Short
Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian

Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian

By:  SoilCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
205views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Suamiku, Roni Jatmiko, yang menggunakan kornea mataku, memaksaku berlutut dan menirukan suara anjing. Putriku yang di dalam tubuhnya berdetak jantungku, dengan lantang berkata bahwa aku tidak pantas menjadi ibunya. Sebelum jantung buatan di tubuhku berhenti berdetak, aku menelepon suamiku. Namun dia justru membentak aku dengan dingin, “Luna, bisakah kamu berhenti buat keributan?! Kalau memang mau mati, pergi saja jauh-jauh! Aku tidak mau mengurus mayatmu!” Saat itu, di tengah hamparan salju, aku hanya bisa menutup satu-satunya mata kiriku yang tersisa. Kemudian, suami yang tak pernah mencintaiku itu menggali keluar bola matanya sendiri. Putri yang tak mau mengakui aku itu berkali-kali mencoba bunuh diri, hanya demi bisa menemuiku sekali saja. Namun aku ... sudah tak lagi menantikan cinta dari mereka.

View More

Chapter 1

Bab 1

Roni membanting ponsel itu dengan keras ke kepalaku.

“Luna, kamu gila ya? Sengaja menelepon saat aku sedang jadi model untuk Farah dan mengganggu kami!”

“Coba hitung sendiri sudah berapa kali kamu menelepon!”

Darah muncul dari pelipisku, terus mengalir sampai masuk ke mataku. Pandanganku buram, namun justru begitu jelas melihat bekas ciuman di kerah baju Roni. Itu warna merah muda pucat, warna kesukaan Farah.

Setelah jantung buatan di tubuhku membunyikan alarm untuk ketiga kalinya, dokter menyuruhku segera menghubungi keluarga agar bisa didampingi menjalani pemeriksaan mendalam. Namun setiap kali aku menelepon suamiku, panggilan itu selalu diputus.

Saat ia pulang larut malam dan baru saja melangkah masuk rumah, yang kudapatkan hanyalah hujan makian tanpa ampun. Seolah-olah aku melakukan dosa besar yang tak termaafkan karena telah mengganggu kebersamaan dia dengan Farah.

Aku menelan rasa pahit di tenggorokan, lalu menjelaskan dengan suara tertahan, “Akhir-akhir ini jantungku tidak nyaman, dokter bilang ....”

Belum sempat selesai, Roni sudah mengerutkan kening dan memotong penjelasanku dengan tidak sabar, “Sudahlah, jangan pura-pura. Kamu cuma ingin aku menemanimu, kan?”

“Kamu selalu pakai trik murahan seperti pura-pura sakit. Sayangnya, itu malah membuatku merasa muak!”

Aku menahan nyeri di pelipis, menatap punggung dingin Roni yang menjauh menaiki tangga.

Aku bahkan tak mampu lagi mengingat wajahnya dulu, ketika aku hampir meninggal karena pendarahan hebat setelah melahirkan, ia menangis sambil berkata akan melindungiku seumur hidup.

Saat alarm jantung buatan itu pertama kali berbunyi, aku dipaksa oleh Roni untuk mengantre membeli kue ulang tahun yang sedang populer demi Farah. Di bawah terik matahari yang menyengat, aku berdiri dua jam penuh, hingga alat pemantau jantung di pergelangan tanganku membunyikan alarm.

Dengan tubuh lemah, aku memintanya mengantarku ke rumah sakit. Namun Roni justru mencibir dingin. “Kamu sama sekali tidak punya penyakit jantung. Jangan berlebihan dan berpura-pura untuk mendapat belas kasihan.”

“Kamu sudah tahu hari ini ulang tahun Farah. Kalau tidak mau memberi ucapan selamat, ya sudah. Jangan datang dan membuat orang jijik, dasar bawa sial!”

Akhirnya, aku pingsan di pinggir jalan sampai ada seorang ibu petugas kebersihan yang membawaku ke rumah sakit.

