Share

BAB 67

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2025-12-18 08:03:47

“Jahat ya kamu, Kai,” desis Fairish tajam. “Sengaja kamu belain Djiwa tadi? Mau buat aku marah, huh?” bola matanya membesar karena kesal.

Kaisar menghela napas panjang. “Aku bukan sengaja mau buat kamu marah, tapi itu emang hal yang harus aku lakuin kan ke dia? Djiwa istri aku mau gimanapun.”

“Tapi kan kamu gak cinta sama dia, kamu terpaksa nikahin dia. Kenapa harus belain dia di depan semua orang? Di depan aku lagi, dan aku yang lagi nindas dia,” cicit Fairish dengan nada kesal.

Namun Kaisa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (13)
goodnovel comment avatar
Bacakan Bang Yudi
kluarga yg rumit
goodnovel comment avatar
muhammad maksum
harus ketangkep to bisa bahaya
goodnovel comment avatar
muhammad maksum
wah bahaya itu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 504

    “Gimana keadaan Mas sekarang?” tanya Kaisar hati-hati, menatap kakak tertuanya. Radja yang setengah bersandar di brankar, dengan Ratu yang masih meringkuk di dadanya, hanya menghela napas panjang. “Sudah ... lebih baik,” jawabnya pelan, meski jelas masih menahan lemah. “Syukurlah,” ujar Sekar, melangkah mendekat dan menggenggam tangan putranya erat. “Kamu kecelakaan itu setelah pulang dari rumah Mami, atau sempat ke tempat lain dulu?” Radja menggeleng singkat. Tatapannya kosong sejenak, seperti mencoba mengingat sesuatu yang masih kabur. “Mas tahu, kan … kecelakaan itu karena rem mobil Mas blong?” lanjut Kaisar, suaranya lebih pelan, berhati-hati. Ruangan mendadak sunyi. Radja terdiam. Alisnya sedikit berkerut. Ia mencoba menelusuri ingatannya—jalanan malam itu, lampu-lampu kendaraan. “Aku sama Mas Sultan curiga ada yang nyabotase mobil Mas,” sambung Kaisar lagi. Belum sempat kalimat itu benar-benar selesai, tiba-tiba ekspresi Radja berubah. Napasnya tercekat. Tangannya reflek

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 503

    Sudah lebih dari satu jam Djiwa duduk menunggu. Namun pintu itu masih tertutup rapat. Tak ada tanda-tanda akan terbuka. Ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Pukul enam sore. Langit di luar sana pasti sudah menggelap, menyisakan sisa-sisa cahaya yang perlahan ditelan malam. “Sebentar lagi makan malam,” gumamnya pelan, tatapannya kembali jatuh pada pintu di hadapannya. Hening. Lalu sebuah pikiran kembali menyelinap, menikam tanpa aba-aba. ‘Apa mungkin … Mas Radja bener-bener gak mau ketemu aku?’ Djiwa menelan ludahnya susah payah. Sudut bibirnya terangkat tipis, senyum yang terasa pahit. Belum sempat ia tenggelam lebih jauh dalam pikirannya, suara langkah kaki dari lorong membuatnya tersentak. Ia menoleh cepat. Sekar datang. Diikuti Kaisar dan Karin di belakangnya. Djiwa segera berdiri. “Karin ….” sapanya lirih. Karin membalas dengan senyum kecil, lalu menghampiri. “Kamu udah lebih baik, Wa?” tanyanya lembut. Djiwa mengangguk pelan. “Udah, Rin.” “Anak-anak kamu di m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 502

    “Mas Radja sudah sadar, Kai. Tapi sebaiknya kamu dan Mami kalau mau datang nanti malam saja. Biar Djiwa dan anak-anaknya yang menemui dulu,” ucap Sultan melalui sambungan telepon. Ia baru saja mendapat kabar dari Djiwa—Radja telah siuman, meski masih dalam pemeriksaan dokter. Di sisi lain, Djiwa dan ketiga anaknya duduk di depan ruang rawat inap. Menunggu. Cemas. Harap dan takut bercampur jadi satu. Tak lama kemudian pintu terbuka. Djiwa langsung berdiri, diikuti ketiga anaknya. “Bagaimana kondisi suami saya, Dok?” tanyanya, suaranya tak bisa menyembunyikan kegelisahan. Dokter itu tampak terburu-buru. “Tuan Radja ingin bertemu dengan ketiga anaknya,” ucapnya singkat. Djiwa tertegun. “Sama anak-anak?” ulangnya, memastikan. Dokter itu mengangguk cepat. “Iya. Untuk saat ini beliau hanya ingin bertemu dengan ketiga anaknya.” Jantung Djiwa seakan berhenti sesaat. Tangannya bergetar. Matanya langsung berkaca. Ia menoleh pada ketiga anaknya. “Kalian masuk dulu, ya,” ucapnya pelan, m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 501

