Share

BAB 297

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2026-03-01 07:02:05

“Ibu ….” gumam Ratu sambil mengucek matanya.

Ia terbangun di atas ranjang empuk yang terasa asing—terlalu empuk, terlalu luas. Tidurnya begitu nyenyak hingga tanpa sadar pagi sudah merambat ke pukul delapan.

“Aku di mana?” bisiknya bingung. Ratu buru-buru duduk. Kepalanya masih berat dan mengantuk, ingatannya belum sepenuhnya tersusun.

Semalam terlalu banyak hal terjadi—atau justru tak sempat ia cerna. Yang ia tahu, ini bukan kama
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (21)
goodnovel comment avatar
Ais Rin
nunggu Sekar sadar n di hantui rasa bersalah supaya keangkuhan nya runtuh
goodnovel comment avatar
niayaya
Arga baru muncul lagi. si pengkhianat sandy ke mana dia?
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklan lgi iklan lgi
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 599

    “Gimana dia bisa tahu aku di sini?” gumam Karin dengan suara gemetar. Tubuhnya langsung mundur satu langkah dari pintu, kedua tangan refleks memeluk perutnya, seolah berusaha melindungi bayi di dalam kandungannya dari apa pun yang akan terjadi setelah ini. Tok. Tok. Tok. Ketukan di pintu terdengar. “Saya tahu kamu di dalam,” suara Kaisar terdengar dari luar, dalam dan menekan. “Buka pintunya.” Karin memejamkan mata rapat. Tak bergerak. Tak bernapas dengan benar. “Karin.” Kali ini nada Kaisar lebih rendah, namun jauh lebih mengintimidasi. “Saya bilang buka pintunya.” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Karin. Namun tubuhnya tetap membeku. Sampai suara itu kembali terdengar, lebih dingin. “Kalau kamu tidak buka sekarang, saya akan minta keamanan apartemen membukanya dari luar.” Ada jeda singkat. “Kamu tahu saya bisa melakukan itu.” Napas Karin tersendat, tangannya gemetar hebat. Ia tahu Kaisar tidak sedang menggertak. Dengan langkah lemah, Karin akhirnya mendekat ke pin

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 598

    Djiwa duduk kaku di kursi penumpang, tubuhnya menegang seperti kehilangan kemampuan untuk bergerak. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan, dingin dan gemetar. Radja baru saja turun untuk menjemput anak-anak mereka di depan kelas. Dan selama beberapa menit itu, dunia Djiwa terasa runtuh. Ia sudah mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap ancaman. Setiap potongan percakapan antara Radja dan Karin yang tersimpan dalam rekaman itu. Napasnya memburu. Dadanya sesak. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mempercayai suaminya. Berjanji berhenti mencurigai. Berjanji tak akan lagi menuduh tanpa bukti. Tapi bukti itu kini ada di hadapannya. Begitu nyata dan menyakitkan. “Jadi …,” bibirnya bergetar pelan. “Karin masuk ke keluarga Reinard cuma buat bales dendam ke Mas Radja?” Air matanya menggenang. “Semua yang selama ini aku ceritain ke dia …,” suaranya mengecil, nyaris tak terdengar. “Dia pakai buat cari celah ngehancurin hidup suami aku?” Tangannya mengepal makin erat

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 597

    “K-Kai …?” Suara Sekar terdengar lirih dan terbata saat melihat putra bungsunya masuk ke dalam ruang rawat. “Mami.” Kaisar segera menghampiri, lalu duduk di tepi ranjang rumah sakit dan menggenggam tangan ibunya erat. “Jangan khawatir. Aku baik-baik aja.” Ia memberi senyum menenangkan. “Karin juga baik-baik aja.” Sekar menatap putranya lekat-lekat, seolah memastikan ucapan itu sungguh nyata. “Ka … mu … me … ne … mukan … Ka … rin?” tanyanya terbata, napasnya pendek-pendek. Kaisar mengangguk cepat. “Iya, Mi. Karin gak pergi jauh.” Suaranya dibuat setenang mungkin. “Dia cuma ke rumah Bundanya. Maaf karena aku gak kasih kabar lebih cepat sampai bikin Mami kepikiran begini.” Napas Sekar mengembus panjang, seolah beban besar baru saja diangkat dari dadanya. “Di … ma … na, Ka … rin … se … ka … rang?” “Karin masih di rumah Bundanya, Mi. Lagi gak enak badan, jadi belum bisa aku ajak ke sini.” Sekar mengangguk pelan. Tak ada lagi pertanyaan keluar dari bibirnya, bukan karena puas s

