LOGINElowyn Adison, tak pernah menyangka hidupnya akan dihancurkan dalam satu malam oleh keluarga dan tunangannya sendiri. Setelah mengetahui fakta jika dirinya hanyalah anak angkat, ia dijebak menghabiskan malam panas dengan pria yang dia kira gigolo. Sadar tak pernah mendapatkan kasih sayang dan dibuang, Elowyn memutuskan hubungan dengan keluarga Adison dan merencanakan balas dendam. Siapa sangka, dia justru dipertemukan kembali dengan Duke Alexander, gigolo malam itu yang ternyata adalah seorang konglomerat. Akankah Elowyn berhasil membalaskan dendamnya? Atau justru terjebak dalam lingkaran masalah baru yang siap melilitnya?
View More“Ada apa dengan tubuhku? Ughh panas sekali ….”
Seorang gadis cantik terlihat sedang duduk sendiri di sudut bar. Tubuhnya bersandar dan sedikit menggeliat pada kursi tinggi yang tengah didudukinya. Elowyn ingat, siang tadi dia baru saja mengetahui fakta bahwa dirinya bukan bagian asli dari keluarganya. Dia juga ingat bagaimana tadi memergoki tunangannya yang sedang bercumbu dengan saudarinya sendiri—Liona. Tapi dia tidak ingat bagaimana bisa sampai di tempat terkutuk ini dan menghabiskan satu gelas vodka yang membuat tubuhnya terasa panas. “Kenapa semuanya jadi berputar-putar? Apa dunia sedang gempa?” Ia terkekeh sambil memegangi kepalanya yang begitu pusing. Elowyn melihat sekelilingnya untuk mencari seseorang yang cocok untuk diajak menghabiskan malam bersama. Hingga atensinya menemukan seorang pria tampan yang duduk sendirian di sofa single pojok ruangan. Pria itu rupanya juga tengah menatap ke arahnya. “Tuan … maukah kau bermalam denganku?” Pria dengan tatapan setajam elang itu hanya diam memperhatikannya. Bau alkohol menguar ketika Elowyn mendekatkan wajahnya. Dengan lancang, gadis itu membelai dada bidangnya. “Aku punya banyak uang. Satu miliar untuk satu malam, bagaimana?” ucapnya pada pria yang ia berpikir adalah seorang gigolo. “Enyah dari hadapanku!” Suara dingin dan berat itu terdengar. Pria itu menoyor dahi Elowyn menjauh. Lalu tiba-tiba, Elowyn menjatuhkan tubuhnya ke arah pria tersebut. “Tolong aku … seseorang memasukan obat ke minumanku,” lirihnya seraya mencengkram lengan sang pria. Diperhatikannya wajah cantik yang gelisah itu dalam-dalam, kemudian sang pria menariknya lebih dekat. “Kau yakin?” Elowyn hanya mengangguk, tidak dapat lagi menahan gejolak yang semakin liar dalam tubuhnya. Sebuah seringai tipis muncul di wajah tampan pria tersebut sebelum akhirnya mengangkat tubuh Elowyn ala bridal style dan membawanya pergi. *** Clap! Clap! “Ughhh!” Suara kecapan dan desahan memenuhi sebuah kamar hotel malam ini. Elowyn semakin terbawa suasana, membiarkan pria itu melumat bibirnya tanpa ampun. Ia tak banyak mendominasi, maklumlah ia sangat amatir dalam hal seperti ini. “Emhh ahh ….” Elowyn mendesah ketika tangan pria itu mengerayap pada bagian pahanya. “Ahhh aku mohon, cepatlah! Tubuhku rasanya seperti terbakar.” Pria itu mengangkat dagu Elowyn, lalu berbisik. “Kau wanita yang berani dan tidak sabaran, ya? Baiklah, tapi jangan menyesal nantinya.” Bisikan itu menjadi kata-kata terakhir yang Elowyn dengar, sebelum sang pria menarik kasar gaun miliknya dan melemparnya sembarangan. Rasa panas dalam tubuhnya semakin menjadi, seolah merenggut kewarasannya. “Akkkh … s-sakit!” Elowyn menitikkan air matanya saat merasakan sesuatu yang teramat menyakitkan seolah mengoyak tubuhnya habis-habisan. Sang pria melepaskan pelukannya, rasa terkejut menghampirinya ketika melihat sesuatu menodai sprei putih di bawah tubuh Elowyn. “Ahh shit! Kau masih perawan?” Elowyn hanya memejamkan matanya pasrah, menikmati sensasi panas yang perlahan mulai memudar. Dan malam ini, jatuh sudah harga dirinya. Elowyn merutuki seseorang yang telah mengerjainya hingga membuatnya kehilangan kesuciannya seperti ini. Tak terasa matahari pun mulai menerjang. Sinar hangatnya menyapa wajah yang masih mengarungi mimpi indah di dalam kamar bernuansa putih tersebut. “Uggh ….” Elowyn mengerjap-ngerjapkan matanya ketika cahaya silau itu menyorot kearahnya. Ia menggeram pelan saat merasakan kepalanya berdenyut. Lalu beberapa detik berikutnya, matanya terbuka secara paksa. