Share

Mabuk

Author: Icha Mawik
last update publish date: 2021-05-27 16:49:59

"Tuan Alan!" seru Kirana menghampiri pria yang dikenalnya.

"Kirana, kamu disini?" sahut Alan tersenyum.

"Dia datang bersamaku," sela Allaric.

"Tuan." Alan mengulurkam tangannya.

"Selamat untuk semuanya," ucap Allaric.

"Terima kasih," sahut Alan.

Kirana memandang dengan tatapan aneh pada dua pria di hadapannya. Alan dan Allaric tertawa melihat wajah bingung Kirana.

"Ini adalah pesta peresmian pembukaan hotel milik Alan dan saudaranya, Sammy," ucap Allaric.

Kirana masih mendengarkan penjelasan Allaric hingga selesai. Ia pun kini tahu, mengapa Alan meminta, untuk menggantikannya dalam waktu yang lama. Setelah selesai menjelaskan pada Kirana, Allaric dan Alan pun membawa Kirana untuk berkeliling dan menyapa para kolega mereka.

Alan juga memperkenalkan Kirana pada Sammy. Di luar dugaan, ternyata Sammy dan Alan memiliki wajah yang sangat mirip.

"Apa kalian kembar?" tanya Kirana.

"Tidak!" jawab Alan dan Sammy bersamaan.

"Apa wajah kami mirip?" goda Sammy.

Kirana hanya mengangguk mengiyakan.

"Sammy adalah Kakakku," ucap Alan.

"Allaric adalah saudara tertua kami," sambung Alan.

Kirana mengangkat kedua alisnya bingung.

"Aku akan menceritakannya padamu, nanti." sambung Allaric mengedipkan matanya pada Kirana.

"Ayo kita nikmati pestanya!" ajak Sammy.

Mereka pun melanjutkan menyapa para tamu. Hingga akhirnya, Allaric meminta Kirana untuk menemaninya berdansa.

"Jangan, Tuan. Saya tidak pandai berdansa!" tolak Kirana.

"Aku akan mengajarimu," ucap Allaric.

"Tapi," 

Kirana tidak bisa melanjutkan kata-katanya, saat Allaric menarik Kirana ke tengah dan merangkul pinggangnya. Seketika mata mereka beradu pandang. Kirana menatap dalam ke arah manik hitam yang tajam milik Allaric. Bau harum maskulin menyeruak ke dalam hidung.

"Ikuti langkahku," bisiknya. Allaric mulai melangkah dan diikuti Kirana mengikuti irama yang di mainkan. Dalam waktu singkat, Kiran telah bisa menangkap dengan cepat gerakam Allaric. Keduanya larut dalam irama. Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata menatap tidak suka ke arah mereka terutama Kirana.

Mereka adalah Davindra dan keluarganya yang turut hadir dalam acara malam ini. Di samping Davindra berdiri gadis cantik yang sejak tadi mengepal tangannya, menahan kesal saat melihat Allaric menari bersama wanita lain. Ingin rasanya, Laura menghampiri Kirana dan menyeretnya menjauh dari pria itu.

Tidak hanya Laura, terlihat ada satu wanita yang menatap penuh kebencian pada Kirana. Dia adalah Clara, pengagum cinta Allaric. Wanita yang telah lama menjadi partner sex sama seperti Laura dan wanita lainnya. Namun, Clara menyalah artikan setiap perlakuan Allaric dengan menyimpan persaaan untuknya. Clara sangat mencintai dan tergila-gila pada Allaric.

Entah sudah berapa banyak wanita yang ia singkirkan. Hanya untuk tetap bertahan menjadi satu-satunya di sisi pria kaya itu. Clara juga bersitegang dengan Laura. Kedua-duanya sama-sama mengejar cinta sang pria tampan. 

"Siapa wanita itu, aku harus segera menyingkirkannya," batin Clara. 

Clara menghampiri Allaric dan Kirana yang duduk untuk menikmati jamuan.

"Selamat malam," sapa Clara.

