LOGINTiara menggigit bibirnya. Perih. Ternyata benar, ibu mertuanya ini sudah merestui Pevita. Perempuan yang diakui sebagai salah satu staf di kantor Dion, yang dipilih sang suami untuk menjadi istri kedua.
“Tiara, cepat minta maaf, cium kaki ibu mertuamu.” Bu Lela gegas menimpali. Dengan sedikit kekuatan, dia menarik lengan Tiara lalu mendorong pelan, hingga perempuan berambut panjang itu berlutut di dekat kaki Bu Nita. “Ayo minta maaf, Sayang.” Tiara menelan ludah. Sebenarnya dia juga ingin mengucap maaf, tapi entah mengapa suaranya seperti tidak bisa keluar. Tiara pun hanya bisa memegangi kedua kaki ibu mertuanya sembari menundukkan kepala. Tangannya mulai bergetaran. “Maafkan Tiara, Bu Nita. Kami berjanji hal ini nggak akan terulang lagi,” kata Pak Reza. Seakan menggantikan permintaan maaf dari mulut sang putri yang tak kunjung terucap. Dia mengikuti cara istrinya membungkukkan badan, meski tidak mencium tangan besannya itu. Bu Nita mendengus. “Saya bukannya merendahkan Tiara ya, Pak Reza. Tapi… gimana ya, Pevita jauh lebih tau adab. Bahkan demi menghormati Tiara sebagai kakak madunya, dia nggak mau mengadakan resepsi pernikahan, cuma minta sah saja. Secara terang-terangan Pevita juga selalu memikirkan Tiara sebagai istri nomor satu Dion. Tapi yang dijadikan nomor satu malah nggak layak begini.” “Kami minta maaf, Bu….” Bu Lela kembali membungkukkan badan. “Mohon dimaafkan anak kami. Tiara ini cuma masih sangat berduka karena kehilangan Lio, jadi masih belum bisa berpikir panjang.” “Ck, alasan utama Dion menikah lagi itu biar punya anak, pengganti Lio. Bukan buat gaya-gayaan punya dua istri, bukan juga karena anak saya mata keranjang. Dion hanya bertanggung jawab menjaga trah keturunan kami.” Bu Nita bicara dengan suara tinggi. “Lagian Dion nggak sembarangan cari istri lagi, dia pilih Pevita karena Pevita begitu paham kedudukannya sebagai istri kedua. Demi Tiara juga.” “Iya, Bu. Kami sangat–” “Nah, itu orangnya datang.” Bu Nita memotong ucapan Bu Lela, seraya menoleh pada mobil yang baru saja berhenti, dan terbuka pintunya. Seorang perempuan muda memakai gaun kasual selutut warna burgundy, rambutnya hitam panjang tergerai halus menutupi sebagian pundak. Bibirnya yang tampak ranum tersenyum, tapi mendadak senyumnya kuncup, berganti dengan wajah yang tampak kuatir. Pevita, perempuan itu, berlari mendapatkan Tiara. “Loh, ada apa ini? Mbak Tiara, kenapa, Mbak? Ayo bangun.” Tiara pun bangkit dibantu Pevita dengan sedikit terhuyung. Dia tersenyum, mendadak malu kepada calon adik madunya ini. “Tuh, Pak Reza dan Bu Lela liat sendiri kan, gimana Pevita menghormati Tiara?” cetus Bu Nita. Pevita berderai ringan. “Bunda… apaan sih. Kan sudah kewajiban aku menghormati Mbak Tiara. Selain Mbak Tiara adalah kakak madu, umur Mbak Tiara juga hampir sama dengan umur mamaku, jadi ya sudah sepantasnya aku beri penghormatan pada orang tua.” Pevita terkikik sendirian. Tapi derainya cepat habis. Mungkin dia sadar, tidak ada yang tertawa selain dirinya. “Bercanda ya, Mbak. Jangan diambil hati.” Dion datang. Sebenarnya dia tiba bersama Pevita, tetapi lelaki itu harus memarkirkan mobil terlebih dahulu, sehingga baru bergabung. Begitu mendekat, mata Dion terlihat melebar. “Eh, ada Ayah, Mamah… ada apa ini? Tumben.” Bu Nita spontan tertawa. “Ada yang berdrama, caper… pakai acara minggat segala, tapi belum ada satu jam balik lagi.” “Maksudnya… Tiara?” Mata Dion semakin