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah langit-langit dengan ukiran unik yang tampak asing baginya. Dimana dia sekarang? Ini bukanlah kamarnya? Dan ia terkejut bukan main saat menemukan sosok pria tampan bertelanjang dada terlelap di sebelahnya. “A-apa sudah yang terjadi?” Elowyn menundukkan pandangan pada tubuhnya yang tertutup selimut. Sekali lagi ia terkejut. “A-apa ini? Kenapa aku tidak pakai baju?” Elowyn memejamkan matanya lagi guna meyakinkan diri jika ini hanyalah mimpi. “Wake up, Elowyn!” Plakk! “Akkh sakit!” “Ini bukan mimpi. Ja-jadi … aku menggoda gigolo itu sungguhan?” Tubuh Elowyn terasa lemas sekarang. Bisa-bisanya karena patah hati setelah memergoki kekasihnya selingkuh dan menemukan fakta jika dirinya hanyalah anak angkat orang tuanya, membuatnya jadi gila dan berakhir masuk ke bar? Tempat yang seumur hidup tidak pernah disentuh olehnya. “Oh tidak! Aku pasti sudah gila. Aku harus pergi sekarang!” Melihat pria itu masih tertidur pulas, Elowyn menahan semua rasa sakit di sekujur tubuhnya untuk bangkit dan mencari pakaiannya. Namun, ia justru menemukan pakaian yang semalam ia kenakan telah berbuah seperti kain lap yang sudah koyak dan tak terbentuk lagi. Sebrutal itukah permainan mereka semalam? Ia bahkan tidak ingat jelas apa saja yang sudah dilakukannya. “Pakai ini sajalah,” gumamnya ketika menemukan sebuah kemeja putih yang tergeletak di bawah meja. Tanpa pikir panjang, ia segera memungut dan memakainya. Elowyn menghela napas sejenak setelah mengenakan kemeja yang sangat kebesaran untuk ukuran tubuhnya yang mungil. Tapi tidak apa. Setidaknya ia bisa keluar dari tempat ini tanpa telanjang. “Astaga! Dimana dompet dan ponselku?” paniknya saat tidak menemukan dua benda keramat miliknya itu. “Bagaimana ini?” Elowyn menggigit bibir bawahnya. Ia teringat ucapannya pada pria itu semalam yang menawari uang satu miliar untuk bermalam dengannya. Tapi yang dia temukan sekarang hanyalah sebuah koin yang terselip di antara lekukan tasnya. Dengan ragu-ragu, Elowyn meletakan koin itu di telapak tangan sang pria. “Terima kasih karena sudah menolongku semalam. Kalau kita bertemu lagi, aku akan melunasi sisanya. Dan maaf, aku tidak bermaksud mencuri kemejamu,” ucapnya sangat pelan. Takut pria itu akan bangun sebelum dirinya pergi. Bisa mati berdiri dirinya jika itu terjadi. Setelahnya ia keluar dari kamar dengan perlahan. Persis seperti maling yang takut ketahuan. Ia berjalan cepat meninggalkan tempat itu tanpa peduli tatapan aneh dari orang-orang yang dijumpainya sepanjang jalan. Elowyn terus menyumpah serapahi orang yang membuatnya jadi seperti ini. Orang yang seharusnya bertanggung jawab atas semua kekacauan yang terjadi padanya, dan Elowyn yakin orang itu adalah Liona, yang pasti tujuannya adalah ingin mempermalukannya. “Liona brengsek! Akan kujadikan kau daging cincang setelah ini.” *** Setelah dua jam terpaksa berjalan kaki dari hotel hingga rumahnya, Elowyn meluruhkan tubuhnya pada dinding di teras. Ia menarik napas panjang lalu menatap kakinya yang gemetar hebat. Elowyn merutuki nasib sialnya karena ponsel dan dompetnya yang hilang entah kemana, membuatnya jadi kelelahan. “Sekarang aku harus bagaimana? Aku sudah tidak perawan, hikz ….” Ia mendesah berat kemudian menangkup wajahnya frustasi. “Aku tidak bohong, Ayah. Elow memaksaku masuk ke bar lalu dia minum-minum. Aku sudah melarangnya melakukan itu, tapi dia mengancam akan menyakitiku jika aku tidak menurutinya.” Sayup-sayup telinga Elowyn mendengar namanya disebut dari dalam rumah. Ia menyudahi acara 'mari meratapi nasib' dan memilih bangkit untuk mengintip dari celah jendela. Disana ia melihat kedua orang tuanya bersama Liona dan Zeros, mantan tunangannya. “Zeros? Mau apalagi dia kesini?” batin Elowyn. “Aku mohon Ayah, jangan hukum Elowyn nanti,” ucap Liona terdengar sendu. Tapi Elowyn tahu itu hanyalah sandiwara. Sejak satu persatu rahasia orang-orang di dalam sana terungkap, tidak ada lagi yang bisa Elowyn percayai. “Permainan apalagi yang dia buat?” gumam Elowyn, kemudian beranjak dan membuka pintu rumah secara kasar. “Elowyn?” ucap mereka semua hampir serempak. Elowyn berjalan ke arah mereka yang berada di ruang tamu. Kemudian berhenti di hadapan orang tuanya. Senyum manis yang sulit diartikan menjadi sapaan mereka yang pertama. “Apa kalian sedang menungguku?”