LOGINSuamiku, Roni Jatmiko, yang menggunakan kornea mataku, memaksaku berlutut dan menirukan suara anjing. Putriku yang di dalam tubuhnya berdetak jantungku, dengan lantang berkata bahwa aku tidak pantas menjadi ibunya. Sebelum jantung buatan di tubuhku berhenti berdetak, aku menelepon suamiku. Namun dia justru membentak aku dengan dingin, “Luna, bisakah kamu berhenti buat keributan?! Kalau memang mau mati, pergi saja jauh-jauh! Aku tidak mau mengurus mayatmu!” Saat itu, di tengah hamparan salju, aku hanya bisa menutup satu-satunya mata kiriku yang tersisa. Kemudian, suami yang tak pernah mencintaiku itu menggali keluar bola matanya sendiri. Putri yang tak mau mengakui aku itu berkali-kali mencoba bunuh diri, hanya demi bisa menemuiku sekali saja. Namun aku ... sudah tak lagi menantikan cinta dari mereka.
View MoreMorning light slowly entered through the window.
May opened her eyes and stared at the ceiling. She had been awake for several minutes, but she still did not want to get out of bed. Another day had begun. She looked at her phone. There were several messages, but none of them could answer the question that had been in her mind for months. **What do I really want to do with my life?** May had many dreams. Sometimes she wanted to study abroad. Sometimes she wanted to find a good job. Sometimes she imagined having her own business. But whenever she tried to choose one path, she became afraid that she would make the wrong decision. She sighed and sat up. “I need to decide soon.” Her phone suddenly vibrated. It was a message from Aung, a boy she had known for a long time. **Aung:** *Are you awake?* May smiled a little. **May:** *Yes. Why?* A few seconds later, another message appeared. **Aung:** *I want to see you today. There is something I need to tell you.* May looked at the screen. Her heart began to beat a little faster. **May:** *What is it?* There was no reply. “Why is he being so mysterious?” She put her phone down and got ready. When she stepped outside, the streets were already busy. People were walking quickly, cars were passing by, and shops were opening for the day. Everyone seemed to know where they were going. Everyone except her. May stopped for a moment and looked at the blue sky. She took a deep breath. “I don't know where my future will take me…” She smiled softly. “But one day, I will choose my own life.” She did not know it yet, but that morning was the beginning of everything. And before the day ended, her life would change forever. May arrived at the small cafe ten minutes earlier than usual. She chose a table near the window and ordered a cup of iced coffee. Her eyes kept moving toward the door. Aung still had not arrived. She checked her phone. **10:05 a.m.** “Why did he ask me to come here if he is going to be late?” Just as she put her phone down, the café door opened. Aung walked inside. He looked around and immediately noticed her. With a small smile, he walked toward the table. “Sorry. Did you wait long?” “Only ten minutes,” May replied. Aung laughed. “That's already long enough.” May smiled, but she noticed something strange about him. He looked nervous. “You said you had something to tell me. What is it?” Aung sat down. For a few seconds, he said nothing. Then he took a deep breath. “I got accepted.” May's eyes widened. “Accepted? Where?” “A university in another city.” She stared at him. “That’s great! Congratulations!” “Thank you.” But Aung did not look as happy as she expected. “When are you leaving?” May asked. “Next month.” The smile on May's face slowly disappeared. “Next month…” “Yes.” Neither of them spoke for a moment. Aung looked at her carefully. “May, I wanted to tell you before everyone else.” “Why me?” “Because you matter to me.” Her heart skipped. She looked away and pretended to be interested in her coffee. “You should be happy,” she said quietly. “It's a good opportunity.” “I know.” “Then what's wrong?” Aung smiled sadly. “I'm afraid.” “Afraid of what?” “Leaving everything I know behind.” May looked at him. For the first time, she realized that Aung was not as confident as he always seemed. “You're not the only one who is afraid,” she said. “What do you mean?” May looked out the window. “I don't know what I'm going to do with my future either.” Aung smiled. “Then maybe we are both at the beginning of something new.” May smiled back. Neither of them knew where their paths would lead. But that day, they made a promise. No matter where life took them, they would never stop chasing their dreams.Pada hari jenazahku dikremasi, Ara berdiri terpaku di samping Roni. Baru beberapa hari berlalu, namun wajah kecil yang dulu aku rawat hingga tampak merah muda dan berisi itu kini sudah tampak mengering dan pucat.Ara menatap batu nisanku, lalu bertanya dengan suara lirih, “Papa, apa setelah ini aku benar-benar tidak akan bisa melihat Mama lagi?”Roni hanya merespons dengan usapan di kepala Ara, ia tak tega mengatakan bahwa orang mati tak mungkin hidup kembali.Seolah sedang merajuk, Ara mengerucutkan bibirnya.“Kenapa dia tega meninggalkanku?”“Jelas-jelas dia kabur dengan orang lain. Bibi Farah bilang Mama tidak mencintaiku.”Suara Roni tercekat, air mata besar jatuh dari matanya. Ia berjongkok, meniru caraku dulu saat menenangkan Ara, lalu mencubit lembut pipinya.“Mama bukan tidak menginginkanmu.”“Dia pergi untuk meninggalkan jantungnya padamu.”“Dia kehilangan satu matanya agar Ayah masih bisa melihat dunia ini.”“Ara, Mama adalah orang yang paling mencintaimu di dunia ini.”Namun
