مشاركة

BAB 493

مؤلف: Langit Parama
last update تاريخ النشر: 2026-05-06 00:03:55

Kamar Sankara kembali sunyi. Djiwa masih berdiri di sana, di tempat yang sama, seolah kakinya enggan melangkah pergi.

Matanya menatap kosong ke arah jendela, namun pikirannya berputar ke mana-mana.

Ucapan Radja sebelumnya terus terngiang. Tentang anak-anak. Tentang keluarga. Tentang bagaimana semuanya pernah baik-baik saja.

Napasnya perlahan memburu.

“Aku … keterlaluan,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.

Tangannya terangkat, menutup mulutnya sendiri, seakan menahan sesal yang tiba-tiba
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (6)
goodnovel comment avatar
Abiyyu Abiyyu
benci jiwa
goodnovel comment avatar
Ni Iluh Sandriani
jahat banget emang si karin
goodnovel comment avatar
Ni Iluh Sandriani
ini pasti ulah di karin
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 516

    “Kamu udah gak ngajar lagi di rumah Tuan Radja, Gas?” tanya Devi pelan sore itu, suaranya terdengar hati-hati, seolah takut mengusik sesuatu yang belum benar-benar selesai. Bagas menghembuskan napas panjang, bahunya sedikit merosot. “Udah. Sekitar seminggu lebih.” Ia lalu menoleh, menatap Devi dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Kamu juga, udah lama gak kelihatan berangkat ke rumah sakit.” Devi menggigit bibirnya pelan, menahan sesuatu yang ingin keluar. “Aku juga udah gak kerja di sana. Sekarang pindah ke klinik.” Ia menunduk sebentar, sebelum melanjutkan lirih. “Jam kerjanya beda. Mungkin itu sebabnya kita gak pernah ketemu lagi.” “Kenapa pindah?” tanya Bagas, kali ini lebih pelan, tapi penuh makna. Devi terdiam. Hening sejenak menggantung di antara mereka, sampai akhirnya Bagas kembali bersuara. “Karena aku, ya?” Devi menggeleng cepat, meski tatapannya masih jatuh ke lantai. “Bukan salah siapa-siapa. Memang bukan rezekinya aja.” Namun Bagas tersenyum tipis, pahit. “Kita

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 515

    Radja memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya kembali. Saat dibuka, suaranya kembali rendah—tapi tegas. “Jangan bawa-bawa Mommy dalam hal ini.” Ratu benar-benar diam sekarang. Air matanya jatuh tanpa suara. Melihat itu, tangan Radja akhirnya kembali terangkat, mengusap kepala putrinya lebih lembut. “Daddy akan carikan guru yang lebih baik,” ucapnya pelan. “Percaya sama Daddy.” Ratu tidak menjawab. Ia hanya menunduk, masih terisak kecil. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka, menampilkan Djiwa yang masuk dengan langkah tergesa. Namun langkahnya langsung terhenti saat melihat pemandangan di dalam. Ratu terisak di hadapan ayahnya. “Ratu …?” suara Djiwa langsung dipenuhi kecemasan. Ia bergegas menghampiri, lalu berlutut di samping putrinya. “Kamu kenapa, Nak?” Tatapannya sempat melirik Radja yang justru membalas dengan pandangan dingin. “Kamu masih sedih Daddy sakit?” tanya Djiwa lagi, mencoba lembut, seraya merangkul tubuh kecil itu. Ratu langsung memeluk ibunya erat, waja

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 514

    “Mas ….” sapa Karin pelan saat Kaisar masuk ke kamar. Senyum kecil sempat terukir di wajahnya—hangat, menunggu. Namun senyum itu perlahan memudar ketika melihat ekspresi sang suami yang datar. Terlalu datar. “Aku dari rumah Mas Radja,” ucap Kaisar tanpa basa-basi. Karin terdiam sesaat, lalu memaksakan senyum tipis. “Oh, ya? Gimana keadaannya?” tanyanya, berusaha terdengar biasa. “Kamu sempat tanya dia, ke mana dia pergi malam itu? Setelah dari rumah Mami?” Kaisar menghela napas panjang. “Belum. Dia harus istirahat.” Karin mengangguk pelan. “Oh ….” gumamnya singkat. Ada kelegaan kecil yang sempat terlintas di matanya—cepat, tapi cukup terlihat. “Tapi …,” lanjut Kaisar. Tatapannya kini lurus menembus sang istri. “Persepsi kamu kemarin ternyata keliru.” Karin sedikit terkejut. “Maksudnya?” “Mas Radja tidak melakukan itu dengan sengaja,” ucap Kaisar tenang, tapi jelas. “Bukan untuk membuat Djiwa merasa bersalah. Bukan seperti yang kamu katakan.” Mata Karin membulat. “Kamu tanya l