“Sial! Kenapa ini semua terjadi? Siapa yang sudah menayangkan semua itu,” gerutu Liona emosi, sembari menuruti panggung dengan menutupi wajahnya dari serbuan kamera. Baru saja gadis cantik nan manis itu menikmati hasil kerja kerasnya, dan merasa berada di atas awan karena projek pertamanya sukses besar. Karena kesuksesan itu, banyak tawaran iklan yang berdatangan serta projek-projek lainnya. Baru saja ia memegang trofi pertamanya dengan bangga. Namun, pijakkannya langsung dipatahkan hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Orang-orang yang tadinya menatap kagum dan iri padanya, seketika tatapan mereka berubah menjadi hina. Bisik-bisikan para penonton dan tuntunan pertanyaan dari wartawan, menyerbu bagai sekumpulan lebah yang mengincar targetnya. “Liona, apa benar tentang tayangan tadi?” “Apa kau mengetahui tayangan itu sebelumnya? Atau itu memang sengaja untuk menaikan pamor saja?” “Liona, benarkan yang di foto dan video itu adalah kamu?” “Liona, tolong jelaskan yang s
Api membakar ujung rokok seorang pria yang tengah berdiri di balkon kamarnya, sembari menatap hamparan lampu di taman rumahnya. Pikirannya semewarut saat ini. Ia menegak alkohol dalam gelas yang sengaja disiapkan untuk menemani batang nikotin agar semakin sempurna. Teringat ucapan seorang detektif berapa saat yang lalu.Dua jam sebelumnya.“Jadi, itu yang membuat penyelidikan ini memakan waktu begitu lama,” jawab detektif itu jujur. “Data adopsi yang saya temukan seperti dipalsukan. Nama, tanggal lahir, bahkan asal usulnya juga diganti.”“Kenapa ada orang melakukan sejauh itu?” Viona bergetar.Detektif itu menarik napas pelan, seolah sedang menimbang kata-katanya. “Kemungkinan putri kalian tidak mengingat jati dirinya sendiri, alias hilang ingatan. Karena anak berusia lima tahun, paling tidak dia bisa mengingat namanya sendiri dan orang tuanya. Tapi kalau tidak, berarti ada gangguan dengan ingatannya.”“Itu artinya data dari rumah sakit sebelum dibawa ke panti asuhan disembunyikan?”
Lampu kamera menyala di setiap sudut sepanjang jalan. Karpet merah membentang panjang di depan gedung megah Star Group. Malam ini, adalah acara red carpet yang ditunggu-tunggu oleh para bintang. Kilatan flash kamera tak berhenti menjepret para tokoh utama yang melewati karpet tersebut. Sementara di belakang panggung berdiri seorang wanita cantik dengan gaun putih sederhana tapi terlihat anggun. Wanita itu memegang segelas jus anggur. Sudut bibirnya terangkat sedikit mengintip dari celah pintu, menyaksikan hasil kerja kerasnya selama ini terbayar hari ini. “Elowyn, kau mengintip siapa?” Gadis itu menoleh, melihat temannya yang tak mempesona berjalan ke arahnya sambil membawa kamera yang mengandung di lehernya. “Kau kenapa kesini? Harusnya membatu artismu bersiap-siap, sana,” ujar Elowyn setengah meledek. Gadis yang menghampirinya menghela napas panjang. Ia merebut minuman di tangan Elowyn. “Malas, ah. Setelah hari ini, aku mau resign saja,” jawab Elie. “Kau ini! Bukankah
“Bagaimana kabar Kakek?” tanya Elowyn. Saat ini ia berada di rumah rawat Tuan Zain. Tentu saja sebelum pergi ke tempat ini, ia sempat adu mulut dulu dengan Duke yang memintanya untuk istirahat lagi. Padahal menurut di empu tubuh, ia sudah baik-baik saja dan bahkan kembali fit seperti sebelumnya. Suasana ruang rawat Tuan Zain sangat tenang. Pria tua itu sudah tidak memakai bantuan alat pernapasan lagi, bahkan dia terlihat bersemangat seperti bukan berusia 75 tahun. “Aku sudah baik-baik saja. Apalagi kamu menjengukku. Tubuhku langsung pulih seperti dulu,” jawab pria itu, berpose menunjukan otot tangannya. Elowyn tersenyum sendu. Segera ia memeluk tubuh ringkih tersebut. “Kakek jangan sakit lagi, ya. Aku sangat khawatir tahu saat dengar Kakek drop.” Tuan Zain terkekeh pelan seraya menepuk-nepuk punggung cucu menantunya. “Kakek ini sudah tua, jadi wajar saja jika Drop. Maaf ya.” “Wajar apanya?” sahut Elowyn ngegas. “Dokter bilang jantung Kakek sempat berhenti.” “Itu karena Kakek






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews