共有

BAB 230

作者: Langit Parama
last update 公開日: 2026-02-09 06:43:13

“Nggak!” Djiwa seketika bangkit dari duduknya. Suaranya pecah, tangannya refleks melindungi perutnya.

“Djiwa gak mau dipisahin sama anak-anak. Kenapa Mami bisa ngomong sejauh itu, bahkan saat mereka belum lahir?”

Sekar menatapnya tanpa empati. Tatapan seorang perempuan yang terbiasa memutus nasib orang lain.

“Kamu dan Kaisar sudah bukan suami istri,” katanya dingin. “Dan selama saya tidak merestui Radja menikahi kamu, maka posisi kamu jelas bukan bagian dari keluarga ini.”

Sekar menyilangka
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (11)
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklanya buat emosi
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
kasihan sekali nasib jiwa
goodnovel comment avatar
Marsinta Hutabarat
Bagus raja bawa djiwa keluar
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 498

    Ruangan intensif itu dipenuhi cahaya putih yang redup namun dingin. Suara mesin medis berdenting pelan—ritmis, konstan, seolah menjadi satu-satunya tanda bahwa kehidupan masih bertahan di sana. Radja terbaring di atas ranjang. Tubuhnya nyaris tak bergerak. Selang nasal kanul terpasang di hidungnya, membantu pernapasan yang masih lemah. Beberapa kabel monitor menempel di tubuhnya, menampilkan garis-garis kehidupan yang naik turun di layar. Wajahnya pucat. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang biasanya penuh kendali. Di sisi ruangan, Djiwa duduk di kursi, tak jauh dari ranjang. Tatapannya tak lepas dari wajah suaminya. Matanya sembab, namun kini tak ada lagi tangis yang pecah—yang tersisa hanya kesedihan yang diam, dalam, dan menyesakkan. Regan berdiri di sampingnya. Diam. Anak itu tak banyak bicara, hanya sesekali menatap layar monitor, lalu kembali ke wajah ayahnya. Sementara di ruangan lain, di ruang rawat inap Djiwa sebelumnya—Ratu terlelap di atas sofa, tubuh

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 497

    Kelopak mata Djiwa bergerak pelan. Ia mengerjap beberapa kali, pandangannya masih buram—hingga perlahan fokus. Hal pertama yang ia lihat Regan dan Naren. “Mommy udah bangun,” ucap Regan cepat, langsung berdiri dari kursinya. Naren yang sejak tadi duduk di samping ranjang, langsung menggenggam tangan ibunya erat. “Mommy ….” Djiwa langsung tersentak, refleks ingin bangun. “Ratu …? Ratu di mana?” suaranya panik, tubuhnya berusaha terangkat dari baringannya. “Mommy, jangan banyak gerak,” cegah Regan cepat, menahan bahu ibunya dengan hati-hati. “Nanti infusnya lepas.” “Ratu dibawa Om Sultan ke ruang operasi, Mom,” tambah Naren, mencoba menenangkan. Djiwa terdiam sejenak. Lalu menghela napas panjang, bahunya sedikit turun. “Syukurlah ….” Ia melirik punggung tangan kanannya—jarum infus tertancap di sana. Namun pikirannya tidak berhenti di situ. “Daddy …,” gumamnya lirih. “Gimana keadaan Daddy, Nak?” Regan dan Naren saling melirik, lalu menggeleng pelan. “Kita belum ke sana, Mom,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 496

    Sultan akhirnya tiba di rumah sakit. Ia datang seorang diri. Fairish tidak ikut—bukan karena tidak peduli, melainkan karena Binar sudah terlelap. Mereka tidak tega meninggalkan anak itu sendirian, takut terbangun dan tidak menemukan kedua orang tuanya. Langkah Sultan cepat, nyaris berlari menyusuri lorong menuju UGD. “Di mana kakak saya?” tanyanya pada salah satu perawat yang melintas. Perawat itu langsung berhenti. “Sudah dipindahkan ke ruang operasi, Dok. Bagian kepala pasien mengalami benturan cukup keras. Dokter bedah saraf sudah standby, dan operasi akan segera dimulai.” Sultan menelan ludah. “Dan … keluarganya?” “Sudah datang. Istri dan anak-anaknya juga ada di sini.” “Di mana mereka sekarang?” “Istri Tuan Radja sempat pingsan. Saat ini sedang di ruang VIP, bersama ketiga anaknya.” Napas Sultan tercekat. “Baik, terima kasih,” ucapnya singkat, lalu segera melangkah cepat menuju ruang VIP. Begitu pintu terbuka, suasana di dalam terasa sunyi namun berat. Ratu duduk di s