Saat alarm jantung buatan itu berbunyi untuk kedua kalinya, Farah menuduhku telah mengotori lukisan potret yang ia buat dengan susah payah untuk Ara.

Sambil menunjuk noda minuman di tepi lukisan, ia menangis tersedu. “Roni, apa Kak Luna tidak suka aku dekat dengan Ara?”

“Setiap goresan di lukisan ini adalah jerih payahku. Dia boleh memukulku, memarahiku, tapi tidak boleh menghina lukisanku!”

Karena hal itu, Roni mengurung aku di gudang anggur yang dingin dan lembap, dia juga menyuruhku berlutut di atas es kering. Lututku membeku dan terluka, kulitnya membusuk hingga mengeluarkan nanah dan darah. Dengan tubuh gemetar, aku memohon agar dia mengampuni aku. Namun Roni hanya tersenyum dingin dan mengunci gudang itu rapat-rapat. Baru dua hari kemudian, saat kepala pelayan datang mengambil anggur, aku akhirnya dikeluarkan.

Setelah membersihkan luka di dahiku, aku mendorong pintu kamar putriku. Di tanganku, ada kue kecil yang kubeli khusus untuknya saat perjalanan pulang dari rumah sakit.

“Sayang, sedang menggambar ya? Mau mama temani?”

Ara menatapku dengan jijik sambil mengernyitkan hidungnya. “Menjauh dariku. Jangan mengotori gambar yang mau kuberikan ke Bibi Farah.”

Dengan wajah serius, ia terus mewarnai gambar di hadapannya, seolah-olah keberadaanku tak lebih dari noda yang harus disingkirkan.

Setelah menyumbangkan kornea mata kananku, komplikasi pascaoperasi membuat penglihatan mata kiriku pun jauh menurun. Melihatku menatap pola di gambar itu tanpa berkedip, Ara mengerucutkan bibir lalu mendorong tubuhku dengan kasar.

“Kamu kan orang buta, memangnya bisa mengerti aku menggambar apa?”

“Aku menggambar waktu Papa masak untuk aku dan Bibi Farah kemarin!”

“Papa juga sudah cerita, kamu itu penjiplak yang hina, bahkan mencuri lukisan Bibi Farah. Aku tidak mau kamu menemaniku!”

Seiring tatapan jijik putriku, aku perlahan menutup pintu kamar. Jantung buatan yang tadinya berdetak stabil, seolah dihantam keras, berdenyut nyeri hingga terasa seperti terpelintir.

Aku tahu mereka membenciku.

Rasa benci itu muncul karena saat operasi transplantasi jantung Ara dan kornea Roni, aku tidak muncul merawat mereka. Sebaliknya, juniorku, Farah, justru setia berada di sisi mereka, merawat dan menemani mereka. Padahal saat itu aku sedang masa pemulihan pascaoperasi. Namun mereka mengira aku bermain cinta dengan pria lain.

Ketika aku pulang ke rumah, dengan keadaan buta sebelah dan jantung buatan berdetak di dadaku, Roni justru memaki saat melihat memar akibat gangguan pembekuan darah di tubuhku.

“Perempuan murahan! Kamu tidak bisa hidup tanpa lelaki, ya?”

“Kamu kira aku kena gagal jantung, terus kamu kabur dengan pria lain. Sekarang sudah buta sebelah baru kembali mencariku.”

“Luna, aku ingin kamu menebus dosa dengan berada di sisiku seumur hidup!”

Saat itu aku tak mampu mengatakan bahwa akulah pendonornya. Karena aku tak ingin orang yang kucintai dan anakku menanggung rasa bersalah seumur hidup. Namun aku tak pernah menyangka bahwa pilihan untuk menyembunyikan kebenaran itu justru membuat mereka dikuasai kebencian dan mampu melukaiku tanpa sedikit pun rasa ragu.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Eka Wahyunie
Eka Wahyunie
kasian ara sih...... masih kecil belum ngerti apa2..mamanya berharap dia bahagia....
2026-01-08 12:54:25
0
0
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status