Kirana terkejut melihat kedatangan Clara. Ia merasa tidak mengenal sosok Clara. Namun, setelah ia melihat Clara berbicara pada Allaric dengan akrabnya. Kirana tahu, kalau Clara adalah salah satu pengagum Boss nya.

Keduanya terlihat larut dalam obrolan yang tidak di pahami oleh Kirana dan Kirana pun tidak mah ambil pusing. Ia tetap melanjutkan makannya, sembari menikmati lagu yang di mainkan.

"Siapa yang datang bersamamu kali ini?" tanya Clara.

"Dia Kirana, sekretaris pribadi dan asisten pribadiku," jawab Allaric.

Mendengar namanya disebut, Kirana menoleh dan memandang ke arah dua orang yang sedang membicarakannya.

"Oh, hanya seorang sekretaris?" ejek Clara.

"Kenapa? Apa yang salah dengan pekerjaanku?" tanya Kirana.

"Tidak ada!" jawab Clara.

Bisa Allaric rasakan hawa permusuhan diantara Clara dan Kirana. Allaric tahu bagaimana sikap Clara. Namun, Allaric tidak pernah mengira jika Kirana berani menantangnya. Kirana menatap tajam ke arah Clara. Tidak ada sedikitpun rasa takut dalam dirinya.

"Aku mau ke toilet," cetus Kirana.

"Baiklah," sahut Allaric.

Kirana meninggalkan Allaric dan Clara.

"Kau yakin, dia hanya sekretaris pribadi?" tanya Clara.

"Tentu saja," jawab Allaric.

"Tapi, aku merasa kau menyukainya!" tuding Clara.

"Itu masalahku, tidak ada urusannya denganmu," sahut Allaric tegas.

"Tapi, kau tau kan? Kita ini...." Clara tidak melanjutkan ucapannya saat mendapat tatapan tajam dari Allaric.

"Aku masih ada urusan." Allaric beranjak meninggalkan Clara dengan kesal.

"Aku akan membuatmu membayar ini semua. Dasar perempuan tidak tau diri," gumam Clara, saat nelihat Allaric merangkul pinggang Kirana dan tersenyum mesra pada gadis itu. Clara pun meminta seorang pelayan memberikan minuman untuk Allaric.

Ia ingin menghabiskan malam ini dengan laki-laki yang telah lama membuatnya tergila-gila.

"Kau harus jadi milikku, setidaknya malam ini," desis Clara.

****

Masih di suasana pesta, Davindra dan Laura terlihat bertengkar hebat. Bagaimana tidak, Davindra mendapati Laura mengirim pesan Allaric di belakangnya.

"Sudah aku katakan, Davi. Aku menghubunginya, hanya untuk urusan bisnis," seru Laura.

"Aku tidak percaya! Aku tau bagaimana sikapnya terhadap wanita," sahut Davindra tidak kalah lantang.

"Aku bukan tipe wanita yang mudah luluh dengan rayuan seorang Allaric. Aku tau bagaimana dia," ucap Laura meyakinkan Davindra.

"Aku masih tidak yakin dengan semua penjelasan dan alasanmu," sungut Davindra.

"Aku hanya mencintaimu, Davi. Hanya kau, pria satu-satunya di hatiku." Laura mendekat dan berusaha untuk merayu Davindra. Dengan inisiatif sendiri, Laura mengecup bibir Davindra dan melumatnya. Davindra membalas lumatan Laura dan memasukkan lidahnya kedalam mulut Laura.

Laura semakin terbawa suasana, perlahan Laura melepas jas dan dasi Davindra. Tangan Laura pun tidak tinggal diam, ia menggerayangi seluruh tubuh Davindra. Hingga akhirnya, Davindra menjauh dari Laura dan menghentikan semua kegiatan mereka. 

"Ada apa?" tanya Kaura heran.

"Maaf, aku tidak bisa melanjutkannya," jawab Davindra mengelus kepala Clara.

