LOGINSuamiku, Roni Jatmiko, yang menggunakan kornea mataku, memaksaku berlutut dan menirukan suara anjing. Putriku yang di dalam tubuhnya berdetak jantungku, dengan lantang berkata bahwa aku tidak pantas menjadi ibunya. Sebelum jantung buatan di tubuhku berhenti berdetak, aku menelepon suamiku. Namun dia justru membentak aku dengan dingin, “Luna, bisakah kamu berhenti buat keributan?! Kalau memang mau mati, pergi saja jauh-jauh! Aku tidak mau mengurus mayatmu!” Saat itu, di tengah hamparan salju, aku hanya bisa menutup satu-satunya mata kiriku yang tersisa. Kemudian, suami yang tak pernah mencintaiku itu menggali keluar bola matanya sendiri. Putri yang tak mau mengakui aku itu berkali-kali mencoba bunuh diri, hanya demi bisa menemuiku sekali saja. Namun aku ... sudah tak lagi menantikan cinta dari mereka.
View MorePada hari jenazahku dikremasi, Ara berdiri terpaku di samping Roni. Baru beberapa hari berlalu, namun wajah kecil yang dulu aku rawat hingga tampak merah muda dan berisi itu kini sudah tampak mengering dan pucat.Ara menatap batu nisanku, lalu bertanya dengan suara lirih, “Papa, apa setelah ini aku benar-benar tidak akan bisa melihat Mama lagi?”Roni hanya merespons dengan usapan di kepala Ara, ia tak tega mengatakan bahwa orang mati tak mungkin hidup kembali.Seolah sedang merajuk, Ara mengerucutkan bibirnya.“Kenapa dia tega meninggalkanku?”“Jelas-jelas dia kabur dengan orang lain. Bibi Farah bilang Mama tidak mencintaiku.”Suara Roni tercekat, air mata besar jatuh dari matanya. Ia berjongkok, meniru caraku dulu saat menenangkan Ara, lalu mencubit lembut pipinya.“Mama bukan tidak menginginkanmu.”“Dia pergi untuk meninggalkan jantungnya padamu.”“Dia kehilangan satu matanya agar Ayah masih bisa melihat dunia ini.”“Ara, Mama adalah orang yang paling mencintaimu di dunia ini.”Namun
“Ada retakan pada tulang kering.”“Di bagian belakang betis terdapat bekas sayatan sepatu es sepanjang 10 sentimeter, berbentuk melengkung, ini adalah luka yang disengaja oleh manusia.”“Di bawah tulang rusuk rongga dada terdapat titik-titik perdarahan, disebabkan oleh tekanan benda tajam.”“Jantung buatan berhenti berfungsi akibat terpapar suhu rendah dalam waktu lama.”Polisi mengangkat kepala, menatap Roni yang tampak linglung dengan sorot penuh simpati. “Istri Anda meninggal di Negara Es karena dibunuh.”Alis Roni langsung berkerut, dadanya naik turun dengan hebat seiring napasnya yang terasa berat.“Pasti dibunuh oleh pria selingkuhannya!”“Sudah ditemukan siapa orang terakhir yang bersamanya?!”Polisi menghela napas pelan. “Apa Anda punya bukti konkret tentang pria selingkuhan yang Anda maksud?”“Saat Nyonya Luna lari keluar dari vila sebelum meninggal, dia tidak membawa apa pun.”“Ketika Anda membereskan barang-barangnya, apa Anda tidak menyadari bahwa dia sama sekali tidak memb
Setelah menutup telepon, Rino tersenyum ke arah Farah yang wajahnya tampak agak pucat.“Sepertinya Luna ingin kembali. Dia sampai menyewa orang untuk mengujiku.”“Farah, jangan khawatir. Begitu dia pulang, aku akan langsung menceraikannya.”“Hanya membayangkan wajahnya saja sudah membuatku mual. Sudah buta sebelah, masih juga tak bisa menahan diri untuk berselingkuh. Perempuan murahan seperti dia memang seharusnya segera enyah!”Roni terus berbicara tentang aku, namun Farah tampak tidak sepenuhnya fokus dan hanya menanggapi dengan seadanya. Setelah itu, Ara berlari menghampiri Farah sambil memeluk buku dongeng, meminta Farah membacakan cerita sebelum tidur.Wajah Farah justru mengeras. Saat ceritanya sampai pada kisah "Putri Duyung Kecil", ia berkata dengan nada dingin dan kejam, “Putri duyung seharusnya membunuh sang putri. Lagi pula pangeran sama sekali tidak mencintainya.”“Hanya orang yang saling mencintai yang pantas bersama. Sang putri cuma menang karena latar belakang keluargany
Saat Roni kembali, ia mendapati pintu vila terbuka lebar. Aku yang seharusnya terbaring di tempat tidur karena patah tulang kaki, tidak bisa ditemukan di mana pun. Aku menghilang tanpa jejak.Entah mengapa, hati Roni mendadak diliputi rasa gelisah. Ia naik turun lantai beberapa kali, memanggil namaku, namun tak ada satu pun jawaban.Ara mengerucutkan bibir, seraya bicara, “Papa, telepon saja Mama… maksudku, telepon saja dia.”Mata bening Roni terlihat berkaca-kaca, ia tampak ketakutan oleh kepergianku yang tiba-tiba. Roni mencoba menghubungiku, namun ponselku telah membeku dan mati otomatis. Melihat Roni mengernyit sambil menurunkan ponselnya, Farah justru tersenyum tipis.“Kak Roni, Ara, jangan khawatir.”“Kemarin aku melihat Kak Luna akrab sekali dengan seorang instruktur ski. Sepertinya hari ini mereka sudah janjian pergi bermain.”Mendengar itu, urat di pelipis Roni seketika menegang. Roni pun marah dan membanting ponsel ke lantai.“Aku mengkhawatirkannya? Perempuan tak tahu malu i






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews