공유

BAB 67

작가: Langit Parama
last update 게시일: 2025-12-18 08:03:47

“Jahat ya kamu, Kai,” desis Fairish tajam. “Sengaja kamu belain Djiwa tadi? Mau buat aku marah, huh?” bola matanya membesar karena kesal.

Kaisar menghela napas panjang. “Aku bukan sengaja mau buat kamu marah, tapi itu emang hal yang harus aku lakuin kan ke dia? Djiwa istri aku mau gimanapun.”

“Tapi kan kamu gak cinta sama dia, kamu terpaksa nikahin dia. Kenapa harus belain dia di depan semua orang? Di depan aku lagi, dan aku yang lagi nindas dia,” cicit Fairish dengan nada kesal.

Namun Kaisa
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (12)
goodnovel comment avatar
muhammad maksum
harus ketangkep to bisa bahaya
goodnovel comment avatar
muhammad maksum
wah bahaya itu
goodnovel comment avatar
niayaya
wah siapa itu,tangkap... jngn kasih bebas Radja...
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 495

    Sekar baru saja memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya, ketika ketukan keras di pintu kamarnya memecah keheningan. Tok! Tok! Tok! Ia tersentak, refleks langsung bangkit duduk. “Mi, buka pintunya!” suara Kaisar terdengar tergesa dari luar. Sekar menghela napas berat, lalu turun dari ranjang dengan langkah hati-hati. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Pintu dibuka. “Ada apa, Kai?” tanyanya. “Kita ke rumah sakit sekarang,” jawab Kaisar tanpa basa-basi. Sekar mengernyit. “Ngapain ke rumah sakit?” Namun tatapannya teralihkan. Ke arah Karin yang berdiri di samping Kaisar, menggenggam sesuatu di tangannya. “Loh, itu apa?” Sekar melangkah mendekat, lalu mengambil benda tersebut. Matanya menyipit, membaca hasilnya. Detik berikutnya. “Kamu … hamil, Rin?” Karin tersenyum kecil. “Iya, Mi. Aku hamil.” Wajah Sekar langsung berubah. Kaget, lalu bahagia. “Ya Tuhan …,” ia langsung menarik Karin ke dalam pelukan hangat. “Akhirnya kamu hamil anak Kai juga. Kai

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 494

    “Daddy … kecelakaan.” Kalimat itu jatuh pelan, tapi dampaknya seperti menghantam keras. “Hah?!” Ratu langsung menangis. “Mommy bohong, kan?! Daddy gak apa-apa, kan?!” Air matanya mengalir deras, tubuh kecilnya gemetar. Naren ikut panik. “Gimana maksudnya kecelakaan, Mom?! Daddy di mana sekarang?! Kita ke sana, kan?! Kita ke sana sekarang?!” Suasana langsung kacau. Hanya Regan yang tetap diam. Wajahnya tegang, tapi ia tidak menangis. Tatapannya langsung tertuju pada ibunya—mencari kepastian. Djiwa sendiri nyaris kehilangan keseimbangan. Kakinya terasa lemas, tangannya gemetar hebat. Namun ia menahan diri. Ia tidak boleh runtuh, tidak di depan anak-anaknya. “Iya, kita ke sana sekarang,” ucapnya pelan, berusaha menguatkan suara yang hampir pecah. Ia meraih tangan Ratu yang menangis, lalu menoleh pada Naren dan Regan. “Ayo … kita ke rumah sakit.” Regan langsung berdiri, sigap. Ia menggenggam tangan Ratu, mencoba menenangkan adiknya yang terus terisak. “Ratu … kita ke Daddy seka

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 493

    Kamar Sankara kembali sunyi. Djiwa masih berdiri di sana, di tempat yang sama, seolah kakinya enggan melangkah pergi. Matanya menatap kosong ke arah jendela, namun pikirannya berputar ke mana-mana. Ucapan Radja sebelumnya terus terngiang. Tentang anak-anak. Tentang keluarga. Tentang bagaimana semuanya pernah baik-baik saja. Napasnya perlahan memburu. “Aku … keterlaluan,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Tangannya terangkat, menutup mulutnya sendiri, seakan menahan sesal yang tiba-tiba datang tanpa permisi. “Tadi aku bilang cerai.” Kata itu terasa asing sekarang. “Aku marah, aku kecewa, aku sakit, tapi …,” suaranya bergetar, “Aku gak seharusnya bilang itu.” Ia menggeleng pelan, tubuhnya melemah. Dalam bayangannya, terlintas wajah anak-anaknya. Ratu yang selalu memeluknya tanpa alasan. Naren yang cerewet. Regan yang diam tapi selalu memperhatikan. Lalu Radja. Cara laki-laki itu menatapnya tadi. Cara dia menahan emosi. Cara dia tetap berdiri tanpa mundur. Djiwa mengusap wa

