Share

BAB 279

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2026-02-24 07:02:13

Pupus sudah harapan dan bayangan Radja tentang hari-hari di mana ia akan merawat kedua anak mereka bersama Djiwa. Kenyataannya, kini ia berdiri sendiri menjadi ayah sekaligus ibu bagi dua bayi kecil itu.

Saat ini Radja menggendong si bungsu, Narendra—bayi yang paling cengeng dibandingkan kakaknya. Baru saja diletakkan di atas ranjang, tangisnya langsung meledak, pecah dan nyaring, seolah tak mau dilepas barang sedetik pun.

Berbeda dengan Regantara. Si
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (16)
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklan lagi iklan lagi
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
waduh kenapa ko jiwa bersama karin
goodnovel comment avatar
Griya
makin rumit cerita nya ..skg baca nunggu bonus koin..awal2 cerita bagus smp beli koin trs2an buat lanjut baca cerita ini..makin kesini agak malas baca nya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 531

    Pagi itu, Djiwa sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Meski jarak di antara mereka terasa begitu nyata, ia tetap menjalankan perannya dengan sepenuh hati. Di atas nakas, obat-obatan Radja sudah tersusun rapi. Menunggu disentuh setelah suapan terakhir. Djiwa duduk di tepi ranjang, menyuapi pria itu dengan gerakan pelan dan telaten. Namun tak ada satu pun kata yang terucap di antara mereka. Wajah Djiwa pun datar—tanpa senyum, tanpa kelembutan yang biasanya selalu hadir. Hal itu membuat Radja akhirnya bersuara. “Terserah kamu mau marah atau tidak,” ucapnya dingin, tanpa menatap. “Kalau memang marah, tunjukkan saja. Jangan lakukan semua ini seolah kamu terpaksa.” Gerakan tangan Djiwa terhenti sejenak. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus pada pria di hadapannya. Tatapannya sama dinginnya. “Aku masih istri kamu. Dan kamu masih suami aku,” ucapnya pelan, namun tegas. “Ini kewajiban aku.” Radja menggeser pandangannya. “Kalau kamu tidak mau melakukannya, tidak masalah,” balasnya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 530

    “Aku udah kehabisan cara buat ngomong sama kamu,” ucap Djiwa pelan, namun nadanya dingin. “Makanya aku minta Ratu yang bilang. Siapa tahu, kamu lebih mau denger omongan anak kamu daripada aku.” Radja hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan. “Saya bekerja untuk menghilangkan rasa bosan di rumah,” jawabnya datar. Djiwa tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip luka yang dipaksa tertutup. “Kamu gak akan bosen kalau mau dengerin penjelasan aku, dan kita sama-sama berusaha memperbaiki ini,” balasnya tegas. “Mau sampe kapan hubungan kita begini terus?” Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang semakin menekan. Djiwa menarik napas dalam, mencoba menahan sesuatu yang terus mendesak keluar dari dadanya. “Aku juga bosen di rumah, Mas,” lanjutnya lirih. “Sejak kamu menjauh, sejak kamu diemin aku, dan gak mau percaya sama aku.” Radja akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, menelusup tanpa ampun. “Percaya?” ulangnya pelan. “Kamu minta saya percaya, sementara setiap yang saya li

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 529

    “Dok.” Djiwa nyaris berlari saat tiba di rumah sakit. Begitu pintu ruangan dibuka, langkahnya terhenti seketika. Radja terbaring di atas brankar. Wajahnya pucat, dan belum sadarkan diri. Di sisi lain, dokter yang sebelumnya menghubunginya sudah berdiri di sana, seolah memang menunggu kedatangannya. “Selamat siang, Nyonya,” sapa dokter itu dengan nada ramah. “Siang, Dok,” suara Djiwa terdengar tercekat. Ia mendekat beberapa langkah, matanya tak lepas dari sosok suaminya. “Bagaimana kondisi suami saya? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit lagi?” Dokter itu menarik napas pelan, lalu menatap Djiwa dengan serius. “Begini, Nyonya. Tuan Radja dilaporkan pingsan di kantornya, setelah menghadiri rapat penting bersama rekan bisnisnya.” Tatapannya sempat beralih pada Radja yang masih belum sadar. “Kondisinya memang sudah stabil, tapi saya sangat menyarankan agar beliau tidak memaksakan diri bekerja terlalu berat.” Djiwa menelan ludahnya. “Pekerjaan kantor mungkin tidak menguras tenaga fi