melebar. Tatapan yang tadinya kepada Pak Reza, kini beralih pada istrinya. Pevita gegas bergerak. Bergayut manja di lengan Dion serta mencipta senyum manis. “Mas… sudah. Yang penting Mbak Tiara sudah balik, jangan diperpanjang, kasihan… mungkin Mbak Tiara masih perlu waktu untuk menerima kehadiran aku—” “Oh, nggak… Tiara sudah menerima semuanya kok,” potong Bu Lela. “Dia tadi hanya sedang sedih keinget Lio. Iya kan, Yah? Tiara?” Pak Reza langsung mengangguk. Namun Tiara perlu menghela napas terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengangguk samar. “Yeay, kita adalah keluarga besar yang saling mendukung!” Pevita bersorak kecil. Terkesan terlalu dibuat-buat. Namun itu berhasil membuat Dion tertawa renyah. Bahkan tangan lelaki itu sempat mengelus kepala Pevita sekejap. “Mumpung kumpul, yuk kita ngobrol di dalam, biar semakin akrab. Aku tadi beli kue sifon keju kesukaan Mbak Tiara,” lanjut Pevita. “Eh, kue-nya masih di mobil ya, Mas?” Dion mengangguk. “Gimana kalau kita bagi tugas, Mbak?” Pevita melempar pandang pada Tiara. “Mbak tolong ambilin kue-nya, aku ke dapur buat kasih tau Bibi untuk bikin minum.” “Iya, ide bagus,” sambar Bu Lela. Segera mengapit lengan Tiara. “Ayo, Ti, biar Mamah bantu.” “Kalau gitu, sekalian bawa turun barang-barang yang lain ya, Mbak!” seru Pevita ceria. Lagi, Bu Lela langsung menyetujui secepat kilat. Setengah menyeret, Bu Lela membawa Tiara menuju mobil Dion. “Liat, nggak ada alasan kamu minta cerai kan? Dion masih memaafkan kamu, meski Mamah rasa Pevita itu pintar akting, baiknya Pevita hanya pura-pura. Kamu harus hati-hati sama dia.” Tiara melotot. Kaget karena perkataan ibu tirinya, dan kaget lagi ketika melihat barang yang harus dia turunkan dari mobil ternyata banyak sekali. “Nah ini contohnya langsung ada.” Bu Lela menunjuk barang belanjaan yang bertumpuk di bagasi dan juga tempat duduk penumpang. “Suamimu banyak duit, dan dia pandai menyenangkan perempuan. Dion juga masih memanjakan kamu kan?” Tiara tanpa sadar mengangguk. Namun memang begitu adanya. Dion bukan suami yang pelit. Selama enam belas tahun mereka berumah tangga, Tiara memang selalu dinafkahi dengan baik. Hampir semua apa yang Tiara ingin, Dion berusaha untuk membelikannya. Mungkinkah benar kalau Dion terpaksa menikah lagi hanya karena ingin punya anak saja? Tapi kenapa harus secepat ini? Lionel baru berpulang seminggu yang lalu. “Ck, malah nangis… Kalau kamu terus menuruti perasaan sedihmu, Dion pasti semakin jauh dari kamu,” ujar Bu Lela. Menghembus napas kasar. “Dan Pevita akan menguasai suamimu.” “Mah, gimana nggak sedih kehilangan anak?” Tiara sedikit menyentak. Hatinya kesal juga. “Kenapa sih nggak ada yang ngerti perasaanku?” “Lah terus sekarang kamu mau kehilangan suami juga?” Mata Bu Lela mencorong tajam. “Jangan bodoh, Tiara!”Tiara spontan melongo. Terlebih pada panggilan ‘Nyonya’ yang dia yakin itu untuk Pevita. “Jadi… aku diusir dari kamarku sendiri?”Bi Ima terdiam. Kepalanya semakin menunduk.Tiara menelan ludah. Rasanya perkataan ibu tirinya satu per satu mulai menjadi kenyataan. “Bu, yang sabar ya.” Bi Ima mendekati Tiara. “Maaf lancang… kalau boleh saran, Ibu jangan cepat menyerah. Terus bertahan. Bibi yakin, Bapak sebenarnya masih mencintai Ibu.”Tiara tersenyum getir. Ayah, ibu tirinya, keluarga besar Dion, dan kini asisten rumah tangganya juga meminta dia bersabar, bertahan dan menerima menjadi istri yang diduakan. Apa benar karena dia sudah tidak terlalu berguna menjadi istri, seperti ucapan Dion?“Maaf, Bibi bersihkan dulu ya, Bu.”Tiara tidak menjawab, tetapi dia bergerak menuju balkon. Tangannya masih memegang gambar singa itu. Dipandangnya lekat-lekat. Kertasnya yang sudah sangat lusuh, ada bekas selotip di setiap sudutnya yang meninggalkan sobekan halus. Mungkin suatu saat nanti kertas ini
