Share

Bab 4

Penulis: Soil
Tulang jariku yang patah bahkan belum sempat pulih, aku sudah dipaksa Roni naik pesawat ke luar negeri menuju Negara Es hanya karena Farah ingin bermain ski.

Dengan sikap pura-pura iba, Farah berkata lirih, “Jangan tinggalkan Kak Luna sendirian di rumah. Ajak dia ikut saja.”

Roni seolah lupa bahwa aku pernah mengatakan kalau aku tidak boleh berolahraga. Saat aku menolak, ia malah mencibir.

“Kamu bercanda, ya? Apa kamu mengira kamu itu boneka porselen?”

“Farah mengajakmu itu karena dia menghormatimu. Jangan tidak tahu diri!”

Aku diseret paksa ke arena ski, Farah hanya menatap bibirku yang pucat lalu tersenyum sinis. Ia kemudian menunjuk ke arah Roni yang sedang membantu Ara mengenakan perlengkapan pelindung.

“Kudengar dulu justru Kak Roni yang mengajarimu bermain ski. Sekarang, sekedar menyentuh tanganmu saja dia sudah tak sudi.”

Farah sengaja memperlambat laju dan meluncur sejajar denganku, lalu tongkat ski logamnya menghantam keras kakiku yang kanan, sambil berkata, “Coba tebak, kalau Roni melihat kita berdua celaka, dia akan menyelamatkanmu lebih dulu, atau memelukku lebih dulu?”

Aku menatap ngeri saat tubuhku meluncur tak terkendali ke arah pohon pinus. Namun Roni justru berlari panik ke arah Farah yang terbenam di tumpukan salju. Dengan sigap, Roni langsung menggendong perempuan itu pergi tanpa menoleh sedikit pun ke arahku, padahal Farah sama sekali tidak terluka.

Setelah beberapa waktu, petugas penyelamat datang dan mengangkat tubuhku ke atas tandu. Saat itu aku menyadari, kaki kananku tertekuk pada sudut yang ganjil, jelas kakiku sudah patah.

Malam itu, setelah kembali ke vila, Roni terlihat sedang mengeringkan rambut Farah. Ara bahkan memeras jus jeruk dengan tangannya sendiri dan menyuapkannya ke mulut Farah.

“Bibi Farah, hari ini pasti kamu ketakutan.”

“Semua gara-gara Luna, perempuan jahat itu, tidak melindungimu dengan baik!”

Farah yang berpura-pura lemah, bersandar manja ke pelukan Roni, kemudian berkata, “Kalian juga jangan menyalahkannya. Aku tahu Kak Luna memang tidak menyukaiku.”

“Nanti setelah kita pulang, lebih baik kita tidak saling menghubungi lagi. Aku tidak ingin kalian bertengkar karena aku. Lagipula, kalianlah keluarga yang sebenarnya.”

Farah selalu pandai berpura-pura mundur untuk menyerang. Dan entah kenapa, ayah dan anak itu selalu termakan cara seperti ini. Di hati mereka berdua, barangkali aku sudah menjadi penjahat yang pantas mati.

Benar saja, saat melihatku, Roni sama sekali mengabaikan gips di kakiku. Dengan suara dingin ia membentak, “Jatuhnya Farah hari ini pasti ada hubungannya denganmu!”

“Kamu sengaja berpura-pura kakimu patah hanya supaya bisa lolos dari hukuman, kan? Apa kamu tahu, Farah bahkan ketakutan sampai tidak berani memejamkan mata!”

“Cepat berlutut dan minta maaf!”

Farah menatapku sambil mengangkat alis tipis, seolah sedang mengumumkan kemenangannya. Aku memejamkan mata sejenak, menelan amarah dan kepahitan di dada.

“Maaf, ini salahku,” ucapku pasrah.

Jantung buatan di dadaku berdetak kaku dan berat, aku sudah tak punya tenaga lagi untuk membantah mereka. Namun Roni justru terkejut melihat kepatuhanku.

Roni menatap wajahku yang pucat pasi, sempat ragu, tapi kemudian dia bertanya, “Kakimu benar-benar terluka? Perlu tidak aku membawamu pulang untuk diperiksa?”

Aku menunduk dan menggeleng pelan, tak menyadari kilat dingin yang menyala di mata Farah.

Keesokan harinya, Farah mengusulkan untuk pergi melihat aurora. Namun belum lama mereka pergi, Farah tiba-tiba berlari kembali dengan wajah panik.

“Kak Luna, Ara sudah kembali belum?”

“Aku tadi sedang memotret, begitu menoleh, dia sudah menghilang!”

Suara cemas milik Farah berdengung di telingaku. Aku tak sempat bertanya lebih jauh,

aku langsung berlari ke arah yang ia tunjuk. Kaki kananku yang patah terseret miring di belakang, namun aku tetap berusaha untuk kuat. Aku menggertakkan gigi, melangkah di tengah rasa sakit saat tulang menembus kulit dan daging.

