Share

2. Dante Andromeda

Penulis: Esteifa
last update Tanggal publikasi: 2023-12-08 18:20:05

"Mau kemana?" tanya Alda sembari mengikuti gerak-gerik tubuh gadis di depannya.

Pertanyaan itu terdengar saat Aurora barusaja kembali ke dalam kelas. Kelas juga masih ramai, bell baru saja berbunyi dan guru belum ada yang masuk.

Mungkin sedang dalam perjalanan, jadi Aurora harus cepat-cepat.

Benar. Setelah menempuh pemikiran panjang, Aurora akhirnya memutuskan apa yang akan ia lakukan.

Gadis manis berponi depan itu menjawab tanpa menoleh pada sahabatnya.

"Mau ngelabrak Cassy. Dasar bocah bego! Idiot! Ngumpetin begituan aja kaga bisa. Hih! Udah sukur gue pinjemin!" selak Aurora bersama emosinya yang belum stabil.

Asmeralda menganggukan kepala. Ia mengerti. Aurora memang bukan orang dermawan, dia tidak memaafkan secara cuma-cuma bahkan untuk hal kecil sekalipun. Hal serupa ini sudah pernah terjadi, dan yang pasti nanti Aurora dan Cassy akan bertengkar, setelah bertengkar mereka bertiga akan kembali bermain bersama lagi.

Sudah biasa.

"Terus ngapain beres-beres tas?" tanya Alda lagi, sembari terus menscrol ponsel di tangannya.

Untuk hal yang satu ini tidak bisa dia mengerti, kenapa ngelabrak harus pakai beres-beres buku dan membawa tas?

Aurora menyeleting tas hitamnya dan memakai tas itu di punggung.

"Habis ngelabrak langsung minggat lah, Onty Jeje kesayangan Lo itu mau dateng kemari, Alda! Gue nggak mau mati diblender sama mamih!" sahut Aurora ngeri.

Membuat teman-temannya tau kalau ia adalah anak Janela Sarasvati merupakan hal terakhir yang Aurora inginkan.

Aurora bahkan jarang bertemu Mama saat di rumah, kalau sampai pertemuan pertama mereka setelah beberapa hari adalah di ruang BK, ow Aurora tidak bisa membayangkan betapa ironinya.

Aurora mengerti, sebagai anak yang dua orang tuanya sibuk berbisnis, ia tidak berharap banyak, rumah bukanlah tempat indah baginya, bisa berkumpul saat Natal saja sudah cukup.

Aurora tak lagi membutuhkan kasih sayang sebanyak itu, ia juga tidak akan menciptakan drama layaknya anak broken home kebanyakan, Aurora telah melewati masa remaja, berkat bantuan Asmeralda, Cassy dan teman-teman lainnya, masa muda Aurora menjadi lebih berwarna. Dan soal keluarga, Aurora punya, jadi ya sudah sebatas itu saja.

Alda mendecak keras mendengar ucapan sahabatnya. Dia mengalihkan pandangan mata saking tak terima dengan apa yang Aurora katakan.

"Onty Jeje nggak galak kok, lo paniknya kayak mau ketemu tukang tembak dari Nusa kambangan," balas Alda. "Kalo Lo bolos, justru dia bakal marah beneran nantinya."

Aurora menghela napas. "Jadi menurut Lo Mama gue baik?"

"Ya emang baik," sahut Alda.

"Iya baik sama lo! Sama gue kaya Tukang Ospek!" selak Aurora sebal. Aurora mengangkat kaki ke atas kursi, mengencangkan tali sepatu yang terlihat kendur.

Mau panjat tembok belakang sekolah, pastinya harus banyak persiapan.

"Ya Lo tingkahnya ada mulu sih!" Alda membalas tak kalah sebal. Teman Aurora sejak bayi itu mendecak lagi. "Jangan minggat deh percaya sama gue,"

Aurora mengabaikannya. Dia bergegas mengencangkan tali sepatu di kaki yang lainnya.

