Masuk
“Jangan bodoh, Tiara! Cepat kamu balik ke rumah suamimu sekarang juga!” Suara Pak Reza menggelegar.
Tak cukup hanya dengan bentakan, ayah kandung Tiara itu juga mendorong Tiara keluar, bahkan sebelum sang anak benar-benar melewati pintu ruang tamu untuk masuk ke rumah mereka. Tiara terhuyung. Terpaksa membiarkan tas besar yang dia bawa lepas dari genggamannya, daripada dia ikut jatuh bersama tas itu. "Ayah….” Tiara menatap ayahnya tidak percaya. Air matanya yang sedari tadi meluncur, bertambah deras. “Kemana lagi aku harus pulang kalau bukan ke rumah ini? Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Yah.” “Tuh, sadar udah nggak punya siapa-siapa, kenapa kamu malah pergi dari rumah suamimu?” timpal Bu Lela, ibu tiri Tiara. Perempuan yang memakai daster itu bersedekap, sedikit mendongak. Tiara menggeleng-geleng. “Mah, Mas Dion mau nikah lagi...” “Ya terus masalahnya di mana?” Bu Lela meninggikan suara. “Suamimu cuma mau nikah lagi, bukan menceraikan kamu.” “Kok Mamah tega ngomong gitu? Kita sama-sama perempuan, Mah, coba seandainya—” “Diam!” Pak Reza memotong ucapan Tiara. “Nggak perlu seandainya-seandainya… Dion itu sudah minta ijin sama Ayah, dan dia bilang kamu akan tetap menerima semua yang biasanya kamu terima selama ini, nggak akan dikurangi sedikit pun.” “Kamu harusnya bersyukur, Tiara. Masih bisa hidup gratis di rumah suamimu, tidur nyaman, makan kenyang… intinya kamu masih bisa menikmati hidup. Lagian kamu sudah tua juga, jangan kayak anak kecil!” Lagi-lagi Bu Lela menyambar. “Kamu pikir enak jadi janda? Mamah ini pernah jadi janda sebelum nikah sama ayahmu. Mau apa-apa susah, apalagi di jaman sekarang yang semuanya pakai duit. Kalau Mamah masih mending, dulu waktu jadi janda masih muda, masih banyak laki-laki yang mau, lah kamu….” Bu Lela mencibir. “Liat dirimu, udah tua, nggak bisa punya anak lagi—” Ocehan Bu Lela berhenti saat mendengar suara dehem dari Pak Reza. Namun hanya sedetik saja, setelah itu dia menatap suaminya. “Loh, bener kan, Yah? Mau bujang, duda atau kakek-kakek sekali pun, yang dicari laki-laki pasti ya perempuan muda. Yang masih seger, montok…” Bu Lela beralih memandang Tiara kembali. Menghela napas. “Sadarlah, Tiara, bukan Mamah mau menghina kamu, tapi umurmu udah nggak muda lagi. Udah deket ke lima puluh kan? Nggak akan laku lagi kamu.” Tiara menggigit bibirnya. Pedih mendengar semua ucapan itu. Padahal tadi saat terburu meninggalkan rumah, Tiara berpikir akan mendapat pelukan, atau setidaknya sambutan yang hangat seperti yang biasa ibu tirinya lakukan kalau dia berkunjung ke sini. Dia bahkan berangan-angan ayahnya marah lalu pergi untuk melabrak Dion. Nyatanya? Tiara bergerak menghapus air matanya. Menatap kedua orang tua yang selama ini dia hormati. “Yah, aku memilih bercerai demi harga diriku, bukan ingin mencari suami baru.” “Tiara, Tiara... harga diri yang gimana sih? Kalau kamu bercerai, Dion nggak kasih uang bulanan, terus gimana kita hidup? Masa kamu tega membebankan semua sama kami? Ayahmu ini sudah tua