แชร์

BAB 279

ผู้เขียน: Langit Parama
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-24 07:02:13

Pupus sudah harapan dan bayangan Radja tentang hari-hari di mana ia akan merawat kedua anak mereka bersama Djiwa. Kenyataannya, kini ia berdiri sendiri menjadi ayah sekaligus ibu bagi dua bayi kecil itu.

Saat ini Radja menggendong si bungsu, Narendra—bayi yang paling cengeng dibandingkan kakaknya. Baru saja diletakkan di atas ranjang, tangisnya langsung meledak, pecah dan nyaring, seolah tak mau dilepas barang sedetik pun.

Berbeda dengan Regantara. Si
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 538

    “Kamu operasi, ya, Mas ….” bisik Djiwa lirih dalam dekapan suaminya. Kepalanya bersandar di dada bidang Radja, sementara kedua lengannya melingkar erat di pinggang pria itu, seolah takut kehilangan. Tak ada jawaban. Djiwa perlahan mendongak, menatap wajah Radja yang tetap tenang—terlalu tenang untuk situasi seperti ini. “Kamu harus operasi, Mas.” “Harus?” alis Radja terangkat tipis, suaranya datar namun menyimpan arti. “Iya,” jawab Djiwa tegas, meski suaranya bergetar. “Kalau gak, aku bakal kasih tahu anak-anak kalau Daddy-nya gak mau berjuang buat hidup. Kamu egois, kamu gak mikirin aku sama anak-anak.” Sudut bibir Radja terangkat, membentuk seringai tipis yang justru membuat dada Djiwa semakin sesak. “Jangan senyum kayak gitu,” lanjut Djiwa, napasnya memburu. “Aku tahu aku juga pernah keras kepala waktu milih antara aku sama Sankara. Tapi makasih, karena kamu akhirnya tetep milih aku buat hidup.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Sekarang aku minta hal yang sama dari kamu,” ucap

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 537

    Tubuh Karin seketika menegang. Napasnya tercekat saat bayangan itu benar-benar menjelma menjadi sosok nyata di hadapannya. Radja. Berdiri tegak beberapa meter di belakangnya, dengan tatapan lurus—dingin, tajam, dan penuh tekanan. Tak ada senyum. Tak ada basa-basi. Hanya diam yang terasa menyesakkan. Perlahan, Radja melangkah mendekat. Sepatu kulitnya beradu dengan kerikil halus di area pemakaman, menciptakan suara kecil yang justru terdengar begitu keras di telinga Karin. “Karin.” Suara itu rendah tenang tapi menusuk. Karin menelan ludahnya susah payah, berdiri perlahan dari posisi jongkoknya. “A-aku ... gak nyangka kamu ada di sini, Mas,” ucapnya, berusaha terdengar biasa. Meski suaranya sedikit bergetar. “Kamu ngapain di sini? Melayat kuburan siapa?” Radja berhenti tepat di depannya. Terlalu dekat. Tatapannya turun sebentar ke nisan di hadapan mereka, lalu kembali naik menatap wajah Karin. “Apa yang membuatmu melakukan hal sejauh ini?” Angin sore berhembus pelan, menggerak

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 536

    “Daddy kapan pulang dari sini?” tanya Ratu malam itu, suaranya lembut namun penuh harap. Radja menghela napas pelan, jemarinya terulur mengusap puncak kepala putrinya dengan sayang. “Belum tahu, Nak. Nanti kalau dokter sudah izinkan, Daddy langsung pulang, ya.” “Tapi ... kenapa nanya begitu?” lanjutnya, sedikit memiringkan kepala. “Ratu tidak suka rumah sakit, hm?” Ratu menggeleng pelan. “Bukan … tapi Ratu gak suka lihat Daddy sakit.” Kalimat sederhana itu membuat dada Radja terasa sesak. “Padahal Daddy makan sayur sama buah, sama kayak Ratu, Mas Regan, Mas Naren,” lanjut Ratu polos. “Tapi kenapa Daddy sakit terus, kami nggak?” Radja terdiam sesaat, menahan sesuatu yang berusaha naik ke permukaan. “Sakit itu bisa datang dari banyak hal, Nak. Bukan cuma dari makanan.” “Terus Daddy sakit karena apa?” tanya Ratu lagi, matanya menatap lurus tanpa ragu. “Karena Daddy pernah kecelakaan. Kamu ingat, kan?” Bahu kecil itu langsung merosot. “Oh … iya.” “Iya,” Radja tersenyum tipis, me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 535

