ログイン“Kamu bela dia?” desis Radja rendah, rahangnya mengeras. Napas Djiwa seketika tercekat. “Aku gak bela siapa-siapa, Mas,” jawabnya, berusaha tetap tenang meski suaranya sedikit bergetar. “Aku cuma gak mau kamu nyalahin Bagas karena dia yang kasih tahu aku kebenarannya.” Sudut bibir Radja terangkat, membentuk senyum tipis yang terasa lebih seperti sindiran. “Begitu, ya?” Ia mengangguk pelan, lalu menarik napas dalam. “Kalau begitu, kita bicarakan ini di dalam,” ucapnya datar. “Kita selesaikan berdua.” Djiwa menelan ludah, dadanya terasa semakin sesak. Namun sebelum melangkah, tatapan Radja beralih pada Bagas. Tajam dan ingin. “Mulai besok,” ucapnya tegas, “Kamu tidak perlu mengajar anak-anak saya lagi.” Kalimat itu jatuh tanpa ruang untuk bantahan. Radja lalu melangkah melewati mereka berdua, masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. _____ Pintu kamar tertutup. Suasana langsung berubah. Radja berdiri di dekat meja, sementara Djiwa tetap di dekat pintu, seolah menjaga jarak. B
“Kalau bukan karena anak-anak, aku gak akan tetap tinggal di rumah ini, Rin,” ucap Djiwa lirih, suaranya nyaris patah di ujung kalimat. Di seberang telepon, Karin terdiam sejenak, mencoba mencerna. “Maksud kamu … kamu mau pergi? Karena Mas Radja sudah mengkhianati keputusan kamu?” tanyanya hati-hati, memastikan. Djiwa mengangguk pelan, meski ia tahu Karin tak bisa melihat. “Aku kecewa, Rin … aku sakit hati.” Suaranya bergetar, menahan sesuatu yang terus mendesak keluar. “Walaupun dia ngelakuin itu karena sayang, atau karena mencintai aku sekalipun, aku tetep gak bisa terima. Aku … sedih banget.” Air matanya kembali jatuh. “Anak aku …,” lanjutnya lirih, nyaris berbisik. “Yang seharusnya bisa bernapas di dunia ini, yang seharusnya ketemu kakak-kakaknya, harus pergi.” Napasnya tersendat. “Hanya karena keputusan sepihak Mas Radja.” Di seberang sana, terdengar helaan napas panjang Karin. “Aku ngerti, Wa, aku benar-benar ngerti perasaan kamu,” ucapnya lembut, penuh empati. “Tapi to
Tok. Tok. Tok. Dokter Lui mengangkat kepalanya, menatap ke arah pintu yang diketuk. “Masuk,” ucapnya singkat. Pintu terbuka perlahan. Seorang perawat melangkah masuk, menghampiri meja kerja dengan sikap hati-hati. “Selamat pagi, Dok. Anda memanggil saya?” tanyanya sopan. Dokter Lui mengangguk sekali. Tatapannya langsung mengunci wajah perawat itu. “Pada malam sebelum persalinan Nyonya Djiwa, sekitar pukul sepuluh … kamu datang ke ruangan saya, bukan?” Perawat bernama Devi itu mengangguk pelan. “Iya, Dok. Waktu itu saya diminta menjemput Anda, karena operasi akan segera dimulai.” “Benar.” Dokter Lui menyandarkan punggungnya, jemarinya saling bertaut di atas meja. “Tapi … sebelum itu, kamu sempat datang lebih dulu.” Devi terdiam. “Dan kamu tidak masuk,” lanjutnya pelan, namun nadanya berubah lebih tajam. “Karena saya sedang kedatangan tamu penting.” Jantung Devi berdetak lebih cepat. Ada rasa tidak nyaman yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala. “Benar?” ulang Dokter
“Tunggu, Tuan,” dokter itu tampak sedikit tercengang. “Anda menyalahkan saya atas kebocoran ini?” Radja menyipitkan mata, senyum tipis tersungging di bibirnya, dingin, tanpa emosi. “Lalu siapa lagi? Hanya kita berdua yang tahu.” Dokter itu mengangguk pelan, mencoba tetap tenang meski kegelisahan jelas terpancar di wajahnya. “Tapi saya tidak pernah membocorkan hal ini kepada siapa pun, Tuan. Apalagi untuk keuntungan pribadi.” “Saya tidak mengatakan kamu melakukannya demi keuntungan pribadi,” potong Radja tegas, suaranya merendah namun menekan. “Kamu sendiri yang menyimpulkan itu.” Kalimat itu seperti menjebak. Dokter itu terdiam, tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah dengan susah payah. “Jadi benar, kamu yang lalai?” satu alis Radja terangkat tipis, tatapannya menusuk tanpa ampun. “Saya tidak cukup bodoh untuk membuka rahasia ini sendiri. Maka sudah jelas, kamu yang menjadi sumbernya.” “Saya berani bersumpah atas nama Tuhan, saya tidak pernah membocorkannya kepada sia