    Radja telah dipindahkan dari ruang intensif ke ruang rawat inap VIP. Kondisinya mulai stabil. Namun sudah lima hari telah berlalu sejak kecelakaan itu terjadi, dan pria itu belum juga membuka mata. Djiwa dan ketiga anaknya terus menunggu. Berharap. Namun berkali-kali harapan itu seakan digantung tanpa kepastian. “Ratu gak mau sekolah sampe Daddy bangun,” ucap Ratu, melipat kedua tangannya di dada. Matanya berkaca-kaca, menahan tangis yang siap pecah kapan saja. Regan langsung merangkul bahu adiknya, menariknya mendekat. “Daddy pasti bangun, percaya sama Mas, ya.” Bibir Ratu bergetar. Dan akhirnya satu tetes air mata jatuh. Djiwa yang melihat itu hanya bisa diam. Dadanya terasa sesak. Anak-anaknya masih terlalu kecil untuk memahami semua ini. Sementara dirinya yang juga rapuh harus tetap berdiri kuat di hadapan mereka. “Mommy keluar sebentar, ya,” ucap Djiwa pelan. “Kalian tunggu di sini.” “Mommy mau ke mana?” tanya Naren cepat, langsung bangkit dan mendekat. “Sebentar aja, N

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 500

    Sultan berdiri di depan jendela besar yang langsung menampilkan keindahan panorama kota di siang hari, tepat di ruang kerjanya di rumah sakit. Ponsel di telinganya. Panggilan yang terhubung dengan salah satu anggota kepolisian yang sedang mencari tahu penyebab kecelakaan Radja. Rahangnya mengeras. “Bagaimana dengan kondisi mobilnya?” tanyanya tegas. Di seberang sana, suara tersebut terdengar ragu. “Mobilnya sudah kami bawa ke bengkel resmi untuk melakukan penyelidikan, Tuan. Awalnya kami kira memang murni kecelakaan.” Sultan menyipitkan mata. “Awalnya?” Ada jeda. Seolah orang di seberang sana sedang menimbang apakah harus melanjutkan atau tidak. “Setelah dicek lebih dalam, mekaniknya mengatakan ada yang aneh, Tuan.” Napas Sultan tertahan samar. “Aneh bagaimana?” “Remnya, Tuan.” suara itu menurun. “Bukan sekadar blong biasa. Bukan kesalahan mesin mobil. Karena mesin mobil masih bagus, dan baru-baru selesai diservis menurut keterangan sopir pribadi Tuan Radja.” Sultan mengepalk

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 499

    “Makan yang banyak, ya. Jangan sampai kalian ikut sakit,” ucap Fairish lembut pada Regan, Naren, dan Ratu yang sedang sarapan dari makanan yang ia bawa. Regan, sebagai yang paling dewasa, mengangguk kecil. “Terima kasih, Tante.” “Sama-sama,” balas Fairish dengan senyum tipis. Sejak menjadi seorang ibu, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Nalurinya meluas—tak hanya untuk Binar, tapi juga untuk anak-anak di sekitarnya. Termasuk ketiga keponakannya ini, yang ia sayangi seperti anaknya sendiri. Namun Ratu tampak berbeda. Sendok di tangannya bergerak lambat, nyaris tak menyentuh makanan. “Kenapa, Ratu?” tanya Fairish pelan. “Makanannya gak cocok?” Ratu menggeleng kecil. “Gak nafsu makan.” Fairish menghela napas, paham betul perasaan itu. “Dipaksa sedikit, ya, Nak,” bujuknya lembut. “Tante ngerti, tapi kalau kamu gak makan, nanti kamu sakit. Daddy sama Mommy kamu pasti sedih.” Bahu Ratu merosot. Namun perlahan, ia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya—meski dengan terpaksa.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 89

    “Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 63

    Ruang tunggu klinik fertilitas itu sunyi, hanya bunyi jam dinding yang terdengar pelan. Fairish duduk merapat pada Sultan, kedua tangannya dingin dan saling menggenggam erat di pangkuannya. Pintu ruangan dokter Hans terbuka. “Nyonya Fairish, Dokter Sultan. Maaf membuat kalian menunggu lama.” “Ti

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 65

    “Kamu serius?” desis Kaisar. Ia langsung bangkit dari duduknya, dan berdiri di hadapan sang istri. Tatapannya dingin dan menusuk. “Iya, Djiwa serius. Djiwa emang lihat Mas sama perempuan itu kemarin malam,” balas Djiwa tenang. Dan sebelum Kaisar sempat membalas—Djiwa menambahkan dengan suara yan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 69

    “M-mas ... jangan bercanda,” Djiwa mengerucutkan bibirnya sebal, takut diberi harapan palsu. Radja tersenyum miring. “Untuk apa saya bercanda? Memangnya ada saya katakan kalau kita ke sini untuk kerja?” satu alisnya terangkat tipis. Napas Djiwa tercekat di tenggorokan. “Ta-tapi, schedule yang Pa

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status