เข้าสู่ระบบRaia merapatkan bibir, matanya melirik ke kanan-kiri sebelum memajukan tubuhnya lebih dekat ke tengah meja."Itu fasilitas kata dia. Dan reward..." Raia menelan ludah sejenak, suaranya merosot jadi bisikan super pelan, "... for being so damn satisfying in bed. Kata dia."“Astaga!” Dira sontak memukul meja.Beberapa pengunjung di meja sebelah refleks menengok, membuat Raia langsung melotot panik dan memberi isyarat tangan agar sahabatnya itu diam. Tapi Dira sudah telanjur histeris dengan tangan menangkup mulutnya sendiri."Ah gila! For being so damn satisfying in bed. Astaga, stop it! Gue ga sangggup lagi dengernya. Bisa ikutan horny gue!" seru Dira dengan suara tertahan yang dipenuhi tawa heboh.Raia refleks menyambar bantal kursi di sebelahnya dan memukulkannya pelan ke lengan Dira. "Mulut lo ya, Dira!""Gue cerita gini karena gue stres ya, bukan buat bikin lo ikut kepancing!""Ya gimana gue nggak kepancing, Raia!" Dira melepaskan tisu dari wajahnya sambil masih terpingkal-pingkal. "
Aroma kopi dan denting sendok di Kala Kopi sore itu tidak mampu meredam pekikan tertahan dari Dira. Perempuan itu nyaris tersedak ice latte-nya sendiri, menatap Raia dengan mata membelalak takjub."Gila! Lo berdua emang beneran sakit jiwa, Rai!" Dira memajukan tubuhnya, menopang dagu di atas meja. "Gue tahu lo tipe cewek senggol-sosor yang berani, ya meski sebatas kissing aja sih. Tapi inii?? Naik level ke ranjang dalam kurun waktu 48 jam? Beberapa kali? Seriously?" Dira syok. Raia mendadak salah tingkah. Dia buru-buru menyembunyikan wajahnya yang merona merah padam di balik kedua telapak tangan. Gelas americano di hadapannya bahkan baru berkurang dua sedotan. Sial, harga diri Raia yang biasanya setinggi langit runtuh total di depan sahabatnya sendiri."Pelanin suara lo, Dira! Malu dilihat orang," cicit Raia dengan nada heboh tapi malu-malu."Gue ... gue juga nggak nyangka bakal se-liar itu, oke? Kita berdua kayak sama-sama gila aja kalau udah di dalam unit. Bahkan kemarin pagi sebel
‘Ouch! Demanding banget. Mentang-mentang bos—even at home!’Raia bergumam pelan dalam hati, menggeser duduknya di atas sofa dan merapikan selimut yang tadi membungkus kakinya. Ia menatap Aksenna yang kini berdiri di hadapannya setelah meletakkan jam tangan dan merapikan sepatunya di foyer."Kan saya balas. Meski nggak secepat yang kamu harapkan. What's the problem?" tanya Raia santai, menatap pria itu dengan sebelah alis terangkat.Aksenna bergeming di posisinya. Ia menoleh, menatap Raia lurus—datar, tanpa ekspresi, tapi ada sesuatu di matanya yang bikin Raia nyaris menyesali pertanyaannya."What's the problem?" ulang Aksenna pelan, suaranya rendah. "Kamu tanya saya apa masalahnya?"Raia mengangkat bahu, pura-pura santai. "Iya. Kamu yang protes duluan."Aksenna menegakkan tubuh, melangkah mendekat—dua langkah, tiga. Berhenti tepat di depan sofa, menatap Raia dari atas."Oke, forget it. Ada hal lain yang lebih penting untuk kita bahas," balas Aksenna tenang.Pria itu mendudukkan diri d
‘It’s a weird’, batin Raia.Ia bukan orang yang mudah terusik. Di kantor sebelumnya, ia biasa bekerja dengan orang-orang yang kompetitif. Tapi Vika berbeda. Ada sesuatu di balik senyum tipisnya yang membuat Raia merasa sedang diawasi.Raia berusaha mengabaikannya. Ia fokus pada layar laptop, menyusun poin-poin untuk review dengan tim legal.Tapi setiap kali ia mengangkat kepala—untuk mengambil air, untuk meregangkan leher, untuk sekadar menatap jendela—matanya selalu bertemu dengan mata Vika. Yang entah kebetulan atau tidak, selalu sudah menunggu di sana.‘Bodo amat lah ya!’Raia bangkit dari duduknya, berjalan kea rah pantry untuk menyeduh kopi. Ternyata Pak Raihan sudah di sana, berdiri di dekat jendela dengan cangkir kopi di tangan. Ia menoleh saat Raia masuk, memberi anggukan singkat.“Coffee time, Raia …”Raia tersenyum singkat sambil mengambil pod kopi dari rak, memasukkannya ke mesin, lalu menekan tombol. Mesin itu berdengung pelan, mengisi cangkir dengan cairan hitam pekat. Ar
Vika bukan tipe perempuan yang mudah dilupakan.Tingginya sekitar 168 cm, dengan postur tegap yang dibentuk oleh olahraga yang intens. Rambut bob-nya jatuh sempurna di rahang. Matanya cokelat gelap, tajam dan selalu bergerak. Mengamati. Menghitung. Menyimpan. "Hi. Senang kenal kamu," ujar Vika, suaranya lembut tapi mantap."Hai ...," balas Raia.Sementara itu, di ujung ruangan, Aksenna yang sejak tadi bersandar di sandaran kursi tiba-tiba menegakkan tubuh. Matanya menatap Vika dengan ekspresi yang sulit dibaca.Ada kejutan di sana. Jelas sekali."Vika?" Aksenna mengulang nama itu pelan, hampir seperti bisikan.Vika menoleh, dan untuk pertama kalinya senyumnya melebar. "Halo, Senna—eh Pak Aksenna. Long time no see."Raia menangkap sesuatu di udara. Ketegangan. Halus, tapi nyata.Pak Raihan menyela dengan santai. "Oh, kalian sudah kenal? Bagus, berarti nggak perlu perkenalan panjang. Vika, kamu bisa mulai pelajari semua materi Kronos dari Raia. Nanti kita lihat di mana kamu bisa kontr
Gavin menyandarkan tubuh ke kursi, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja.Ada senyum tipis di wajahnya, tapi matanya serius. Ia sudah mendengar presentasi Raia. Data, proyeksi, strategi—semua tersaji rapi. Sekarang giliran Aksenna.Raia menahan napas. Ia tahu momen ini krusial."Eksklusivitas itu komitmen besar, Gavin," kata Aksenna, bersandar di kursinya. "Baik untuk kami maupun untuk kamu. Ada trade-off yang harus dipertimbangkan.""Justru itu," Gavin menyandarkan tubuhnya ke depan, sikapnya serius."Kami lelah bersaing di pasar yang jenuh. Di setiap platform, kami hanya dianggap sebagai salah satu dari sekian banyak merek. Di sini, kami ingin Nusabuy menjadi satu-satunya rumah digital bagi Kronos."Raia akhirnya angkat bicara. Suaranya tenang, namun penuh percaya diri."Gavin, saya sudah mempelajari data Kronos. Pertumbuhan Anda tahun lalu 15%, lebih tinggi dari rata-rata industri. Tapi, market penetration Anda masih terfokus di kota-kota besar. Jika Anda menjadi exclusive merchant, ka







