Compartilhar

Bab 5

Autor: Lyla Veil
last update Data de publicação: 2025-12-16 10:19:50

Dinara terkejut. Namun, ia cepat-cepat mengembalikan ekspresinya. 

“Ba- baik, Pak Elang.”

Dinara membawa dua paperbag berisi makanan dan kopi-kopi itu ke luar ruangan. 

“Sayang sekali kalau harus dibuang.” Batinnya, “Tapi tadi perintahnya jelas….” Dinara menimbang-nimbang. Ia merasa begitu sayang jika harus membuangnya.

Iwan yang sedang memasukkan data di laptopnya, melihat Dinara keluar dengan membawa paperbag yang tadi Karin bawa untuk Elang. “Mbak Din, itu mau dibawa kemana?” tanya Iwan.

Dinara menoleh, “Disuruh buang sama Bapak.” katanya sambil mengangkat kedua bahunya. 

Bukannya terkejut, Iwan malah ketawa kecil sambil menggeleng. Bukan tawa yang meremehkan, tapi seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat hal yang sama.

“Kenapa, Mas?” Tanya Dinara heran.

Iwan menggeleng, “Enggak, Mbak.”

Dinara penasaran dengan reaksi rekannya itu. Ia merasa, ada sesuatu yang Iwan tahu tapi dirinya tidak.

“Apa aku kasih orang aja, Mas? Nggak tega mau buang makanan…”

“Terserah Mbak aja.” Jawab Iwan ringan.

Dinara pun berjalan menuju pantry. Ia melihat ada Eko, seorang OB kantor sedang memasang galon air ke dispenser. “Pak Eko, maaf, ini ada makanan, dibagi aja sama OB yang lain.” 

Dinara meletakkan paperbag itu di meja, lalu mengeluarkan isinya dan menatanya di meja. Lalu melipat paperbagnya menjadi lipatan kecil dan menaruh di saku. Ia melakukan itu karena khawatir ada yang tahu bahwa itu pemberian istri atasannya.

Mata Eko berbinar melihat makanan mahal itu. “Terima kasih Bu Dinara. Ini dari Bu Dinara?”

Dinara mengerjap. Ia bingung harus mengatakan apa, tidak mungkin bilang kalau itu dari istri Pak Elang, yang diminta untuk dibuang. Sedangkan bosnya itu memberi perintah untuk membuangnya.

“Iya dari saya, Pak…” akhirnya Dinara harus berbohong demi Elang.

Ada perasaan yang mengganjal di hati Dinara setelah menyerahkan paperbag itu. Apa Pak Elang tidak menyukai menu yang dibawakan hari ini? Namun, Dinara pernah beberapa kali membelikan kopi yang sama. Dinara jadi semakin bertanya-tanya.

Tetapi, cepat-cepat lagi ia mengabaikan segala pertanyaan itu. Ia tahu betul ada batasan yang tak boleh ia langkahi. Urusan pribadi atasannya bukan menjadi sesuatu yang harus Dinara ketahui. 

Keesokan harinya, Dinara baru tiba di depan gedung kantor ketika telepon dari atasannya masuk. “Ke ruangan saya sekarang.”

Tanpa banyak tanya, Dinara segera bergegas naik untuk ke ruangan atasannya itu. Tetapi ia juga bertanya-tanya dalam hati. Ada apa pagi-pagi begini? Biasanya, Elang akan mulai mendikte Dinara setelah jam sembilan. 

Iwan yang melihat Dinara begitu terburu-buru langsung berseru, “Mbak Din! Kenapa buru-buru? Pak Elang baru juga sampai!”

Mendengar itu, Dinara semakin berdebar. Apakah ia melakukan kesalahan? Elang baru sampai dan sudah memanggilnya ke dalam ruangan. Ini tidak biasa bagi Dinara.

Dinara perlahan mengetuk pintu ruangan Elang sebelum akhirnya dipersilakan masuk. 

“Se-selamat pagi, Pak Elang-”

“Berkas laporan proyek Cendana Hills kemarin di mana? Saya belum terima.” Elang memotong sapaan Dinara.

