Mag-log in“Sayang,” suara Radja terdengar berat begitu ia tiba di penthouse dan mendengar kabar bahwa calon istrinya hampir celaka.
Begitu melihat Djiwa duduk di ruang tengah dengan wajah pucat dan tubuh yang masih gemetar, Radja langsung menghampiri, lalu memeluknya erat—seolah dunia bisa runtuh jika ia melepas wanita itu sedetik saja. “Mas ….” suara Djiwa bergetar, napasnya masih tidak beraturan. “Tenang,” bisik Radja di atas kepalanya. Tangannya mengusapKaisar mengernyit, jelas tak menyangka. “Mas … tahu kalau aku dengar itu dari istriku?” Radja menyunggingkan senyum tipis, terlalu tipis untuk disebut ramah. “Tentu saja.” Nada suaranya tenang, tapi justru itu yang membuat suasana terasa makin menekan. Sultan menatap kakaknya tanpa berkedip. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang Radja tahu. Tapi sebelum salah satu dari mereka sempat membuka suara lagi. Klek. Pintu kamar terbuka. Djiwa masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan berisi makanan. Aroma hangat segera memenuhi ruangan, memotong ketegangan yang sejak tadi menggantung. “Mas Radja, waktunya makan siang,” ucapnya lembut. Sultan langsung bangkit dari duduknya, menangkap isyarat itu sebagai penutup pembicaraan. “Benar. Mas Radja juga harus istirahat setelah ini,” ujarnya, lalu melirik Kaisar. “Aku juga mau pulang. Kamu, Kai?” Kaisar masih diam beberapa detik. Tatapannya belum lepas dari Radja, seolah masih menyimpan pertanyaan yang belum selesai. Namun akhirnya ia
Djiwa duduk di tepi ranjang, semangkuk bubur hangat di tangannya. Uap tipis masih mengepul, menandakan makanan itu baru saja disiapkan. Sementara Radja bersandar setengah duduk, punggungnya ditopang bantal. “Pelan-pelan, ya, Mas. Masih panas,” ucap Djiwa lembut, meniup sesendok bubur sebelum menyuapkannya. Radja tidak menolak. Tidak seperti sebelumnya. Ia membuka mulutnya perlahan, menerima suapan itu tanpa banyak bicara. Tatapannya sesekali jatuh pada wajah istrinya—yang tampak lebih pucat dari biasanya, namun penuh perhatian. Djiwa menunduk sedikit, fokus pada setiap suapan yang ia berikan. “Jangan buru-buru,” lanjutnya pelan. “Dokter bilang, lambung kamu juga harus dijaga. Jadi makannya pelan, ya.” Radja menghela napas ringan. “Kamu ingat semua yang dokter bilang?” “Aku catat,” jawab Djiwa singkat, hampir berbisik. Ada jeda. Sendok berikutnya kembali terangkat, disuapkan dengan hati-hati. Kali ini, tanpa diminta, Radja membuka mulutnya sendiri. Sikapnya tidak lagi sekeras
Pagi itu, setelah Regan, Naren, dan Ratu berangkat sekolah, suasana rumah terasa jauh lebih sepi. Djiwa masuk ke kamar, membawa handuk bersih dan pakaian ganti. Tatapannya langsung tertuju pada Radja yang duduk di tepi ranjang, tampak sudah lebih segar, meski jelas belum sepenuhnya pulih. “Mas, ayo mandi dulu,” ucapnya lembut. Radja mengangkat pandangannya. “Saya bisa sendiri.” Djiwa menghela napas pelan, sudah menduga jawaban itu. “Iya, bisa,” balasnya santai. “Tapi hari ini aku yang bantu.” Radja menatapnya datar. “Tidak perlu.” Namun Djiwa tidak membalas. Ia justru berjalan lebih dulu ke kamar mandi, menyalakan air hangat. Beberapa detik kemudian, Radja tetap masuk. Ia berdiri di bawah pancuran, mulai membuka bathrobe-nya sendiri. Dan saat itulah, pintu kamar mandi kembali terbuka. Radja menoleh. Djiwa masuk begitu saja. Tanpa ragu, tanpa izin. “Djiwa ….” panggil Radja pelan, sedikit mengernyit. Namun wanita itu sudah berdiri di hadapannya, meraih bathrobe pria itu dan me
