Home / Urban / Cinta Di Ujung Senja / Tantangan Dari Davi

Share

Tantangan Dari Davi

Author: Icha Mawik
last update publish date: 2021-05-09 21:29:00

Kirana terkejut saat ia di angkat menjadi sekretaris pribadi Allaric. Ia pun segera menghampiri Alan untuk bertanya.

"Tuan, Saya ingin bertanya. Mengapa nama Saya...?"

"Diangkat menjadi sekretaris pribadi tuan Allaric," sahut Alan.

Kirana mengangguk cepat.

"Karena Aku dan Tuan melihat, hanya Kau yang patut mengisi tempat itu," ujar Alan.

"Tapi, Saya tidak menginginkan posisi itu," protes Kirana.

"Bukan Kamu yang memutuskan. Tapi, tuan Allaric lah yang memilih," timpal Alan.

"Mengapa tidak meminta persetujuan dari Saya?" tanya Kirana dengan kesal.

"Dengar Kirana, seharusnya Kamu senang dipilih oleh tuan sendiri. Di luar sana ratusan bahkan ribuan yang menginginkan posisi itu," ucap Alan.

"Tapi, Saya tidak menginginkannya," sela Kirana ketus.

"Sudahlah, Saya tidak mau berdebat sama Kamu. Kalau Kamu merasa keberatan. Kamu bisa menemui tuan dan mengatakan ketidak sediaan Kamu untuk jadi sekretaris pribadinya." tutup Alan yang kemudian meninggalkan Kirana sendiri.

Kirana kesal sendiri. Dengan perasaan campur aduk. Ia pun kembali ke ruangannya. Baru saja Ia ingin menjejakkan bokongnya di kursi. Sebuah pesan masuk yang membuatnya tidak jadi duduk. Ia pun berlari menemui rekannya dan setelahnya Ia pun meninggalkan kantor.

****

Siang harinya. Saat akan makan siang, Allaric keluar dari ruangannya di susul Alan yang berjalan di belakangnya. Langkah Allaric terhenti sesaat melihat meja Kirana yang kosong. Ia pun segera melirik ke arah Alan. Laki-laki itu tahu apa yang di maksud Tuannya.

Alan pun berjalan menghampiri meja Kirana.

"Di mana Kirana?" tanya Alan.

"Maaf Tuan, tadi dia izin untuk ke rumah sakit," jawab rekan kerjanya.

"Kirana sakit?" tanya Alan.

"Bukan, Tuan. Tapi, mamanya," jawabnya lagi.

Alan pun teringat akan pertemuan yang tidak di sengaja dengan Kirana kemarin malam. Ia memang mengatakan jika, mamanya sedang sakit. Alan pun mundur dan menghampiri Bos nya.

"Ada apa?" tanya Allaric.

"Kirana sedang di rumah sakit," sahut Alan.

"Dia sakit? Ayo kita ke sana!" seru Allaric.

"Tenang, Tuan. Kirana baik-baik saja," ujar Alan.

"Lantas, apa maksud ucapanmu kalau Kirana di rumah sakit?" tanya Allaric kesal.

"Mamanya Kirana masuk rumah sakit," jawab Alan.

"Benarkah? Ayo kita ke sana." Allaric melangkah lebih cepat dan meninggalkan Alan di belakangnya.

****

Di rumah sakit. Kirana duduk di bangsal dekat mamanya yang masih belum sadarkan diri. Dengan berbagai alat terpasang di tubuhnya sebagai bantuan untuknya bertahan. Kirana beranjak dan berjalan keluar.

Saat di luar Ia mendapati, Davi telah berdiri menunggunya.

"Gimana keadaan, mama?" tanya Davi. Kirana menatap Davi dengan sendu. Davi yang tahu kesedihan kekasihnya pun menariknya kedalam pelukannya.

"Tenanglah, mama tidak akan apa-apa," hibur Davi. Davi terus menghibur Kirana dan memberika support untuknya. Tanpa mereka sadari, Allaric memperhatikan keduanya dengan menahan amarahnya.

"Ayo Kita hampiri mereka," ajak Allaric.

"Anda yakin, Tuan?" tanya Alan.

"Kau meragukanku?" tanya Allaric.

"Tidak!" jawab Alan cepat.

Keduanya pun melangkah mendekati Kirana dan Davi. Kirana terkejut melihat kedatangan Bos nya.