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 513

    Kaisar mengernyit, jelas tak menyangka. “Mas … tahu kalau aku dengar itu dari istriku?” Radja menyunggingkan senyum tipis, terlalu tipis untuk disebut ramah. “Tentu saja.” Nada suaranya tenang, tapi justru itu yang membuat suasana terasa makin menekan. Sultan menatap kakaknya tanpa berkedip. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang Radja tahu. Tapi sebelum salah satu dari mereka sempat membuka suara lagi. Klek. Pintu kamar terbuka. Djiwa masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan berisi makanan. Aroma hangat segera memenuhi ruangan, memotong ketegangan yang sejak tadi menggantung. “Mas Radja, waktunya makan siang,” ucapnya lembut. Sultan langsung bangkit dari duduknya, menangkap isyarat itu sebagai penutup pembicaraan. “Benar. Mas Radja juga harus istirahat setelah ini,” ujarnya, lalu melirik Kaisar. “Aku juga mau pulang. Kamu, Kai?” Kaisar masih diam beberapa detik. Tatapannya belum lepas dari Radja, seolah masih menyimpan pertanyaan yang belum selesai. Namun akhirnya ia

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 512

    Djiwa duduk di tepi ranjang, semangkuk bubur hangat di tangannya. Uap tipis masih mengepul, menandakan makanan itu baru saja disiapkan. Sementara Radja bersandar setengah duduk, punggungnya ditopang bantal. “Pelan-pelan, ya, Mas. Masih panas,” ucap Djiwa lembut, meniup sesendok bubur sebelum menyuapkannya. Radja tidak menolak. Tidak seperti sebelumnya. Ia membuka mulutnya perlahan, menerima suapan itu tanpa banyak bicara. Tatapannya sesekali jatuh pada wajah istrinya—yang tampak lebih pucat dari biasanya, namun penuh perhatian. Djiwa menunduk sedikit, fokus pada setiap suapan yang ia berikan. “Jangan buru-buru,” lanjutnya pelan. “Dokter bilang, lambung kamu juga harus dijaga. Jadi makannya pelan, ya.” Radja menghela napas ringan. “Kamu ingat semua yang dokter bilang?” “Aku catat,” jawab Djiwa singkat, hampir berbisik. Ada jeda. Sendok berikutnya kembali terangkat, disuapkan dengan hati-hati. Kali ini, tanpa diminta, Radja membuka mulutnya sendiri. Sikapnya tidak lagi sekeras

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 511

    Pagi itu, setelah Regan, Naren, dan Ratu berangkat sekolah, suasana rumah terasa jauh lebih sepi. Djiwa masuk ke kamar, membawa handuk bersih dan pakaian ganti. Tatapannya langsung tertuju pada Radja yang duduk di tepi ranjang, tampak sudah lebih segar, meski jelas belum sepenuhnya pulih. “Mas, ayo mandi dulu,” ucapnya lembut. Radja mengangkat pandangannya. “Saya bisa sendiri.” Djiwa menghela napas pelan, sudah menduga jawaban itu. “Iya, bisa,” balasnya santai. “Tapi hari ini aku yang bantu.” Radja menatapnya datar. “Tidak perlu.” Namun Djiwa tidak membalas. Ia justru berjalan lebih dulu ke kamar mandi, menyalakan air hangat. Beberapa detik kemudian, Radja tetap masuk. Ia berdiri di bawah pancuran, mulai membuka bathrobe-nya sendiri. Dan saat itulah, pintu kamar mandi kembali terbuka. Radja menoleh. Djiwa masuk begitu saja. Tanpa ragu, tanpa izin. “Djiwa ….” panggil Radja pelan, sedikit mengernyit. Namun wanita itu sudah berdiri di hadapannya, meraih bathrobe pria itu dan me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 95

    “Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.

    last updateآخر تحديث : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 111

    “Anggita, babay ....” seru Celine, anak kecil itu, sambil melambaikan tangan pada temannya yang sudah dijemput orang tuanya lebih dulu. Anggita tersenyum lebar, membalas lambaian Celine dengan senyum lebar. Kemudian tatapannya kembali mencari-cari mobil jemputannya. Akhir-akhir ini, semenjak Radj

    last updateآخر تحديث : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 79

    Pupil mata Inggrit membesar, bibirnya bergetar tanpa suara. Langkahnya mundur setengah tapak, seolah lantai di bawah kakinya mendadak runtuh. “Mas …,” napasnya tercekat. “A-apa maksud kamu?” Radja hanya menatapnya—diam, tajam, dan terlalu tenang. “Maksud saya jelas. Kalau kurang jelas, berarti ad

    last updateآخر تحديث : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 84

    “Mas Radja,” Djiwa menghampiri pria itu, refleks satu tangannya menutupi hidung ketika aroma alkohol menyergap tajam. “Djiwa?” mata Radja menyipit. Pandangannya sedikit kabur, namun ia tetap bisa mengenali siluet wanita itu—bahkan di tengah kepalanya yang berat, aroma khas Djiwa tak pernah salah.

    last updateآخر تحديث : 2026-03-21
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status