LOGINDinara masih terdiam di sana ketika salah satu dari karyawan tersebut berkata, “Hus! Itu gosip lama!”
Kemudian kedua karyawan itu bergegas pergi. Sementara itu, Dinara mematung sejenak sebelum ikut berpaling. Selingkuh…? Dinara memang belum pernah bicara banyak dengan Karin, hanya sebatas menyapa sopan. Namun beberapa kali melihat Karin ketika ia sedang datang ke kantor, Dinara selalu melihatnya menyapa para karyawan dengan ramah. Karin juga kerap membelikan makanan atau minuman untuk para karyawan. Selain itu… Karin terlihat begitu serasi bersama Elang. Cincin yang masih disematkan di jari manis keduanya cukup menjadi bukti kuat bagi Dinara. Maka, Dinara cepat-cepat menyingkirkan omongan dua karyawan tadi. Ia pikir, ini hanya gosip semata. Lagipula, Julia juga pernah bilang bahwa sudah biasa ketika ada gosip mengudara di kantor ini. Dinara harus pintar-pintar mengabaikannya agar tidak terseret. Jadi, Dinara cepat mengabaikan pikirannya. * Keesokan paginya, kantor SHG sama sibuknya seperti hari-hari kemarin. Semua orang bicara cepat, telepon berdering tanpa henti, dan email beruntun masuk ke laptop Dinara. Dinara baru saja selesai mencetak revisi laporan ketika telepon di meja berbunyi. “Mbak Din, Bu Karin... sedang naik.” Dinara mengangguk. “Baik, terima kasih.” Dinara beranjak, mengetuk pintu, dan langsung masuk ke ruangan Elang. “Permisi, Pak. Ibu Karin sedang menuju ke sini.” Elang berhenti mengetik, namun tidak langsung menanggapi. Ia melirik Dinara sesaat, kemudian mengangguk. Dinara mengambil isyarat itu. “Saya... permisi dulu, Pak.” Baru ia berbalik, sosok elegan dengan wangi parfum mahal sudah muncul di ambang pintu. Karin Wicaksana. Rambut hitamnya bergelombang, ia mengenakan dress berkilau yang mahal, dengan senyum manis yang ditempel. Di tangannya, ada dua paperbag kopi premium dan satu kotak makanan. Matanya berbinar saat melihat Dinara. “Dinara! Apa kabar kamu?” Dinara tersenyum sopan. “Baik, Bu.” “Aduh, makin cantik aja kamu!” Karin meraih lengannya ringan, terlalu ringan dan terlalu akrab. Dinara hanya bisa tersenyum canggung. “Saya? Ah biasa aja, Bu...” “Beneran lho Din, kamu itu…” Karin menatap sambil menunjuk Dinara dari atas sampai bawah, “...keren.” Dinara mengangguk sedikit, “Terima kasih, Bu. Saya permisi dulu ya, Bu Karin.” Karin mengangguk sambil tersenyum. Senyumnya terlihat tulus, membuat Dinara cepat melupakan gosip yang ia dengar kemarin. Dinara sempat melirik Elang yang jelas tidak menunjukkan reaksi apa pun. Rautnya tak terbaca. Bahkan seolah tidak nyaman dengan kedatangan itu. Karin mengangkat kotak makanan penuh gaya. Sambil berjalan anggun menuju suaminya. “Sayang, hari ini aku bawain makanan kesukaan kamu!” Dinara hanya memperhatikan dari jauh. Dinara pikir, Karin begitu perhatian dengan Elang, sebab ini bukan kali pertama Karin datang untuk membawakan bekal makanan. Elang menoleh, tatapannya datar, hampir seperti menahan nafas. “Tinggalkan saja di atas meja,” suaranya datar, jauh dari hangat. Saat Dinara hendak menutup pintu, ia masih sempat melihat Elang bersandar di kursinya, wajahnya terlihat tidak senang. Sama sekali. Pintu kemudian ia tutup rapat sebelum berpaling. Jawaban Elang tadi terdengar begitu dingin. Namun Dinara tidak berpikir macam-macam, sebab ia tahu bahwa bosnya memang selalu dingin. Dinara pun kembali ke bilik kerja di luar ruangan itu. Tak