Dinara mengerjap mendengarnya. Ia yakin sudah menaruh berkas itu di atas meja Elang selepas kepulangannya dengan atasannya dan Iwan kemarin. Namun sekarang ia bisa melihat Elang yang menatapnya tajam, sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. 

“Ma-maaf, Pak. Sepertinya terlewat dan masih ada di meja saya.”

“Tiga menit,” balas Elang singkat. Ia tidak lagi menatap Dinara, pandangannya dialihkan ke layar laptop. 

Dinara mengerti itu. Ia hanya diberi waktu tiga menit untuk menyerahkan berkas yang diminta. Maka Dinara mengangguk, sedikit panik. Dinara berlari kecil keluar dari ruangan Elang, kemudian melihat tumpukan berkas di atas meja kerjanya.

“Ada yang hilang, Mbak?” Iwan bertanya dari bilik kerjanya.

“Mas Iwan pegang berkas laporan proyek Cendana Hills kemarin?”

“Lho, enggak, Mbak. Saya taruh di atas meja Mbak Dinara kemarin,” jawab Iwan dengan nada ikut khawatir. Iwan juga mulai bantu mencari berkas yang dicari di meja Dinara. 

“Perasaan sudah saya taruh di atas meja Pak Elang, Mas…” gumam Dinara sambil terus mencari.

Beruntung, ia mendapati berkas dengan kop ‘Cendana Hills’.

“Ini dia!” pekiknya.

Ia pun meninggalkan Iwan yang hanya bisa tersenyum menggeleng. 

Setelah Dinara kembali ke ruangan Elang, ia sedikit terengah ketika meletakkan berkas yang diminta di atas meja Elang.

“Ini, Pak. Mohon maaf sepertinya terlewat kemarin.”

Elang meliriknya tajam sebelum mulai membaca berkas itu. Dinara hanya mampu menelan saliva.

Dinara mulai merapikan berkas-berkas di ujung meja Elang, selagi menunggu perintah selanjutnya.

Setelah beberapa saat, Elang mulai bersuara.

“Dinara, sudah dua bulan bekerja, mengapa masih tidak becus mengerjakan hal sederhana begini?”

Dinara tersentak. Tidak becus, katanya. “Maaf, Pak. Saya pastikan tidak akan terulang.”

“Ini proyek penting, Dinara.”

“Saya mengerti, Pak,” Dinara menjawab pelan.

Proyek Cendana Hills adalah proyek besar yang sudah dipegang Elang sejak lama.

Kini Dinara dapat melihat bagaimana Elang menggeleng, kemudian lanjut memindai berkas itu. Matanya kini mondar-mandir antara kertas dan layar laptop.

“Dinara.”

Suara Elang yang rendah dan tegas membuat Dinara sigap membetulkan posisi berdirinya. “Ya, Pak?”

“Pegang administrasi proyek Cendana Hills sepenuhnya, mulai hari ini.”

Mata Dinara melebar. Setelah dibilang tidak becus, ia malah diminta memegang administrasi proyek ini. Biasanya, Dinara hanya membantu mengurus laporannya saja dan tidak terjun mengurus administrasinya langsung.

Elang sepertinya belum mempercayai Dinara untuk proyek besar ini. Yang Dinara tahu, Iwan yang biasanya mengurusi administrasi ini.

Sekarang dia diminta untuk memegang proyek ini, apa ini adalah hukuman untuknya atas keteledorannya tadi? Dinara lantas teringat ketika sesi wawancara dahulu. 

“Dinara,” panggil Elang. “Jawab.”

Pria ini benar-benar tidak berubah!

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
jangan galak-galak pak Elang
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 143