"Tuan," seru Kirana.

Davi melepas pelukannya dan terkejut melihat kedatangan Allaric dan asistennya.

"Mau apa Kau kemari?" tanya Davi ketus.

"Kalian saling kenal?" tanya Kirana heran.

"Kirana, Kamu bisa antarkan Saya melihat mama Kamu," pinta Alan.

Kirana mengangguk. Alan pun mengikuti langkah Kirana masuk ke ruang perawatan mamanya. Selepas kepergian Kirana. Allaric pun langsung berubah menjadi sosok yang sebenarnya.

"Katakan padaku. Apa yang Kau inginkan?" hardik Davi.

"Kirana!" sahut Allaric.

"Apa?"

"Aku menginginkan Kirana," sahut lanjut Allaric.

"Maksudmu?" tanya Davi heran.

"Aku tau, Kau dan Kirana memiliki hubungan dan Aku juga tau kalau keluargamu sangat menentang hubungan kalian. Bahkan, mereka telah menyiapkan gadis untuk menjadi pendampingmu," papar Allaric.

Davindra terdiam. Memang, apa yang dikatakan Allaric semuanya benar? Kedua orang tuanya memang tidak pernah merestui hubungannya bersama Kirana. Mereka juga berniat menjodohkan Davi dengan salah satu putri rekan bisnis mereka.

Davi terus berusaha menolak perjodohan itu dan mencoba membujuk kedua orang tuanya untuk menerima Kirana. Tapi, kedua orang tua Davi sosok yang keras. Mereka tetap akan memaksakan kehendak mereka dengan atau tanpa persetujuan dari Davi.

"Apa yang Kau inginkan?" tanya Davi buka suara.

"Sudah aku katakan! Aku hanya menginginkan Kirana," sahut Allaric.

"Mengapa Kau menginginkannya? Apa Kau akan memperlakukannya seperti wanita yang berada di sekelilingmu?" tanya Davi dengan nada ketus.

"Ayolah! Kau selalu berpikiran jahat padaku," ujar Allaric.

"Aku tau bagaimana sepak terjangmu di luar sana," timpal Davi kesal.

"Aku memang brengsek. Tapi, untuk sosok Kirana. Aku akan merubah semuanya." kekeh Allaric.

"Aku tidak percaya padamu," tuding Davi.

"Terserah padamu. Yang jelas, Aku menginginkannya dan Kau harus memberikannya," ucap Allaric memaksa.

"Meskipun Aku melepasnya. Dia tidak akan pernah bisa Kau miliki," cetus Davi.

"Benarkah? Kau tau aku kan? Apa yang tidak bisa Aku miliki di dunia ini?" tanya Allaric bangga pada dirinya.

"Aku tau, Kau bisa memiliki apapun yang Kau inginkan. Tapi, tidak Kirana." jawab Davi menggelengkan kepalanya.

"Aku yakin, Aku bisa memilikinya hanya dengan menjentikkan jariku." Allaric memetikkan jarinya ke udara.

Davi tersenyum mengejek. "Baiklah, Aku menantangmu. Jika, Kau bisa memiliki Kirana dengan cara yang biasa Kau lakukan pada wanita di sekelilingmu. Aku akan mundur. Tapi, jika Kau tidak bisa. Aku meminta padamu. Jauhi dia." Davi menatap ke arah Allaric tajam.

"Baiklah, Aku setuju," sahut Allaric tersenyum yakin.

Kirana dan Alan pun kembali dan menghampiri mereka.

"Bagaimana keadaan mamamu?" tanya Allaric.

"Masih belum sadar, Tuan," jawab Kirana.

Allaric hanya menganggukkan kepalanya.

"Kita pulang sekarang, Tuan?" tanya Alan.

"Kau sudah makan siang?" tanya Allaric.

"Ah...." jawab Kirana terbengong. Ia tidak menyangka jika Bos-nya hari ini banyak bicara.

"Dia sudah makan bersamaku tadi," sahut Davi.

Allaric tampak geram. Namun, Dia berusaha untuk menahannya. Ia tidak mau, citranya yang selalu baik dan lembut. Harus hancur di depan Kirana.

"Baiklah," putus Allaric beranjak.

"Terima kasih, Tuan. Atas kujungannya," ucap Kirana tersenyum.

