Masuk"Mengundurkan diri? Dan membiarkan nenekmu telantar tanpa biaya rumah sakit? Jangan naif, Karyawan Kecil. Di depan semua orang, kamu adalah staf riset terbaikku. Tetapi saat pintu ini terkunci ... tubuhmu adalah milikku." Bagi Alya, malam itu hanyalah pelarian dari kenyataan hidupnya yang pahit. Dia tidak pernah menyangka bahwa pria asing yang ditemuinya dan tidur bersamanya akan menjadi sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya hanya dalam hitungan hari. Dunia Alya seakan runtuh ketika sosok pria dari malam itu berdiri di hadapannya sebagai CEO baru, Arga Mahendra. Arga bukan sekadar atasan, dia memegang kendali penuh atas karier dan nasib finansial Alya melalui kontrak utang yang mencekik. Arga tahu persis cara menggunakan otoritasnya untuk memastikan Alya tetap berada dalam jangkauannya, menciptakan ketegangan yang tak terhindarkan di setiap pertemuan mereka di kantor.
Lihat lebih banyak“Mbak Alya, operasi nenek Anda harus dilakukan besok pagi sesuai kesepakatan kemarin, biayanya seratus lima puluh juta rupiah,” suara dokter rumah sakit tadi siang terus berputar di kepala Alya Paramita seperti kaset yang rusak.
Alya menatap gelas berisi cairan merah pekat di tangannya dengan pandangan yang mulai kabur. Aula hotel berbintang malam ini terasa begitu bising oleh gelak tawa ratusan karyawan PT Rasa Nusantara Food yang sedang merayakan sukses besar produk baru mereka. Namun, dada Alya justru terasa sesak setengah mati. ‘Seratus lima puluh juta … aku harus cari pinjaman ke mana lagi dalam semalam?’ ratap Alya dalam hati sambil meneguk habis isi gelasnya. “Alya! Ayo minum lagi! Kamu kan pahlawan tim riset bulan ini!” seru Sinta sambil kembali menuangkan minuman ke gelas Alya. “Ah, iya, terima kasih, Sin,” jawab Alya dengan senyum yang dipaksakan. Alya tidak menolak gelas berikutnya yang disodorkan oleh temannya. Dia hanya ingin mati rasa malam ini. Otaknya sudah terlalu lelah memikirkan nasib malang yang bertubi-tubi menghantamnya. Selain kondisi neneknya yang kritis, sore tadi rumah kecilnya diacak-acak rentenir karena ulah ayah kandungnya yang mendadak muncul hanya untuk bersembunyi dari kejaran polisi akibat kasus penipuan, lalu kabur lagi begitu saja. ‘Kenapa hidupku berantakan sekali? Ayah bajingan itu malah kabur dan bikin Nenek serangan jantung lagi,’ amuk Alya dalam hati, merasakan kepalanya mulai berputar hebat akibat efek alkohol. “Mual …,” gumam Alya sambil memegangi dadanya. “Al, kamu kenapa? Wajahmu pucat banget,” tanya Sinta menyadari perubahan ekspresi temannya. “Aku ke toilet sebentar ya, Sin, mau cari angin,” pamit Alya dengan suaranya yang tidak stabil. Alya berjalan terhuyung-huyung meninggalkan aula pesta. Efek minuman keras membuat koridor hotel terlihat bergoyang di matanya. Dia berusaha mencari tempat yang sepi, langkah kaki Alya justru membawanya masuk ke lorong berkarpet beludru merah yang sunyi, menjauh dari toilet umum. ‘Aduh, toiletnya di mana sih? Kepalaku mau pecah,’ keluh Alya dalam hati sambil memegangi dinding marmer yang dingin. Bruk! “Ah!” Alya memekik pelan saat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan menabrak dada bidang seorang pria di dekat tangga VIP. Alya siap ambruk ke lantai jika sebuah tangan kekar tidak bergerak secepat kilat menyambar pinggangnya. Tubuh mereka menempel rapat. Alya mendongak dengan susah payah, berusaha memfokuskan pandangannya yang buram