MasukApa yang akan kamu lakukan jika dijebak oleh saudari dan ibu tirimu untuk menerima perjodohan yang seharusnya bukan milikmu? Terlebih, pria yang harus dinikahi adalah seorang pewaris kaya raya yang arogan, dingin, serta lumpuh akibat cacat yang dideritanya. Di sisi lain, Ervin telah hampir seratus kali menggagalkan perjodohan yang diatur ibunya. Namun kali ini, usahanya berakhir gagal. Dari sekian banyak wanita yang pernah datang, hanya Belviana yang tidak melarikan diri setelah melihat kondisi dirinya. Hal itu membuat Ervin bingung sekaligus curiga. "Apa dia benar-benar tidak peduli dengan kekuranganku, atau hanya berpura-pura tidak tahu? Haruskah aku mengatakannya sendiri?" batin Ervin. Entah Belviana hanya seorang pengganti Emilie, wanita yang pernah mengisi hati Ervin, atau memang menyimpan tujuan lain di balik pernikahan mereka. Lalu, bagaimana kisah antara Belviana dan Ervin yang dipersatukan oleh sebuah perjodohan yang penuh rahasia?
Lihat lebih banyakBab 1
“Emilie, malam ini kamu harus pergi ke pertemuan dengan pria yang Ayah jodohkan,” seru Chandra.
Emilie menatap ibunya, meminta pembelaan.
“Hmm, suamiku. Kasihan Emilie kalau harus ikut perjodohan keluarga seperti ini. Kariernya dalam dunia modelling sedang naik-naiknya,” ucap Nia.
“Hah! Tapi pihak keluarga Kalandra ingin mempercepat perjodohan ini. Lagi pula, kamu anak tertua di rumah ini. Tidak mungkin Belviana yang Ayah jodohkan, itu artinya dia akan melangkahi kamu sebagai seorang kakak. Lagi pula, Ervin akan menjadi penerus dari keluarga Kalandra,” ujar Chandra sambil memijit pelipisnya.
“Ibu...” rengek Emilie kepada sang ibu.
“Sudahlah Emilie, temui saja dulu. Benar apa kata ayahmu, Ervin pasti akan bisa membahagiakan kamu. Kamu adalah putri Ayah yang pertama, jadi tidak mungkin Belviana yang menikah pertama,” ucap Nia kepada putri kesayangannya.
“Ta... tapi I—”
Nia langsung meremas tangan putrinya dan mengedipkan mata agar Emilie tidak lagi membantah. Emilie seketika terdiam mengikuti apa yang dikatakan sang ibu.
“Belviana sayang, apa kamu tidak masalah menemani Emilie?” Nia bertanya kepada Belviana yang sedari tadi hanya menyimak.
Belviana yang ditanya selembut itu tentu saja langsung mengiyakan tanpa menaruh curiga sedikit pun pada permintaan ibu tirinya itu.
“Tentu saja, Ibu,” jawabnya sambil tersenyum.
“Hmm, baiklah. Kalau begitu luangkan waktumu untuk nanti malam.”
“Ya sudah kalau semua sudah beres. Ayah kembali ke kantor,” ujar Chandra sembari langsung berdiri.
Nia segera mengantar suaminya sampai ke depan pintu. “Hati-hati, Sayang,” ujarnya sambil melambaikan tangan.
Nia berjalan masuk dan langsung menghampiri Belviana. “Bel, kamu juga berpakaian yang bagus. Jangan sampai membuat Emilie malu bertemu calon suaminya.”
“Baik, Ibu,” lagi-lagi Belviana hanya bisa mengiyakan perintah ibu tirinya.
“Ibuuu!!!” teriak Emilie kesal karena malam ini dia sudah janjian bersama kekasihnya.
“Sudah! Kamu ke sini, ikut Ibu!” Nia langsung menarik tangan Emilie.
Brak!
Begitu pintu kamar tertutup, Emilie langsung melayangkan protesnya.
“Ibu!! Apa Ibu tidak pernah dengar gosip-gosip yang beredar kalau Ervin itu lumpuh dan cacat?”
“Hust! Jangan berteriak. Makanya kamu jangan langsung main protes seperti itu di depan ayahmu! Lagi pula itu kan hanya rumor, siapa tahu Ervin itu tampan dan berkharisma,” balas Nia.
“Iya! Kalau rumor itu kenyataan, bagaimana, Bu??” tanya Emilie memelas.
Nia seketika tersenyum licik. “Itulah sebabnya kamu membawa Belviana.”
“Ma... maksud Ibu??”
