Teilen

BAB 297

last update Veröffentlichungsdatum: 01.03.2026 07:02:05

“Ibu ….” gumam Ratu sambil mengucek matanya.

Ia terbangun di atas ranjang empuk yang terasa asing—terlalu empuk, terlalu luas. Tidurnya begitu nyenyak hingga tanpa sadar pagi sudah merambat ke pukul delapan.

“Aku di mana?” bisiknya bingung. Ratu buru-buru duduk. Kepalanya masih berat dan mengantuk, ingatannya belum sepenuhnya tersusun.

Semalam terlalu banyak hal terjadi—atau justru tak sempat ia cerna. Yang ia tahu, ini bukan kama
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (21)
goodnovel comment avatar
Ais Rin
nunggu Sekar sadar n di hantui rasa bersalah supaya keangkuhan nya runtuh
goodnovel comment avatar
niayaya
Arga baru muncul lagi. si pengkhianat sandy ke mana dia?
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklan lgi iklan lgi
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 554

    “Jadi … bukan kamu yang bales?” gumam Djiwa pelan. Ia menarik napas panjang, lalu menghela perlahan. Jarinya kembali menekan tombol rekam. “Mas … kalau memang kamu yang bales, kamu gak akan manggil aku ‘Bu’,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Kamu lagi sibuk, aku ngerti. Tapi jangan sampai chat aja kamu serahin ke orang lain.” Ada jeda. Nada suaranya melembut. “Jangan lupa istirahat, kalau sakit jangan dipaksain kerja. Aku marah kalau sampe ada apa-apa sama kamu.” Pesan itu terkirim. Djiwa menatap layar lagi. Kali ini lebih lama, namun tak ada balasan. Layar tetap sunyi. “Mommy ….” Djiwa tersentak pelan saat mendengar suara itu. Ia menoleh, mendapati Regan berdiri tak jauh darinya—masih dengan wajah tenangnya, tapi sorot matanya penuh perhatian. “Mommy belum tidur?” tanya bocah itu sambil melangkah mendekat. Djiwa tersenyum tipis, cepat-cepat merapikan posisi duduknya. “Belum ngantuk, Nak,” jawabnya lembut. “Kamu sendiri? Kenapa belum tidur? Malah nyamperin Mommy ke sini?” Regan

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 553

    “Saya sudah melihat rekaman yang Mas Sultan dapatkan,” ucap Kaisar pelan, setelah suasana di kamar kembali tenang. Karin tak langsung menoleh. Tatapannya tetap lurus ke langit-langit, namun tangannya bergerak pelan mengusap perutnya—seolah mengingatkan, atau mungkin menegaskan sesuatu. Kaisar menarik napas panjang. “Di rekaman itu memang ada kamu,” lanjutnya, suaranya rendah namun tegas. “Masuk ke mobil Mas Radja sambil membawa paper bag. Tapi saat keluar barang itu sudah tidak ada.” Karin akhirnya mengedip pelan, lalu menoleh sedikit ke arah suaminya. “Itu makanan,” jawabnya tenang. “Aku yang buat.” Kaisar menyipitkan mata tipis. “Untuk siapa?” “Untuk Djiwa,” jawab Karin tanpa ragu. “Malam sebelumnya aku dengar mereka lagi berantem. Tentang kematian Sankara yang selama ini Mas Radja tutupi.” Nada suaranya tetap stabil. Kaisar memperhatikannya lekat. “Makanan apa?” tanyanya lagi, singkat. Karin menarik napas pelan sebelum menjawab. “Makanan yang dulu paling dia suka,” ucapny

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 552

    “Mommy, kenapa semuanya sakit? Nenek sakit, Daddy juga sakit. Meskipun Daddy udah sembuh, tapi kenapa gantian jadi Nenek sekarang?” Suara polos Naren memecah suasana makan malam di kantin rumah sakit. Djiwa tersenyum tipis. Ia meraih tisu, lalu mengusap lembut sudut bibir anaknya. “Namanya juga manusia, sayang,” ucapnya pelan. “Kadang sehat, kadang sakit. Itu hal yang gak bisa kita hindari.” Naren mengangguk kecil, meski jelas belum sepenuhnya paham. “Kapan Nenek bangun, Mom? Udah malam belum bangun juga. Besok pagi bangun, ya?” tanyanya lagi, penuh harap. Djiwa menahan napas sejenak. “Naren … nanti kalau Nenek sudah sadar, Mommy kabarin, ya. Sekarang kamu makan dulu.” Nada suaranya terdengar datar. Fairish yang duduk di seberangnya melirik sekilas. Ia tahu Djiwa sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya bercabang. Radja yang tak ada kabar, dan Karin dengan segala masalahnya. “Mommy … nanti Ratu mau telepon Daddy, ya,” ucap Ratu pelan dari samping. Gerakan tangan Djiwa terhenti

