Share

Reuni

Author: Icha Mawik
last update publish date: 2021-05-26 15:29:06

"Apa? Dia asisten pribadi kamu?" pekik Victoria.

"Yah! Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Allaric.

"Tidak ada!" sela Oscar.

Victoria menatap Kirana dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan tidak suka dan menyepelekan. Kirana menunduk tidak nyaman dengan tatapan dari Victoria.

"Ada apa, Tante? Apa kalian saling mengenal?" tanya Allaric sembari menyindir Davindra.

"Tidak! Hanya saja, aku jadi teringat dengan seorang gadis yang pernah bermimpi untuk menjadi bagian dari keluargaku," sindir Victoria.

Kirana semakin menundukkan kepalanya 

"Sudahlah, Ma!" ucap Davindra yang akhirnya angkat bicara. Ia merasa kasihan melihat Kirana, gadis yang ia cintai menjadi bulan-bulan orang tuanya.

"Lalu, apa yabg terjadi pada gadis itu?" pancing Allaric.

"Tentu saja kami melarang Davi untuk melanjutkan hubungannya dan kami juga sudah menyiapkan calon yang cocok untuk jadi menantu kami." Victoria menunjuk ke arah gadis yang sejak tadi berdiri di samping Davindra.

"Namanya, Laura. Putri tunggal salah satu rekan bisnis kami," lanjut Victoria.

"Hallo!" Laura mengulurkan tangan ke arah Allaric dan tersenyum.

"Hai!" Allaric menyambut uluran tangan Laura dan mengecupnya.

Laura tersenyum senang, ia menatap Allaric dengan penuh makna. Sebaliknya, Allaric bisa mengetahui jika Laura sedari tadi memperhatikannya.

"Senang bertemu dengan anda," ucap Laura.

"Aku juga," sahut Allaric singkat.

"Baiklah! Sayang, aku akan menyapa para tamu. Kamu mau kan menungguku di sini?" pinta Allaric.

Kirana sempat terdiam dan menatapa Allaric dalam. Allaric menyebut Kirana dengan kata Sayang, membuat Kirana terperangah. Davindra sendiri mengepal tangannya menahan kesal.

Allaric pun meninggalkan Kirana diantara keluarga Davindra.

"Aku akan mencari udara segar!" seru Victoria menyindir Kirana.

"Tiba-tiba saja udara di sini terasa sesak. Victoria mengajak serta Oscar dan meninggalkan Kirana, Davindra dan Laura.

"Honey, aku akan ke toilet sebentar." Laura memberika dompetnya pada Davindra.

Laura melangkah menjauh dan meninggalkan Davi dan Kirana. Selepas kepergian Laura, Davi dan Kirana hanya saling diam. Hingga akhirnya, Davi memulainya.

"Apa kabarmu?" tanya Davi.

"Seperti yang kau lihat, aku masih baik-baik saja," sahut Kirana dengan nada terdengar kesal.

"Bagaimana keadaan mama?" lanjut Davi.

"Baik, bahkan semakin membaik setelah opersi," jawab Kirana.

"Operasi? Mama sudah operasi? Kapan?" ucap Davi terkejut.

"Beberapa minggu yang lalu," jawab Kirana.

"Tapi, bagaimana kau bisa mendapatkan biaya operasinya?" Davi menatap ke arah Kirana.

"Aku bekerja, tentu saja aku membayarnya dengan uang ku sendiri," seru Kirana.

"Aku tidak percaya! Aku yakin, kau pasti meminta bantuan Allaric kan?" cecar Davi.

"Apa maksudmu? Kau menuduhku menyerahkan diri padanya?" tuding Kirana.

"Mungkin saja kan? Apalagi, dia sudah memanggilmu dengan sebutan Sayang," sahut Davi.

"Apa urusanmu? Jikalau pun, aku menyerahkan diriku padanya. Itu urusanku, apa pedulimu? Urus saja urusanmu." Kirana menlangkah meninggalkan Davindra yang geram menahan kesalnya.

"Aku tidak akan membiarkan kau menjadi miliknya," batin Davindra.

****

Di sebuah ruangan, sepasang anak manusia yang terlihat baru saja selesai melakukan kegiatan bercinta. Keduanya sibuk mengenakan pakaian mereka kembali.

"Apa kau senang?" tanya Allaric.

"Tentu saja," jawab Laura.