Laura hanya tertawa hambar. Davindra yang selalu menolaknya jika, Laura memintanya untuk melakukan itu. Davindra selalu berkata ia tidak akan menyentuh Laura sampai keduanya menjadi suami istri. Berbeda dengan Laura, yang selalu mengingin itu semua dan menjadikannya prioritas utama dalam sebuah hubungan.

Davindra segera meninggalkan Laura di kamar hotelnya dan kembali menikmati pesta. Bukan hanya ingin menikmati pesta, tapi Davindra ingin melihat wajah Kirana. Walau saat ini, ia merasa hatinya sakit saat melihat Kirana bersama Allaric. Namun, dengan melihat senyumnya. Itu sudah cukup bagi Davindra.

Laura yang kesal, segera menelpon kenalannya, untuk datang menemuinya di kamarnya yang lain. Laura sengaja menyewa dua kamar berbeda untuknya dan Allaric. Di karenakan Allaric, tidak bisa di hubungi. Laura pun menghubungi rekannya yang lain.

****

Kembali ke suasana pesta, Allaric dan Kirana masih asyik bercengkrama dengan beberapa rekan bisnis Allaric.

"Aku haus, kamu mau sesuatu?" bisik Allaric.

Kirana mengaguk. Allaric tersenyum dan meminta Kirana menunggunya.Tidak lama kemudian, Allaric kembali dengan membawa dua gelas minuman di tangannya. Allaric memberikan satu untuk Kirana dan satu untuknya.

Minuman yang telah di persiapkan untuknya, oleh Clara. Clara telah mencampur minuman Allaric dengan obat. Namun, sayangnya minuman itu tertukar saat Kirana lebih tertarik minuman milik Allaric dan pemuda itu pun dengan suka rela memberikannya.

Lima belas menit kemudian, Kirana sudah merasakan reaksi obat dalam minumannya.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Allaric mendekatinya.

"Entahlah! Kepalaku tiba-tiba pusing dan rasanya tidak nyaman," jawab Kirana.

"Kamu aku mengantarmu pulang?" tawar Allaric.

Kirana mengangguk pelan. Allaric memapah dan menuntun langkah Kirana. Allaric menghubungi Alan, untuk menyiapkan kamar untuk Kirana. Allaric curiga jika seseorang telah mencampur minuman untuknya dan diminum oleh Kirana.

Allaric membaringkan Kirana di ranjang, saat ia telah tiba di kamar. Kirana yang telah mabuk dan dalam pengaruh obat semakin liar. Allaric berusaha untuk menahan dirinya dan pergi meninggalkan Kirana.

Namun, tiba-tiba saja Kirana menahan Allaric dan menariknya. Tanpa diminta, Kirana mencium bibir Allaric.

"Cukup! Jangan pancing aku," cetus Allaric kesal dengan sikap agresif Kirana.

Tapi, Kirana tidak mengindahkan peringatan Allaric. Ia semakin menggila dengan penolakan Allaric.

"Aku tau, kau dalam pengaruh sesuatu. Tapi, jangan pernah memancing kesabaranku," peringatan kedua dari Allaric masih tidak di hiraukan oleh Kirana.

Hingga akhirnya, Allaric membalas ciuman Kirana dengan panasnya. Allaric mencumbu setiap inci tubuh Kirana. Gadis itu hanya mengerang, menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Allaric.

Kirana perlahan melepas kemeja dan dasi milik Allaric. Mata Allaric menatap dalam ke arah Kirana yang telah diselimuti oleh kabut gairah. Kirana kembali melabuhkan kecupan panas di leher Allaric. Pria itu memejamkan matanya, berusaha untuk mengendalikan perasaannya. Hingga akhirnya, benteng pertahan Allaric jebol juga.

"Kau yang memintanya, Sayang," ucap Allaric, yang kemudian menyerang Kirana.

Puncaknya, Allaric terkejut saat mendapat tahu kalau Kirana masih perawan. Rasa bangga dalam dirinya muncul seketika. Ia pun berpikir, apa yang Davindra dan Kirana lakukan selama mereka bersama? Apa mereka belum pernah melakukannya sekalipun? 

