Share

BAB 79

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2025-12-24 08:00:50
Pupil mata Inggrit membesar, bibirnya bergetar tanpa suara. Langkahnya mundur setengah tapak, seolah lantai di bawah kakinya mendadak runtuh.

“Mas …,” napasnya tercekat. “A-apa maksud kamu?”

Radja hanya menatapnya—diam, tajam, dan terlalu tenang.

“Maksud saya jelas. Kalau kurang jelas, berarti ada yang salah sama kamu,” jawab Radja dingin.

Inggrit menyeringai tipis. “Aku lagi mempermasalahkan kebaikan kamu ke Djiwa, Mas. Bisa-bisanya kamu mengalihkan perhatian dengan nuduh kalau Anggita buka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (14)
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
kasihan raja dibohongi istrinya
goodnovel comment avatar
Marsinta Hutabarat
lanjutkan ceritanya
goodnovel comment avatar
Diana Budirahayu
aku ngebayangin wajah raja itu Wang kaimu hehe...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 492

    Radja baru saja tiba di mansion Reinard, rumah besar yang sejak dulu selalu terasa megah namun dingin. Ia sebenarnya tidak berniat datang. Namun ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, sesuatu yang harus ia pastikan sendiri. Mobilnya berhenti tepat di depan teras. Begitu turun, langkahnya langsung terhenti. Karin berdiri di sana, menggenggam sebuah paper bag di tangannya. “Mas ….” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Radja lebih dulu memotong. “Kamu tahu dari istri saya, lalu menyampaikannya pada Mami?” serbunya dingin, tanpa basa-basi. Karin terdiam sejenak, menelan ludah dengan susah payah. “Maaf, Mas …,” ucapnya pelan. “Karena semuanya sudah terbongkar ke Djiwa, saya pikir lebih baik Mami juga tahu.” “Kenapa?” tanya Radja singkat, tatapannya dingin. Karin mengangkat wajahnya, mencoba tetap teguh meski jelas gugup. “Karena saya tidak mau Djiwa terus disalahkan,” jawabnya. “Selama ini … Mami selalu menuding dia. Saya cuma ingin Mami tahu, kalau Djiwa tidak sepenuhnya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 491

    Radja terdiam sesaat. Namun hanya sepersekian detik. Setelah itu emosinya benar-benar naik. “Apa saja yang bocah itu katakan pada kamu, Djiwa …,” suaranya rendah, namun sarat tekanan. “Sampai kamu bisa berpikir sejauh ini?” Tatapannya menajam, rahangnya mengeras. “Sampai kamu dengan mudahnya melempar kata cerai di depan saya.” Djiwa tidak mundur. Ia justru menatap balik, sama kerasnya. “Bukan Bagas yang bikin aku seperti ini, Mas,” jawabnya dingin. “Kamu yang bikin aku seperti ini.” Kalimat itu menghantam. Radja menggeleng pelan, napasnya mulai tak teratur. “Semudah itu kamu mengatakannya, hah?” desisnya. “Semudah itu kamu ingin mengakhiri semuanya?” “Karena kamu salah,” balas Djiwa tanpa ragu. “Lalu?” Radja tertawa pendek tanpa humor. “Karena saya salah, maka solusinya cerai?” Ia melangkah cepat, mempersempit jarak di antara mereka. “Begitu cara kamu menyelesaikan masalah rumah tangga kita?” lanjutnya, suaranya semakin dalam. “Dengan lari dan memilih berpisah?” Djiwa henda

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 490

    “Adeknya Kak Binar kapan ya keluar dari perutnya Tante Fairish ya, Mas?” tanya Ratu polos, matanya berbinar penuh rasa penasaran. Sore itu, mereka bertiga berkumpul di kamar Regan. Buku-buku sudah tersingkir ke sudut meja, berganti dengan suasana santai setelah les selesai. “Nggak tahu, Dek,” jawab Regan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur. “Mungkin … nanti, waktu kita mau naik kelas dua. Mirip kayak Mommy dulu, kan? Lahiran pas kita udah mulai sekolah SD.” “Iya juga ya ….” Ratu mengangguk-angguk kecil, seolah membayangkan. Naren yang sedari tadi diam, akhirnya ikut bersuara. “Kalau adeknya Binar, berarti adek kita juga, kan, Mas?” Regan tersenyum tipis, lalu mengangguk. “Iya, adek kita juga. Daddy pernah bilang waktu itu, kalau adek Sankara lahir … dia juga jadi adeknya Binar. Nggak cuma punya kita.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih lembut. “Dan sebaliknya juga sama.” “Yeay!” Ratu berseru senang, kedua tangannya terangkat. “Berarti w