untuk melihat siapa pria di hadapannya ini. Pria itu memakai setelan jas hitam yang sangat rapi. Rahangnya tegas dan tatapan mata elangnya begitu tajam, memancarkan aura berwibawa yang sangat kuat. “Kamu tidak apa-apa?” tanya pria itu dengan suara bariton yang berat dan tenang. “Dingin … kepalaku sakit sekali …,” rintih Alya. Rasa frustrasi dan putus asa membuat akal sehat Alya menguap sepenuhnya. Pandangannya menggelap, badannya mendadak lemas total, dan sedetik kemudian kesadarannya hilang sepenuhnya di dalam dekapan pria asing tersebut. *** Aroma wangi ruangan yang mewah dan empuknya kasur membuat mata Alya perlahan terbuka keesokan paginya. Sinar matahari yang menembus celah gorden langsung menusuk retinanya, memperparah denyut pusing di pelipisnya. Alya terduduk kaku di atas ranjang besar yang berantakan. Ketika dia menunduk untuk memeriksa tubuhnya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Gaun malam merahnya sudah tidak ada, berganti dengan sebuah bathrobe putih tebal milik hotel tanpa sehelai benang pun di baliknya. “Sial, apa yang terjadi semalam?!” pekik Alya panik sambil memeriksa pakaian dalam yang ternyata lenyap dari tubuhnya. Potongan ingatan semalam mulai berputar di kepalanya. Dia ingat rasa frustrasinya, dia ingat menabrak seorang pria tampan berwibawa di lorong, dan ingatan itu terputus begitu saja. Alya menoleh ke samping kanan kasur dan menemukan sesosok pria tegap sedang duduk bersandar di sofa kamar, menatapnya dengan pandangan dingin. Pria itu sudah rapi memakai kemeja putih dengan jas hitam yang tersampir di lengannya. “Kamu sudah sadar?” tanya pria itu dengan nada datar tanpa ekspresi. “Kamu … siapa kamu?! Kenapa aku bisa ada di sini dan kenapa bajuku diganti?!” jerit Alya panik sambil menarik selimut erat-erat untuk menutupi tubuhnya. Pria itu berdiri, mengancingkan kemejanya dengan santai, lalu berjalan mendekat ke tepi ranjang. “Semalam kamu pingsan dan menabrakku di lorong. Pakaianmu kotor terkena tumpahan minuman dan muntahan, jadi aku menyuruh petugas wanita hotel untuk membersihkannya dan menggantinya dengan bathrobe.” Alya menatap pria itu dengan penuh kecurigaan. Sisi gila dari kepalanya yang menyukai pria tampan sempat mengagumi wajah tegas pria itu sejenak, namun rasa takut dan harga dirinya jauh lebih besar sekarang. “Lalu kenapa kasur ini berantakan?! Kamu tidak melakukan sesuatu yang macam-macam kepadaku, kan?!” Pria itu menatap Alya dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang membuat Alya merasa tidak nyaman. “Aku tidak punya kebiasaan menyentuh wanita yang sedang tidak sadar. Aku hanya menunggumu bangun di sofa karena tidak tahu nomor telepon keluargamu. Pakaianmu ada di dalam lemari, sudah bersih.” Pria itu kemudian melirik jam tangannya, lalu berbalik menuju pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. “Tunggu! Setidaknya beritahu aku siapa namamu!” seru Alya menahan rasa malu. Pria itu menghentikan langkahnya di depan pintu, menoleh sedikit tanpa berniat berbalik penuh. “Tidak perlu tahu. Anggap saja kita tidak pernah bertemu.” Pintu kamar VIP itu tertutup dengan bunyi klik yang pelan, meninggalkan Alya dalam kebingungan dan rasa bersalah yang luar biasa. Dia bergegas mandi, memakai pakaiannya yang sudah bersih di lemari, lalu segera keluar dari hotel menuju rumah sakit untuk memeriksa kondisi neneknya. *** Tiga hari berlalu dengan cepat setelah kejadian