loh.” Seperti tadi, Bu Lela lagi yang menyahut. “Yah… tolong aku, sama siapa lagi aku minta tolong kalau bukan sama Ayah?” Tiara mencoba mengabaikan ocehan ibu tirinya. Dia masih sangat berharap ayah kandungnya ini bersedia berpikir ulang. “Tolong pahami perasaanku. Sakitku kehilangan Lio belum sembuh. Sakit banget, Yah, apalagi harus tinggal serumah sama maduku.” Lionel, anak semata wayangnya, baru saja meninggal setelah mengalami kecelakaan seminggu yang lalu. Namun Dion yang seharusnya menjadi tempat sandaran untuk saling menguatkan, justru ribut ingin cepat menikah lagi. Katanya dia harus mengejar waktu agar mempunyai keturunan sesegera mungkin, sebagai penerus nama keluarganya. Pak Reza menghela napas. Menoleh pada istrinya. “Mah, ambilkan kunci mobil, kita antar Tiara balik ke rumah suaminya.” “Yah… kenapa Ayah tega sama aku? Anakmu ini sudah disia-siakan suami sendiri, harusnya Ayah bela aku.” Tiara spontan bersimpuh di kaki sang ayah. Tangisnya benar-benar meledak. “Sudah, Tiara. Bangunlah, nanti kalau tetangga dengar malah kita jadi tontonan, jadi bahan gosip. Ayo bangun!” Pak Reza mencekal lengan Tiara. Sekuat tenaga dia memaksa Tiara berdiri. “Bukan Ayah tega, tapi hidup harus realistis. Kalau kamu pergi dari suamimu, kita semua jadi susah. Ingatlah, hidup Ayah sekarang juga sebagian besar mengandalkan uang dari kamu, kalau kamu bercerai dari Dion….” Tiara menggigit bibir. Menahan tangisnya yang siap meledak kembali. “Lagian suamimu juga punya alasan jelas. Dia anak tunggal dari ayahnya yang juga tunggal. Kalau kamu masih bisa hamil, Dion juga nggak akan menikah lagi. Seharusnya kamu bersyukur nggak diceraikan.” Pak Reza mengusap pundak Tiara. “Sekarang Ayah balik tanya, apa kamu nggak kasihan sama Ayah? Kamu anak pertama Ayah, sudah sepatutnya kamu menjadi sandaran hidup Ayah di masa tua ini. Atau kamu pengen liat Ayah jualan lagi di pasar? Tiap subuh harus memanggul karung?” “Ayah….” Tiara menghambur. Memeluk sosok ringkih di depannya. Kilasan kondisi mereka yang susah dulu, menambah lubang di dalam dadanya. Mendadak dia merasa bersalah. Bersamaan dengan itu, Bu Lela yang tadi masuk untuk melaksanakan perintah suaminya, keluar dengan kunci mobil di tangan. Dia pun langsung ikut bergabung dalam pelukan suami dan anak tirinya tersebut. “Tiara, kami sayang sama kamu. Percaya sama Mamah, dimadu itu jauh lebih baik daripada jadi janda. Apalagi janda setua kamu.” Suara Bu Lela begitu lembut. Sungguh berbeda dengan sikapnya yang tadi. “Ayo, kita pulang ke rumahmu.” *** Sampai di rumah Dion, mereka disambut wajah kesal Bu Nita, ibu kandung Dion alias mertua Tiara. “Ngapain kamu balik?” “Bu Nita….” Bu Lela meraih tangan besannya itu. Dia sampai membungkukkan badan ketika mencium tangan Bu Nita. “Maafkan Tiara, tapi tadi kami sudah nasehatin dia, Bu. Tiara sekarang sudah sadar dan mengakui kesalahannya.” Bu Lela menoleh pada Tiara. Tersenyum lembut. “Tiara, ayo bersimpuh minta maaf sama bundamu.” “Nggak usah! Pergi saja sana, dipikir Dion akan kehilangan?” Bu Nita terkekeh. “Lagian Dion sudah ada Pevita. Lebih cantik, lebih muda, lebih pantas jadi menantu Bunda.”Bu Nita menghela napas. “Ya nggak dengan cara merendahkan dirimu juga, Dion.”