"Lagian kalo Lo minggat, mau kemana?"

Sekarang Alda jadi takut, karena Aurora terlihat bersungguh-sungguh dengan kalimatnya. Aurora tidak pernah bolos sebelum ini, dia memang susah diatur, namun Alda yakin Aurora tak punya keberanian sebesar itu untuk lari dari sekolah saat jam pelajaran masih berlangsung.

Namun melihat Aurora lagi, Alda jadi semakin ragu. Mungkin waktu sudah membuat keberanian Aurora jadi lebih tinggi.

Alda ikut berdiri, membiarkan badan tingginya terlihat menjulang, bahkan ponselnya sudah lepas dari tangan.

Dia betulan mau bolos! Bocah gendeng!

"Ke rumah eyang?" tanya Alda lagi, dia terus bertanya. "Atau ke rumah Tante Lili? Mau ke mana? Nanti pasti Mama Lo tanya ke gue, Rora."

Aurora menoleh tak percaya. "Rumah eyang lebih parah! Mana ada gue kabur dari Mama tapi lari ke Eyang."

"Terus mau ke mana?"

Aurora tidak membalas. Dia malah sibuk mengeluarkan cermin kecil dari saku seragamnya, membetulkan poni anti badai dan ikat rambut yang sedikit berantakan.

Alda makin was-was kalau begini.

Mata Asmeralda membola. Gadis bule itu punya tebakan dalam kepalanya.

"Jangan bilang..." bisik Alda pelan, matanya horror menatap Aurora. Berharap kalau apa yang dipikirkannya salah.

Sementara Aurora bersenandung kecil, dia sudah memastikan penampilannya baik, memasukan kembali cermin miliknya ke dalam saku.

Lalu Aurora tersenyum lebar, sampai gusinya terlihat, manis sekali.

"Tidak ada yang lebih aman di dunia ini daripada mansion Foster Bagaskara," ujar Aurora.

Setelah mengatakan itu Aurora melangkah menjauh. Bersama dengan satu lambaian tangan dan kecup melalui udara. Pertanyaan teman sekelas tak dihiraukan. Aurora hanya menjawab dengan kiss bye yang dramatis.

"Rora!" teriak Alda tak habis pikir. "Mommy bilang rumah gue overboden kalo dilewatin elo! Jangan bolos ke rumah gue, bangke!"

Alda sudah merahasiakan ini dari Aurora. Demi ketentraman hidup dan suasana rumahnya. Namun sepertinya akan terbongkar.

Beberapa hari yang lalu kakak laki-laki Alda pulang dari Australia setelah beberapa semester menetap di sana.

Dan bukan lagi rahasia kalau Aurora Jasmeen tergila-gila dengan kakak Asmeralda. Antares Bagaskara.

--

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Chasing the Sexy Nerd   OUTRO;

    Beberapa bulan kemudian. Aula pesta pernikahan sudah ditinggalkan. Di kamar hotel yang tampak berantakan dan memiliki jendela kaca berpemandangan Burj Khalifa itu, pria dan wanita terlelap nyenyak berbalut selimut. Sudah hampir subuh. Setelah semalaman Dante membuat Aurora sibuk. Aurora hanya berharap ia bisa tidur nyenyak, namun mimpinya terlalu tinggi. Saat ia merasakan tangan Dante kembali merayap di perutnya, dengan suara yang serak dan lemah ia berkata. “Orang gila, udah, please, aku ngantuk banget!” Hari pertama pertama pernikahan sungguh menyiksa. Aurora benar-benar tidak tahu bahwa menjadi seorang istri harus sesulit ini. Ia bahkan tidak ingat lagi berapa kali bercinta semalaman, yang Aurora tahu hanyalah ia sudah jadi zombi dan nyawanya hampir hilang. Ia sungguh butuh tidur, benar-benar hanya tidur. Dante tidak menjawab dan hanya terus mencium leher serta pundak Aurora. “Mandi dulu baru tidur,” katanya, licik seperti buaya modus. Aurora sudah tidak peduli lag

  • Chasing the Sexy Nerd   62. Tidur?