    Elang menarik nafas pendek lalu tersenyum tipis. Jemarinya bergerak mencubit pelan hidung Dinara, gemas melihat perubahan suasana hati istrinya yang begitu cepat.“Secara profesional, pekerjaanmu waktu itu memang belum sesuai dengan standar Mas,” ucap Elang jujur, tanpa bermaksud menyudutkan.Dinara sedikit mengerucutkan bibirnya mendengar pengakuan itu, namun ia tetap diam mendengarkan.“Tapi itu wajar, Sayang... Kamu karyawan baru dan belum tahu bagaimana ritme kerjanya Mas. Mas sengaja melibatkan Iwan agar dia bisa membimbingmu pelan-pelan,” lanjut Elang, menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dari sudut pandangnya.Elang kemudian meraih kembali jemari Dinara, menggenggamnya dengan lebih erat. Sorot matanya melunak, memancarkan ketulusan yang mendalam.“Mas sengaja bersikap dingin karena sedang berusaha menjaga jarak aman. Mas tidak mau mengacaukan profesionalitas kerja karena ketertarikan pribadi. Tapi yang paling penting... bagi Mas, keberadaanmu di ruangan itu sudah lebih dar

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 142

    Elang terdiam sejenak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis saat ingatannya berputar kembali ke setahun lalu.“Memangnya apa yang kamu ingat tentang hari itu?" tanya Elang balik, alih-alih langsung menjawab rasa penasaran istrinya.Dinara menyandarkan punggungnya ke bantal, matanya menerawang menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tidak luntur.“Aku ingat banget, waktu itu aku keluar dari ruangan Mas dengan lemas. Aku sudah seratus persen yakin kalau aku tidak akan diterima kerja di SHG.”“Kenapa bisa seyakin itu?”“Ya... karena semua pertanyaan Mas waktu itu dingin banget, terus jawaban-jawabanku rasanya kurang memuaskan,” tiru Dinara sambil mengerucutkan bibirnya. “Mas ingat nggak? Waktu aku menjelaskan pengalaman kerja dan strategiku, Mas cuma melihatku dari atas sampai bawah dengan muka datar tanpa ekspresi, lalu cuma bilang ‘oke, silakan keluar’. Siapa yang tidak ciut mentalnya digituin sama CEO langsung?”Elang terkekeh pelan. Ia meraih jemari Dinara, mengus

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 141

    Dinara menahan nafas, meremas selimutnya erat-erat dengan mata melotot ke arah Julia. Ia benar-benar ngeri sahabatnya itu akan langsung dipecat hari ini juga karena kelancangannya.Namun, Elang sama sekali tidak menunjukkan kilat amarah. Pria itu justru mengurai genggaman tangannya dari Dinara, lalu memperbaiki posisi duduknya. Sorot matanya yang tajam dan dingin mengunci pergerakan Julia, membuat suasana kamar seketika diselimuti aura intimidasi khas seorang pemimpin tertinggi korporat.Elang diam selama beberapa saat. Sifatnya yang irit bicara di depan orang lain, kecuali Dinara, membuat setiap detik keheningan itu terasa begitu mencekam bagi Julia yang kini mulai menelan saliva.Setelah memastikan Julia benar-benar mengunci mulutnya, Elang baru membuka suara.“Saya tidak akan mengorbankan istri dan anak saya sendiri,” ucap Elang penuh penekanan yang mutlak. “Dinara... tidak akan tersentuh.”“Dan satu hal lagi,” tambah Elang menegaskan posisinya sebagai pelindung utama di rumah ini.

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 140

    “Sayang... kenapa ada Julia di sini?” tanya Elang, tanpa menoleh ke arah Dinara.Julia yang masih terpaku di ambang pintu makin terkejut. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong saat mendengar bos besarnya yang terkenal sedingin es itu memanggil sahabatnya dengan sebutan yang begitu intim.“Sa-sayang?!” lirih Julia, suaranya hampir habis karena syok.Dinara refleks menyentuh lengan suaminya, mencoba meredam ketegangan. “Hmm... maaf Mas, aku lupa bilang kalau ada Julia...” balas Dinara tak enak hati, melirik Julia dengan perasaan bersalah.“M-Mas... Mas Elang?!” Julia makin bergidik, matanya bergerak liar menatap Elang dan Dinara bergantian. “Ka-kalian?!” Julia menunjuk kedua manusia di depannya dengan tangan yang gemetar akibat rasa tidak percaya yang membuncah.Elang berdeham pendek, berusaha menguasai situasi. Ketegasan seorang pemimpin kembali terlihat di wajahnya. Ia meletakkan mangkuk sup ke atas nakas, lalu menatap Julia lurus-lurus.“Julia, masuk dan tutup pintunya. Dud