“Merendahkan diri gimana? Justru itu menunjukkan kalau aku masih mengingat kesukaan istriku, pasti Tiara senang.” Dion menghisap rokoknya dalam-dalam.Perempuan enam puluh tujuh tahun itu kembali menghela napas. “Ya… besok Bunda belikan. Sekarang tidurlah, Bunda liat kamu ini sering banget duduk di sini sampai malam. Nggak baik buat kesehatan kamu.”Dion gegas mematikan api rokoknya, dan meninggalkan puntungnya di asbak. Dia bangkit. Menatap ibunya. “Besok tolong Bunda ikut bujuk Tiara ya.” ***Jam setengah satu, Dion sudah berada di ruang tunggu pengadilan. Duduk tidak tenang, menggoyang-goyangkan kaki. Sebentar-bentar dia melongok ke pintu masuk.Sementara sekotak pastel ayam dan sekotak siffon keju, mengisi bangku di antara Dion dan sang ibu. Bu Nita tampak sama gelisahnya dengan Dion, tapi dia masih terlihat bisa mengendalikan diri. Sibuk dengan ponselnya. “Ngobrol sama Pevita?” Dion melongok layar pon
Tiara memejamkan mata. “Sebaiknya nggak usah, Mah. Mamah sama Ayah doain aku aja—”“Loh kenapa? Kamu udah nggak mau kenal keluargamu lagi?” potong Bu Lela. Seperti biasa, nadanya meninggi.“Kalau nggak mau kenal pasti aku nggak kirim uang kan, Mah?” Tiara menghela napas. Cepat berpikir, tapi sejujurnya dia tidak punya alasan untuk benar-benar mencegah kedatangan Bu Lela ke persidangannya besok.Hening.“Ya udah.” Suara Bu Lela melunak. “Mamah sama Ayah nggak datang, tapi janji kamu tetap kirim uang rutin ya, dan lebih dari tiga juta.”Hanya helaan napas yang Tiara berikan sebagai jawaban.“Mamah doain kamu banyak uang ya, dan selalu ingat keluarga kamu di sini.” kata Bu Lela lagi.“Udah dulu ya, Mah.” Tiara langsung mematikan sambungan. Mengirimkan nomor Ezra pada Tante Ruth.Setelahnya, Tiara bersiap menggambar. Menyiapkan alat-alat gambarnya dan membuka galeri fotonya, melihat-lihat foto masa kecil Josh yang dikirimkan tadi. Dan dia langsung jatuh hati pada foto candid Josh yang ten
“Mas?!” Pevita tak tahan lagi untuk tidak berteriak. Tangisnya pecah. Banyak kata yang ingin keluar dari mulutnya, tapi pada akhirnya Pevita hanya bisa menangis. Kesal luar biasanya.Apalagi saat Dion mematikan sambungan tanpa berkata apa-apa lagi.Pevita terus menangis. Sudah benar-benar tidak paham dengan pemikiran lelaki itu, kok bisa-bisanya cinta Dion yang terasa membara selama dua tahun ke belakang, justru cepat susut setelah menikah. Jauh dari apa yang Dion janjikan, yang dulu katanya akan lebih sayang padanya daripada Tiara.Pevita menggerungkan tangis sejadi-jadinya.***Kret. Pintu terbuka.“Dion, Bunda denger apa yang barusan kamu omongin sama Pevita.” Bu Nita masuk perlahan.Lelaki itu terlihat kaget sebentar, untuk kemudian menghembuskan napas sembari memalingkan wajah. “Bunda nguping?” Nada suaranya terdengar kesal.“Iya. Bunda memang sengaja nguping, Bunda tau itu salah, tapi Bunda lakukan untuk kebaikanmu juga.” Bu Nita mendekat, berdiri persis di samping sang putra ya