lama kemudian Karin keluar, masih tersenyum manis. “Saya pamit dulu ya, Din…” “Lho, kok cepat Bu?” tanya Dinara polos. Karin tertawa kecil. “Pak Elang memang begitu. Kalau lagi sibuk, saya pun nggak bisa ganggu. Nantilah nyambung di rumah lagi!” “Saya mengerti, Bu. Jadwal Bapak memang padat.” Karin mengangguk dan tersenyum, namun tak terbaca oleh Dinara. “Kalau gitu, saya duluan, Din.” “Baik, Bu.” Karin pun berpaling, melambaikan tangan lalu masuk lift. Beberapa menit setelah Karin pergi, interkom di meja Dinara berbunyi. “Dinara,” suara Elang terdengar rendah. “Masuk.” Dinara segera beranjak. Saat membuka pintu ruangan CEO, hal pertama yang ia lihat adalah kotak makanan dan dua kopi premium dari Karin yang masih utuh. ‘Tidak dimakan sama sekali…?’ batin Dinara. “Dinara.” suara Elang memecah lamunannya. Dinara mengangguk sopan. Ia bersiap mengiyakan apapun yang akan Elang katakan. Namun, entah bagaimana suasana ruangannya terasa berbeda lebih berat, lebih sunyi. “Apa jadwal saya untuk besok?” tanya Elang. “Jadwal Bapak…,” Dinara mencoba mengingat-ingat. Ia lupa membawa tablet berisi jadwal lengkap Elang di luar. “Ma-maaf, Pak. Sebentar, saya ambil tablet dahulu.” Elang menatap tajam Dinara. Tatapannya lagi-lagi tak terbaca. Dinara segera melangkah cepat ke luar dan kembali dengan tablet di tangan. “Bapak punya jadwal viewing villa di Puncak besok,” kata Dinara sedikit terengah. “Saya tahu itu,” ucap Elang. “Jadwal lain?” Dalam hatinya, Dinara bersungut-sungut. Atasannya ini terkadang membuatnya seperti dipermainkan! Setelah direndahkan di proses wawancara dua bulan lalu, sekarang Elang juga masih memperlakukannya seperti itu. Namun, Dinara harus tetap sabar. “Ada meeting untuk proyek Villa Adikara, Pak,” lanjut Dinara. Elang mengangguk cepat. “Siapkan berkasnya.” Dinara mengangguk. Ia pun mulai menyiapkan berkas yang diperlukan, yang kebetulan ada di ruangan Elang. Mereka bekerja dalam diam. Seisi ruangan hanya dipenuhi suara ketik dari laptop dan lembaran kertas yang bergesekkan. Dengan teliti, Dinara memastikan berkas-berkas yang harus diurus. Ia menyusun berkas-berkas tersebut menjadi satu dalam satu map. Setelah selesai, Dinara pamit keluar kepada Elang. “Saya izin keluar, Pak Elang. Saya akan siapkan seluruh berkas lainnya.” Elang tidak menjawab. Matanya masih fokus dengan layar laptop, namun ia mengangguk. Dinara ikut mengangguk sopan, meski ia tak tahu apakah Elang dapat melihatnya atau tidak. Baru saja memegang gagang pintu, Elang tiba-tiba memanggil Dinara. “Dinara.” “Ya, Pak?” Mata Elang memindai kotak makanan dan dua kopi di atas meja. “Bawa ini semua ke luar.” Dinara sempat mematung mendengarnya. Biasanya, ketika Karin membawakan bekal, kotak makanannya tidak akan terlihat lagi selepas kerja di atas meja Elang. Karin pikir Elang membawanya pulang lagi. Baru hari ini, Elang meminta Karin untuk membawanya ke luar. Namun, Dinara masih sedikit bingung. “Ditaruh pantry, Pak?” Dinara bertanya sambil mengambil kotak makanan dan kopi-kopi itu. Dinara menunggu jawaban Elang yang belum datang. Pria itu masih sibuk mengetik di laptopnya. Setelah beberapa detik, Elang mengangkat wajahnya. Ia menatap Dinara. “Buang saja.”Dinara tidak menjawab. Ia hanya memandangi ponsel di tangannya yang menetes dengan tatapan kosong. Ia merasa harapannya untuk menyelamatkan Elang ikut mati bersama ponsel itu.