Sebenarnya, Allaric dan Laura telah lama saling mengenal. Keduanya adalah partner sex. Laura yang tidak bisa mendapatkan kepuasan dari Davi, disebabkan karena Davindra tidak pernah mau menyentuhnya. 

Davindra selalu mengatakan, jika ia tidak mau menyentuhnya hingga tiba masanya. Sedangkan Allaric muncul di saat yang tepat. Allaric, laki-laki yang selalu berburu kepuasan, tanpa sengaja bertemu Laura yang sedang mabuk dan fruztasi. Keduanya pun berkenalan dan berakhir di ranjang. Hingga sampai saat ini, keduanya masih saling bertemu untuk sekedar melepas nafsu mereka.

"Apa gadis itu korbanmu yang selanjutnya?" tanya Laura.

"Entahlah!" sahut Allaric cuek.

"Aku tidak mau kalau sampai dia menggantikan posisiku," kecam Laura.

Allaric berdiri dan tersenyum sinis pada Laura.

"Siapa kau? Apa hakmu mengaturku?" tanya Allaric.

"Aku ...." Laura tidak bisa menjawab.

"Kita hanya partner sex, tidak lebih. Jangan melampui batasanmu, kita tidak saling terikat. Kau punya kehidupanmu sendiri dan aku memiliki kehidupan sendiri," cecar Allaric.

Laura terdiam, ia menyadari kesalahamnya. Ia tidak mau sampai Allaric marah dan meninggalkannya. Tidak ada yang bisa menggantikan Allaric dalam hal apapun termasuk dalam hal urusan ranjang. Hanya Allaric yang bisa mmemuaskan Laura. 

"Maafkan aku,"

Cup...

Laura mengecup leher Allaric. Laki-laki itu segera menghindar, ia tidak mau Laura sampai meninggalkan jejak di lehernya.

"Kenapa? Apa kau marah padaku?" tanya Laura.

"Aku tidak mau, kau meninggalkan bekas ciumanmu di bagian tubuhku!" seru Allaric kesal.

"Mengapa? Apa kau takut ketahuan oleh gadis itu?" seru Laura.

"Itu urusanku!" jawab Allaric ketus.

Laura terdiam kesal, ia mengepalkan tangannya. Ia merasa kelak, Kirana lah yang akan menjadi wanita pilihan Allaric. Laura tidak mau itu sampai terjadi. Meskipun saat ini, ia telah bertunangan dengan Davindra. Namun, sejujurnya ia lebih memilih menghabiskan waktu bersama Allari ketimbang Davindra yang menurutnya kaku dan tidak pandai bersikap.

*****

"Malam ini, kita akan menghadiri undangan peresmian hotel salah satu sahabatku," ucap Allaric di sela sarapannya.

       Kirana hanya mengangguk dan melanjutkan suapan terakhirnya. Kirana meletakkan perlengkapan makannya dan beranjak dari duduknya.

       "Kita ada meeting siang ini," imbuh Kirana.

"Aku tau! Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?" tanya Allaric.

"Sudah!" seru Kirana tersenyum.

"Baiklah, pagi ini jadwalku kosong kan?" tanya Allaric.

"Yah!" sahut Kirana cepat.

"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Allaric.

"Kemana?" tanya Kirana.

"Kamu akan tau saat tiba di sana nanti," sahut Allaric sembari mengedipkan matanya. Kirana tersenyum masam melihat ulah Allaric.

Setelah selesai sarapan, keduanya pun memutuskan untuk meninggalkan hotel. Allaric membawa Kirana ke sebuah perkebunan anggur milik keluarganya. Kirana takjub melihat hamparan pohon anggur yang akan dipanen dan siap diproses.

"Ini semuanya milikmu?" Kirana tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia begitu kagum melihat oemandangan di depan matanya.

"Ini semua milik keluargaku. Tapi, telah dikelolah oleh salah satu orang kepercayaan keluargaku," tutur Allaric.

Kirana tidak memperdulikan penjelasan dari Allaric. Pria itu hanya tersenyum, dalam benaknya ia berpikir. Baru kali ini, ia bicara tapi tidak didengarkan oleh lawan bicaranya. Apa lagi lawan bicaranya itu seorang wanita.

Setelah puas berkeliling dan Kirana juga telah mencicipi berbagai rasa anggur buatan pabrik milik Allaric. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke hotel dan bersiap untuk menghadiri meeting siang ini.