yang memalukan di hotel tersebut. Alya berdiri kaku di barisan tengah aula utama kantor pusat PT Rasa Nusantara Food. Setelah mengambil cuti darurat untuk menemani neneknya yang mendadak bisa dioperasi karena ada pihak tidak dikenal yang melunasi seluruh biayanya, hari ini dia diwajibkan hadir dalam acara penyambutan CEO baru perusahaan. ‘Siapa sebenarnya orang baik yang melunasi biaya operasi Nenek ya? Rumah sakit bilang itu dari dana darurat kantor, tapi aku kan cuma staf biasa,’ pikir Alya sambil memeluk erat map berkas riset bumbu mi instan terbaru di dadanya. Suara tepuk tangan bergemuruh memekakkan telinga di dalam aula, menandakan sang pimpinan tertinggi yang baru saja kembali dari luar negeri telah memasuki ruangan. Seluruh karyawan tampak takjub, membuat Alya ikut mendongak menatap ke arah podium di depan ruangan. Deg! Alya membelalakkan matanya, napasnya tercekat di tenggorokan hingga tubuhnya limbung selangkah ke belakang. Pria yang melangkah naik ke atas podium dengan setelan jas abu-abu gelap potongan khusus itu memiliki wajah tampan dengan rahang tegas yang sangat dia kenali. ‘Pria di kamar hotel malam itu … pria yang membiarkanku tidur di kamarnya … dia CEO baru perusahaan ini?!’ teriak Alya dalam hati, seluruh wajahnya seketika berubah pucat pasi menahan syok yang luar biasa. Di atas podium, pria itu menghentikan langkahnya, menyesuaikan pelantang suara, lalu mengedarkan pandangan mata elangnya ke seluruh ruangan. Tatapannya bergerak perlahan, melewati barisan divisi lain, dan berhenti tepat pada wajah Alya yang sedang gemetar ketakutan di barisan divisi R&D. Pria itu menarik sudut bibirnya tipis, memberikan sebuah senyuman misterius yang sangat tipis, seolah-olah dia sudah tahu bahwa Alya akan berdiri di sana. “Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, nama saya Arga Mahendra,” suara berat pria itu menggema melalui pengeras suara, mengunci seluruh perhatian aula. “Mulai hari ini, saya akan memimpin perusahaan ini secara langsung. Saya akan mengawasi setiap proyek, terutama proyek bumbu baru dari Divisi R&D.” Arga sengaja menjeda kalimatnya, matanya tetap mengunci pandangan mata Alya tanpa lepas sedikit pun, membuat suasana di sekitar Alya terasa menekan dan dingin. “Saya ingin tahu seberapa jauh dedikasi yang bisa diberikan oleh para staf di sini. Jadi, untuk staf yang bernama Alya Paramita …,” Arga menyebut nama lengkap Alya dengan nada suara yang berat dan tegas, “ … setelah acara ini selesai, segera menghadap ke ruangan saya di lantai paling atas.” Mendengar perintah langsung dari sang CEO baru, seisi aula langsung menoleh ke arah Alya dengan tatapan berbisik-bisik, sementara lutut Alya seketika terasa lemas seperti jeli.“Kalau Anda sendiri saja tidak ingat kejadian malam itu, saya batalkan kontraknya! Saya mau menarik kembali resep Nenek saya sekarang juga!” seru Alya dengan napas tersengal-sengal menahan amarah yang meledak di dadanya.Arga tidak bergerak dari posisinya, namun tatapan mata elangnya semakin menajam, mengunci pergerakan Alya di antara pintu mobil mewah miliknya. “Kontrak kerja sama sudah sah secara hukum, Alya. Kamu tidak bisa menariknya kembali begitu saja hanya karena emosi.”‘Enak saja dia bicara begitu! Jadi pelunasan utang seratus lima puluh juta itu murni jebakan biar aku menyerahkan satu-satunya harta berharga milik keluargaku?’ batin Alya merutuk kasar. Air matanya hampir saja tumpah karena merasa harga diri dan warisan neneknya dipermainkan seperti barang dagangan murah.“Saya tidak peduli! Anda sengaja memanfaatkan kondisi saya yang sedang hancur untuk kepentingan bisnis Anda sendiri!” tuduh Alya sambil memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap wajah tampan pria di dep