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 492

    Radja baru saja tiba di mansion Reinard, rumah besar yang sejak dulu selalu terasa megah namun dingin. Ia sebenarnya tidak berniat datang. Namun ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, sesuatu yang harus ia pastikan sendiri. Mobilnya berhenti tepat di depan teras. Begitu turun, langkahnya langsung terhenti. Karin berdiri di sana, menggenggam sebuah paper bag di tangannya. “Mas ….” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Radja lebih dulu memotong. “Kamu tahu dari istri saya, lalu menyampaikannya pada Mami?” serbunya dingin, tanpa basa-basi. Karin terdiam sejenak, menelan ludah dengan susah payah. “Maaf, Mas …,” ucapnya pelan. “Karena semuanya sudah terbongkar ke Djiwa, saya pikir lebih baik Mami juga tahu.” “Kenapa?” tanya Radja singkat, tatapannya dingin. Karin mengangkat wajahnya, mencoba tetap teguh meski jelas gugup. “Karena saya tidak mau Djiwa terus disalahkan,” jawabnya. “Selama ini … Mami selalu menuding dia. Saya cuma ingin Mami tahu, kalau Djiwa tidak sepenuhnya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 491

    Radja terdiam sesaat. Namun hanya sepersekian detik. Setelah itu emosinya benar-benar naik. “Apa saja yang bocah itu katakan pada kamu, Djiwa …,” suaranya rendah, namun sarat tekanan. “Sampai kamu bisa berpikir sejauh ini?” Tatapannya menajam, rahangnya mengeras. “Sampai kamu dengan mudahnya melempar kata cerai di depan saya.” Djiwa tidak mundur. Ia justru menatap balik, sama kerasnya. “Bukan Bagas yang bikin aku seperti ini, Mas,” jawabnya dingin. “Kamu yang bikin aku seperti ini.” Kalimat itu menghantam. Radja menggeleng pelan, napasnya mulai tak teratur. “Semudah itu kamu mengatakannya, hah?” desisnya. “Semudah itu kamu ingin mengakhiri semuanya?” “Karena kamu salah,” balas Djiwa tanpa ragu. “Lalu?” Radja tertawa pendek tanpa humor. “Karena saya salah, maka solusinya cerai?” Ia melangkah cepat, mempersempit jarak di antara mereka. “Begitu cara kamu menyelesaikan masalah rumah tangga kita?” lanjutnya, suaranya semakin dalam. “Dengan lari dan memilih berpisah?” Djiwa henda

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 490

    “Adeknya Kak Binar kapan ya keluar dari perutnya Tante Fairish ya, Mas?” tanya Ratu polos, matanya berbinar penuh rasa penasaran. Sore itu, mereka bertiga berkumpul di kamar Regan. Buku-buku sudah tersingkir ke sudut meja, berganti dengan suasana santai setelah les selesai. “Nggak tahu, Dek,” jawab Regan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur. “Mungkin … nanti, waktu kita mau naik kelas dua. Mirip kayak Mommy dulu, kan? Lahiran pas kita udah mulai sekolah SD.” “Iya juga ya ….” Ratu mengangguk-angguk kecil, seolah membayangkan. Naren yang sedari tadi diam, akhirnya ikut bersuara. “Kalau adeknya Binar, berarti adek kita juga, kan, Mas?” Regan tersenyum tipis, lalu mengangguk. “Iya, adek kita juga. Daddy pernah bilang waktu itu, kalau adek Sankara lahir … dia juga jadi adeknya Binar. Nggak cuma punya kita.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih lembut. “Dan sebaliknya juga sama.” “Yeay!” Ratu berseru senang, kedua tangannya terangkat. “Berarti w

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 208

    “Apa?” Linda bergumam pelan, lalu menoleh pada putrinya dengan tatapan yang tak lagi lembut. Ada keterkejutan yang bercampur luka di sana. “Kamu … kamu serius mengatakan itu, Sultan?” “Tentu, Ma,” jawab Sultan tanpa ragu. Suaranya tenang, nyaris datar. “Saya tidak menyampaikan ini untuk memperma

    last update최신 업데이트 : 2026-03-28
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 213

    Malam itu, suasana makan malam terasa jauh lebih menegangkan dari malam-malam sebelumnya. Udara di ruang makan seolah mengeras, dipenuhi beban yang tak terucap. Setiap orang membawa pikirannya masing-masing, hingga tak satu pun sanggup membuka suara lebih dulu. Sekar yang biasanya menjadi pusat

    last update최신 업데이트 : 2026-03-28
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 184

    “Mi,” panggil Kaisar sambil melirik Sekar yang duduk di kursi penumpang. Sekar menoleh singkat. “Apa?” Kaisar menggigit bibirnya pelan sebelum akhirnya bicara. “Di antara ketiga anak Mami, apa cuma aku yang berandalan?” Sekar tak langsung menjawab. “Maksud aku,” lanjut Kaisar, matanya tetap fok

    last update최신 업데이트 : 2026-03-27
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 191

    Fairish menggigit bibirnya kuat-kuat. Tubuhnya menegang, sementara kedua telapak tangannya terasa dingin dan lembap. Sejak terakhir kali ia melihat Inggrit ditampar, pergi dari mansion, lalu perutnya mendadak kram hebat, Fairish seperti kehilangan suara. Tak satu kata pun mampu keluar dari mulutny

    last update최신 업데이트 : 2026-03-27
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status