Salju turun semakin deras. Aku hanya bisa memanggil nama Ara dengan putus asa. Detik berikutnya, aku merasa seseorang memukulku dengan keras hingga terhempas ke tanah. Itu Farah, dia mengangkat kakinya yang mengenakan sepatu seluncur es, lalu menginjak tubuhku dengan brutal.

“Perempuan hina! Masih ingin membuat Kak Roni peduli padamu, ya? Mati saja kamu!”

Sepatu seluncur es yang berkilau dingin itu menusuk keras ke dadaku. Saat ditarik keluar, darah merah pekat memercik ke udara. Aku memuntahkan seteguk darah berbusa sambil menatap Farah. Dia pun tersenyum dingin lalu berbalik pergi.

Alat pemantau di pergelangan tanganku memperingatkan bahwa detak jantungku hampir berhenti. Dengan sisa tenaga, aku mengeluarkan ponsel dan menghubungi Roni.

“Apa Ara ... sudah ketemu?”

Roni terdiam sejenak, lalu menjawab bingung, “Kamu bicara melantur, ya? Ara dari tadi bersamaku di mobil karavan.”

Baru saat itu aku menghela napas lega, lalu berkata pelan, “Jantungku sangat sakit. Bisakah kamu datang mencariku ....”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Roni sudah membentak dengan tidak sabaran, “Luna, pura-pura sakit ini sudah kamu pakai berkali-kali! Ganti cara lain!”

“Aku kenal kamu sejak SMA. Kapan kamu punya riwayat penyakit jantung?”

“Kamu cuma tidak mau kami menemani Farah melihat aurora, kan? Pikiranmu gelap sekali sampai begitu menjijikkan seperti ini!”

Setelah marah seperti itu, Roni langsung menutup telepon dengan dingin, lalu memblokir nomorku. Roni seolah takut aku mengganggu kemesraan mereka bertiga.

Dalam suhu minus tiga puluh derajat, jantung buatan itu perlahan detaknya mulai melemah karena kedinginan. Tiba-tiba ponselku berdering lagi. Dengan susah payah aku menggeser layar. Yang muncul justru foto kiriman Farah.

Foto itu menunjukkan, mereka sedang dalam mobil karavan yang hangat. Roni menatap Farah dan Ara dengan penuh kasih. Dan di depan mereka, terhidang hotpot yang masih mengepul panas.

Aku tersenyum pahit, membiarkan tubuhku perlahan tertimbun salju. Sambil menghitung beberapa detak terakhir sebelum jantung benar-benar berhenti, aku menutup satu-satunya mata kiriku yang tersisa.

Roni, Ara, dalam hidup ini, aku tak bisa lagi menemani kalian berjalan sampai akhir ....
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 8

    Pada hari jenazahku dikremasi, Ara berdiri terpaku di samping Roni. Baru beberapa hari berlalu, namun wajah kecil yang dulu aku rawat hingga tampak merah muda dan berisi itu kini sudah tampak mengering dan pucat.Ara menatap batu nisanku, lalu bertanya dengan suara lirih, “Papa, apa setelah ini aku benar-benar tidak akan bisa melihat Mama lagi?”Roni hanya merespons dengan usapan di kepala Ara, ia tak tega mengatakan bahwa orang mati tak mungkin hidup kembali.Seolah sedang merajuk, Ara mengerucutkan bibirnya.“Kenapa dia tega meninggalkanku?”“Jelas-jelas dia kabur dengan orang lain. Bibi Farah bilang Mama tidak mencintaiku.”Suara Roni tercekat, air mata besar jatuh dari matanya. Ia berjongkok, meniru caraku dulu saat menenangkan Ara, lalu mencubit lembut pipinya.“Mama bukan tidak menginginkanmu.”“Dia pergi untuk meninggalkan jantungnya padamu.”“Dia kehilangan satu matanya agar Ayah masih bisa melihat dunia ini.”“Ara, Mama adalah orang yang paling mencintaimu di dunia ini.”Namun

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 7

    “Ada retakan pada tulang kering.”“Di bagian belakang betis terdapat bekas sayatan sepatu es sepanjang 10 sentimeter, berbentuk melengkung, ini adalah luka yang disengaja oleh manusia.”“Di bawah tulang rusuk rongga dada terdapat titik-titik perdarahan, disebabkan oleh tekanan benda tajam.”“Jantung buatan berhenti berfungsi akibat terpapar suhu rendah dalam waktu lama.”Polisi mengangkat kepala, menatap Roni yang tampak linglung dengan sorot penuh simpati. “Istri Anda meninggal di Negara Es karena dibunuh.”Alis Roni langsung berkerut, dadanya naik turun dengan hebat seiring napasnya yang terasa berat.“Pasti dibunuh oleh pria selingkuhannya!”“Sudah ditemukan siapa orang terakhir yang bersamanya?!”Polisi menghela napas pelan. “Apa Anda punya bukti konkret tentang pria selingkuhan yang Anda maksud?”“Saat Nyonya Luna lari keluar dari vila sebelum meninggal, dia tidak membawa apa pun.”“Ketika Anda membereskan barang-barangnya, apa Anda tidak menyadari bahwa dia sama sekali tidak memb