“Kadang …,” suara Bagas merendah, nyaris seperti bisikan yang hati-hati, “Yang menentukan siapa yang bertahan bukan hanya medis.” Djiwa membeku. Degup jantungnya mendadak tak beraturan. “Apa maksud kamu?” tanyanya, kali ini lebih tegas, meski ada sesuatu yang mulai merambat di dadanya—gelisah yang tak bisa ia jelaskan. Bagas menarik napas panjang, seakan menimbang setiap kata yang akan keluar. “Saya dengar … Anda memilih mengorbankan diri, demi memastikan anak Anda tetap hidup.” Kalimat itu membuat jemari Djiwa yang semula mengepal perlahan mengendur. “Dan itu cukup menjelaskan …,” lanjut Bagas pelan, “Bahwa dalam keadaan tertentu, manusia juga bisa menjadi penentu.” Ada jeda singkat. “Tapi …,” Bagas kembali bersuara, kali ini lebih berat, “Ternyata ada seseorang yang menginginkan sebaliknya.” Kening Djiwa berkerut dalam. Ada firasat buruk yang mulai menyesakkan napasnya. “Suami Anda,” ucap Bagas akhirnya, menatapnya lurus. “Beliau ingin Anda yang tetap hidup.” Napas Djiwa s
“Kamu tega banget sama aku, Mas …,” suara Djiwa pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, membasahi pipinya. “Kamu juga tega sama anak kamu sendiri. Kamu jahat!” Radja tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan, rahangnya mengeras. Diamnya terlalu lama. “Kamu khianatin aku,” lanjut Djiwa, suaranya kini lebih tajam meski bergetar. “Kamu bilang kamu terima keputusan aku, tapi ternyata selama ini kamu cuma pura-pura?” Radja masih tidak bersuara. Itu justru membuat dada Djiwa semakin sesak. “Mas …,” suaranya melemah, tapi penuh desakan. “Aku tanya baik-baik. Ini bener atau nggak?” Radja akhirnya mengalihkan pandangannya, menatap sang istri. Dalam. Datar. “Dari siapa kamu dengar itu?” Bukan jawaban yang Radja berikan, melainkan sebuah pertanyaan. Djiwa tertawa kecil, pahit. “Itu gak penting.” Ia menggeleng pelan, air matanya jatuh lagi. “Yang penting aku dengar itu dari seseorang. Dan sekarang aku tanya langsung ke kamu.” Langkahnya mendekat satu langkah. “Mau j
“Ibu ….” gumam Ratu sambil mengucek matanya. Ia terbangun di atas ranjang empuk yang terasa asing—terlalu empuk, terlalu luas. Tidurnya begitu nyenyak hingga tanpa sadar pagi sudah merambat ke pukul delapan. “Aku di mana?” bisiknya bingung. Ratu buru-buru
“Ke mana Daddy, Mas?” tanya Narendra malam itu pada saudara kembarnya, Regantara. Keduanya masih terjaga meski jarum jam sudah mendekati pukul sebelas. Mereka berbaring di kamar ayahnya, berharap pintu terbuka dan sosok Radja muncul seperti biasanya. Namun sampai lampu-lampu mansion mulai dired
“Djiwa menghilang, Mi,” ucap Kaisar pelan namun tegas pagi itu, memecah sunyi meja makan. Sekar yang tengah menyendok bubur terhenti. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap anak bungsunya dengan sorot mata tajam. “Menghilang bagaimana maksud kamu?” Kaisar menghela
“Papa!” seru Inggrit begitu melangkah masuk ke rumahnya, suaranya menggema keras memecah keheningan. Satya yang tengah mengamati lukisan mahal yang baru saja dibelinya langsung mengernyit. Ia menoleh, lalu melangkah menghampiri sang anak dengan langkah tenang, kedua tangannya bertaut di belakang