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 551

    “Kamu yang laporin istri aku, Mas?” suara Kaisar rendah, namun sarat tekanan. Ada jeda. Sultan melirik Karin sekilas, tatapan yang dingin, tajam—sebelum kembali menatap adiknya. “Ini bukan keputusan ringan, Kai,” ucapnya pelan, berusaha menahan emosi yang jelas bergejolak di balik ketenangannya. “Karin itu istri kamu. Adik ipar saya. Menantu di keluarga ini.” Ia menarik napas dalam. “Dan dia sedang mengandung anak kamu. Tapi saya tidak bisa tutup mata setelah saya tahu semuanya. Setelah saya pegang bukti yang kuat kalau dia pelakunya.” Napas Kaisar tercekat di tenggorokan. Rahangnya mengeras. “Kamu tahu saya,” lanjut Sultan, suaranya tetap stabil. “Saya tidak akan bertindak sejauh ini kalau tidak yakin.” Kaisar menelan ludahnya berat. “Asal kamu tahu dampak dari perbuatannya—” “Usia Mas Radja divonis beberapa bulan lagi?” potong Kaisar tiba-tiba, suaranya bergetar tipis. Sultan mengernyit. Informasi itu belum pernah ia dengar secara langsung, tapi ia tahu bahwa kondisi kakakn

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 550

    Begitu Sekar jatuh dengan tangan mencengkeram dada, Fairish langsung sigap memanggil ambulans, sementara Djiwa berdiri membeku beberapa detik sebelum akhirnya tersadar dan ikut membantu. Kaisar tidak ikut. Ia memilih tetap di mansion, menjaga Karin yang masih terbaring lemah—atau setidaknya terlihat seperti itu. Sultan tidak bisa dihubungi. Dan Radja jauh di Jerman. Lampu merah bertuliskan UGD menyala terang di atas pintu rumah sakit. Pintu dorong terbuka, lalu tertutup kembali dengan cepat saat tubuh Sekar dibawa masuk oleh tim medis. “Dok, pasien serangan jantung, tekanan turun!” terdengar suara panik perawat. Fairish berdiri tepat di depan pintu itu, napasnya masih memburu. Kedua tangannya mengepal tanpa sadar, menahan cemas yang terus merayap naik. Sementara itu di sudut ruang tunggu, Djiwa duduk sendiri. Tubuhnya lemas, bahunya turun, dan tatapannya kosong lurus ke depan. Air mata masih terus mengalir tanpa suara, seolah tak ada lagi yang bisa ia tahan. Semua terasa

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 549

    “Bagaimana kondisi menantu saya, Dok?” tanya Sekar begitu dokter kandungan yang ia panggil selesai memeriksa Karin. Dokter itu tidak langsung menjawab. Ia melepas stetoskop dari telinganya, lalu mengalungkannya kembali ke leher dengan tenang. “Secara keseluruhan, kondisinya baik,” ujarnya akhirnya. “Tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Hanya kelelahan dan sedikit stres. Jadi Anda tidak perlu terlalu cemas, Nyonya.” Sekar mengangguk pelan, meski sorot matanya masih menyimpan kegelisahan. “Baik, Dok. Terima kasih.” Dokter itu tersenyum sopan sambil merapikan tas medisnya. “Kalau begitu saya pamit.” “Hati-hati di jalan, Dok,” balas Sekar. Pintu kamar itu terbuka sesaat, lalu kembali tertutup rapat. Di luar, Fairish dan Djiwa berdiri tak jauh dari sana. Keduanya terdiam, namun jelas menangkap setiap kata yang keluar dari dalam. Tak ada yang serius. Kalimat itu seharusnya menenangkan. Namun entah kenapa, justru membuat dada Djiwa terasa semakin sesak. Ia menunduk, menarik

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 219

    “Papa!” seru Inggrit begitu melangkah masuk ke rumahnya, suaranya menggema keras memecah keheningan. Satya yang tengah mengamati lukisan mahal yang baru saja dibelinya langsung mengernyit. Ia menoleh, lalu melangkah menghampiri sang anak dengan langkah tenang, kedua tangannya bertaut di belakang

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-29
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 193

    “Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya. Menyatakan perkawinan antara Rajendra Afnand Reinard sebagai Penggugat dan Inggrit Anindya Satya sebagai Tergugat yang dilangsungkan pada tanggal hari ini dinyatakan putus karena perceraian.” Palu hakim diketuk satu kali. Sunyi memenuhi ruang sidang

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-27
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 131

    “Djiwa nggak mau, Mas.” Suara Djiwa terdengar pelan, namun tegas. Tatapannya lurus ke depan, menolak menoleh. Radja melirik singkat ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan. “Maksudnya?” “Djiwa gak mau ke dokter obgyn. Apalagi USG untuk tahu jenis kelamin anak ini.” Sudut bibir Radja terangka

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-24
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 127

    “Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-23
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status