“Tepatnya di hari Rabu jam satu,” kata Nancy.“Oh, cepat juga ya, Bu.” Tiara menelan ludah. Perlahan menyenderkan punggungnya, sementara duduknya melorot pelan-pelan. Dia perlu rileks karena tiba-tiba merasai seluruh syarafnya lemas.Meski sebenarnya Nancy kemarin sudah memberitahu kemungkinan soal ini, tapi masih saja terasa gemetar ketika akhirnya hal tersebut menjadi kenyataan.“Iya, dan hari ini surat pemberitahuannya akan dikirim ke rumah Pak Dion Setiawan,” ucap Nancy.Tiara menghembuskan napas sedikit kencang.“Bu Tiara baik-baik saja?” Suara Nancy terdengar penuh perhatian.“Sejujurnya saya agak… gimana….” Tiara tertawa canggung. Mendadak susah untuk mendeskripsikan isi hatinya.“Gimana… yang gimana nih?” Nancy ikut tertawa, tapi tawanya renyah. Terkesan ingin menghangatkan suasana. “Bu Tiara nggak perlu takut. Selama persidangan saya sendiri yang akan mendampingi Ibu, pokoknya nempel terus ke Bu Tiara.”Tiara akhirnya terkekeh.Nancy mengimbangi tawa itu lagi. “Nanti memang a
“Kamu…?” Wajah lelaki itu kentara terkesiap. Matanya membulat, sedang mulutnya melongo lebar. Namun beberapa detik kemudian berubah membentuk derai tawa. “Ada di sini? Ngapain?” “Kamu kenal dia?” tanya laki-laki lain yang berdiri di sebelahnya dengan wajah cengar cengir. Pandangannya jelatatan menatap Pevita yang memakai baju minim. “Boleh dong kenalan, Cantik.”Pevita langsung menampik sekuat tenaga tangan yang terulur itu. “Woee, galak!” jerit lelaki itu sembari meringis-ringis, tapi tampak sekali hanya akting. Karena setelah itu dia mengerling. “Enak nih yang galak-galak begini.”“Emang sok galak dia.” Widi, laki-laki itu, menimpali ucapan sang teman. Menatap Pevita. “Sumpah, nggak nyangka aja ternyata kamu ada di sini kalau suamimu ada di kantor.” Alis Widi menjungkit-jungkit. “Kayaknya boleh nih—”“Lo belum kapok? Pengen rasain tangan gue lagi?” Pevita berkacak pinggang. Memasang wajah super judes. “Mau sekalian gue ancurin muka jelek lo itu?”Widi tersenyum tipis. Mengedikkan
Pevita sudah melek, tapi masih bermalasan di tempat tidur. Sengaja meminta layanan kamar untuk membawakan sarapannya, tapi sedari tadi diantarkan, makanan itu pun belum dia sentuh. Pevita tengah asyik melihat-lihat spesifikasi berbagai mobil di layar ponselnya, jadi begitu Dion mengabulkan permintaannya, dia bisa langsung tunjuk.Perempuan itu menarik napas sementara jarinya masih menggulir. Meski dia tahu awal hubungannya dengan Dion itu salah, tapi sebenarnya dia tidak punya niatan untuk menguras harta lelaki itu. Pevita hanya berniatan menjadi istri Dion satu-satunya, menikmati fasilitas sebagai istri Dion sambil menunggu Dion mati.Selisih usia mereka delapan belas tahun, dan Pevita yakin Dion akan mati duluan, jadi tanpa perlu susah payah semua harta lelaki itu otomatis jatuh kepadanya. Ibarat kata, tidak perlu bekerja keras dapat jaminan hari tua sampai ke anak cucu.Ponsel berdering, dari Tiwi. Jari Pevita gegas menekan tombol terima.“Pev, a