“Mbak Maya, aku mau tanya sesuatu, tapi tolong jangan tertawa ya,” bisik Alya sambil menggeser kursi rodanya mendekati kubikel seniornya.Maya menghentikan gerakannya yang sedang mengetik laporan, lalu menoleh dengan alis bertaut. “Tanya apa, Al? Tumben mukamu tegang begitu seperti mau ujian.”Alya meremas jemarinya sendiri, melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan staf laboratorium R&D yang lain sedang sibuk dengan komputer masing-masing. Pertemuan dengan Arga di ruang CEO kemarin benar-benar mengacaukan isi kepalanya, terutama tentang misteri malam di kamar hotel yang masih terasa sangat abu-abu.“Mbak kan baru menikah dua bulan lalu,” Alya berdehem kecil, wajahnya mendadak terasa hangat. “Aku cuma penasaran … bagaimana sih rasanya tubuh kita setelah … malam pertama? Maksudku, apa ada efek aneh yang terasa di badan?”Maya langsung membelalakkan matanya, lalu tertawa cekikikan sambil menyenggol bahu Alya. “Wah, ada apa ini? Anak polos di lab tiba-tiba tanya soal malam pertama! Kamu
“Anda mengancam saya dengan nyawa nenek saya?” tanya Alya sambil mengepalkan tangan kuat-kuat di atas pangkuannya.Arga tidak langsung menjawab, dia hanya menatap Alya dengan pandangan lurus yang sangat tenang. “Aku tidak mengancam, Alya. Aku sedang menawarkan kerja sama bisnis yang saling menguntungkan.”‘Kerja sama bisnis apa yang modelnya memakai jebakan seperti ini? Sialan, dia benar-benar memanfaatkan posisinya sebagai bos besar,’ amuk Alya dalam hati. Dadanya naik-turun menahan emosi yang meluap, mengalahkan rasa canggung yang sempat tersisa dari kejadian di kamar hotel malam itu.“Resep itu milik keluarga saya, Pak. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya di divisi R&D perusahaan ini,” kata Alya dengan nada suara yang bergetar namun tegas.“Sekarang ada hubungannya karena perusahaan yang membayar biaya rumah sakit pemilik resep tersebut,” jawab Arga seraya memajukan tubuhnya ke depan meja marmer hitam. “Warung mi nyemek legendaris milik Nenek Aminah di sudut kota lama. Apa
“Al, kamu dengar tidak? Pak Arga memanggilmu ke atas!” bisik Sinta sambil menyenggol lengan Alya dengan keras.Suasana di aula utama mendadak berubah riuh oleh bisikan ratusan karyawan yang menatap langsung ke arah Alya. Alya merasa seluruh pasokan oksigen di sekitarnya menguap habis. Pandangan matanya masih terkunci pada sosok tegap Arga Mahendra yang kini melangkah turun dari podium dengan langkah tenang namun memancarkan wibawa yang luar biasa besar.‘Mati aku … dia benar-benar bos besar di sini,’ jerit Alya dalam hati, meremas map dokumen di dadanya hingga melengkung kusut.“I—iya, Sin. Aku dengar,” jawab Alya dengan suara yang bergetar menahan panik.“Kamu punya masalah apa sampai langsung diincar di hari pertama dia menjabat?” tanya Sinta lagi, matanya penuh rasa ingin tahu yang besar.“Tidak ada. Aku juga tidak tahu,” bohong Alya, buru-buru membalikkan badannya untuk menghindari tatapan penuh selidik dari rekan-rekan divisinya.Sepanjang jalan menuju lift khusus karyawan, kaki






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.