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 528

    Pagi itu, langkah Djiwa terhenti begitu memasuki ruang makan. Tatapannya langsung tertuju pada satu pemandangan yang tak ia duga. Radja duduk di kursinya seperti biasa—namun kali ini, Ratu berada di pangkuannya. Keduanya tampak begitu dekat. Seolah tak pernah ada jarak di antara mereka sebelumnya. Sejak kapan? Djiwa menelan ludahnya pelan. Semalam, ia memilih tidak bergabung di meja makan. Dengan alasan sudah kenyang, ia menghindari kebersamaan yang terasa canggung—meninggalkan ketiga anaknya yang sempat bertanya ke mana ia pergi. Dan pagi ini semuanya terasa berubah. “Ratu mau roti lagi, Dad,” ucap bocah itu manja, sambil memeluk leher ayahnya. Radja tersenyum tipis, lalu mengecup kening putrinya tanpa ragu. “Ayo makan yang banyak, biar kuat,” balasnya lembut, nada suaranya jauh berbeda dari dingin yang biasa Djiwa rasakan. Ratu terkikik kecil, tampak begitu nyaman di pangkuan ayahnya. Radja kembali mengecup pipinya sekilas, memperlakukan gadis kecil itu seolah dunia hanya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 527

    Tubuh Radja sedikit terhuyung oleh dorongan kecil itu. Ia terdiam. Dua tangan kecil yang melingkar di tubuhnya terasa hangat dan tulus. “Daddy ….” suara Ratu bergetar di dada Radja. Pelukannya semakin erat, seolah takut ayahnya akan menjauh lagi. “Ratu kangen, Daddy,” lirihnya, wajah kecil itu menempel di tubuh sang ayah. “Ratu kangen banget ….” Radja terdiam. Detik itu juga, sesuatu di dalam dirinya runtuh. Perlahan, kedua tangannya terangkat lalu membalas pelukan putrinya. Erat. Hangat. Seolah tak ingin melepas. “Ratu,” suaranya lebih pelan dari biasanya. Bocah itu mendongak, matanya sudah berkaca-kaca. “Maafin Ratu ya, Dad … Ratu gak boleh marah sama Daddy, Ratu salah,” ucapnya terputus-putus, menahan tangis. Rahang Radja mengeras sesaat, bukan karena marah—tapi karena menahan perasaan yang tiba-tiba menyerbu. Tanpa banyak kata, ia membungkuk sedikit, lalu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Ratu langsung melingkarkan kedua tangannya di leher ayahnya. Rad

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 526

    Djiwa membulatkan matanya, terkejut. Dadanya langsung berdegup tak karuan. Dari mana Radja tahu? Tentang dirinya yang setengah hari tidak ada di rumah, tentang Bagas, tentang sekolah Lumina. Radja menghembuskan napas kasar, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi mengendap di dadanya. “Kamu mau bilang ini kebetulan?” suaranya rendah, namun tajam. “Atau … salah paham?” Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk seringai yang nyaris tak terlihat—pahit, dingin. “Terlalu banyak kebetulan dan salah paham yang kamu pakai, Djiwa,” lanjutnya pelan, namun menekan. “Bukannya menghapus kecurigaan saya, justru semakin menguatkannya.” Ia melangkah mendekat satu langkah. “Bahkan bukan cuma kamu,” sambungnya, sorot matanya mengeras. “Saya melihat sendiri, putri saya mulai lebih nyaman dengan laki-laki itu.” Jeda sejenak. “Hebat,” bisiknya dingin. “Kamu berhasil memperkenalkan sosok baru dalam hidup anak saya, tanpa saya tahu.” Djiwa menggigit bibirnya kuat. Rasa perih menjalar hingga ke dada.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 301

    “Ke mana Daddy, Mas?” tanya Narendra malam itu pada saudara kembarnya, Regantara. Keduanya masih terjaga meski jarum jam sudah mendekati pukul sebelas. Mereka berbaring di kamar ayahnya, berharap pintu terbuka dan sosok Radja muncul seperti biasanya. Namun sampai lampu-lampu mansion mulai dired

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 219

    “Papa!” seru Inggrit begitu melangkah masuk ke rumahnya, suaranya menggema keras memecah keheningan. Satya yang tengah mengamati lukisan mahal yang baru saja dibelinya langsung mengernyit. Ia menoleh, lalu melangkah menghampiri sang anak dengan langkah tenang, kedua tangannya bertaut di belakang

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 208

    “Apa?” Linda bergumam pelan, lalu menoleh pada putrinya dengan tatapan yang tak lagi lembut. Ada keterkejutan yang bercampur luka di sana. “Kamu … kamu serius mengatakan itu, Sultan?” “Tentu, Ma,” jawab Sultan tanpa ragu. Suaranya tenang, nyaris datar. “Saya tidak menyampaikan ini untuk memperma

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 213

    Malam itu, suasana makan malam terasa jauh lebih menegangkan dari malam-malam sebelumnya. Udara di ruang makan seolah mengeras, dipenuhi beban yang tak terucap. Setiap orang membawa pikirannya masing-masing, hingga tak satu pun sanggup membuka suara lebih dulu. Sekar yang biasanya menjadi pusat

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status