Share

BAB 298

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2026-03-02 07:00:28

“Mommy cantik di situ, tapi perutnya besar,” ucap Ratu polos sambil menatap foto pernikahan kedua orang tuanya yang terpajang besar di dinding ruang keluarga.

Gadis kecil itu duduk manis di atas pangkuan sang ayah. Punggung kecilnya bersandar nyaman di dada bidang Radja, sementara Djiwa duduk di sisi kiri mereka, diam—menjadi penonton yang entah sejak kapan ikut terjebak di momen keluarga itu.

“Iya,” jawab Radja lembut. “Itu Mommy waktu lagi hamil kam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Nanay sarii
iklan nya meresahkn
goodnovel comment avatar
Ais Rin
senang merasakan kebahagiaan Radja n Ratu walaupun Djiwa masih merasa nano nano dan Kaisar terkejut, apa yg terjadi ya?
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklan lgi iklan lgi
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 596

    Ting. Denting notifikasi langsung memenuhi layar begitu Kaisar mengaktifkan kembali ponselnya. Puluhan pesan dan panggilan masuk bermunculan sekaligus, dari ibunya, Djiwa, juga kedua kakaknya. Jantung Kaisar mencelos. Tanpa pikir panjang, ia membuka pesan paling atas dari Djiwa. Dan seketika wajahnya berubah pucat. “Mami …?” gumamnya pelan saat membaca bahwa Sekar dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. Kaisar menutup mata sejenak, rahangnya menegang keras. Sial. Ia memukul pelan setir mobil dengan frustrasi. “Aku harus ke rumah sakit dulu.” Suaranya berat, penuh tekanan. “Setelah itu baru lanjut cari Karin.” Tatapannya mengeras menembus kaca depan. “Malam ini … aku harus menemukan dia.” Ia memasukkan ponsel ke saku celana, lalu segera menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju rumah sakit. ——— Di sisi lain, di sebuah apartemen yang sunyi, Karin berdiri di dekat jendela dengan ponsel menempel di telinga. Jemarinya gemetar halus, tetapi suaranya berusaha terd

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 595

    “Menurutmu … kenapa Karin pergi?” Sultan melontarkan pertanyaan itu sambil menatap Radja yang duduk di hadapannya dengan kedua tangan terlipat di dada. Nada suara Sultan terdengar tenang, tetapi jelas menyimpan banyak pertanyaan. Radja tak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, kosong, sebelum akhirnya ia mengedikkan bahu tipis. “Mungkin itu memang tujuannya sejak awal,” ucapnya datar. “Dia menikah dengan Kaisar bukan karena cinta.” Kening Sultan berkerut. “Maksud Mas …,” Ia mencondongkan tubuh ke depan, mencoba mencerna ucapan itu. “Karin sengaja membawa kabur bayinya? Jadi setelah dapat apa yang dia mau, dia tidak butuh Kaisar lagi—” Kalimatnya terputus. Matanya membelalak. “Tunggu.” Sultan menatap kaki kakaknya. “Mas … bisa jalan?” Radja mengikuti arah pandangnya, lalu menatap kedua kakinya sendiri seolah itu bukan hal penting. “Seperti yang kamu lihat.” Wajah Sultan langsung berubah cerah. “Syukurlah …,” ucapnya tulus. “Saya ikut senang, Mas. Binar sama istrinya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 594

    “Ka … i … sar …?” Suara Sekar bergetar lirih pagi itu saat perawat pribadinya mendorong kursi rodanya keluar dari kamar. Wanita paruh baya itu tampak lebih pucat dari biasanya. Tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih dari stroke masih lemah, jemarinya gemetar di atas sandaran kursi roda. Begitu tak melihat sosok putranya di rumah sejak semalam, kegelisahan mulai merayapi dadanya. Pembantu yang ditanya langsung menunduk dalam. “Tuan Kaisar sejak kemarin sore belum pulang, Nyonya.” Wajah Sekar seketika memucat. Tangannya refleks mencengkeram dada sebelah kiri. “Ka … rin …?” tanyanya lagi dengan napas yang mulai tersengal, seolah satu nama itu saja sudah cukup mengguncang seluruh tubuh rapuhnya. Pembantu itu menelan ludah sebelum menjawab pelan, “Belum ada kabar juga, Nyonya. Sepertinya Tuan Kaisar masih mencari Nyonya Karin.” Deg. Kalimat itu menghantam Sekar tanpa ampun. Napasnya mendadak memburu. Dadanya terasa seperti diremas kuat-kuat dari dalam. “T-Tidak …,” bibirnya bergeta