Allaric membuang semua pertanyaan itu. Yang penting baginya saat ini, ia telah menjadi yang pertama untuk Kirana. ia telah mendapatkan apa yang dia inginkan dari gadis itu. 

Kirana terlelap di samping Allaric dengan tubuh polosnya. Wajah cantiknya semakin terlihat saat ia tertidur. Kulit putih bersihnya, kini dipenuhi dengan tanda merah dari Allaric.

"Kau akan terkejut saat mendapati dirimu, tidur di sampingku dengan keadaan seperti ini. Aku akan lihat, apa reaksimu saat mengetahui ini semua." Allaric menyeringai.

Allaric pun berbaring di samping Kirana dan mengecup kening gadis itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab. Keputusan Terbesar Kirana

    Keheningan merayap perlahan mengisi sudut ruang tamu sederhana berukuran empat kali empat meter tersebut. Kirana memalingkan wajahnya dari Allaric yang kini terpejam lemas di atas sofa kain, dengan desis halus tabung oksigen yang setia menemaninya. Setiap hembusan napas pria itu terdengar begitu berat, seolah dada ringkihnya terus dipaksa bekerja menembus batas kemampuan fisik yang kian mengikis."Alan," panggil Kirana dengan suara sangat pelan, hampir menyerupai bisikan agar tidak mengusik Allaric yang tampak begitu kelelahan. "Bisa kita bicara sebentar di teras luar?"Alan mengangguk cepat. Ia membetulkan posisi selimut tipis yang menutupi bagian pinggang Allaric, memastikan bosnya berada dalam posisi aman, sebelum melangkah mengekor di belakang Kirana menuju teras rumah.Udara malam yang merayap dingin langsung menyapa kulit, saat Kirana menyandarkan punggungnya pada tiang teras rumah. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengan bersedakap, berusaha meredam gejolak emosi dan ra

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab. Pertahanan Yang Mulai Goyah

    Pertahanan Kirana yang mulai goyah, karena mendengar cerita sekaligus melihat kondisi Allaric. Ia kini semakin berada di ujung tanduk, ketika bunyi decitan pintu kamar anak-anak mendadak terdengar menyibak ketegangan. Keheningan yang tegang di teras rumah, pecah seketika saat dua pasang langkah kaki kecil berlarian mendekat ke arah pintu depan."Ibu, ada siapa?" celetuk Carmen seraya mengintip dari balik pinggang Kirana.Kirana tersentak panik, berniat menyuruh kedua anak kembarnya kembali masuk ke kamar. Namun, sebelum sepatah kata pun lolos dari bibirnya, mata bulat Carmen menangkap sosok pria yang duduk di atas kursi roda. Seulas senyum lebar mendadak terbit di wajah mungil gadis kecil itu, meruntuhkan raut curiga yang biasanya selalu ia tunjukkan pada orang baru. Carmen, yang selama ini dikenal sangat dingin dan penuh jarak jika berhadapan dengan orang asing, justru melangkah maju tanpa ragu sedikit pun."Paman tampan yang di taman!" seru Carmen girang, menunjuk ke arah Allaric de

  • Cinta Di Ujung Senja   Tamu di Pagi Hari

    Layar ponsel di atas meja rias kembali berpendar terang, memotong keheningan malam yang menyelimuti kamar Kirana. Getar halus perangkat kecil itu, seolah membawa gelombang kegelisahan baru. Kirana melangkah perlahan dari samping ranjang tingkat tempat Carlo dan Carmen tertidur pulas. Dengan jemari agak gemetar, perempuan itu meraih ponselnya lalu membuka pesan susulan yang dikirimkan oleh Alan.Isi pesan tersebut begitu lugas, meminta kepastian waktu agar Alan bisa menjemputnya besok pagi demi mempertemukannya dengan Allaric. Nama itu, sebuah nama yang sekian lama ia coba tenggelamkan di dasar ingatan paling dalam, kini kembali menyembur ke permukaan bagai belati yang siap menggores luka lama. Allaric Wiguna, pria arogan yang dulu memberikan pengalaman paling pahit dalam hidupnya, sekaligus sosok yang tanpa disadari telah memberinya dua malaikat kecil yang kini menjadi pusat semesta bagi Kirana.Kirana menarik napas panjang, meresapi rasa sesak yang mendadak menjejali dadanya. Ia mema