Malam harinya, Kirana telah berdandan dan siap untuk menemani Allaric untuk memenuhi undangan.

"Kamu sudah siap?" tanya Allaric, yang sempat tertegun dan memuji kecantikan Kirana.

"Aku tidak ikut, ya!" seru Kirana.

"Tidak! Kamu harus ikut," sahut Allaric.

"Tapi, aku tidak biasa menghadiri acara seperti ini," rengek Kirana. 

Allaric kembali tertegun dengan rengekkan manja dari Kirana. Ada apa ini? Apa ini tandanya, Kirana telah nyaman bersamanya? Pertanyaan itu mulai muncul di kepala Allaric. Jika, benar itu semua. Maka, peluang Allaric untuk memenangkan hati Kirana semakin terlihat jelas. Allaric berharap ini semua benar adanya.

"Kamu harus ikut!" tegas Allaric.

Kirana menarik nafas panjang dan mengembuskannya.

"Baiklah," keluh Kirana.

Allaric tersenyum senang. Keduanya pun meninggalkan hotel dan menuju ke tempat acara.

Allaric bertambah yakin, jika saat ini Kirana sudah mulai membuka diri untuknya. Hanya tinggal mencari waktu yang tepat, untuk memulai semuanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab. Keputusan Terbesar Kirana

    Keheningan merayap perlahan mengisi sudut ruang tamu sederhana berukuran empat kali empat meter tersebut. Kirana memalingkan wajahnya dari Allaric yang kini terpejam lemas di atas sofa kain, dengan desis halus tabung oksigen yang setia menemaninya. Setiap hembusan napas pria itu terdengar begitu berat, seolah dada ringkihnya terus dipaksa bekerja menembus batas kemampuan fisik yang kian mengikis."Alan," panggil Kirana dengan suara sangat pelan, hampir menyerupai bisikan agar tidak mengusik Allaric yang tampak begitu kelelahan. "Bisa kita bicara sebentar di teras luar?"Alan mengangguk cepat. Ia membetulkan posisi selimut tipis yang menutupi bagian pinggang Allaric, memastikan bosnya berada dalam posisi aman, sebelum melangkah mengekor di belakang Kirana menuju teras rumah.Udara malam yang merayap dingin langsung menyapa kulit, saat Kirana menyandarkan punggungnya pada tiang teras rumah. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengan bersedakap, berusaha meredam gejolak emosi dan ra

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab. Pertahanan Yang Mulai Goyah

    Pertahanan Kirana yang mulai goyah, karena mendengar cerita sekaligus melihat kondisi Allaric. Ia kini semakin berada di ujung tanduk, ketika bunyi decitan pintu kamar anak-anak mendadak terdengar menyibak ketegangan. Keheningan yang tegang di teras rumah, pecah seketika saat dua pasang langkah kaki kecil berlarian mendekat ke arah pintu depan."Ibu, ada siapa?" celetuk Carmen seraya mengintip dari balik pinggang Kirana.Kirana tersentak panik, berniat menyuruh kedua anak kembarnya kembali masuk ke kamar. Namun, sebelum sepatah kata pun lolos dari bibirnya, mata bulat Carmen menangkap sosok pria yang duduk di atas kursi roda. Seulas senyum lebar mendadak terbit di wajah mungil gadis kecil itu, meruntuhkan raut curiga yang biasanya selalu ia tunjukkan pada orang baru. Carmen, yang selama ini dikenal sangat dingin dan penuh jarak jika berhadapan dengan orang asing, justru melangkah maju tanpa ragu sedikit pun."Paman tampan yang di taman!" seru Carmen girang, menunjuk ke arah Allaric de