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 593

    Djiwa tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari pintu kamar. Sejak Radja keluar untuk menidurkan anak-anak, pria itu belum juga kembali. Entah memilih tidur di kamar Regan, di ruang kerja, atau justru di ruang tamu—pikiran itu membuat dada Djiwa semakin sesak oleh rasa bersalah. Ia meremas ujung selimut di pangkuannya. “Aku cuma nanya …,” gumamnya lirih pada diri sendiri. “Aku gak bermaksud nuduh. Kenapa Mas Radja sesensitif itu, seolah dia memang ngelakuin hal yang salah?” Tatapannya beralih ke ponsel di atas nakas. Layar masih gelap. Tak ada balasan dari Karin. Tak ada kabar dari Kaisar yang sebelumnya ia minta menghubunginya begitu Karin ditemukan. Djiwa menghembuskan napas pelan, lalu memejamkan mata. “Baru tadi sore kita habisin waktu berdua dengan baik, Mas …,” bisiknya lirih. “Masa harus berakhir begini lagi?” Tak tahan dibelenggu kecemasan, Djiwa akhirnya turun dari ranjang. Ia melangkah menuju pintu, berniat mencari suaminya ke kamar anak-anak, ruang kerja, atau

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 592

    Radja tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. Senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dituduh. Meski Djiwa tak mengatakannya secara gamblang, pria itu tahu persis ke mana arah kecurigaan istrinya. “Bagaimana bisa kamu berpikir ini ada hubungannya dengan saya?” tanyanya pelan. Nada suaranya datar, terlalu datar hingga membuat bulu kuduk Djiwa meremang. “Karin pergi sejak siang,” ucap Djiwa, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Dan siang tadi kamu juga pergi. Aku cari kamu ke mana-mana gak ada. Sorenya kamu pulang, terus langsung masuk kamar mandi.” Salah satu alis Radja terangkat. “Jadi,” katanya lirih, suaranya berubah lebih rendah, “Kamu menuduh saya menyebabkan kepergian Karin?” Djiwa menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. “Mungkin.” Seketika tatapan Radja menajam. “Kamu menuduh saya hanya berdasarkan asumsi liar di kepala kamu?” desisnya. “Coba ulangi. Katakan sekali lagi tuduhan apa yang ingin kamu lempar pada saya.” Jantun

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 591

    “Kok adek cengeng banget sih, Ma, Pa?” keluh Binar saat kembali gagal mengajak bermain adik bayinya. Sejak pagi sampai malam, ia belum juga mendapat kesempatan karena Adipati terus menangis. Dan tak mau lepas dari gendongan sang ibu. Fairish tersenyum kecil mendengar keluhan putrinya. “Namanya juga bayi, sayang. Kamu dulu waktu kecil juga sama cengengnya kayak adek.” “Emang iya?” tanya Binar tak percaya. Mata bulatnya langsung beralih pada sang ayah. “Papa, Binar dulu cengeng juga?” Sultan mengangkat kedua alis, pura-pura berpikir keras. “Sama,” jawabnya akhirnya. “Kalau haus, nangis. Kalau gak digendong Papa atau Mama, nangis. Kalau gak dipeluk, nangis.” Binar langsung membulatkan mata. “Segitunya?” Sultan tertawa pelan lalu melirik putra kecilnya yang sedang menyusu dalam dekapan Fairish. “Sama persis kayak Adi sekarang. Dia nangis karena haus, bukan karena cengeng.” “Jadi bukan karena dia manja?” “Bukan, Nak.” Sultan kemudian bangkit dari duduknya, mengangkat Binar ke d

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 89

    “Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 49

    Kaisar menghela napas panjang begitu mobilnya masuk gerbang kantor. Langit siang yang terik tak mampu menghangatkan dinginnya pikiran yang menggulung di kepalanya sejak sesi konsultasi tadi. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir, iramanya tak beraturan—tanda jelas bahwa hatinya sedang kacau karena renc

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 127

    “Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status