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 139

    Elang dengan cekatan mengangkat dan menggendong tubuh ringkih Dinara, membawanya untuk duduk kembali di ranjang. Ia meletakkan bantal di punggung Dinara sebagai sandaran, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi kaki istrinya yang terasa dingin.Kemudian, Elang ikut naik ke atas ranjang dan duduk di tepi tempat tidur itu, melipat kakinya demi bisa menatap langsung sang istri yang masih saja menunduk menyembunyikan wajahnya.“Sayang, dengarkan Mas,” ujar Elang, suaranya mendadak serak, sarat akan penyesalan yang mendalam. Kedua ibu jarinya bergerak lembut, mendongakkan dagu Dinara pelan lalu mengusap air mata yang mulai menetes di pipi istrinya.“Garis samar itu aku yakin artinya positif, Sayang. Kamu sedang mengandung anak kita,” lanjut Elang dengan tatapan paling jujur dan lembut yang pernah Dinara lihat. “Dan... ini sama sekali bukan beban. Ini adalah anugerah yang paling Mas inginkan di dalam hidup Mas.”Dinara tertegun, bibirnya sedikit terbuka mendengarkan penuturan suaminya.E

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 138

    Setelah dokter Taufik pamit undur diri, keheningan kembali menguasai kamar utama. Elang langsung condong ke depan, berniat merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan hangat untuk menumpahkan seluruh rasa haru yang membuncah di dadanya.Namun, tepat sebelum lengan tegap itu melingkar, Dinara sedikit menggeser bahunya, menghindari sentuhan Elang dengan halus.“Mas... aku capek banget. Pengin langsung tidur,” bisik Dinara pelan tanpa menatap mata suaminya.Elang sempat tertegun, tangannya menggantung di udara selama beberapa detik. Namun, melihat guratan lelah dan wajah pucat istrinya, ia langsung memaklumi. Elang mengulas senyum lembut, lalu menarik selimut Dinara hingga sebatas dada.“Ya sudah, kamu tidur, ya. Mas tidak akan mengganggumu.”Malam itu pun berlalu dalam senyap, menyisakan kecamuk pikiran di kepala Dinara hingga ia akhirnya terlelap.Keesokan paginya, sinar matahari mulai menerobos masuk melalui celah gorden.Elang sudah bangun dan mandi lebih dulu. Kemudian Dinara yang bar

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 30

    Dinara duduk di kasur, menelan saliva dan menggigit bibirnya. Ia tak habis pikir, bagaimana dirinya bisa berada diantara sosok bos dingin dan istrinya. “Apa aku sekarang jadi selingkuhan Pak Bos… ya ampuun…”Ceklek!Dinara terkejut saat pintu kamar mandi terbuka. Elang keluar hanya dengan handuk y

    last updateÚltima atualização : 2026-03-24
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 27

    ‘Apa maksudnya pulang ke apartemen Elang Adikara?’ Dinara hampir tak bisa berpikir apapun.Tempat yang ingin Dinara hindari selamanya, tapi Elang justru akan membawanya kembali.“Kenapa ke apartemen, Pak?” tanya Dinara.“Jangan membantah saya.” Tegas Elang.“Tapi Pak…”Elang menatap Dinara, membuat

    last updateÚltima atualização : 2026-03-23
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 26

    Dinara mengangguk, tersenyum kecil namun tak ingin berkomentar lebih jauh.Bunyi dering ponsel milik Andaliman mengalihkan fokus sejenak. Ia mengambil ponselnya yang masih berdering.“Elang Adikara,” ujarnya.Dinara langsung tahu, pasti Elang mencarinya.Andaliman menggeser layar ponselnya.“Andali

    last updateÚltima atualização : 2026-03-23
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 25

    Dinara sudah siap untuk ke kantor. Mengenakan pakaian yang disediakan Elang. Dress putih selutut dengan motif bunga-bunga besar warna biru, yang bukan selera Dinara tapi ia tidak punya alternatif lain. Dengan menggunakan transportasi online, ia pun tiba di kantor sekitar pukul sepuluh. Beberapa ma

    last updateÚltima atualização : 2026-03-23
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status