  • Cinta Di Ujung Senja   Penyesalan Seorang Ayah

    Satu jam setelah keputusan impulsif Allaric di ruang tengah, deru mesin mobil mewah yang berhenti kasar di halaman depan mansion Wiguna, langsung memecah ketenangan malam. Satpam penjaga gerbang utama bahkan tidak sempat menanyakan maksud kedatangan, ketika sosok pria paruh baya bertubuh tegap melangkah keluar dari kursi belakang. Alvaro Wiguna, sang taipan bisnis yang disegani di seantero negeri, berjalan melintasi koridor utama dengan langkah-langkah lebar yang sarat akan dominasi.Alan yang baru saja hendak melangkah keluar menuju lantai bawah, langsung menghentikan geraknya tepat di depan pintu ruang tengah. Matanya membelalak tak percaya mendapati kehadiran sosok yang paling dihindari oleh penghuni mansion ini selama bertahun-tahun."Tuan Alvaro?" celetuk Alan dengan nada suara yang tertahan di tenggorokan.Alvaro tidak menghentikan langkahnya sedikit pun. Pandangannya yang tajam terkunci pada pintu kayu jati yang masih terbuka separuh. "Singkirkan tanganmu dari pusingan gagang p

  • Cinta Di Ujung Senja   Bayangan Masa Lalu

    Suara detak jarum jam dinding berdentang lambat di ruang tengah mansion keluarga Wiguna. Bertha merapikan lipatan jas dokternya, menatap Allaric dengan raut wajah penuh keseriusan yang jarang ia perlihatkan. Alan berdiri tegap di sisi sofa, menyimak percakapan yang mendadak berubah menjadi sangat tegang."All, ada satu hal lagi yang sebenarnya harus aku katakan sejak dulu," buka Bertha. Pandangannya tidak lepas dari raut wajah pria di kursi roda itu. "Soal riwayat hasil pemeriksaan Kirana, sebelum dia menghilang."Allaric mengalihkan pandangannya dari jendela. "Soal apa lagi? Bukankah sudah kukatakan, kalau masa lalu itu tidak perlu diungkit?""Ini bukan sekadar masa lalu," potong Bertha tegas. "Hari, saat kau memintaku memeriksa Kirana karena dia sering mengeluh mual dan pusing. Aku melakukan tes darah lengkap. Hasilnya keluarbsehari, setelah Kirana dikabarkan menghilang."Ruangan itu seketika hening. Alan menahan napasnya, merasakan ada sinyal penting yang akan mengubah segalanya."

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab 69. Ketegasan Kirana

    Dr. Bertha menghentikan usapan pada cangkir teh hangat di pangkuannya. Tatapannya tertahan pada susunan foto dalam bingkai kayu, di atas meja tamu rumah Allaric. Matanya membulat sempurna, memancarkan keterkejutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan setelah mendengar penuturan jujur dari Alan."Maksudmu, Nyonya Wiguna pergi begitu saja, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun?" tanya Bertha. Suaranya terdengar tertahan, seolah mencoba mencerna setiap kalimat yang baru saja keluar dari mulut asisten pribadi di hadapannya.Alan mengangguk perlahan. "Benar Dokter. Tidak ada seorang pun yang tahu alasan pasti, kenapa Nyonya Wiguna memilih kabur saat itu. Malam setelah kejadian itu, Tuan Allaric seperti kehilangan akal sehatnya.""Dia memobilisasi seluruh jaringannya, mengerahkan puluhan anak buah hanya untuk menyisir setiap sudut kota, hingga area perbatasan," lanjut Alan sembari melirik Allaric yang sejak tadi memilih menatap kosong ke arah jendela kaca besar. "Tapi, Kirana seperti hilang dit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status