“Kalau kamu melihat Ervin sesuai yang dirumorkan, kamu bisa langsung memperkenalkan Belviana sebagai calon istrinya. Dan sebelum Belviana protes, bujuk dia pakai kata-kata manismu seperti biasa,” jelas Nia dengan licik.
Emilie seketika tersenyum. “Hmm, benar kata Ibu. Aku bisa melayangkan rayuan mautku seperti biasa untuk mengambil miliknya. Tetapi sekarang, aku akan memberikan milikku yang akan aku buang kepada dia.”
“Hust... Sudah! Sana bersiap-siaplah!”
“Oke, Bu!”
Emilie pun bergegas masuk ke kamarnya. Dia langsung mengambil ponsel dan mengabari kekasihnya untuk memindahkan tempat janjian mereka ke restoran yang sama demi menyingkat waktu.
Sedangkan Belviana, gadis cantik itu mencari gaun yang pas untuk menemani kakak perempuannya.
“Hmm, aku akan memilih gaun yang ini saja,” gumam Belviana memilih gaun terusan sebetis berlengan pendek dengan aksen kain satin berbahan jatuh berwarna navy blue.
Dengan polesan makeup yang tipis, Belviana mengurai rambutnya dengan indah.
Tok tok tok
“Bel... ayo!!” Emilie mengetuk pintu kamar Belviana.
“Iya, Kak!” balas Belviana sambil meraih tas tangannya.
Setibanya di restoran, Emilie yang sengaja membawa mobil sendiri memarkirkannya di halaman depan.
“Yuk turun. Katanya Ervin sudah ada di dalam,” ujar Emilie semanis madu.
Belviana mengangguk dan mengikuti langkah Emilie yang tampak sangat cantik dengan gaun malam seksi yang sedikit terbuka.
“Selamat malam, Nona. Ada yang bisa saya bantu?”
“Kami sudah ada janji,” jawab Emilie santai dan anggun.
“Atas nama siapa, Nona?”
“Oh, atas nama Ervin.”
“Ah, Pak Ervin ya? Silakan ikut saya, Nona. Pak Ervin sudah menunggu Anda,” ujar pelayan restoran tersebut.
Emilie dan Belviana pun mengikuti dari belakang.
Tok tok tok
Ceklek
Pintu terbuka. Seorang pria tegap dan tampan menampakkan diri. Mata Emilie seketika berbinar.
“Apa dia Ervin? Kalau seperti ini sih, aku nggak bakal nolak!” seru Emilie dalam hati.
“Pak Milo, tamu untuk Pak Ervin sudah tiba,” ujar pelayan tersebut menyapa pria tampan itu dengan nama lain.
“Eh! Jadi dia bukan Ervin?” pikir Emilie kecewa.
Sedangkan Belviana hanya diam berdiri di sisi Emilie.
“Silakan masuk, Nona.”
Emilie dan Belviana pun masuk ke dalam ruangan. Terlihat seorang pria sedang duduk di kursi roda menghadap ke arah jendela, membelakangi mereka.
“Ternyata dia beneran lumpuh,” batin Emilie panik dan bersiap-siap kabur.
Emilie seketika menarik tangan Belviana. “Bel... bantuin Kakak kali ini, please?”
Belviana terlihat bingung. “Bantu apa, Kak?”
Tepat saat mereka berada di dekat meja, pria di kursi roda itu berbalik. Betapa terkejutnya Emilie ketika melihat wajah Ervin memiliki bekas luka yang cukup besar di sekitar pipinya.
“OH ASTAGA!! Bukan hanya lumpuh, dia juga cacat!!” pekiknya dalam hati.
Emilie langsung menggenggam erat tangan Belviana.
“Selamat malam, Kak Ervin. Saya Emilie, mengantarkan adik saya yang dijodohkan dengan Kak Ervin. Kalau begitu, saya pamit dan memberikan waktu untuk kalian berdua,” ujar Emilie dengan cepat.
“Kak?!” seru Belviana panik. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya soal ini.
Emilie langsung berbisik, “Please, bantuin Kakak kali ini saja ya, Adikku sayang. Pasti setelah ini tidak akan ada pertemuan kedua kok,” ucapnya meyakinkan Belviana.
“Hmm, baiklah, Kak. Tapi kalau Ayah marah bagaimana?”
“Ayah tidak akan marah selama Ayah tidak tahu.”
“Ehem... ehem...” Milo menyela percakapan dua wanita di depannya.
“Ah, iya, maaf. Saya pamit,” ujar Emilie dan langsung menuju pintu untuk kabur secepatnya.
Ervin menghela napas pelan. “Apa kamu hanya mau berdiri? Atau mau pergi juga dari sini? Pintu keluar ada di sana!”