    Di depan kaca besar kamar mandi hotel Aurora berdiri, melepas handuk kecil yang membalut rambutnya, ponselnya bersandar ke sebuah botol, di layar terlihat dering panggilan video manunggu tersambung. Dan saat panggilan grup itu sudah terjalin stabil, Aurora menunduk, memperlihatkan cincin berlian yang menghiasi jari manisnya, satu tangan lainnya menutupi wajah karena malu. Dua orang yang menjadi lawan bicaranya pun berteriak antusias, makin tak karuan ketika Alda dan Cassy bicara bebarengan membuat Aurora tidak bisa mendengar apa pun yang mereka katakan. Ia segera meng’hust’ dan membuat situasi menjadi kondusif kembali. Bagaimana pun, di antara mereka bertiga seperti tebakan Aurora lah yang pertama akan dilamar dan menikah. Cassy terlalu suka bermain-main, cowok baginya hanya hiburan- kalau bosan maka ganti yang lain, ia belum berpikir untuk menikah sama sekali, sementara Alda juga sedang sibuk-sibuknya dengan studi juga karier, tidak punya gebetan sama sekali. Aurora satu-satunya

  • Chasing the Sexy Nerd   61B. Tuan Tunangan

    Aurora tertawa, tidak berniat menjelaskan. “Tunggu sebentar, aku pamit dulu.” Dengan begitu, Aurora kembali ke TK, berpamit pergi pada salah satu guru yang bertugas- lalu menyapa ibu-ibu yang menunggu anak-anak mereka selesai bersekolah. Tanpa perlu menjelaskan banyak hal pun mereka tahu kalau pria tampan yang mengendarai mobil mahal di sana adalah kekasih si guru muda. Selama tinggal di Jogja, Aurora menempati rumah nenek buyutnya, ia tinggal bersama beberapa sepupu jauh dan seorang bibi. Secara alami, peraturan di sini lebih banyak daripada saat Aurora tinggal bersama orang tuanya. Ketika Dante datang, mereka memiliki batas waktu untuk berkencan- meskipun usia mereka sudah dewasa dan aturan seperti itu seharusnya sudah tidak berlaku, namun Aurora tetap pulang sebelum jam 9. Dante mengenal baik kerabat Aurora di Jogja, dia pun tidak banyak protes, yang bisa dia usahakan hanya bangun lebih pagi agar tidak rugi dan bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama. Dante menyetir de

  • Chasing the Sexy Nerd   61. ATM berjalan

    4 tahun kemudian. - Tidak ada kesalahpahaman yang tidak bisa diluruskan, pertemuan dan pembicaraan yang baik bisa menyembuhkan segalanya. Aurora belajar mengenai pemahaman itu bertahun-tahun yang lalu. Masa muda yang bodoh mengajarkannya banyak hal, perpisahan tidak menyedihkan, orang hanya perlu terbiasa- meski tidak mudah tapi selama kepercayaan masih ada maka hubungan baik akan tetap terjalin. Menjalani long distance relationship selama 4 tahun lamanya tentu tidak mudah, Aurora tidak akan begitu sombong dengan mengatakan ‘LDR itu gampang’, dari awal pun ini tidak mudah baginya, tetapi sebagai gadis yang selalu diperjuangkan rasanya Aurora tidak punya complain sama sekali. Aurora lulus dengan nilai yang cukup baik. Setelah memikirkannya dengan matang, ia mengambil jurusan ilmu komunikasi dan berkuliah di salah satu universitas unggulan Yogjakarta. Dante menyelesaikan studinya dalam 3 tahun, dan selama waktu itu dia selalu menyempatkan pulang menemui Aurora satu atau dua

