LOGINCecil membuka pintu dengan pelan, mengintip sedikit dari celah untuk memastikan siapa yang datang.
Pria yang dihadapannya memandang dengan kesal. Mata itu, wajah itu.. semuanya tak ada yang berubah. Termasuk sikap cerewetnya. Kedua tangan pria itu ditaruh di dalam saku celana. Ia lalu memandang wajah Cecil sambil cemberut. "Sulit sekali kamu dihubungi Cecil! Aku sampai harus melacakmu!" Gerutu Satria setengah jengkel. Rasa gengsi kar"Gimana persiapan minggu depan?" Tanya Cecil. Keduanya sudah pulang ke rumah. Satria bahkan sudah mendarat di tempat tidur sedangkan Cecil masih memakai skincarenya. "90% rampung. Semuanya aman." "Syukurlah.." Cecil menarik kimono gaun tidurnya dan beranjak ke tempat tidur. Satria pun menyambut istrinya yang cantik jelita. "Maafin aku. Beli rumahnya ditunda dulu sampai aku siap." Satria mengecup dahi Cecil. "Pengeluaran banyak sekali. Keuntungan perusahaan kupakai untuk pembangunan dan membayar hutang ke mama." "Kamu kehabisan uang?" Tanya Cecil mendongakkan wajahnya untuk menatap ketampanan Satria. "Kenapa? Kamu takut hidup susah?" Goda Satria. "Dari kecil aku udah hidup kesulitan, Satria. Aku nggak mau itu terus berlanjut." Jawab Cecil jujur. Dia memiliki uang, bahkan mungkin tabungannya lebih banyak dari Satria untuk saat ini. Tapi dia juga seorang wanita... seorang istri yang ingin hak-haknya terpenuhi. Satria terkekeh sembari mengusap kepala istrinya. "Jangan khawa
Rasanya baru sebentar Cecil memejamkan mata tapi tiba-tiba saja ia merasakan hawa dingin menusuk ke tulangnya. Saat dia membuka mata rupanya ada Satria telah naik di atasnya. "Satria.." Cecil menggeleng pelan. Tenaganya sudah habis tak tersisa karena semalaman di gempur pria ini. Belum saja mulut ini mengeluarkan suaranya, Satria sudah terlebih dahulu menbungkamnya dengan sebuah ciuman. Tangan pria itu kembali menjelajah ke seluruh titik sensitif istrinya. Satu kali tidak cukup, dia ingin mengulanginya lagi sebelum matahari terbit. Cecil memejamkan mata saat Satria turun ke bawah. Ia membiarkan pria itu kesana untuk menghilangkan rasa takutnya. Setelah Cecil dirasa cukup siap untuk menerima alat tempurnya, Satria mendesak dan mengulangi lagi kegiatan semalam. Bayangkan saja.. Hampir enam tahun Satria tidak menjamah wanita. Dan kali ini ia sudah berhasil mendapatkan wanita pujaannya. Satria berj
Satria menggenggam tangan Cecil menyusuri koridor hotel untuk membawanya ke kamar pengantin mereka. Cecil melirik ke belakang. Suara tawa para wanita dan pria paruh baya sudah memudar. Mereka telah kembali ke kamar masing-masing. Satria dan Cecil memberikan voucher menginap gratis di hotel ini untuk para kerabat mereka. Termasuk Siti yang takjub akan kemewahan hotel ini. Detak jantung Cecil semakin kencang saat perjalanan mereka menuju kamar kian dekat. Rasanya Cecil ingin membalik tubuh ini dan berlari ke arah Dian. Ini adalah malam pertamanya menjalankan tugas sebagai seorang istri. Dan Cecil merasa takut, gugup, cemas tapi juga menantikannya. Ah.. sungguh perasaan yang campur aduk. Tap. Pintu terbuka dengan kartu pintar yang dibawa oleh Satria. Pria ini mempersilahkan istri barunya masuk terlebih dahulu. Cecil masuk dan memandang kamar yang mereka pesan.