“Pak, ini di dalamnya penting...” lirih Dinara.Elang menyambar kimono, mengenakannya lalu mengangkat Dinara.Semua mata tertuju padanya, Elang tak peduli dengan tatapan tanya dari mereka termasuk dari istrinya sendiri. “Pak, turunkan saya...” lirih Dinara.Elang seolah tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Andaliman tampak ingin mendekat untuk meminta maaf, menyadari bahwa leluconnya tadi hampir saja berakibat fatal, namun sorot mata Elang yang tajam seperti belati membuat pria itu tertahan di tempatnya. Soraya hanya mendengus, melipat tangannya di dada sambil merasa bahwa drama pagi ini terlalu berlebihan untuk seorang sekretaris.Sementara itu, Karin dan Paman Johan menahan diri. Mereka saling melirik sekilas, seolah berkomunikasi lewat mata bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk mencampu
Akhirnya Dinara tertidur karena lelah semalam. Hari sudah siang, ia bangun kesiang lagi karena tidurnya benar-benar kacau akhir-akhir ini. Ia melompat dari ranjangnya menuju kamar mandi.‘Sial! Aku telat lagi! Hari ini Pak Elang pasti sudah siap ke proyek...’ umpatnya panik.Ia mandi secepat kilat tanpa sempat menikmati air hangat seperti biasanya. Pikirannya sudah melayang pada video di ponselnya dan rencana besar yang harus ia eksekusi hari ini. Setelah selesai mandi, ia segera berganti baju. Mengingat hari ini mereka akan meninjau proyek di bawah terik matahari Bali, ia memilih pakaian santai namun tetap sopan, kaos lengan pendek putih dan celana jeans agar lebih bebas bergerak untuk aktivitas luar ruangan. Tak lupa menutupi leher yang tanda merahnya masih nampak.Sambil menyisir rambutnya dengan terburu-buru, ia menatap ponselnya yang tergeletak di meja rias. Tekad semalam masih ada, namun rasa mulas di perutnya tak bisa diajak kompromi. Ia tahu, begitu ia keluar dari kamar ini, i
Dinara sudah berada di kamarnya kembali, namun ketenangan tak kunjung datang. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, membiarkan pikirannya berputar hebat. Kepalanya terasa pening memikirkan perjanjian apa atau kerja sama macam apa yang sedang dirancang oleh Paman Johan dan Karin. Perutnya juga terasa mual.Ia menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Mau muntah tapi tidak bisa keluar, rasa mual itu tertahan di tenggorokan. Ia mengeringkan wajahnya, lalu keluar toilet dan mengambil segelas air putih dan meminumnya agar rasa mual hilang.Selama menjadi sekretaris sekaligus orang terdekat Elang, bosnya itu tidak pernah bercerita sedikit pun tentang rencana kolaborasi bisnis dengan Paman Johan. Elang adalah tipe pria yang sangat menjaga kerahasiaan asetnya, bahkan dari istrinya sendiri.‘Atau sebenarnya itu baru rencana sepihak dari mereka berdua? Kalau memang iya, aku harus menahan semua kerja sama yang ditawarkan pria tua itu...’ batinnya dengan tekad yang mulai mengeras
Langkah kaki Dinara sangat hati-hati, nyaris tanpa suara di atas lantai yang dingin. Suasana villa sudah sangat sepi, ia tahu Elang dan Andaliman pasti sudah terlelap setelah hari yang panjang dan melelahkan. Ini sudah lewat tengah malam, waktu di mana sebuah pengkhianatan akan mulai menampakkan wujudnya.Rasa penasaran yang membakar membuat Dinara nekat. Tidak berhasil mengintip dari celah gorden jendela depan. Ia nekat menuju balkonnya, mengecek posisi balkon. Antara balkonnya dengan balkon kamar sebelah hanya terpisahkan oleh celah kecil sekitar tiga puluh centimeter dan pembatasnya rendah. Dengan jantung yang berdegup kencang, adrenalin yang berpacu, Dinara memanjat pembatas itu. Berpindah ke balkon sebelah dengan gerakan hati-hati, baju tidurnya yang tipis melambai-lambai tertiup angin malam. Sesaat kemudian, ia sudah berpindah posisi berada di balkon kamar Paman Johan. Ia menahan nafas, merapatkan tubuhnya ke dinding kacanya.Gorden di kamar itu tidak tertutup sempurna. Ada cel
