Share

BAB 341

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-03-16 07:01:02

“Kamu yang masak?” tanya Radja sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. Tatapannya tertuju pada Djiwa, penuh selidik sekaligus perhatian.

“Iya, Mas,” jawab Djiwa lembut. “Selama gak capek, aku pengen masakin sarapan sama makan malam buat kamu dan anak-anak.”

Radja mengangguk pelan. “Boleh. Tapi ingat, saya tidak pernah menuntut kamu melakukan itu. Buat saya, kamu cukup duduk manis, jadi istri dan ibu. Itu sudah lebih dari cukup.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (13)
goodnovel comment avatar
fadzlynfarid
Over la Sekar
goodnovel comment avatar
Ais Rin
Biarkan Kai amnesia spya g mikir mantan dlu, istirahat itu otak Kai,
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
ikln lgi ikln lgi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 645

    Malam itu, area bandara khusus tampak jauh lebih tenang dibanding terminal umum. Sebuah jet pribadi berwarna putih dengan lambang keluarga Reinard terparkir megah di landasan, menunggu keberangkatan mereka menuju Belanda. Ketiga anak Radja berdiri mematung di bawah tangga pesawat. Mulut mereka kompak terbuka. "Woooow ...." seru Naren paling keras. Ratu bahkan sampai mendongakkan kepala begitu tinggi hingga hampir kehilangan keseimbangan. "Ini pesawat kita?" tanyanya tidak percaya. Radja yang berdiri di samping putrinya mengangguk tenang. "Iya." "Segede ini?" Ratu membulatkan matanya. "Iya." Radja menjawab singkat. "Ini punya Daddy?" "Iya." "Yeayyyy!" Ratu langsung memeluk kaki ayahnya dengan antusias. Sementara itu Naren berlari kecil mengelilingi area yang masih diizinkan untuk dilewati. "Mas Regan! Ini lebih gede dari yang di TV!" Regan yang biasanya tenang pun tak mampu menyembunyikan kekagumannya. "Iya." "Daddy kaya banget, ya." Naren menatap ayahnya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 644

    Siang itu, Arga tiba di mansion keluarga Radja dengan sebuah map cokelat tebal di tangannya. Langkahnya tenang dan rapi seperti biasa saat memasuki rumah megah tersebut. Salah satu pelayan segera menyambutnya dan mempersilahkannya masuk. “Selamat siang, Bu Djiwa,” sapa Arga sopan ketika melewati ruang keluarga dan mendapati Djiwa tengah menemani ketiga anaknya bermain. Djiwa menoleh, lalu tersenyum ramah. “Selamat siang, Pak Arga. Ada perlu apa?” Arga mengangguk hormat. “Saya ingin bertemu dengan Pak Radja, Bu. Ada beberapa dokumen yang harus saya serahkan langsung kepada beliau.” “Oh, baik,” balas Djiwa. “Mas Radja ada di ruang kerjanya. Silakan masuk saja, Pak.” “Terima kasih, Bu.” Arga segera melangkah menuju lantai dua. Setelah tiba di depan ruang kerja, ia mengetuk pintu beberapa kali. Tok. Tok. Tok. “Masuk.” Arga membuka pintu dan mendapati Radja duduk di balik meja kerjanya yang besar. Pria itu tengah menandatangani beberapa dokumen sambil sesekali menyesap

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 643

    “Rara, aku mau kenalin kamu sama Riri,” ucap Ratu pagi itu sambil berjongkok di depan alpaca kesayangannya. Di pelukannya, boneka alpaca berwarna merah muda yang sebelumnya diberikan Kaisar menempel erat di dadanya. Radja yang berdiri di samping putrinya langsung mengernyit bingung. “Kamu kasih nama boneka itu Riri?” tanyanya. Ratu mengangguk cepat. “Iya. Biar namanya mirip sama Rara.” “Hm.” Sudut bibir Radja terangkat tipis. “Bagus juga.” Ratu tersenyum puas, lalu kembali menghadap alpaca betinanya. “Rara, ini Riri. Mulai sekarang kalian temenan, ya.” Radja menggeleng pelan sambil menahan tawa. “Sepertinya Rara malah mengira Riri itu anaknya.” Ratu langsung menoleh. “Memangnya Rara punya anak, Daddy?” “Mungkin saja.” “Mungkin?” Ratu memiringkan kepalanya. “Berarti Rara udah punya suami dan menikah dulu?” Radja terdiam. Untuk pertama kalinya pagi itu, pria yang biasanya selalu punya jawaban mendadak kehilangan kata-kata. “Daddy gak tahu, Nak.” “Kalau gak tahu,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 642