Rombongan keluarga Kalandra kini bergerak membelah jalanan kota menuju kediaman Chandra dalam iringan dua mobil mewah yang tampak kontras. Kalandra dan Ratu berada di dalam mobil Alphard hitam yang melaju di depan, sementara Ervin dan Belviana menyusul di mobil sedan terpisah tepat di belakang mereka.Di dalam kabin mobil yang senyap, keheningan sempat mendominasi sebelum akhirnya Belviana memberanikan diri untuk bersuara. “Kak, kenapa melamar tiba-tiba seperti ini? Apa Kakak benar-benar yakin mau menikah denganku?” tanyanya memecah keheningan, menatap profil samping Ervin dengan cemas.Ervin tidak langsung menjawab. Ia menoleh perlahan, menatap lekat manik mata Belviana. “Kalau kamu sendiri? Apa kamu yakin mau menikah denganku?” Ervin balik bertanya dengan nada dalam.“A... aku—” Belviana mendadak kelu, lidahnya mendadak kaku untuk menyusun kata.“Aku tidak butuh jawabanmu sekarang,” sela Ervin santai namun memancarkan aura percaya diri yang mutlak. “Karena meskipun kamu berniat meno
Di ruang makan kediaman utama Kalandra yang megah, Belviana, Ervin, Ratu, dan Kalandra baru saja menyelesaikan jam makan siang mereka yang hangat. Belviana sendiri masih merasa tidak percaya bahwa ia bisa merasa begitu nyaman dan lepas di tengah-tengah orang yang baru pertama kali ditemuinya hari ini.Sepanjang acara makan bersama, ia merasakan desiran kehangatan keluarga yang tulus—sesuatu yang sudah sangat lama absen dari hidupnya. Kelembutan dan perhatian tanpa jarak dari Ratu membuatnya merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita, sementara keceriaan Kalandra yang tak habis-habis sukses membuat suasana tegang di awal berubah menjadi jauh lebih hidup. Meskipun Kalandra adalah sosok taipan yang sangat disegani di kalangan pengusaha papan atas, pria paruh baya itu sedikit pun tidak menjaga imej atau memamerkan posisinya. Sebaliknya, sikap ayah Ervin ini sangat lucu, supel, dan apa adanya, membuat Belviana benar-benar merasa diterima dengan tangan terbuka.“Bagaimana, Sayang? Kamu s
Di kediaman keluarga Chandra, atmosfer ketenangan siang itu mendadak pecah oleh kepanikan yang luar biasa. Pihak keluarga besar Kalandra baru saja menghubungi Chandra secara langsung melalui panggilan telepon, menyatakan niat resmi mereka untuk datang melamar Belviana hari ini juga.Mendengar kabar mengejutkan tersebut, Chandra seketika dilanda ketegangan sekaligus gairah bisnis yang membuncah. Tanpa pikir panjang, ia langsung membatalkan semua jadwal rapat penting dengan para investornya. Bagi Chandra, berbesan dengan keluarga Kalandra adalah tiket emas, sebuah jalan pintas instan untuk membuat perusahaannya naik kelas ke jajaran elite. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana perusahaan-perusahaan raksasa nantinya akan mengantre dan berebut menjalin kerja sama dengannya, hanya karena status barunya sebagai besan dari keluarga paling berpengaruh di industri tersebut.“Kamu harus persiapkan semuanya dengan sempurna! Jangan ada cacat sedikit pun! Pesan makanan dari restoran bintang lima te
Semua mata seketika tertuju pada asal suara berwibawa yang memecah keheningan ruang tamu mewah tersebut. Dari arah pintu depan, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dan berwajah tampan berjalan masuk dengan langkah lebar. Gurat ketegasan di wajahnya luntur oleh binar penuh semangat yang memancar dari kedua matanya.Plak! Plak!“Wah!! Jadi ini anak menantu Papa, ya?!” tanya Kalandra dengan nada suara yang sangat antusias, sembari menepuk-nepuk pundak Ervin dengan cukup keras hingga menimbulkan suara hantaman yang kentara.“Aoww, Pa...” pekik Ervin tertahan. Ia meringis kaget karena mendapat tepukan tiba-tiba yang cukup bertenaga dari sang ayah. Belviana yang menyaksikan interaksi spontan tersebut seketika menjadi salah tingkah, namun di dalam hati ia merasa gemas melihat kedekatan ayah dan anak itu.“Astaga, Papa! Datang-datang main tepuk saja! Bukannya memberi salam atau say hello dulu yang benar? Mama saja dari tadi menahan diri agar tidak heboh!” celetuk Mama Ratu sembari melayang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.