“Ada retakan pada tulang kering.”“Di bagian belakang betis terdapat bekas sayatan sepatu es sepanjang 10 sentimeter, berbentuk melengkung, ini adalah luka yang disengaja oleh manusia.”“Di bawah tulang rusuk rongga dada terdapat titik-titik perdarahan, disebabkan oleh tekanan benda tajam.”“Jantung buatan berhenti berfungsi akibat terpapar suhu rendah dalam waktu lama.”Polisi mengangkat kepala, menatap Roni yang tampak linglung dengan sorot penuh simpati. “Istri Anda meninggal di Negara Es karena dibunuh.”Alis Roni langsung berkerut, dadanya naik turun dengan hebat seiring napasnya yang terasa berat.“Pasti dibunuh oleh pria selingkuhannya!”“Sudah ditemukan siapa orang terakhir yang bersamanya?!”Polisi menghela napas pelan. “Apa Anda punya bukti konkret tentang pria selingkuhan yang Anda maksud?”“Saat Nyonya Luna lari keluar dari vila sebelum meninggal, dia tidak membawa apa pun.”“Ketika Anda membereskan barang-barangnya, apa Anda tidak menyadari bahwa dia sama sekali tidak memb
Setelah menutup telepon, Rino tersenyum ke arah Farah yang wajahnya tampak agak pucat.“Sepertinya Luna ingin kembali. Dia sampai menyewa orang untuk mengujiku.”“Farah, jangan khawatir. Begitu dia pulang, aku akan langsung menceraikannya.”“Hanya membayangkan wajahnya saja sudah membuatku mual. Sudah buta sebelah, masih juga tak bisa menahan diri untuk berselingkuh. Perempuan murahan seperti dia memang seharusnya segera enyah!”Roni terus berbicara tentang aku, namun Farah tampak tidak sepenuhnya fokus dan hanya menanggapi dengan seadanya. Setelah itu, Ara berlari menghampiri Farah sambil memeluk buku dongeng, meminta Farah membacakan cerita sebelum tidur.Wajah Farah justru mengeras. Saat ceritanya sampai pada kisah "Putri Duyung Kecil", ia berkata dengan nada dingin dan kejam, “Putri duyung seharusnya membunuh sang putri. Lagi pula pangeran sama sekali tidak mencintainya.”“Hanya orang yang saling mencintai yang pantas bersama. Sang putri cuma menang karena latar belakang keluargany
Saat Roni kembali, ia mendapati pintu vila terbuka lebar. Aku yang seharusnya terbaring di tempat tidur karena patah tulang kaki, tidak bisa ditemukan di mana pun. Aku menghilang tanpa jejak.Entah mengapa, hati Roni mendadak diliputi rasa gelisah. Ia naik turun lantai beberapa kali, memanggil namaku, namun tak ada satu pun jawaban.Ara mengerucutkan bibir, seraya bicara, “Papa, telepon saja Mama… maksudku, telepon saja dia.”Mata bening Roni terlihat berkaca-kaca, ia tampak ketakutan oleh kepergianku yang tiba-tiba. Roni mencoba menghubungiku, namun ponselku telah membeku dan mati otomatis. Melihat Roni mengernyit sambil menurunkan ponselnya, Farah justru tersenyum tipis.“Kak Roni, Ara, jangan khawatir.”“Kemarin aku melihat Kak Luna akrab sekali dengan seorang instruktur ski. Sepertinya hari ini mereka sudah janjian pergi bermain.”Mendengar itu, urat di pelipis Roni seketika menegang. Roni pun marah dan membanting ponsel ke lantai.“Aku mengkhawatirkannya? Perempuan tak tahu malu i
Tulang jariku yang patah bahkan belum sempat pulih, aku sudah dipaksa Roni naik pesawat ke luar negeri menuju Negara Es hanya karena Farah ingin bermain ski.Dengan sikap pura-pura iba, Farah berkata lirih, “Jangan tinggalkan Kak Luna sendirian di rumah. Ajak dia ikut saja.”Roni seolah lupa bahwa a
Saat Roni memperhatikan perban yang melilit kakiku, sorot matanya sempat berkilat sejenak, seperti kilatan seseorang yang merasa kasihan, kemudian ia berkata, “Hari ini pembukaan pameran lukisan Farah. Dia terus menerus bilang ingin kamu ikut melihatnya. Ikutlah bersama kami.”Nada bicara Roni pun t
Menjelang tidur, aku mendengar Roni sedang membujuk Ara yang sedang merajuk.“Papa, aku tidak mau wanita itu ikut pergi bersama kita.”“Ara, cepat tidur. Bagaimanapun juga dia adalah mama kamu.”Putriku dengan kesal menepis tangan Roni dan menjawab, “Aku tidak suka dia! Dia itu perempuan jahat. Ibuk
Roni membanting ponsel itu dengan keras ke kepalaku.“Luna, kamu gila ya? Sengaja menelepon saat aku sedang jadi model untuk Farah dan mengganggu kami!”“Coba hitung sendiri sudah berapa kali kamu menelepon!”Darah muncul dari pelipisku, terus mengalir sampai masuk ke mataku. Pandanganku buram, namu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews