Home / Romansa / Cinta Jatuh Tempo / Kembali ke Mode Normal

Share

Kembali ke Mode Normal

Author: Kalla Lunara
last update publish date: 2026-09-18 22:57:04

Tubuh Raia menggelenyar.

Puncak payudaranya sudah mencuat, Aksenna memuntir hati-hati. Meremasnya pelan hingga keduanya merasakan desir-desir gairah menembus permukaan kulit mereka.

Raia mendorong pelan dada Aksenna hingga ia terbaring. Menyugar rambutnya yang tergerai hingga jenjang tubuhnya dan dua payudara indah itu terekspos sempurna.

Darah Aksenna berdesir. Tangannya meluncur ke paha perempuan di atasnya itu. Sesekali bokong Raia mengayun di atasnya. Tubuhnya meliuk seperti tarian erotis y
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Jatuh Tempo   Kami Memang Sama Gilanya

    ‘Ouch! Demanding banget. Mentang-mentang bos—even at home!’Raia bergumam pelan dalam hati, menggeser duduknya di atas sofa dan merapikan selimut yang tadi membungkus kakinya. Ia menatap Aksenna yang kini berdiri di hadapannya setelah meletakkan jam tangan dan merapikan sepatunya di foyer."Kan saya balas. Meski nggak secepat yang kamu harapkan. What's the problem?" tanya Raia santai, menatap pria itu dengan sebelah alis terangkat.Aksenna bergeming di posisinya. Ia menoleh, menatap Raia lurus—datar, tanpa ekspresi, tapi ada sesuatu di matanya yang bikin Raia nyaris menyesali pertanyaannya."What's the problem?" ulang Aksenna pelan, suaranya rendah. "Kamu tanya saya apa masalahnya?"Raia mengangkat bahu, pura-pura santai. "Iya. Kamu yang protes duluan."Aksenna menegakkan tubuh, melangkah mendekat—dua langkah, tiga. Berhenti tepat di depan sofa, menatap Raia dari atas."Oke, forget it. Ada hal lain yang lebih penting untuk kita bahas," balas Aksenna tenang.Pria itu mendudukkan diri d

  • Cinta Jatuh Tempo   Apakah Kita Mulai Jadi Cranky Person

    ‘It’s a weird’, batin Raia.Ia bukan orang yang mudah terusik. Di kantor sebelumnya, ia biasa bekerja dengan orang-orang yang kompetitif. Tapi Vika berbeda. Ada sesuatu di balik senyum tipisnya yang membuat Raia merasa sedang diawasi.Raia berusaha mengabaikannya. Ia fokus pada layar laptop, menyusun poin-poin untuk review dengan tim legal.Tapi setiap kali ia mengangkat kepala—untuk mengambil air, untuk meregangkan leher, untuk sekadar menatap jendela—matanya selalu bertemu dengan mata Vika. Yang entah kebetulan atau tidak, selalu sudah menunggu di sana.‘Bodo amat lah ya!’Raia bangkit dari duduknya, berjalan kea rah pantry untuk menyeduh kopi. Ternyata Pak Raihan sudah di sana, berdiri di dekat jendela dengan cangkir kopi di tangan. Ia menoleh saat Raia masuk, memberi anggukan singkat.“Coffee time, Raia …”Raia tersenyum singkat sambil mengambil pod kopi dari rak, memasukkannya ke mesin, lalu menekan tombol. Mesin itu berdengung pelan, mengisi cangkir dengan cairan hitam pekat. Ar

  • Cinta Jatuh Tempo   Mungkin Hanya Firasat Saja

    Vika bukan tipe perempuan yang mudah dilupakan.Tingginya sekitar 168 cm, dengan postur tegap yang dibentuk oleh olahraga yang intens. Rambut bob-nya jatuh sempurna di rahang. Matanya cokelat gelap, tajam dan selalu bergerak. Mengamati. Menghitung. Menyimpan. "Hi. Senang kenal kamu," ujar Vika, suaranya lembut tapi mantap."Hai ...," balas Raia.Sementara itu, di ujung ruangan, Aksenna yang sejak tadi bersandar di sandaran kursi tiba-tiba menegakkan tubuh. Matanya menatap Vika dengan ekspresi yang sulit dibaca.Ada kejutan di sana. Jelas sekali."Vika?" Aksenna mengulang nama itu pelan, hampir seperti bisikan.Vika menoleh, dan untuk pertama kalinya senyumnya melebar. "Halo, Senna—eh Pak Aksenna. Long time no see."Raia menangkap sesuatu di udara. Ketegangan. Halus, tapi nyata.Pak Raihan menyela dengan santai. "Oh, kalian sudah kenal? Bagus, berarti nggak perlu perkenalan panjang. Vika, kamu bisa mulai pelajari semua materi Kronos dari Raia. Nanti kita lihat di mana kamu bisa kontr