    “Kamu istirahat dulu, ya. Pasti capek. Semalaman kamu jagain Bianca yang gak mau tidur,” ucap Kaisar pelan sembari menarik selimut hingga menutupi tubuh istrinya dengan rapi. Karin tersenyum tipis. Wajahnya masih terlihat pucat setelah proses persalinan, ditambah beberapa malam terakhir yang ia lalui dengan perasaan bersalah, cemas, dan ketakutan yang tak pernah benar-benar hilang. “Iya, Mas,” bisiknya lirih. Tak lama kemudian, matanya terpejam perlahan. Kaisar duduk beberapa saat di sisi ranjang, memperhatikan wajah wanita yang dicintainya itu. Wanita yang hampir kehilangan segalanya. Wanita yang rela menanggung rasa bersalah seorang diri hingga tubuhnya gemetar setiap kali mengingat apa yang terjadi pada Ratu. Pandangan Kaisar lalu beralih ke box bayi di samping ranjang. Bianca tertidur pulas di dalamnya. Dada kecilnya naik turun dengan teratur. Begitu mungil. Begitu rapuh. Membuat hati Kaisar menghangat sekaligus nyeri dalam waktu bersamaan. Tangannya terulur,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 641

    Seketika Karin menangis semakin keras. Kaisar membeku di tempatnya. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Mas ....” Suara pria itu pecah. Radja mengangkat satu tangannya, menghentikan semua ucapan yang ingin keluar. “Jangan ulangi lagi.” Nada suaranya rendah. “Tanggung jawab sebagai suami, istri, dan orang tua bukan sesuatu yang bisa dipermainkan.” Kaisar mengangguk cepat. “Saya janji.” “Dan saya tidak ingin ada lagi rahasia di keluarga ini.” Lanjut Radja. “Tidak akan ada lagi, Mas.” Radja menatap mereka beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk tipis. Di saat yang sama, bidan berjalan mendekat sambil menggendong bayi mungil yang kini sudah dibedong rapi. “Nah,” ucap sang bidan sambil tersenyum. “Karena semuanya sudah berdamai, bagaimana kalau kenalan dulu dengan anggota keluarga baru?” Mata Ratu langsung berbinar. “Baby-nya!” Naren meloncat kecil. “Boleh gendong, gak?” “Belum,” jawab semua orang hampir bersamaan. “Kenapa belum? Kenapa ga

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 640

    “Daddy ...!” Begitu melihat Radja kembali ke ruang tunggu, Ratu langsung merentangkan kedua tangannya dari pangkuan Djiwa. Tanpa menunggu lama, Radja mengangkat putrinya ke dalam gendongan. Tubuh kecil itu segera memeluk leher sang ayah erat. “Maaf ya, Sayang,” ucap Radja pelan sambil mengusap punggung putrinya. “Makan malamnya harus ditunda lagi.” Ratu menggeleng cepat. “Nggak apa-apa, Daddy.” “Bener?” “Iya.” Bocah itu tersenyum manis. “Ratu gak marah. Nggak sedih juga. Soalnya sekarang lagi nunggu adek bayi lahir.” Sudut bibir Radja terangkat tipis. “Makasih, Sayang.” Pria itu menundukkan kepala dan mengecup kening putrinya lama. Tatapannya kemudian beralih kepada Djiwa yang sejak tadi memperhatikan mereka dengan mata berkaca-kaca. “Aku kira kamu ke mana tadi, Mas,” ucap Djiwa lirih. “Aku sempet khawatir.” Radja terdiam sesaat. Djiwa tersenyum kecil. “Ternyata kamu ke sana buat bantu Mas Kai bisa nemenin Karin melahirkan. Walaupun cuma malem ini aja kamu bebasi

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 89

    “Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 333

    “Mas ….” Radja tersentak. Refleks ia meletakkan ponselnya ke atas nakas, bahkan sebelum sempat memutar rekaman yang baru saja dikirim Sultan. “Ada apa, sayang?” tanyanya lembut, telapak tangannya mengusap pipi Djiwa. “Mau ke kamar mandi, hm?” “Haus,” bisik Djiwa lirih. “Oke,” Radja segera me

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 338

    “Anak-anak sudah berangkat sekolah, sayang?” tanya Radja saat wajahnya muncul di layar ponsel melalui panggilan video. “Udah, Mas. Tadi aku minta Nina yang anter anak-anak,” jawab Djiwa dengan senyum kecil. “Oke, bagus.” Radja mengangguk singkat

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status