    “Kenapa Anda memberitahu istri saya?” tanya Radja dingin, begitu dokter selesai memeriksa kondisinya. Dokter itu tampak ragu sejenak. Ia menelan ludah, lalu menjawab hati-hati, “Saya terpaksa, Tuan. Ini demi keselamatan Anda. Saya berharap, dengan istri Anda mengetahui kondisi ini, Anda mau mempertimbangkan operasi.” Tatapan Radja mengeras. “Ini urusan saya,” ucapnya tegas. “Anda tidak perlu ikut campur.” “Justru saya harus ikut campur,” balas dokter itu, kali ini lebih mantap. “Karena ini menyangkut nyawa pasien saya.” Kedua tangan Radja mengepal di atas pangkuannya, rahangnya mengencang. Namun sebelum perdebatan itu berlanjut, pintu terbuka. Djiwa masuk. “Nyonya,” sapa dokter itu, langsung mengubah nadanya menjadi lebih ramah. “Kalau begitu, saya permisi.” Djiwa mengangguk singkat, memberi jalan. Tatapannya hanya sekilas mengikuti kepergian dokter itu, sebelum kembali beralih pada sosok di atas ranjang. Pintu tertutup. “Kamu gak seharusnya nyalahin dokter, Mas,” ucap Djiwa

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 534

    Djiwa hanya mampu mengangguk lemah, meski hatinya menolak. Langkah kaki kecil anak-anaknya semakin mendekat. Ratu yang paling duluan berlari, diikuti Regan dan Naren di belakangnya. “Daddy!” seru Ratu, langsung memanjat ke atas ranjang dan memeluk tubuh ayahnya tanpa ragu. Radja tersenyum tipis. Tangannya otomatis merangkul putri kecilnya itu. “Iya, sayang ….” Sementara itu, Regan dan Naren berdiri di sisi ranjang, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh tanya—terutama saat melihat mata ibunya yang masih sembab. “Mommy kenapa?” tanya Regan, keningnya berkerut tipis, menatap wajah ibunya yang masih menyisakan jejak air mata. “Mommy nangis, ya?” sambung Naren, suaranya lebih polos, sedikit meninggi karena khawatir. Djiwa melirik Radja sekilas. Tatapannya rapuh, seolah meminta bantuan tanpa suara. Radja menghembuskan napas pelan, lalu menepuk lembut punggung Djiwa sebelum mengalihkan perhatiannya pada ketiga anaknya. “Mommy gak kenapa-kenapa,” ucapnya tenang. “

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 533

    Radja mengusap lembut bahu Djiwa yang masih bergetar dalam tangis. Tubuh mereka berbaring berdampingan di atas brankar rumah sakit, dalam diam yang terasa menyesakkan. “Ssstt ….” bisik Radja pelan, suaranya rendah, sarat rasa bersalah. Tangannya terangkat, menghapus jejak air mata di pipi istrinya yang tak kunjung berhenti mengalir. Namun Djiwa perlahan bangkit. Ia duduk, berhadapan dengan Radja. Tatapannya kosong, rapuh, tapi menyimpan ribuan pertanyaan yang menyesakkan dada. “Ini gak masuk akal, Mas,” suaranya lirih, bergetar. “Gimana bisa kamu kena edema otak, dan langsung divonis waktu kamu gak lama lagi?” Ia menggenggam tangan Radja erat. Dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang masih bernapas di hadapannya. “Kecelakaan kamu itu belum lama, Mas … jangan bohongin aku,” lanjutnya, hampir memohon. Radja menghela napas pelan. Tatapannya tenang, terlalu tenang. “Sebelum kamu menikah dengan Kai, saya sudah pernah kecelakaan,” ucapnya akhirnya. Napas Djiwa tercekat.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 56

    Inggrit baru saja tiba di mansion. Langkah kakinya menghentak keras, cepat, dan penuh amarah—seolah dia sengaja ingin seluruh penjuru rumah tahu bahwa saat ini dia sedang berada di titik paling emosional. Di belakangnya, Anggita menyusul dalam keadaan terisak halus. Arga mengantar bocah itu pu

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 48

    Sudah satu jam yang lalu Djiwa terlelap di pelukan Radja. Pria itu bahkan absen dari kantornya hari ini hanya untuk menemani wanita itu tidur di hotel. Entah apa yang membuatnya memilih menetap di sini. Jika bicara soal khawatir, harusnya dia tetap bisa meninggalkan Djiwa seorang diri setelah mema

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 53

    “Kenapa kamu melakukan itu pada Djiwa, Inggrit?” tanya Sekar saat yang lain berangkat kerja, hanya menyisakan mereka berdua, dan juga Aprilia yang diletakkan di bouncer bayi. Inggrit menghela napas panjang. “Aku gak suka aja sama Djiwa, bener-bener gak suka. Selama ini aku gak pernah satu frame sa

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 59

    Pagi itu, meja makan begitu sepi—tidak sama seperti hari biasanya. Hanya diisi oleh Sekar yang duduk di ujung meja, Radja, Inggrit, Anggita dan yang terakhir Djiwa. Sekar melirik pada Djiwa yang makan dengan tenang, padahal sebenarnya wanita itu tengah memikirkan perihal semalam Sekar memintanya u

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status