Setelah makan malam di Jimbaran yang agak tenang, Andaliman akhirnya membawa mobil kembali menuju villa. Villa mewah itu memiliki arsitektur yang menawan dengan empat kamar utama, dua kamar di sayap kanan dan dua di sayap kiri, dipisahkan oleh kolam renang jernih dan taman estetik yang diterangi lampu-lampu temaram di bagian tengah.Karin dengan penuh perhatian mengantar Paman Johan menuju kamarnya di sayap kiri. Kamar pria itu berada tepat di sebelah kamar Dinara. Merasa lelah secara batin setelah seharian melewati situasi yang berat, Dinara segera pamit untuk masuk ke kamarnya lebih dulu. Ia butuh ruang sendiri. Air hangat di bawah pancuran menjadi pelariannya, berharap semua beban dan aroma cendana yang melekat bisa luruh bersama air.Setelah mandi, Dinara segera merebahkan diri di ranjang empuknya. Ia mengecek ponsel yang penuh dengan notifikasi dari Julia, sahabatnya yang selalu antusias menanyakan perkembangan hubungannya dengan Andaliman. Namun, perhatian Dinara teralihkan. Di
Andaliman membawa mereka menuju destinasi pertama di siang yang teduh itu. Ia menurunkan penumpang di pintu masuk utama, lalu mengambil parkir di area parkir mobil. Sejenak segera bergabung bersama yang lain di pintu masuk. Dinara sudah memegang tiket masuk untuk para atasannya. Segera mereka memasuki area amfiteater untuk menonton pagelaran Tari Kecak. Dinara memberi ruang untuk para atasannya mengambil duduk lebih dulu. Ia sudah berusaha mengambil posisi paling pinggir, berharap bisa menjadi penonton yang nyaman. Nyatanya, seseorang membuatnya terjepit di posisi yang jauh dari kata nyaman.Di barisan kursi kayu itu, Karin duduk kaku di tengah, diapit oleh Elang dan Paman Johan. Sementara Dinara, ia ditarik oleh Andaliman untuk duduk di sisinya. Namun, entah bagaimana Andaliman mengatur posisi, Dinara justru berakhir duduk tepat di antara Elang dan Andaliman. Ia terjepit di tengah dua pria yang memiliki aura yang sama-sama mengintimidasi.Begitu suara "Cak-cak-cak" mulai menggema da
“Iya, Pak.” Jawabnya pelan sambil berdiri.Ia mengambil tablet, dan berjalan menuju ruangan dimana bos-nya berada. Menarik nafas dalam sebelum membuka pintu.Dinara pun masuk, mendekati meja bos-nya. Mata Elang masih terpaku di depan layar laptop.“Batalkan agenda ke Puncak. Saya sedang tidak enak
Air masih mengalir deras, suaranya menenggelamkan dunia di luar kamar mandi.‘Belum? Yang benar saja!’ batin Dinara, nafasnya belum juga kembali teratur.Belum sempat ia mencerna apapun, Elang kembali menciumnya. Kali ini tidak tergesa. Lebih lembut, lebih dalam seolah ada sesuatu yang ingin disamp
Keesokan harinya, Dinara mengerjapkan mata ketika cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar hotel itu. Tubuhnya terasa hangat, terbingkai dalam pelukan Elang Adikara. Ia menoleh ke samping, menatap wajah pria itu yang begitu tenang, damai dengan nafas teratur.‘Hah! Pak Elang… apa yang s