Di hari bahagia ini hanya ada satu orang yang tak fokus. Dia lah Satria. Sejak tadi dia sibuk memandangi wajah cantik istrinya. Cecil yang cantik dan lembut. Pipinya yang kemerahan membuat Satria gemas sekali ingin mengigitnya. "Satria! Kamu ditegur MC." Cecil mencubit pelan lengan Satria yang melingkarinya agar pria itu sadar. Sejak tadi nama Satria disinggung oleh pemandu acara. Tapi pria ini malah tak bergeming. Tak ayal, Satria menjadi bahan olok-olokan di hari pernikahannya. Selesai dengan seluruh rentetan acara, giliran tamu yang hadir memberikan ucapan selamat. Sekarang kelas status Satria dan Cecil benar-benar terlihat. Tak hanya keluarga dan teman, para kolega bisnis dari kalangan atas ikut hadir memberikan selamat. Maklum saja, ini adalah pernikahan dari pemilik Ksatria Guard dan Safety Guard. Wajar jika pernikahan keduanya menjadi sorotan publik.
Hari dan tanggal baik sudah ditentukan, Satria dan kekasihnya akan menikah enam bulan dari sekarang. Keduanya memutuskan untuk menikah di hotel yang memiliki view pantai. Sesuai dengan kehendak Cecil yang ingin menikah dengan diiringi suara ombak dari laut yang menenangkan. Selama enam bulan ini juga Satria dan Cecil bekerja keras di perusahaan masing-masing. Terlebih Satria yang sedang membangun bangunan baru untuk Ksatria Guard. Perusahaan menengah itu sekarang berkembang menjadi perusahaan raksasa. Dan dalam waktu dekat, Ksatria Guard pasti bisa menyalip Safety Guard. "Selamat pagi," baru saja Satria memberikan senyum manisnya. Dian menyambutnya dengan jutek. "Apanya yang selamat pagi! Hari ini libur! Tidak boleh berkunjung!" Dian menutup pintu rumah ini hingga membuat Satria berdecak. "Mama ini! Aku ingin bertemu dengan calon istriku!" Satria memprotes. "Setiap hari kalian
"Cecilia.."Cecil terperangah saat namanya disebut oleh pria yang ada di atas panggung. Apalagi ada layar putih yang terbentang lebar di atas sana. Dimana di layar tersebut ada gambar dirinya..Sebuah video yang memutarkan foto-foto Cecil yang diambil oleh Satria secara diam-diam dengan berbagai sudut pandang. Sebuah metamorfosa sebagai kupu-kupu cantik bernama Cecilia."Kemarilah,"Nama Cecil diteriakkan oleh para penonton. Bahkan para pemain ikut menyemangati Cecil yang menangis dari tempatnya.Sampai sebuah tepukan lembut di bahu Cecil, membuat wanita ini akhirnya berdiri.Sembari mengusap air matanya, Cecil turun melalui tangga dan bergabung di panggung. Disana sudah ada Satria yang menyambutnya dengan uluran tangan.Mimpikah semua ini? Kenapa Cecil merasa semua ini seperti nyata..Cecil diajak ke tengah panggung dan berhadapan dengan Satria. Pria ini menatap lekat."Cecilia.. aku telah terkena kutu
Tekad sudah bulat, Satria akhirnya mendaftarkan dirinya ke jenjang magister di Universitas Singapura. Dua tahun ia kejar untuk menyelesaikan kuliahnya. Untung saja jadwal kuliah yang ia ambil adalah weekend. Sehingga senin sampai jum'at digunakan untuk bekerja. Sekar
Sayup-sayup Satria mendengar suara dering ponselnya. Aduh. Pria ini mengeluh. Kepalanya begitu nyeri saat digerakkan. Terpaksa ia bangun dari tidurnya, mengambil ponsel yang berdering di atas nakas samping tempat tidur. Matanya pun terbelalak. "Astaga!" Satria terlonjak kaget. Waktu sudah menun
"Tolong!" Suara Cecil melengking menembus jalan yang gelap nan sepi. Ia berlari sekuat tenaga. Di sisi kanan kirinya hanya ada pohon-pohon yang besar. Mustahil jika bisa bersembunyi, empat orang pria yang sedang mengejarnya pasti bisa menemukannya.
Tidak masalah jika tertolak. Walau Cecil tak bisa menjadi kekasih pria ini. Berteman saja sudah cukup baginya. Cecil seperti biasa, datang setiap pagi ke apartement Satria. Mengurus pria itu dengan baik walau harus menebalkan telinganya. Satria