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 495

    Sekar baru saja memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya, ketika ketukan keras di pintu kamarnya memecah keheningan. Tok! Tok! Tok! Ia tersentak, refleks langsung bangkit duduk. “Mi, buka pintunya!” suara Kaisar terdengar tergesa dari luar. Sekar menghela napas berat, lalu turun dari ranjang dengan langkah hati-hati. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Pintu dibuka. “Ada apa, Kai?” tanyanya. “Kita ke rumah sakit sekarang,” jawab Kaisar tanpa basa-basi. Sekar mengernyit. “Ngapain ke rumah sakit?” Namun tatapannya teralihkan. Ke arah Karin yang berdiri di samping Kaisar, menggenggam sesuatu di tangannya. “Loh, itu apa?” Sekar melangkah mendekat, lalu mengambil benda tersebut. Matanya menyipit, membaca hasilnya. Detik berikutnya. “Kamu … hamil, Rin?” Karin tersenyum kecil. “Iya, Mi. Aku hamil.” Wajah Sekar langsung berubah. Kaget, lalu bahagia. “Ya Tuhan …,” ia langsung menarik Karin ke dalam pelukan hangat. “Akhirnya kamu hamil anak Kai juga. Kai

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 494

    “Daddy … kecelakaan.” Kalimat itu jatuh pelan, tapi dampaknya seperti menghantam keras. “Hah?!” Ratu langsung menangis. “Mommy bohong, kan?! Daddy gak apa-apa, kan?!” Air matanya mengalir deras, tubuh kecilnya gemetar. Naren ikut panik. “Gimana maksudnya kecelakaan, Mom?! Daddy di mana sekarang?! Kita ke sana, kan?! Kita ke sana sekarang?!” Suasana langsung kacau. Hanya Regan yang tetap diam. Wajahnya tegang, tapi ia tidak menangis. Tatapannya langsung tertuju pada ibunya—mencari kepastian. Djiwa sendiri nyaris kehilangan keseimbangan. Kakinya terasa lemas, tangannya gemetar hebat. Namun ia menahan diri. Ia tidak boleh runtuh, tidak di depan anak-anaknya. “Iya, kita ke sana sekarang,” ucapnya pelan, berusaha menguatkan suara yang hampir pecah. Ia meraih tangan Ratu yang menangis, lalu menoleh pada Naren dan Regan. “Ayo … kita ke rumah sakit.” Regan langsung berdiri, sigap. Ia menggenggam tangan Ratu, mencoba menenangkan adiknya yang terus terisak. “Ratu … kita ke Daddy seka

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 493

    Kamar Sankara kembali sunyi. Djiwa masih berdiri di sana, di tempat yang sama, seolah kakinya enggan melangkah pergi. Matanya menatap kosong ke arah jendela, namun pikirannya berputar ke mana-mana. Ucapan Radja sebelumnya terus terngiang. Tentang anak-anak. Tentang keluarga. Tentang bagaimana semuanya pernah baik-baik saja. Napasnya perlahan memburu. “Aku … keterlaluan,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Tangannya terangkat, menutup mulutnya sendiri, seakan menahan sesal yang tiba-tiba datang tanpa permisi. “Tadi aku bilang cerai.” Kata itu terasa asing sekarang. “Aku marah, aku kecewa, aku sakit, tapi …,” suaranya bergetar, “Aku gak seharusnya bilang itu.” Ia menggeleng pelan, tubuhnya melemah. Dalam bayangannya, terlintas wajah anak-anaknya. Ratu yang selalu memeluknya tanpa alasan. Naren yang cerewet. Regan yang diam tapi selalu memperhatikan. Lalu Radja. Cara laki-laki itu menatapnya tadi. Cara dia menahan emosi. Cara dia tetap berdiri tanpa mundur. Djiwa mengusap wa

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 99

    Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Djiwa tak lepas dari sikap Radja terhadap Anggita. Ia bisa memahami alasan Radja menjaga jarak dari Inggrit, karena sikap wanita itu memang kerap tak pantas dijadikan teladan. Namun Anggita? Anak kecil itu sama sekali tak bersalah. Tak ada satu pun ala

    last update最終更新日 : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 79

    Pupil mata Inggrit membesar, bibirnya bergetar tanpa suara. Langkahnya mundur setengah tapak, seolah lantai di bawah kakinya mendadak runtuh. “Mas …,” napasnya tercekat. “A-apa maksud kamu?” Radja hanya menatapnya—diam, tajam, dan terlalu tenang. “Maksud saya jelas. Kalau kurang jelas, berarti ad

    last update最終更新日 : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 84

    “Mas Radja,” Djiwa menghampiri pria itu, refleks satu tangannya menutupi hidung ketika aroma alkohol menyergap tajam. “Djiwa?” mata Radja menyipit. Pandangannya sedikit kabur, namun ia tetap bisa mengenali siluet wanita itu—bahkan di tengah kepalanya yang berat, aroma khas Djiwa tak pernah salah.

    last update最終更新日 : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 89

    “Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d

    last update最終更新日 : 2026-03-21
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status