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 489

    “Kamu bela dia?” desis Radja rendah, rahangnya mengeras. Napas Djiwa seketika tercekat. “Aku gak bela siapa-siapa, Mas,” jawabnya, berusaha tetap tenang meski suaranya sedikit bergetar. “Aku cuma gak mau kamu nyalahin Bagas karena dia yang kasih tahu aku kebenarannya.” Sudut bibir Radja terangkat, membentuk senyum tipis yang terasa lebih seperti sindiran. “Begitu, ya?” Ia mengangguk pelan, lalu menarik napas dalam. “Kalau begitu, kita bicarakan ini di dalam,” ucapnya datar. “Kita selesaikan berdua.” Djiwa menelan ludah, dadanya terasa semakin sesak. Namun sebelum melangkah, tatapan Radja beralih pada Bagas. Tajam dan ingin. “Mulai besok,” ucapnya tegas, “Kamu tidak perlu mengajar anak-anak saya lagi.” Kalimat itu jatuh tanpa ruang untuk bantahan. Radja lalu melangkah melewati mereka berdua, masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. _____ Pintu kamar tertutup. Suasana langsung berubah. Radja berdiri di dekat meja, sementara Djiwa tetap di dekat pintu, seolah menjaga jarak. B

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 488

    “Kalau bukan karena anak-anak, aku gak akan tetap tinggal di rumah ini, Rin,” ucap Djiwa lirih, suaranya nyaris patah di ujung kalimat. Di seberang telepon, Karin terdiam sejenak, mencoba mencerna. “Maksud kamu … kamu mau pergi? Karena Mas Radja sudah mengkhianati keputusan kamu?” tanyanya hati-hati, memastikan. Djiwa mengangguk pelan, meski ia tahu Karin tak bisa melihat. “Aku kecewa, Rin … aku sakit hati.” Suaranya bergetar, menahan sesuatu yang terus mendesak keluar. “Walaupun dia ngelakuin itu karena sayang, atau karena mencintai aku sekalipun, aku tetep gak bisa terima. Aku … sedih banget.” Air matanya kembali jatuh. “Anak aku …,” lanjutnya lirih, nyaris berbisik. “Yang seharusnya bisa bernapas di dunia ini, yang seharusnya ketemu kakak-kakaknya, harus pergi.” Napasnya tersendat. “Hanya karena keputusan sepihak Mas Radja.” Di seberang sana, terdengar helaan napas panjang Karin. “Aku ngerti, Wa, aku benar-benar ngerti perasaan kamu,” ucapnya lembut, penuh empati. “Tapi to

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 487

    Tok. Tok. Tok. Dokter Lui mengangkat kepalanya, menatap ke arah pintu yang diketuk. “Masuk,” ucapnya singkat. Pintu terbuka perlahan. Seorang perawat melangkah masuk, menghampiri meja kerja dengan sikap hati-hati. “Selamat pagi, Dok. Anda memanggil saya?” tanyanya sopan. Dokter Lui mengangguk sekali. Tatapannya langsung mengunci wajah perawat itu. “Pada malam sebelum persalinan Nyonya Djiwa, sekitar pukul sepuluh … kamu datang ke ruangan saya, bukan?” Perawat bernama Devi itu mengangguk pelan. “Iya, Dok. Waktu itu saya diminta menjemput Anda, karena operasi akan segera dimulai.” “Benar.” Dokter Lui menyandarkan punggungnya, jemarinya saling bertaut di atas meja. “Tapi … sebelum itu, kamu sempat datang lebih dulu.” Devi terdiam. “Dan kamu tidak masuk,” lanjutnya pelan, namun nadanya berubah lebih tajam. “Karena saya sedang kedatangan tamu penting.” Jantung Devi berdetak lebih cepat. Ada rasa tidak nyaman yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala. “Benar?” ulang Dokter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 112

    Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 95

    “Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 111

    “Anggita, babay ....” seru Celine, anak kecil itu, sambil melambaikan tangan pada temannya yang sudah dijemput orang tuanya lebih dulu. Anggita tersenyum lebar, membalas lambaian Celine dengan senyum lebar. Kemudian tatapannya kembali mencari-cari mobil jemputannya. Akhir-akhir ini, semenjak Radj

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status