تسجيل الدخول“Kamu bener-bener mau pergi, Mas?” suara Djiwa terdengar tertahan pagi itu, saat melihat Radja sudah berdiri rapi dengan setelan kerjanya, satu koper berukuran sedang berada di samping kaki pria itu. Radja hanya mengangguk singkat. “Iya, sayang. Ada hal penting yang harus saya urus di sana.” Djiwa menggeleng pelan, langkahnya mendekat. “Aku udah bilang semalem, jangan pergi,” ucapnya pelan, namun sarat penekanan. Satu alis Radja terangkat tipis. “Kamu tidak paham arti ‘penting’, hm?” Kalimat itu membuat dada Djiwa terasa semakin sesak. “Berapa lama?” tanyanya lagi, kali ini suaranya bergetar. “Saya belum tahu. Tidak bisa dipastikan.” “Sepuluh hari kayak biasanya?” Djiwa mencoba menebak, meski hatinya menolak jawaban itu. Radja menggeleng pelan. “Bisa lebih.” Hening sejenak. Djiwa menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan diri yang mulai runtuh. “Aku ikut,” ucapnya tiba-tiba. “Aku harus pastiin kamu baik-baik aja di sana.” “Djiwa ….” sua
“Akhir-akhir ini kamu kelihatan, menyimpan sesuatu,” ucap Kaisar pelan malam itu. Suaranya tenang, tapi cukup tajam untuk menembus diam yang dibangun Karin. “Kamu takut?” Karin yang sejak tadi duduk termenung di tepi ranjang hanya menggeleng pelan, meski jemarinya saling menggenggam gelisah di atas pangkuan. “Jangan seperti itu,” lanjut Kaisar, kini menoleh sepenuhnya ke arahnya. “Kalau ada apa-apa, kamu harus cerita sama saya.” Hening sejenak. Karin akhirnya menoleh, menatap suaminya dengan sorot mata yang sulit ditebak—campuran antara ragu dan sesuatu yang lebih dalam. “Kalau aku takut …,” suaranya lirih, hampir seperti berbisik, “Kamu mau lindungin aku?” Kaisar tak ragu. Tangannya terulur, menyentuh perut istrinya dengan lembut, seolah memberi rasa aman. “Tentu saja,” jawabnya tegas. Tatapan Karin melembut, namun ada kegelisahan yang tak sepenuhnya hilang. “Kamu harus janji, ya,” lanjutnya, menatap Kaisar lekat-lekat. “Lindungin aku dari apa pun itu.” Kaisar mengangguk ta
“Ngomongin apa aja, sih, Mas, sama Mas Sultan?” tanya Djiwa pelan setelah Sultan benar-benar meninggalkan rumah. Radja yang sedang bersandar di kepala ranjang hanya menggeleng ringan. “Bukan apa-apa.” Djiwa menatapnya lekat, ada jeda sebelum kembali bertanya. “Kamu gak mau kasih tahu aku? Ini privasi?” “Hm,” sahut Radja singkat. Djiwa menelan ludahnya, suaranya melembut namun sarat kekhawatiran. “Apa ini soal kesehatan kamu? Dokter bilang waktu kamu—” “Bukan,” potong Radja cepat, nada suaranya tetap tenang. “Jangan khawatir berlebihan.” “Terus apa, Mas?” desak Djiwa, kali ini sedikit lebih pelan, namun terasa menekan. “Kamu bener-bener gak mau kasih tahu aku?” Radja menatapnya sejenak, lalu berkata rendah, “Ini bukan untuk diketahui orang luar, sayang.” Kalimat itu membuat dada Djiwa terasa sesak. “Aku bukan orang luar, Mas,” balasnya lirih. “Aku istri kamu.” Radja menghela napas tipis. “Maksud saya kamu orang luar untuk kehidupan pribadi Sultan.” Djiwa akhirnya hanya menga
“Daddy akhirnya pulang …!” seru Ratu riang saat melihat ayahnya tiba di rumah siang itu, berjalan perlahan dengan bantuan sang ibu. Radja tersenyum tipis. Tatapannya melembut melihat putri kecilnya yang begitu antusias menyambut kepulangannya. Tanpa menunggu lama, Ratu berlari kecil menghampiri. “Biar Ratu bantu Daddy masuk ke rumah,” ucapnya polos, kedua tangan mungilnya langsung meraih lengan sang ayah, seolah benar-benar menjadi penopang tambahan. Radja terkekeh pelan. “Terima kasih, putri Daddy yang paling baik.” Ratu tersenyum bangga. Sementara itu, Regan dan Naren berdiri di ambang pintu, menunggu dengan tenang. Tatapan mereka tertuju pada sang ayah, memastikan pria itu benar-benar baik-baik saja. “Pelan-pelan, Dad,” ucap Regan, suaranya lebih dewasa dari usianya. Radja mengangguk kecil. “Iya.” Mereka akhirnya masuk ke dalam mansion. Langkah Radja masih terlihat hati-hati, namun lebih stabil dibanding sebelumnya. Begitu sampai di dalam, Djiwa langsung mengarahkan langk