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 596

    Ting. Denting notifikasi langsung memenuhi layar begitu Kaisar mengaktifkan kembali ponselnya. Puluhan pesan dan panggilan masuk bermunculan sekaligus, dari ibunya, Djiwa, juga kedua kakaknya. Jantung Kaisar mencelos. Tanpa pikir panjang, ia membuka pesan paling atas dari Djiwa. Dan seketika wajahnya berubah pucat. “Mami …?” gumamnya pelan saat membaca bahwa Sekar dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. Kaisar menutup mata sejenak, rahangnya menegang keras. Sial. Ia memukul pelan setir mobil dengan frustrasi. “Aku harus ke rumah sakit dulu.” Suaranya berat, penuh tekanan. “Setelah itu baru lanjut cari Karin.” Tatapannya mengeras menembus kaca depan. “Malam ini … aku harus menemukan dia.” Ia memasukkan ponsel ke saku celana, lalu segera menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju rumah sakit. ——— Di sisi lain, di sebuah apartemen yang sunyi, Karin berdiri di dekat jendela dengan ponsel menempel di telinga. Jemarinya gemetar halus, tetapi suaranya berusaha terd

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 595

    “Menurutmu … kenapa Karin pergi?” Sultan melontarkan pertanyaan itu sambil menatap Radja yang duduk di hadapannya dengan kedua tangan terlipat di dada. Nada suara Sultan terdengar tenang, tetapi jelas menyimpan banyak pertanyaan. Radja tak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, kosong, sebelum akhirnya ia mengedikkan bahu tipis. “Mungkin itu memang tujuannya sejak awal,” ucapnya datar. “Dia menikah dengan Kaisar bukan karena cinta.” Kening Sultan berkerut. “Maksud Mas …,” Ia mencondongkan tubuh ke depan, mencoba mencerna ucapan itu. “Karin sengaja membawa kabur bayinya? Jadi setelah dapat apa yang dia mau, dia tidak butuh Kaisar lagi—” Kalimatnya terputus. Matanya membelalak. “Tunggu.” Sultan menatap kaki kakaknya. “Mas … bisa jalan?” Radja mengikuti arah pandangnya, lalu menatap kedua kakinya sendiri seolah itu bukan hal penting. “Seperti yang kamu lihat.” Wajah Sultan langsung berubah cerah. “Syukurlah …,” ucapnya tulus. “Saya ikut senang, Mas. Binar sama istrinya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 594

    “Ka … i … sar …?” Suara Sekar bergetar lirih pagi itu saat perawat pribadinya mendorong kursi rodanya keluar dari kamar. Wanita paruh baya itu tampak lebih pucat dari biasanya. Tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih dari stroke masih lemah, jemarinya gemetar di atas sandaran kursi roda. Begitu tak melihat sosok putranya di rumah sejak semalam, kegelisahan mulai merayapi dadanya. Pembantu yang ditanya langsung menunduk dalam. “Tuan Kaisar sejak kemarin sore belum pulang, Nyonya.” Wajah Sekar seketika memucat. Tangannya refleks mencengkeram dada sebelah kiri. “Ka … rin …?” tanyanya lagi dengan napas yang mulai tersengal, seolah satu nama itu saja sudah cukup mengguncang seluruh tubuh rapuhnya. Pembantu itu menelan ludah sebelum menjawab pelan, “Belum ada kabar juga, Nyonya. Sepertinya Tuan Kaisar masih mencari Nyonya Karin.” Deg. Kalimat itu menghantam Sekar tanpa ampun. Napasnya mendadak memburu. Dadanya terasa seperti diremas kuat-kuat dari dalam. “T-Tidak …,” bibirnya bergeta

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 89

    “Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 49

    Kaisar menghela napas panjang begitu mobilnya masuk gerbang kantor. Langit siang yang terik tak mampu menghangatkan dinginnya pikiran yang menggulung di kepalanya sejak sesi konsultasi tadi. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir, iramanya tak beraturan—tanda jelas bahwa hatinya sedang kacau karena renc

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 127

    “Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status