LOGINDewa yang mendadak tersadar dari rasa terkejutnya, secepat mungkin merebut ponsel miliknya dari genggaman Zea. "Ha—halo, Oma," sapa Dewa gugup, suaranya naik satu oktav dari biasanya. "Dewa! Apa maksud ucapan Zea barusan?! Apa benar Tiara masih berani menghubungi kamu?!" Suara Oma Dyah dari seberang sana melengking marah, sanggup membuat nyali seorang pengacara itu mendadak menciut. "Bukan, Oma... Enggak begitu. Zea cuma... bercanda tadi," dalih Dewa terbata-bata, berusaha menyusun alasan logis yang sayangnya terdengar sangat tidak meyakinkan. "Bercanda kamu bilang?!" Dewa mendelik tajam ke arah Zea. Namun, sang pelaku utama justru tampak santai tanpa dosa. Gadis itu malah asyik merapikan rambutnya di depan kaca cermin mobil, bahkan sempat menyunggingkan senyum mengejek ke arah Dewa. "Kamu jangan coba-coba main-main sama Oma ya, Dewa! Oma tidak akan tinggal diam kalau kamu masih berani berhubungan dengan perempuan itu lagi!" tegur Oma Dyah tajam. "Iya, Oma..." bis
Detik berikutnya, pukulan demi pukulan dari tangan Zea melayang di tubuh Dewa. Laki-laki itu mencoba menahan kedua tangan Zea dengan sekuat tenaga. "Aku kan sudah bilang, Jauhi Sagara!" teriak Dewa sambil menghindar dari pukulan tangan Zea. "Seenaknya kamu memerintahku menjauhi Sagara, sedangkan kamu asik-asikan pacaran di lingkungan kampus!" bentak Zea kali ini melayangkan cubitan pedas di lengan Dewa. Membuat laki-laki itu meringis kesakitan. "Tiara tidak ada hubungannya dengan masalah kita." Jawab Dewa mengusap lengannya yang memerah. "Apa kamu bilang? lalu apa hubungannya Sagara dengan kita?" bola mata Zea melebar sempurna. Dewa meringis kesal, mengusap bekas cubitan Zea yang terasa panas. Kaos polo berkerahnya kini sedikit kusut akibat pertempuran di dalam mobil yang sempit. "Hubungannya jelas beda, Zea! Sagara itu laki-laki!" seru Dewa dengan argumen paling tidak masuk akal yang pernah keluar dari mulut seorang lulusan Hukum Cum Laude. Zea melotot tajam, menatap
Baskara melangkah mendekat. Derap langkah kakinya terdengar pelan dan tegas. Sepasang matanya tidak beralih sedetik pun dari Tiara, yang terus menunduk demi menghindari tatapan tajam itu. "Soal sore tadi, Zea memang ada acara dengan ayahnya. Dewa sudah datang menjemput ke rumahnya, tapi dia yang keras kepala dan menolak untuk ikut ke butik," ujar Dewa cepat, berusaha membela diri di hadapan sang ayah. "Sejak kapan kamu kembali ke Indonesia, Tiara?" tanya Baskara dingin, mengabaikan jawaban pembelaan yang baru saja dilontarkan putranya. Pertanyaan itu membuat Tiara tersentak. Dengan keberanian yang di miliki, ia menegakkan kepala dan membalas tatapan Baskara yang terlihat tidak suka padanya. "A—aku baru tiba beberapa hari yang lalu, Om. Dan..." "Lalu, ada urusan apa kamu menemui putra saya lagi?" sela Baskara tajam, tidak berniat memberikan celah bagi Tiara untuk merangkai alasan lain. "Pa, Tiara sudah minta maaf soal masa lalu. Dewa juga sudah pernah jelaskan ke Papa k
Selama perjalanan pulang, kepala Zea tidak berhenti berputar. Fakta mengejutkan tentang status kakak-beradik antara Sagara dan Arka benar-benar menguras habis seluruh emosinya malam ini. Tawaran Sagara untuk mengantarnya pulang tadi langsung ia tolak mentah-mentah. Bukan karena ia membenci pria itu, melainkan karena Zea butuh waktu dan ruang untuk mencerna plot kehidupan yang menimpanya secara bertubi-tubi tanpa jeda. Di dalam mobil taksi yang membawa mereka membelah jalanan malam, Hasan melirik putri tunggalnya yang duduk tepat di sampingnya. Zea tampak begitu lesu, menyandarkan keningnya pasrah pada kaca jendela mobil yang dingin. "Ze," panggil Hasan lembut, memecah keheningan di dalam mobil taksi. "Kamu sakit? Kok lemas banget kayaknya." Zea tidak langsung menjawab. Tenggorokannya mendadak terasa kering kerontang akibat rentetan drama yang menguras tenaga sejak pagi tadi. Ia hanya menggelengkan kepala perlahan tanpa mengalihkan pandangan dari lampu-lampu jalanan. "Ke
"Apa yang kamu lakukan di sini?" desis laki-laki itu tajam, menatap lurus ke dalam manik mata Zea dari jarak yang sangat dekat. Napas Zea memburu. Setelah berhasil menguasai keterkejutannya dalam keremangan lampu taman, ia mendongak menantang. "Seharusnya gue yang tanya, ngapain lo nyeret gue ke sini, Arka?!" Arka menyentak kasar tangan Zea hingga terlepas, lalu mundur satu langkah untuk memberi jarak. Rahangnya mengeras, menahan amarah yang sudah ia pendam sejak insiden memalukan di kampus tadi pagi, termasuk rasa penasarannya saat melihat bagaimana histerisnya Zea melihat wanita lain di samping Dewa. "Gue ada di sini karena ini acara keluarga gue!" sahut Arka sinis, menatap Zea dengan tatapan menghakimi. "Acara keluarga lo?" Kening Zea mengkerut dalam, benar-benar tidak paham dengan arah pembicaraan ini dan ia sama sekali tidak perduli. Sambil mendengus kesal, Zea membetulkan letak tali tasnya yang melorot, lalu mengusap pergelangan tangannya yang kini memerah akibat ce
"Zea? Kamu... kamu kok bisa ada di sini?" tanya laki-laki itu dengan nada tidak percaya, wajah tampannya langsung dihiasi senyuman lebar yang sangat tulus. "Aku menemani Papaku, dia bekerja di perusahaan ini. Kamu sendiri? Bukannya tadi di chat kamu bilang ada acara mendadak makanya batalin makan malam kita?" tanya Zea bertubi-tubi, karena rasa penasaran. Sagara terkekeh pelan, mengusap tengkuknya dengan salah tingkah namun terlihat sangat menawan. "Iya, ini dia acara mendadaknya. Aku lupa kalau perusahaan milik Papaku ulang tahun hari ini. Jadi, malam ini aku wajib hadir kalau tidak ingin dikeluarkan dari kartu keluarga." "Perusahaan ini milik Papamu?" ulang Zea melebarkan kedua matanya. "Jadi—" "Dan ternyata Papamu bekerja di sini?" potong Sagara mengalihkan pembicaraan tentang status keluarganya yang telah diketahui Zea. Zea mengangguk pelan dengan senyum canggung. "Iya, Ga. Papa sudah bertahun-tahun kerja di sini. Aku benar-benar nggak menyangka kalau pemilik seluruh