  • Cinta Jatuh Tempo   Project Baru, Staf Baru

    Gavin menyandarkan tubuh ke kursi, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja.Ada senyum tipis di wajahnya, tapi matanya serius. Ia sudah mendengar presentasi Raia. Data, proyeksi, strategi—semua tersaji rapi. Sekarang giliran Aksenna.Raia menahan napas. Ia tahu momen ini krusial."Eksklusivitas itu komitmen besar, Gavin," kata Aksenna, bersandar di kursinya. "Baik untuk kami maupun untuk kamu. Ada trade-off yang harus dipertimbangkan.""Justru itu," Gavin menyandarkan tubuhnya ke depan, sikapnya serius."Kami lelah bersaing di pasar yang jenuh. Di setiap platform, kami hanya dianggap sebagai salah satu dari sekian banyak merek. Di sini, kami ingin Nusabuy menjadi satu-satunya rumah digital bagi Kronos."Raia akhirnya angkat bicara. Suaranya tenang, namun penuh percaya diri."Gavin, saya sudah mempelajari data Kronos. Pertumbuhan Anda tahun lalu 15%, lebih tinggi dari rata-rata industri. Tapi, market penetration Anda masih terfokus di kota-kota besar. Jika Anda menjadi exclusive merchant, ka

  • Cinta Jatuh Tempo   I Don't Like Monday, Kecuali Pagi Tadi!

    "I don't like Monday!"Raia menghela napas, menatap pantulan wajahnya di kaca lift yang menutup perlahan.But of course—terkecuali adegan intim dengan Aksenna pagi tadi.Pipinya memanas sendiri. Ia buru-buru membuang muka, pura-pura sibuk memeriksa ponsel.And it's hard to believe …Saat ini ia sudah berdiri di lobi gedung Nusabuy yang ramai oleh karyawan berlalu-lalang. Kartu identitas terkalung di leher, cangkir kopi di tangan, sepatu menghantam marmer dengan irama yang sama setiap pagi.Seolah tiga jam lalu tubuh telanjangnya tidak baru saja melengkung di bawah tubuh bosnya sendiri. Seolah lidahnya tidak baru saja menyebut nama pria itu dalam erangan yang ia kubur di bantal. Raia menarik napas. Melepas satu lapisan demi satu lapisan sampai hanya tersisa wajah profesional yang biasa dilihat orang.‘Oke, Raia. Kerja!’Raia keluar dari lift di lantai 12, tempat Divisi Merchant Partnership berada. Ia mengenakan blazer rapi warna navy, kemeja putih, dan rok pensil yang jatuh sempurna d

  • Cinta Jatuh Tempo   Kembali ke Mode Normal

    Tubuh Raia menggelenyar.Puncak payudaranya sudah mencuat, Aksenna memuntir hati-hati. Meremasnya pelan hingga keduanya merasakan desir-desir gairah menembus permukaan kulit mereka.Raia mendorong pelan dada Aksenna hingga ia terbaring. Menyugar rambutnya yang tergerai hingga jenjang tubuhnya dan dua payudara indah itu terekspos sempurna.Darah Aksenna berdesir. Tangannya meluncur ke paha perempuan di atasnya itu. Sesekali bokong Raia mengayun di atasnya. Tubuhnya meliuk seperti tarian erotis yang membuat Aksenna semakin gila.Ia terbangun dari posisinya, mengecup lembut leher Raia hingga perempuan itu menggeliat kecil karena geli. Memagut bibir perempuan yang dipeluknya. Ah, terkutuklah getar-getar di dalam dirinya. Raia bukan hanya cantik, dia juga memiliki sex appeal yang membuat hasratnya menggila.Raia mengerang di sela ciuman mereka. Ia mulai merasakan sesuatu mengalir di selubung hangatnya.“Are you wet down there?”“Kamu bisa merabanya, kan …?”“Sssh, Baby ….” Mata Aksenn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status