  • Chasing the Sexy Nerd   60. Bioskop

    Rasa malu Aurora mengalahkan rasa takutnya. Ia langsung berdiri dengan tegang, kedua tangannya menyatu, kepalanya menunduk tak berani diangkat, separuh hatinya mengumpat pada Dante dan separuh lainnya mengumpat diri sendiri— jika saja mereka bisa menunda ciuman itu, maka tidak akan membuat situasi jadi begitu canggung begini. Karena terlalu deg-degan, jemari Aurora menjadi dingin, tak terasa air matanya turun. Saat itu Dante masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi, dia hanya menganggap kalau kehadiran orang tuanya mengganggu. Sementara Wilona dan Juni juga belum mengatakan apa-apa, tetapi Aurora sudah menangis- membuat semua orang seketika terbebas dari kecanggungan. Juni lebih dulu mendekati anak laki-lakinya lalu memukul lengan atasnya cukup keras. Bagaimana pun, selama membesarkan Dante, ia tidak pernah memakai kekerasan, Dante anak yang baik tidak banyak tingkah jadi membesarkannya bukan hal sulit, tetapi kali ini- agaknya Juni sudah tidak gagal mengajari anakny

  • Chasing the Sexy Nerd   59B. Kangen²

    Rusa tidak tahu bahwa Singa menginginkan tubuh dan nyawanya. Bidadari tidak tahu bahwa selendangnya dicuri dan ia terkurung dalam surga palsu bernama cinta di bumi. Aurora si gadis lugu juga tidak tahu, bahwa pria yang baru dewasa, dengan hormonnya yang seperti bendungan hampir jebol, diam-diam sengaja menahan diri- tidak menciumnya lebih dulu, dia kelaparan namun dia menginginkan buah manis itu yang datang menghampirinya. Aurora mendekatkan wajah, memberikan kecup bibir manis yang Dante inginkan. Hanya satu kali, tidak lama. Tiba-tiba saja dia terkikik. “Kayak apa banget,” celetuk Aurora merasa lucu. “Dicium terus dapet iphone gitu?” Dante diam saja. Dia memutar bola mata ketika Aurora mencubit dagunya dan berkata gemar. “Sugar daddyku brondong ganteng.” Sugar daddy katanya. Saat tiba-tiba Dante menekan pinggang Aurora lebih rapat padanya, hingga sama sekali tidak ada jarak di antara mereka, Aurora tidak lagi mampu tertawa. Kikik lucu yang tadi ia leluasa keluarkan berub

  • Chasing the Sexy Nerd   58. Pulang

    Laptop yang masih menyala langsung ditutup tanpa dimatikan lebih dulu, Dante mengambil buku dan tasnya sebelum akhirnya beranjak, mengabaikan teman perempuannya yang kebingungan melihat perubahan sikapnya setelah menerima telepon. Dante dan ketenangan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, jar

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Chasing the Sexy Nerd   54. Cemburu tipis

    Hari masuk sekolah pun tiba.Aurora melangkah keluar dari kamar sembari bersenandung, menggunakan seragam putih abu-abu yang licin sementara tangannya bermain ponsel. Kakinya menuruni tangga dengan lincah, menuju meja makan di mana kakaknya sedang menyantap sarapan sambil mengerjakan sesuatu di lap

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Chasing the Sexy Nerd   52. Sunrise kiss

    Sudah lewat tengah malam- hampir pagi.Berbekal dua bungkus hotpack dan duduk dekat di sisa-sisa api unggun untuk menghangatkan tubuh, bisa dibilang Dante tidak begitu menderita saat ia tidak bisa tidur seperti malam ini.Nyala api sudah redup, yang tersisa cuma beberapa bara yang masih merah dan s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Chasing the Sexy Nerd   53. Dadah

    Setelah melihat sunrise, mereka sarapan bersama, Aurora kembali ke dalam tenda paling akhir, tadi Dante membawa sebentar untuk bicara ‘empat mata’ dan setelah itu Aurora kembali sembari menutupi wajahnya dengan dua tangan.Dia mengambil bantal, lalu memukul-mukulnya. “Dari semalem kayak orang gila

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status