“Pagi sekali kamu datang ke sini, Tan?” tanya Sekar saat melihat Sultan melangkah masuk ke mansion, tak lama setelah mereka selesai sarapan. Sultan tersenyum tipis. Tatapannya sempat singgah pada Kaisar, lalu bergeser pada Karin yang berdiri di sisi pria itu. Ada sesuatu yang berkilat di matanya, sebelum akhirnya ia kembali menatap sang ibu. “Ada yang perlu saya urus di sini, Mi,” ucapnya tenang. “Urus apa?” alis Sekar terangkat, nada suaranya mulai curiga. “Saya mau cek CCTV mansion. Aplikasi rekamannya di mana? Laptop atau iPad?” tanya Sultan tanpa bertele-tele. Sekar langsung mengernyit. “Untuk apa kamu cek CCTV rumah? Ada yang kamu cari? Barang Fairish tertinggal di sini?” Sultan menghela napas pendek, menahan kesabaran. “Berikan saja, Mi. Saya bukan orang luar.” Sekar mendengus pelan, masih dengan ekspresi tak suka. “Di kamar Mami. Ambil sendiri.” Tanpa menunggu lama, Sultan langsung berbalik dan melangkah menuju kamar ibunya. Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk di t
“Mas … kamu gak bermaksud menuduh Mami, kan?” tanya Sultan, matanya menyipit, penuh selidik. Radja menyunggingkan senyum miring. “Menuduh apa maksud kamu?” “Kalau kecelakaan ini ulah Mami.” Hening sesaat. Radja menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, seolah sedang menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar jawaban. “Biar saya urus sendiri masalah ini. Nanti kamu juga akan tahu siapa pelakunya.” Tatapannya beralih ke arah lain, menghindari sorot mata adiknya. Sultan mengernyit, langkahnya maju setengah. “Jadi kamu sudah tahu?” Tak ada jawaban. Hanya diam yang menggantung, menegaskan lebih dari sekadar kata-kata. “Kalau kamu tahu, jawab saya, Mas,” desak Sultan, suaranya mulai menekan. “Biar saya bisa bantu. Ini bukan masalah kecil.” Radja tetap diam, rahangnya mengeras. “Walaupun kamu tahu,” ucapnya akhirnya, pelan, tanpa menoleh, “Saya yakin kamu justru bingung harus berbuat apa.” Sultan menatap kakaknya lekat-lekat, mencoba membaca sesuatu yang disembunyi
“Mas Radja,” Djiwa menghampiri pria itu, refleks satu tangannya menutupi hidung ketika aroma alkohol menyergap tajam. “Djiwa?” mata Radja menyipit. Pandangannya sedikit kabur, namun ia tetap bisa mengenali siluet wanita itu—bahkan di tengah kepalanya yang berat, aroma khas Djiwa tak pernah salah.
“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d
“Jahat ya kamu, Kai,” desis Fairish tajam. “Sengaja kamu belain Djiwa tadi? Mau buat aku marah, huh?” bola matanya membesar karena kesal. Kaisar menghela napas panjang. “Aku bukan sengaja mau buat kamu marah, tapi itu emang hal yang harus aku lakuin kan ke dia? Djiwa istri aku mau gimanapun.” “Ta
Ruang tunggu klinik fertilitas itu sunyi, hanya bunyi jam dinding yang terdengar pelan. Fairish duduk merapat pada Sultan, kedua tangannya dingin dan saling menggenggam erat di pangkuannya. Pintu ruangan dokter Hans terbuka. “Nyonya Fairish, Dokter Sultan. Maaf membuat kalian menunggu lama.” “Ti