"Tidak masalah, ini hanya salah satu tanggung jawabku sebagai atasanmu," sahut Allaric membalas senyum Kirana.

Allaric terus saja memperhatikan Kirana lekat. Hingga suara Alan memecah lamunannya.

"Kita pulang sekarang, Tuan?" tanya Alan.

"Ayo!" sahut Allaric.

Keduanya pun meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kantornya. Setelah kepergian Allaric. Davi yang sudah tidak sabar ingin bertanya pada Kirana tentang Kiran, pekerjaannya dan Allaric.

"Aku ingin bertanya satu hal padamu," ucap Davi.

"Apa?" tanya Kirana.

"Apa hubunganmu dengan orang-orang tadi? Mengapa mereka bisa ada di sini?" tanya Davi.

"Oh itu. Mereka adalah atasanku," jawab Kirana.

"Apa?" 

"Ya, tuan Allaric adalah Bos di perusahaan tempatku bekerja," sahut Kirana heran saat melihat Davi begitu panik.

"Jadi, Kau bekerja di perusahaannya?" tanya Davi tidak percaya.

"Yah! Ada apa? Mengapa Kau terlihat panik?" ujar Kirana.

"Kau tau, dia adalah sepupuku yang sering aku ceritakan padamu," sahut Davi.

"Apa?" 

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab. Keputusan Terbesar Kirana

    Keheningan merayap perlahan mengisi sudut ruang tamu sederhana berukuran empat kali empat meter tersebut. Kirana memalingkan wajahnya dari Allaric yang kini terpejam lemas di atas sofa kain, dengan desis halus tabung oksigen yang setia menemaninya. Setiap hembusan napas pria itu terdengar begitu berat, seolah dada ringkihnya terus dipaksa bekerja menembus batas kemampuan fisik yang kian mengikis."Alan," panggil Kirana dengan suara sangat pelan, hampir menyerupai bisikan agar tidak mengusik Allaric yang tampak begitu kelelahan. "Bisa kita bicara sebentar di teras luar?"Alan mengangguk cepat. Ia membetulkan posisi selimut tipis yang menutupi bagian pinggang Allaric, memastikan bosnya berada dalam posisi aman, sebelum melangkah mengekor di belakang Kirana menuju teras rumah.Udara malam yang merayap dingin langsung menyapa kulit, saat Kirana menyandarkan punggungnya pada tiang teras rumah. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengan bersedakap, berusaha meredam gejolak emosi dan ra

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab. Pertahanan Yang Mulai Goyah

    Pertahanan Kirana yang mulai goyah, karena mendengar cerita sekaligus melihat kondisi Allaric. Ia kini semakin berada di ujung tanduk, ketika bunyi decitan pintu kamar anak-anak mendadak terdengar menyibak ketegangan. Keheningan yang tegang di teras rumah, pecah seketika saat dua pasang langkah kaki kecil berlarian mendekat ke arah pintu depan."Ibu, ada siapa?" celetuk Carmen seraya mengintip dari balik pinggang Kirana.Kirana tersentak panik, berniat menyuruh kedua anak kembarnya kembali masuk ke kamar. Namun, sebelum sepatah kata pun lolos dari bibirnya, mata bulat Carmen menangkap sosok pria yang duduk di atas kursi roda. Seulas senyum lebar mendadak terbit di wajah mungil gadis kecil itu, meruntuhkan raut curiga yang biasanya selalu ia tunjukkan pada orang baru. Carmen, yang selama ini dikenal sangat dingin dan penuh jarak jika berhadapan dengan orang asing, justru melangkah maju tanpa ragu sedikit pun."Paman tampan yang di taman!" seru Carmen girang, menunjuk ke arah Allaric de

  • Cinta Di Ujung Senja   Tamu di Pagi Hari

    Layar ponsel di atas meja rias kembali berpendar terang, memotong keheningan malam yang menyelimuti kamar Kirana. Getar halus perangkat kecil itu, seolah membawa gelombang kegelisahan baru. Kirana melangkah perlahan dari samping ranjang tingkat tempat Carlo dan Carmen tertidur pulas. Dengan jemari agak gemetar, perempuan itu meraih ponselnya lalu membuka pesan susulan yang dikirimkan oleh Alan.Isi pesan tersebut begitu lugas, meminta kepastian waktu agar Alan bisa menjemputnya besok pagi demi mempertemukannya dengan Allaric. Nama itu, sebuah nama yang sekian lama ia coba tenggelamkan di dasar ingatan paling dalam, kini kembali menyembur ke permukaan bagai belati yang siap menggores luka lama. Allaric Wiguna, pria arogan yang dulu memberikan pengalaman paling pahit dalam hidupnya, sekaligus sosok yang tanpa disadari telah memberinya dua malaikat kecil yang kini menjadi pusat semesta bagi Kirana.Kirana menarik napas panjang, meresapi rasa sesak yang mendadak menjejali dadanya. Ia mema