  • Cinta Di Ujung Senja   Tamu di Pagi Hari

    Layar ponsel di atas meja rias kembali berpendar terang, memotong keheningan malam yang menyelimuti kamar Kirana. Getar halus perangkat kecil itu, seolah membawa gelombang kegelisahan baru. Kirana melangkah perlahan dari samping ranjang tingkat tempat Carlo dan Carmen tertidur pulas. Dengan jemari agak gemetar, perempuan itu meraih ponselnya lalu membuka pesan susulan yang dikirimkan oleh Alan.Isi pesan tersebut begitu lugas, meminta kepastian waktu agar Alan bisa menjemputnya besok pagi demi mempertemukannya dengan Allaric. Nama itu, sebuah nama yang sekian lama ia coba tenggelamkan di dasar ingatan paling dalam, kini kembali menyembur ke permukaan bagai belati yang siap menggores luka lama. Allaric Wiguna, pria arogan yang dulu memberikan pengalaman paling pahit dalam hidupnya, sekaligus sosok yang tanpa disadari telah memberinya dua malaikat kecil yang kini menjadi pusat semesta bagi Kirana.Kirana menarik napas panjang, meresapi rasa sesak yang mendadak menjejali dadanya. Ia mema

  • Cinta Di Ujung Senja   Penyesalan Seorang Ayah

    Satu jam setelah keputusan impulsif Allaric di ruang tengah, deru mesin mobil mewah yang berhenti kasar di halaman depan mansion Wiguna, langsung memecah ketenangan malam. Satpam penjaga gerbang utama bahkan tidak sempat menanyakan maksud kedatangan, ketika sosok pria paruh baya bertubuh tegap melangkah keluar dari kursi belakang. Alvaro Wiguna, sang taipan bisnis yang disegani di seantero negeri, berjalan melintasi koridor utama dengan langkah-langkah lebar yang sarat akan dominasi.Alan yang baru saja hendak melangkah keluar menuju lantai bawah, langsung menghentikan geraknya tepat di depan pintu ruang tengah. Matanya membelalak tak percaya mendapati kehadiran sosok yang paling dihindari oleh penghuni mansion ini selama bertahun-tahun."Tuan Alvaro?" celetuk Alan dengan nada suara yang tertahan di tenggorokan.Alvaro tidak menghentikan langkahnya sedikit pun. Pandangannya yang tajam terkunci pada pintu kayu jati yang masih terbuka separuh. "Singkirkan tanganmu dari pusingan gagang p

  • Cinta Di Ujung Senja   Bayangan Masa Lalu

    Suara detak jarum jam dinding berdentang lambat di ruang tengah mansion keluarga Wiguna. Bertha merapikan lipatan jas dokternya, menatap Allaric dengan raut wajah penuh keseriusan yang jarang ia perlihatkan. Alan berdiri tegap di sisi sofa, menyimak percakapan yang mendadak berubah menjadi sangat tegang."All, ada satu hal lagi yang sebenarnya harus aku katakan sejak dulu," buka Bertha. Pandangannya tidak lepas dari raut wajah pria di kursi roda itu. "Soal riwayat hasil pemeriksaan Kirana, sebelum dia menghilang."Allaric mengalihkan pandangannya dari jendela. "Soal apa lagi? Bukankah sudah kukatakan, kalau masa lalu itu tidak perlu diungkit?""Ini bukan sekadar masa lalu," potong Bertha tegas. "Hari, saat kau memintaku memeriksa Kirana karena dia sering mengeluh mual dan pusing. Aku melakukan tes darah lengkap. Hasilnya keluarbsehari, setelah Kirana dikabarkan menghilang."Ruangan itu seketika hening. Alan menahan napasnya, merasakan ada sinyal penting yang akan mengubah segalanya."

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab 69. Ketegasan Kirana

    Dr. Bertha menghentikan usapan pada cangkir teh hangat di pangkuannya. Tatapannya tertahan pada susunan foto dalam bingkai kayu, di atas meja tamu rumah Allaric. Matanya membulat sempurna, memancarkan keterkejutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan setelah mendengar penuturan jujur dari Alan."Maksudmu, Nyonya Wiguna pergi begitu saja, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun?" tanya Bertha. Suaranya terdengar tertahan, seolah mencoba mencerna setiap kalimat yang baru saja keluar dari mulut asisten pribadi di hadapannya.Alan mengangguk perlahan. "Benar Dokter. Tidak ada seorang pun yang tahu alasan pasti, kenapa Nyonya Wiguna memilih kabur saat itu. Malam setelah kejadian itu, Tuan Allaric seperti kehilangan akal sehatnya.""Dia memobilisasi seluruh jaringannya, mengerahkan puluhan anak buah hanya untuk menyisir setiap sudut kota, hingga area perbatasan," lanjut Alan sembari melirik Allaric yang sejak tadi memilih menatap kosong ke arah jendela kaca besar. "Tapi, Kirana seperti hilang dit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status