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 6

    Setelah menutup telepon, Rino tersenyum ke arah Farah yang wajahnya tampak agak pucat.“Sepertinya Luna ingin kembali. Dia sampai menyewa orang untuk mengujiku.”“Farah, jangan khawatir. Begitu dia pulang, aku akan langsung menceraikannya.”“Hanya membayangkan wajahnya saja sudah membuatku mual. Sudah buta sebelah, masih juga tak bisa menahan diri untuk berselingkuh. Perempuan murahan seperti dia memang seharusnya segera enyah!”Roni terus berbicara tentang aku, namun Farah tampak tidak sepenuhnya fokus dan hanya menanggapi dengan seadanya. Setelah itu, Ara berlari menghampiri Farah sambil memeluk buku dongeng, meminta Farah membacakan cerita sebelum tidur.Wajah Farah justru mengeras. Saat ceritanya sampai pada kisah "Putri Duyung Kecil", ia berkata dengan nada dingin dan kejam, “Putri duyung seharusnya membunuh sang putri. Lagi pula pangeran sama sekali tidak mencintainya.”“Hanya orang yang saling mencintai yang pantas bersama. Sang putri cuma menang karena latar belakang keluargany

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 5

    Saat Roni kembali, ia mendapati pintu vila terbuka lebar. Aku yang seharusnya terbaring di tempat tidur karena patah tulang kaki, tidak bisa ditemukan di mana pun. Aku menghilang tanpa jejak.Entah mengapa, hati Roni mendadak diliputi rasa gelisah. Ia naik turun lantai beberapa kali, memanggil namaku, namun tak ada satu pun jawaban.Ara mengerucutkan bibir, seraya bicara, “Papa, telepon saja Mama… maksudku, telepon saja dia.”Mata bening Roni terlihat berkaca-kaca, ia tampak ketakutan oleh kepergianku yang tiba-tiba. Roni mencoba menghubungiku, namun ponselku telah membeku dan mati otomatis. Melihat Roni mengernyit sambil menurunkan ponselnya, Farah justru tersenyum tipis.“Kak Roni, Ara, jangan khawatir.”“Kemarin aku melihat Kak Luna akrab sekali dengan seorang instruktur ski. Sepertinya hari ini mereka sudah janjian pergi bermain.”Mendengar itu, urat di pelipis Roni seketika menegang. Roni pun marah dan membanting ponsel ke lantai.“Aku mengkhawatirkannya? Perempuan tak tahu malu i

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 4

    Tulang jariku yang patah bahkan belum sempat pulih, aku sudah dipaksa Roni naik pesawat ke luar negeri menuju Negara Es hanya karena Farah ingin bermain ski.Dengan sikap pura-pura iba, Farah berkata lirih, “Jangan tinggalkan Kak Luna sendirian di rumah. Ajak dia ikut saja.”Roni seolah lupa bahwa aku pernah mengatakan kalau aku tidak boleh berolahraga. Saat aku menolak, ia malah mencibir.“Kamu bercanda, ya? Apa kamu mengira kamu itu boneka porselen?”“Farah mengajakmu itu karena dia menghormatimu. Jangan tidak tahu diri!”Aku diseret paksa ke arena ski, Farah hanya menatap bibirku yang pucat lalu tersenyum sinis. Ia kemudian menunjuk ke arah Roni yang sedang membantu Ara mengenakan perlengkapan pelindung.“Kudengar dulu justru Kak Roni yang mengajarimu bermain ski. Sekarang, sekedar menyentuh tanganmu saja dia sudah tak sudi.”Farah sengaja memperlambat laju dan meluncur sejajar denganku, lalu tongkat ski logamnya menghantam keras kakiku yang kanan, sambil berkata, “Coba tebak, kalau

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 3

    Saat Roni memperhatikan perban yang melilit kakiku, sorot matanya sempat berkilat sejenak, seperti kilatan seseorang yang merasa kasihan, kemudian ia berkata, “Hari ini pembukaan pameran lukisan Farah. Dia terus menerus bilang ingin kamu ikut melihatnya. Ikutlah bersama kami.”Nada bicara Roni pun terdengar seperti belas kasihan dari seseorang dengan posisi yang tinggi. Sejak kapan keluar rumah bersama mereka pun menjadi semacam anugerah yang diberikan dengan kemurahan hati?Aku merasakan jantung buatan di dadaku berdetak dengan susah payah. Namun di saat yang sama, tiba-tiba aku teringat masa lalu, saat kami bertiga pergi ke taman hiburan. Ara tersenyum cerah sambil menyodorkan permen kapas ke bibirku. Sementara Roni mengipasi wajahku dengan kipas kecil untuk mengusir panas yang kurasakan.Kini, semua itu tinggal kenangan.Ara terdengar menggerutu kesal, “Papa, kenapa dia ikut ke pameran lukisan? Melihatnya saja sudah merusak suasana!”Roni mencubit pipi Ara sambil tersenyum, lalu men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status