatan berangkat ke rumah sakit.” Devi menggigit bibirnya pelan, menahan sesuatu yang ingin keluar. “Aku juga udah gak kerja di sana. Sekarang pindah ke klinik.” Ia menunduk sebentar, sebelum melanjutkan lirih. “Jam kerjanya beda. Mungkin itu sebabnya kita gak pernah ketemu lagi.” “Kenapa pindah?” tanya Bagas, kali ini lebih pelan, tapi penuh makna. Devi terdiam. Hening sejenak menggantung di antara mereka, sampai akhirnya Bagas kembali bersuara. “Karena aku, ya?” Devi menggeleng cepat, meski tatapannya masih jatuh ke lantai. “Bukan salah siapa-siapa. Memang bukan rezekinya aja.” Namun Bagas tersenyum tipis, pahit. “Kita

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 515

    Radja memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya kembali. Saat dibuka, suaranya kembali rendah—tapi tegas. “Jangan bawa-bawa Mommy dalam hal ini.” Ratu benar-benar diam sekarang. Air matanya jatuh tanpa suara. Melihat itu, tangan Radja akhirnya kembali terangkat, mengusap kepala putrinya lebih lembut. “Daddy akan carikan guru yang lebih baik,” ucapnya pelan. “Percaya sama Daddy.” Ratu tidak menjawab. Ia hanya menunduk, masih terisak kecil. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka, menampilkan Djiwa yang masuk dengan langkah tergesa. Namun langkahnya langsung terhenti saat melihat pemandangan di dalam. Ratu terisak di hadapan ayahnya. “Ratu …?” suara Djiwa langsung dipenuhi kecemasan. Ia bergegas menghampiri, lalu berlutut di samping putrinya. “Kamu kenapa, Nak?” Tatapannya sempat melirik Radja yang justru membalas dengan pandangan dingin. “Kamu masih sedih Daddy sakit?” tanya Djiwa lagi, mencoba lembut, seraya merangkul tubuh kecil itu. Ratu langsung memeluk ibunya erat, waja

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 514

    “Mas ….” sapa Karin pelan saat Kaisar masuk ke kamar. Senyum kecil sempat terukir di wajahnya—hangat, menunggu. Namun senyum itu perlahan memudar ketika melihat ekspresi sang suami yang datar. Terlalu datar. “Aku dari rumah Mas Radja,” ucap Kaisar tanpa basa-basi. Karin terdiam sesaat, lalu memaksakan senyum tipis. “Oh, ya? Gimana keadaannya?” tanyanya, berusaha terdengar biasa. “Kamu sempat tanya dia, ke mana dia pergi malam itu? Setelah dari rumah Mami?” Kaisar menghela napas panjang. “Belum. Dia harus istirahat.” Karin mengangguk pelan. “Oh ….” gumamnya singkat. Ada kelegaan kecil yang sempat terlintas di matanya—cepat, tapi cukup terlihat. “Tapi …,” lanjut Kaisar. Tatapannya kini lurus menembus sang istri. “Persepsi kamu kemarin ternyata keliru.” Karin sedikit terkejut. “Maksudnya?” “Mas Radja tidak melakukan itu dengan sengaja,” ucap Kaisar tenang, tapi jelas. “Bukan untuk membuat Djiwa merasa bersalah. Bukan seperti yang kamu katakan.” Mata Karin membulat. “Kamu tanya l

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 112

    Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama

    last updateÚltima actualización : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 95

    “Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.

    last updateÚltima actualización : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 111

    “Anggita, babay ....” seru Celine, anak kecil itu, sambil melambaikan tangan pada temannya yang sudah dijemput orang tuanya lebih dulu. Anggita tersenyum lebar, membalas lambaian Celine dengan senyum lebar. Kemudian tatapannya kembali mencari-cari mobil jemputannya. Akhir-akhir ini, semenjak Radj

    last updateÚltima actualización : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 79

    Pupil mata Inggrit membesar, bibirnya bergetar tanpa suara. Langkahnya mundur setengah tapak, seolah lantai di bawah kakinya mendadak runtuh. “Mas …,” napasnya tercekat. “A-apa maksud kamu?” Radja hanya menatapnya—diam, tajam, dan terlalu tenang. “Maksud saya jelas. Kalau kurang jelas, berarti ad

    last updateÚltima actualización : 2026-03-21
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status