INICIAR SESIÓNSuasana ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan terasa mencekam saat palu hakim diketuk tiga kali, menandakan dimulainya persidangan perdana gugatan cerai Gladys terhadap Shandy. Di kursi penggugat, Gladys duduk berdampingan dengan Bima, pengacara dari Adiraja & Associates yang menggantikan Dewa untuk memegang kasusnya. Gladys mengenakan kemeja putih, berusaha keras menyembunyikan tangannya yang gemetar di atas pangkuan. Di seberang meja, Shandy duduk tegap bersama kuasa hukumnya. Pria itu melempar tatapan tajam yang membuat bulu kuduk Gladys merinding."Baik, setelah pembacaan gugatan dari pihak Penggugat selesai, apakah dari pihak Tergugat ada tanggapan yang ingin disampaikan?" tanya Ketua Hakim membetulkan letak kacamata bacanya. Bima duduk tenang, jemarinya memegang pena dengan penuh percaya diri. Menurut perhitungannya, kasus ini sangatlah mudah. Bukti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami Gladys sudah lengkap, disertai rekam medis Celine.Namun, dugaan Bima
"Masih sakit?" tanya Dewa lembut, suara beratnya terdengar seperti bisikan angin malam yang menenangkan. "Nggak, kok. Udah mendingan," sahut Zea yang sudah menyandarkan kepalanya di dada bidang Dewa. Malam ini, Dewa meminta untuk ikut tidur di atas ranjang rumah sakit di sisi Zea. Karena ranjang rumah sakit tidak dirancang untuk menampung dua orang dewasa—apalagi untuk tubuh Dewa yang jangkung, posisi laki-laki itu saat ini persis seperti seekor koala jantan yang menempel pada batang pohon. Tangan Zea melingkar erat di pinggang Dewa, sementara Dewa memeluk tubuh istrinya dengan mendekapnya penuh kehangatan dan satu tangan mengusap lembut perut rata Zea. Sebenarnya, Dewa sedikit demam malam ini. Tubuhnya hangat, efek dari rasa lelah, dan stres. Namun bagi Zea, tubuh hangat suaminya itu justru menjadi tempat paling nyaman di dunia. Kamar VVIP itu baru saja tenang malam ini, setelah siang menjelang sore tadi berubah menjadi arena adu vokal keluarga besar Adiraja. Hasan,
Dewa menegakkan tubuhnya. Wajahnya menatap dingin ke arah Gladys. Tubuhnya sudah cukup lelah hari ini tanpa harus ditambah masalah wanita di hadapannya yang terus-menerus membuat Zea tegang. Rasa sesak di dadanya kian menghimpit setiap kali melihat manik mata sang istri menyiratkan kecemasan yang ditahan rapat-rapat."Maaf, Gladys—""Sebentar saja, Mas. Tolong..." potong Gladys cepat dengan nada memohon, kedua tangannya tertangkup di dada."Masalah apa? Bicara saja di sini," sahut Dewa dengan suara yang sedikit meninggi, menahan kekesalan yang hampir meluap.Zea mengalihkan pandangannya dari Dewa, beralih menatap Gladys yang berdiri gemetar seperti orang yang tengah dikejar ketakutan hebat. Ada gemuruh tak nyaman di dalam dada Zea, namun ia berusaha keras mempertahankan raut tenang di wajah pucatnya."I—ini soal kasus perceraianku.""Bukankah kamu sudah punya pengacara sendiri? Silakan hubungi Bima. Dia yang menangani berkasmu dari Adiraja Associates," cetus Dewa tegas."Tapi i
Napas Zea tercekat seketika. Manik matanya yang masih dibasahi sisa air mata bergetar hebat saat bertatapan langsung dengan Gladys. Seluruh kesadarannya yang sempat melayang akibat efek obat penenang kini telah kembali sepenuhnya. "Zea...?" panggil Dewa dengan suara serak yang bergetar. Jemari tangannya makin erat menggenggam tangan Zea yang terasa dingin bagai es. Dewa bisa merasakan bagaimana tubuh istrinya seketika menegang. "Kak... Dewa..." bisik Zea. Matanya perlahan beralih dari Gladys, menatap lurus pada garis rahang Dewa yang mengeras. "Kenapa, sayang? ada yang sakit?" tanya Dewa cemas. "Ini anak yang Kak Dewa tolong kemarin?" Dewa membeku. Ia tidak menyangka, pertanyaan yang keluar dari mulut Zea saat pertama kali ia membuka mata adalah Celine. Tepat saat Dewa akan menjawab pertanyaan itu, pintu kamar terbuka. Kedatangan Hasan menghentikan ketegangan dalam kamar. "Assalamualaikum, Zea! Ya ampun, kamu kenapa, Nak? Baik-baik aja kan?" Seru Hasan menyerbu masuk d
"Om Dewa!" seru Celine lagi dengan suara anak-anak yang polos dan nyaring, sama sekali tidak memahami suasana tegang yang merayap di sekitarnya. Balita itu melangkah mendekat sambil memegangi boneka kelinci kesayangannya. Dewa refleks membungkuk dan membopong Celine dengan hati-hati ke dalam gendongannya. "Celine," ucap Dewa lembut. Namun, ia sengaja memutar tubuhnya agar tidak berhadapan langsung dengan Gladys yang ikut melangkah mendekat demi menjaga selang infus putrinya. "Kenapa keluar dari kamar, Sayang?" "Celine mau ain sama Om Dewa..." sahutnya manja, menyandarkan kepala mungilnya di dada tegap Dewa. Dewa tersenyum tipis, mengecup lembut puncak kepala Celine. "Om belum bisa main dulu sekarang, Sayang. Celine istirahat dulu di kamar, ya?" "Mas Dewa," panggil Gladys pelan. Wanita itu melangkah menghadap Dewa dengan raut wajah serba salah. "Maaf kalau Celine mengganggumu. Biar aku gendong dia kembali ke kamar." Dewa terdiam. Ia hanya menatap sekilas wajah Gladys
Mobil SUV hitam itu melesat membelah jalanan utama kota yang kian padat. Dewa memutar kemudi dengan gerakan cepat di sebuah persimpangan, memotong arus lalu lintas tanpa mempedulikan klakson kendaraan lain yang tidak terima jalan mereka di potong begitu saja. Kepalanya berat karena panas demam, namun rasa cemasnya membuat Dewa mengabaikan rasa sakit di tubuhnya. Setiap kali mendengar jeritan Zea yang menahan sakit, pijakan kakinya pada pedal gas semakin dalam. "Sabar, Sayang... sebentar lagi sampai! Tahan ya!" seru Dewa dengan napas memburu. Kemejanya sampai lecek tak berbentuk, lebam kemerahan di lengan kirinya berdenyut perih, namun tatapannya terkunci lurus pada gedung tinggi Rumah Sakit di ujung jalan. "Manda, hubungi ruang gawat darurat! Bilang kita bawa pasien hamil muda korban kecelakaan!" perintah Dewa tegas, suara baritonnya bergetar hebat. "I-iya, Pak! Ini saya lagi nyari nomornya!" Manda di kursi belakang sibuk menekan-nekan layar ponselnya dengan tangan gemetar







