MasukPada hari jenazahku dikremasi, Ara berdiri terpaku di samping Roni. Baru beberapa hari berlalu, namun wajah kecil yang dulu aku rawat hingga tampak merah muda dan berisi itu kini sudah tampak mengering dan pucat.Ara menatap batu nisanku, lalu bertanya dengan suara lirih, “Papa, apa setelah ini aku benar-benar tidak akan bisa melihat Mama lagi?”Roni hanya merespons dengan usapan di kepala Ara, ia tak tega mengatakan bahwa orang mati tak mungkin hidup kembali.Seolah sedang merajuk, Ara mengerucutkan bibirnya.“Kenapa dia tega meninggalkanku?”“Jelas-jelas dia kabur dengan orang lain. Bibi Farah bilang Mama tidak mencintaiku.”Suara Roni tercekat, air mata besar jatuh dari matanya. Ia berjongkok, meniru caraku dulu saat menenangkan Ara, lalu mencubit lembut pipinya.“Mama bukan tidak menginginkanmu.”“Dia pergi untuk meninggalkan jantungnya padamu.”“Dia kehilangan satu matanya agar Ayah masih bisa melihat dunia ini.”“Ara, Mama adalah orang yang paling mencintaimu di dunia ini.”Namun
“Ada retakan pada tulang kering.”“Di bagian belakang betis terdapat bekas sayatan sepatu es sepanjang 10 sentimeter, berbentuk melengkung, ini adalah luka yang disengaja oleh manusia.”“Di bawah tulang rusuk rongga dada terdapat titik-titik perdarahan, disebabkan oleh tekanan benda tajam.”“Jantung buatan berhenti berfungsi akibat terpapar suhu rendah dalam waktu lama.”Polisi mengangkat kepala, menatap Roni yang tampak linglung dengan sorot penuh simpati. “Istri Anda meninggal di Negara Es karena dibunuh.”Alis Roni langsung berkerut, dadanya naik turun dengan hebat seiring napasnya yang terasa berat.“Pasti dibunuh oleh pria selingkuhannya!”“Sudah ditemukan siapa orang terakhir yang bersamanya?!”Polisi menghela napas pelan. “Apa Anda punya bukti konkret tentang pria selingkuhan yang Anda maksud?”“Saat Nyonya Luna lari keluar dari vila sebelum meninggal, dia tidak membawa apa pun.”“Ketika Anda membereskan barang-barangnya, apa Anda tidak menyadari bahwa dia sama sekali tidak memb
Setelah menutup telepon, Rino tersenyum ke arah Farah yang wajahnya tampak agak pucat.“Sepertinya Luna ingin kembali. Dia sampai menyewa orang untuk mengujiku.”“Farah, jangan khawatir. Begitu dia pulang, aku akan langsung menceraikannya.”“Hanya membayangkan wajahnya saja sudah membuatku mual. Sudah buta sebelah, masih juga tak bisa menahan diri untuk berselingkuh. Perempuan murahan seperti dia memang seharusnya segera enyah!”Roni terus berbicara tentang aku, namun Farah tampak tidak sepenuhnya fokus dan hanya menanggapi dengan seadanya. Setelah itu, Ara berlari menghampiri Farah sambil memeluk buku dongeng, meminta Farah membacakan cerita sebelum tidur.Wajah Farah justru mengeras. Saat ceritanya sampai pada kisah "Putri Duyung Kecil", ia berkata dengan nada dingin dan kejam, “Putri duyung seharusnya membunuh sang putri. Lagi pula pangeran sama sekali tidak mencintainya.”“Hanya orang yang saling mencintai yang pantas bersama. Sang putri cuma menang karena latar belakang keluargany
Saat Roni kembali, ia mendapati pintu vila terbuka lebar. Aku yang seharusnya terbaring di tempat tidur karena patah tulang kaki, tidak bisa ditemukan di mana pun. Aku menghilang tanpa jejak.Entah mengapa, hati Roni mendadak diliputi rasa gelisah. Ia naik turun lantai beberapa kali, memanggil namaku, namun tak ada satu pun jawaban.Ara mengerucutkan bibir, seraya bicara, “Papa, telepon saja Mama… maksudku, telepon saja dia.”Mata bening Roni terlihat berkaca-kaca, ia tampak ketakutan oleh kepergianku yang tiba-tiba. Roni mencoba menghubungiku, namun ponselku telah membeku dan mati otomatis. Melihat Roni mengernyit sambil menurunkan ponselnya, Farah justru tersenyum tipis.“Kak Roni, Ara, jangan khawatir.”“Kemarin aku melihat Kak Luna akrab sekali dengan seorang instruktur ski. Sepertinya hari ini mereka sudah janjian pergi bermain.”Mendengar itu, urat di pelipis Roni seketika menegang. Roni pun marah dan membanting ponsel ke lantai.“Aku mengkhawatirkannya? Perempuan tak tahu malu i
Tulang jariku yang patah bahkan belum sempat pulih, aku sudah dipaksa Roni naik pesawat ke luar negeri menuju Negara Es hanya karena Farah ingin bermain ski.Dengan sikap pura-pura iba, Farah berkata lirih, “Jangan tinggalkan Kak Luna sendirian di rumah. Ajak dia ikut saja.”Roni seolah lupa bahwa aku pernah mengatakan kalau aku tidak boleh berolahraga. Saat aku menolak, ia malah mencibir.“Kamu bercanda, ya? Apa kamu mengira kamu itu boneka porselen?”“Farah mengajakmu itu karena dia menghormatimu. Jangan tidak tahu diri!”Aku diseret paksa ke arena ski, Farah hanya menatap bibirku yang pucat lalu tersenyum sinis. Ia kemudian menunjuk ke arah Roni yang sedang membantu Ara mengenakan perlengkapan pelindung.“Kudengar dulu justru Kak Roni yang mengajarimu bermain ski. Sekarang, sekedar menyentuh tanganmu saja dia sudah tak sudi.”Farah sengaja memperlambat laju dan meluncur sejajar denganku, lalu tongkat ski logamnya menghantam keras kakiku yang kanan, sambil berkata, “Coba tebak, kalau
Saat Roni memperhatikan perban yang melilit kakiku, sorot matanya sempat berkilat sejenak, seperti kilatan seseorang yang merasa kasihan, kemudian ia berkata, “Hari ini pembukaan pameran lukisan Farah. Dia terus menerus bilang ingin kamu ikut melihatnya. Ikutlah bersama kami.”Nada bicara Roni pun terdengar seperti belas kasihan dari seseorang dengan posisi yang tinggi. Sejak kapan keluar rumah bersama mereka pun menjadi semacam anugerah yang diberikan dengan kemurahan hati?Aku merasakan jantung buatan di dadaku berdetak dengan susah payah. Namun di saat yang sama, tiba-tiba aku teringat masa lalu, saat kami bertiga pergi ke taman hiburan. Ara tersenyum cerah sambil menyodorkan permen kapas ke bibirku. Sementara Roni mengipasi wajahku dengan kipas kecil untuk mengusir panas yang kurasakan.Kini, semua itu tinggal kenangan.Ara terdengar menggerutu kesal, “Papa, kenapa dia ikut ke pameran lukisan? Melihatnya saja sudah merusak suasana!”Roni mencubit pipi Ara sambil tersenyum, lalu men