Pagi itu, Radja terbangun dengan kepala yang masih terasa berat. Denyut halus di pelipisnya belum sepenuhnya hilang. Selang oksigen terpasang di hidungnya, dan kamar mewah itu kini berubah layaknya ruang medis darurat. Ada sesuatu yang mengganjal di perutnya. Ia menoleh pelan. Lengan kecil Djiwa melingkar di sana, tubuh wanita itu terlelap di sisi kirinya dengan napas teratur. Radja mengangkat tangannya perlahan, melepas nasal kanul dari hidungnya. Pandangannya sempat bertahan beberapa detik pada wajah istrinya—tenang, namun menyimpan lelah. Tok. Tok. Tok. Ketukan di pintu membuatnya menoleh. Di saat bersamaan, Djiwa mengerjap pelan, terbangun dari tidurnya. “Daddy … Mommy …!” Suara anak-anak dari luar terdengar cemas. Refleks, Radja kembali memejamkan mata. Djiwa langsung mengangkat kepalanya. “Anak-anak?” Ia menoleh ke arah jam dinding. “Jam enam.” Tatapannya beralih pada Radja—yang tampak masih terpejam. “Mas … kamu belum sadar juga dari semalam? Tapi kenapa selang oksig
Usai makan malam, Djiwa membersihkan diri di kamar mandi—mencuci wajah, menggosok gigi, lalu menyiapkan air hangat untuk Radja mandi. Pria itu masih berada di ruang keluarga bersama ketiga anak mereka, tertawa ringan, seolah ingin meyakinkan bahwa dirinya benar-benar sudah pulih. Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Djiwa kembali ke kamar, duduk di depan meja rias. “Setidaknya … tadi dia gak marah. Nggak nolak aku layani di meja makan,” gumamnya lirih, menatap bayangannya sendiri di cermin. “Walaupun … sikapnya tetep dingin.” Di hadapannya, berjejer botol-botol skincare yang sudah beberapa hari tak tersentuh. Malam ini, ia mencoba kembali pada rutinitasnya—sesuatu yang dulu terasa biasa, kini justru terasa asing. Klek. Pintu wardrobe terbuka. Radja masuk dengan langkah tenang namun tetap tegas, aura wibawanya tak pernah benar-benar pudar. “Mas …,” Djiwa langsung berdiri. “Air hangatnya udah aku siapin buat kamu mandi.” “Hm,” sahut Radja singkat. Djiwa menelan ludahnya,
“Mommy, kok Kak Bagas gak datang buat ngajar?” tanya Ratu sore itu, keningnya berkerut polos. “Padahal udah lewat setengah jam. Mommy suruh Kak Bagas libur, ya?” Djiwa yang baru saja keluar dari kamar mandi sempat terdiam. Jemarinya yang masih mengeringkan rambut berhenti sejenak. Ucapan Radja sebelum kecelakaan itu kembali terngiang—tegas, tanpa celah. Bagas tidak perlu mengajar lagi. Djiwa menarik napas pelan, lalu menurunkan handuk dari rambutnya. “Kak Bagas … mengundurkan diri, sayang,” ucapnya akhirnya, berusaha terdengar setenang mungkin. “Dia ada urusan lain yang harus diselesaikan. Jadi untuk sementara, dia gak bisa ngajar lagi.” Ratu langsung menggeleng cepat, bibirnya mencebik. “Ratu maunya Kak Bagas. Dia lebih seru, terus baik juga.” Djiwa tersenyum tipis, meski hatinya terasa tak nyaman. “Semua orang juga baik, Nak. Nanti Mommy carikan guru les yang lain, ya. Yang perempuan.” “Nggak mau,” tolak Ratu tanpa ragu. “Kenapa harus diganti? Kak Bagas ke mana? Urusan ap
Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama
“Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.
“Anggita, babay ....” seru Celine, anak kecil itu, sambil melambaikan tangan pada temannya yang sudah dijemput orang tuanya lebih dulu. Anggita tersenyum lebar, membalas lambaian Celine dengan senyum lebar. Kemudian tatapannya kembali mencari-cari mobil jemputannya. Akhir-akhir ini, semenjak Radj
Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Djiwa tak lepas dari sikap Radja terhadap Anggita. Ia bisa memahami alasan Radja menjaga jarak dari Inggrit, karena sikap wanita itu memang kerap tak pantas dijadikan teladan. Namun Anggita? Anak kecil itu sama sekali tak bersalah. Tak ada satu pun ala