  • Cinta Di Ujung Senja   Penyesalan Seorang Ayah

    Satu jam setelah keputusan impulsif Allaric di ruang tengah, deru mesin mobil mewah yang berhenti kasar di halaman depan mansion Wiguna, langsung memecah ketenangan malam. Satpam penjaga gerbang utama bahkan tidak sempat menanyakan maksud kedatangan, ketika sosok pria paruh baya bertubuh tegap melangkah keluar dari kursi belakang. Alvaro Wiguna, sang taipan bisnis yang disegani di seantero negeri, berjalan melintasi koridor utama dengan langkah-langkah lebar yang sarat akan dominasi.Alan yang baru saja hendak melangkah keluar menuju lantai bawah, langsung menghentikan geraknya tepat di depan pintu ruang tengah. Matanya membelalak tak percaya mendapati kehadiran sosok yang paling dihindari oleh penghuni mansion ini selama bertahun-tahun."Tuan Alvaro?" celetuk Alan dengan nada suara yang tertahan di tenggorokan.Alvaro tidak menghentikan langkahnya sedikit pun. Pandangannya yang tajam terkunci pada pintu kayu jati yang masih terbuka separuh. "Singkirkan tanganmu dari pusingan gagang p

  • Cinta Di Ujung Senja   Bayangan Masa Lalu

    Suara detak jarum jam dinding berdentang lambat di ruang tengah mansion keluarga Wiguna. Bertha merapikan lipatan jas dokternya, menatap Allaric dengan raut wajah penuh keseriusan yang jarang ia perlihatkan. Alan berdiri tegap di sisi sofa, menyimak percakapan yang mendadak berubah menjadi sangat tegang."All, ada satu hal lagi yang sebenarnya harus aku katakan sejak dulu," buka Bertha. Pandangannya tidak lepas dari raut wajah pria di kursi roda itu. "Soal riwayat hasil pemeriksaan Kirana, sebelum dia menghilang."Allaric mengalihkan pandangannya dari jendela. "Soal apa lagi? Bukankah sudah kukatakan, kalau masa lalu itu tidak perlu diungkit?""Ini bukan sekadar masa lalu," potong Bertha tegas. "Hari, saat kau memintaku memeriksa Kirana karena dia sering mengeluh mual dan pusing. Aku melakukan tes darah lengkap. Hasilnya keluarbsehari, setelah Kirana dikabarkan menghilang."Ruangan itu seketika hening. Alan menahan napasnya, merasakan ada sinyal penting yang akan mengubah segalanya."

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab 69. Ketegasan Kirana

    Dr. Bertha menghentikan usapan pada cangkir teh hangat di pangkuannya. Tatapannya tertahan pada susunan foto dalam bingkai kayu, di atas meja tamu rumah Allaric. Matanya membulat sempurna, memancarkan keterkejutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan setelah mendengar penuturan jujur dari Alan."Maksudmu, Nyonya Wiguna pergi begitu saja, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun?" tanya Bertha. Suaranya terdengar tertahan, seolah mencoba mencerna setiap kalimat yang baru saja keluar dari mulut asisten pribadi di hadapannya.Alan mengangguk perlahan. "Benar Dokter. Tidak ada seorang pun yang tahu alasan pasti, kenapa Nyonya Wiguna memilih kabur saat itu. Malam setelah kejadian itu, Tuan Allaric seperti kehilangan akal sehatnya.""Dia memobilisasi seluruh jaringannya, mengerahkan puluhan anak buah hanya untuk menyisir setiap sudut kota, hingga area perbatasan," lanjut Alan sembari melirik Allaric yang sejak tadi memilih menatap kosong ke arah jendela kaca besar. "Tapi, Kirana seperti hilang dit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status