ログインPupus sudah harapan dan bayangan Radja tentang hari-hari di mana ia akan merawat kedua anak mereka bersama Djiwa. Kenyataannya, kini ia berdiri sendiri menjadi ayah sekaligus ibu bagi dua bayi kecil itu.
Saat ini Radja menggendong si bungsu, Narendra—bayi yang paling cengeng dibandingkan kakaknya. Baru saja diletakkan di atas ranjang, tangisnya langsung meledak, pecah dan nyaring, seolah tak mau dilepas barang sedetik pun. Berbeda dengan Regantara. SiPupus sudah harapan dan bayangan Radja tentang hari-hari di mana ia akan merawat kedua anak mereka bersama Djiwa. Kenyataannya, kini ia berdiri sendiri menjadi ayah sekaligus ibu bagi dua bayi kecil itu. Saat ini Radja menggendong si bungsu, Narendra—bayi yang paling cengeng dibandingkan kakaknya. Baru saja diletakkan di atas ranjang, tangisnya langsung meledak, pecah dan nyaring, seolah tak mau dilepas barang sedetik pun. Berbeda dengan Regantara. Si sulung berbaring tenang di sisi lain ranjang, tubuh kecilnya sesekali menggeliat tanpa suara. Sepasang matanya yang polos menatap langit-langit kamar, diam, seolah sedang mengamati dunia dengan caranya sendiri. Radja menunduk, menempelkan bibirnya ke dahi Narendra. “Ke mana Mommy kalian, hm?” bisiknya lirih. “Kenapa dia pergi meninggalkan kita, bahkan seluruh koneksi Daddy tidak bisa menemukannya di mana pun.” Dadanya mengencang.
Djiwa. Melahirkan. Dua bayi laki-laki. Pandangan Radja mengabur. Lututnya terasa lemah, sementara dadanya seperti diremas kuat. Ia menatap dua kehidupan kecil di hadapannya, anak-anaknya dengan perasaan yang terlalu penuh untuk diberi nama. “Di mana … istri saya, Djiwa?” suaranya parau, nyaris tak terdengar. Tangis bayi masih memenuhi ruangan, menjadi satu-satunya jawaban yang menggantung. Mbok Inem dan Mbok Iyam saling pandang, seolah mencari keberanian satu sama lain sebelum kembali menatap Radja. “Hanya dua bayi ini yang dititipkan di lobi, Tuan,” ucap Mbok Iyam akhirnya, suaranya dijaga tetap pelan. “Orang yang menitipkan bilang, kami diminta mengambilnya. Tidak ada pesan lain.” Rahang Radja mengeras seketika. Otot di pelipisnya menegang. “Apa maksud kalian?” tanyanya rend
“Mas, akhirnya ASI aku keluar,” seru Fairish dengan senyum lebar. “Sayang lihat, akhirnya kamu bisa minum ASI Mama,” ucapnya lembut pada Binar yang terbaring di sisi ranjang. Pandangan Fairish lalu beralih pada botol kecil di alat pumping yang mulai terisi. Senyumnya mengembang, bercampur haru. “Memang masih sedikit,” gumamnya pelan, “Tapi gak apa-apa. Yang penting Binar bisa ngerasain ASI Mama-nya.” Sultan yang sejak tadi diam akhirnya melangkah mendekat. Tanpa banyak bicara, ia berlutut di sisi ranjang, memperhatikan posisi alat pumping yang menempel di dada Fairish. Tangannya terulur, membetulkan selang dan posisi corong agar lebih pas. “Posisinya jangan miring,” ucapnya datar namun fokus. “Nanti malah bikin gak nyaman.” Ia lalu memijat lembut area sekitar payudara, sekadar membantu aliran ASI agar lebih lancar—gerakannya hati-hati, nyaris profesional. Fai
Sekar baru saja tiba di penthouse Radja. Untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat tinggal putra sulungnya itu—dan ironisnya, di saat Djiwa sudah tidak lagi berada di sana. Belum ada kepastian. Apakah menantunya itu menghilang karena disembunyikan seseorang, atau memang dengan sadar memilih menjauh dari Radja. “Di mana Radja?” tanya Sekar dingin pada Mbok Inem yang membuka pintu. Mbok Inem menelan ludah dengan susah payah. “Tuan Radja ada di dalam, Nyonya. Di bar mini.” “Bar?” ulang Sekar lirih. Seulas senyum pahit terbit di sudut bibirnya. Ia sudah bisa menebak apa yang akan ditemuinya. Tanpa menunggu, Sekar melangkah masuk. Dadanya terasa nyeri sejak mendengar kabar hilangnya Djiwa, namun ia memaksa diri. Bagaimanapun, Radja pasti menanggung luka yang jauh lebih dalam. Pintu bar mini terbuka. Radja ada di sana. Duduk di sofa,
“Djiwa menghilang, Mi,” ucap Kaisar pelan namun tegas pagi itu, memecah sunyi meja makan. Sekar yang tengah menyendok bubur terhenti. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap anak bungsunya dengan sorot mata tajam. “Menghilang bagaimana maksud kamu?” Kaisar menghela napas panjang, bahunya turun. “Tidak ada kabar. Tidak ada jejak. Yang jelas, Djiwa pergi sebelum melahirkan.” Tangan Sekar refleks terangkat menutup mulutnya. Wajahnya pucat. “Radja tahu?” “Tentu. Dia suaminya,” jawab Kaisar datar, lalu menatap ibunya lurus-lurus. “Mi, apa ini ada hubungannya dengan Mami?” Sekar langsung menyipitkan mata. “Maksud kamu apa?” “Mami pernah bilang gak suka Djiwa dan keturunannya,” ucap Kaisar tanpa berbelit. “Bahkan pernah bilang, ambil aja anaknya dan singkirkan Djiwa. Kalau Djiwa pergi sekarang, wajar kalau aku mikir ke sana.” Sekar terdiam. Tenggorokannya bergerak naik turun. “Jadi kam
Radja tidak pernah mengingkari ucapannya. Laporan terhadap Satya benar-benar masuk ke meja kepolisian, lengkap dengan dugaan penculikan dan kronologi hilangnya Djiwa. Ia tak peduli jika proses ini berimbas pada aset atau reputasi Satya bisa tercium oleh aparat—yang terpenting, istrinya harus ditemukan. Namun Satya pun bukan orang sembarangan. Ia sudah memperhitungkan kemungkinan terburuk. Malam itu, ia duduk tenang di ruang interogasi, berhadapan dengan seorang detektif yang sejak tadi mencatat setiap ucapannya. “Nyonya Adjiva Nadjwa terakhir kali terekam kamera berada bersama Anda di taman apartemen,” ujar detektif itu datar. “Apa yang Anda bicarakan dengannya?” Satya menghela napas panjang, berusaha tetap kooperatif. “Saya memang menemui Djiwa. Dia putri dari sahabat lama saya, Danu Raharja.” Detektif mengangguk pelan. “Lalu?” “Saya hanya menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Danu,” lanjut