Tiba-tiba Tiara terkekeh. Meski telinganya sendiri menangkap jika nada tawanya begitu hambar. “Sandiwara apa yang mau kamu mainkan, Pevita? Mau memfitnah aku? Untuk apa? Kan kamu sudah berhasil menikahi suamiku.”“A-apa maksud Mbak Tiara?” Suara Pevita tercicit serak. Suara Tiara masih meninggi. “Jangan pura-pura polos kamu—”“Cukup!” Dion akhirnya bisa memotong. Matanya nyalang menatap Tiara.“Kamu juga sama, Pa, nggak punya otak!” Tiara melengking, emosinya tidak lagi dibendung. Tanpa gentar dia menatap balik mata sang suami yang melotot besar. Sementara dadanya naik turun, hampir terasa meledak. “Lio, anak kita, Pa. Anakmu! Darah dagingmu! Dan dia baru saja pergi, bahkan mungkin belum sepenuhnya pergi dari rumah ini, bukannya menggelar doa untuk Lio, tapi malah… agh… sialan!”“Kalian orang-orang nggak beradab! Anakku baru saja mati, dia mati! Dan kalian bersuka cita di rumahnya sambil berharap menggantikan anakku secepatnya?”Lalu perlahan, isak tangis Tiara mulai mengisi udara d
Pevita tetap memasang wajah ceria. Senyumnya lebar. Seolah-olah tidak peduli semua orang di hadapannya mendadak membeku dan saling lirik.“Teman-temannya Lio ya?” Dia berjalan dengan sedikit melengok. Mendekati kelima remaja yang duduk berjajar, menyalaminya satu per satu. Lalu berhenti tepat di hadapan Josh. Tanpa canggung dia menyentuh lengan Josh. “Kalau Mister…?”Josh mengambil tangan Pevita yang masih menepuk lengannya. Mengajak bersalaman. “Saya Josh, pelatih sepak bola di klub Lio.”“Oo… pantesan badannya tinggi kekar ya, ternyata atlet. Kenalin, saya Pevita.” Perempuan itu mengguncang tangan Josh, seraya berderai ringan. “Mbak Tiara, ada tamu kok nggak diajak masuk? Yuk, semua… kita ke dalam saja. Ada syukuran kecil-kecilan, tapi makanannya dijamin enak-enak loh.”“Terima kasih. Kami di sini saja.” Josh membuka suara.Wajah Pevita membias kecewa. Namun dia kembali melempar senyum manis, apalagi saat bertatapan dengan Josh. “Apa itu punya Lio?” Pevita menunjuk tas yang terbuka
Tiara membuang muka. Kok rasanya sakit sekali?“Ti, dengerin Mamah. Saat ini sebaiknya kamu jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, daripada kamu kehilangan semua. Kamu sudah kehilangan Lio, kalau kamu kehilangan Dion, artinya kamu juga kehilangan hidupmu!”Mata Bu Lela perlahan melembut. “Iklas aja sekarang ini, jalani yang sedang terjadi.”***Ternyata melihat suami menikah lagi itu rasanya perih luar biasa. Meski Tiara sudah menyiapkan hati semalaman, tapi saat mendengar Dion mengucap ikrar pernikahan yang sama dengan ikrar yang dulu ditujukan untuknya, air mata Tiara berlinangan tak bisa dibendung. Apalagi tempat dilaksanakan pernikahan itu tepat berada di bawah sebuah pigura besar. Di mana ada foto dirinya, Dion dan Lionel yang berpose saling memegang tangan sambil memasang senyum bahagia, layaknya keluarga sempurna. Ya, mereka memang keluarga sempurna. Setidaknya, pernah sempurna, sebelum…“Bu.”Tiara terkesiap manakala pundaknya ditepuk. Saat dia menoleh, Bi Ima, ART-nya meny
Tiara menggigit bibirnya. Perih. Ternyata benar, ibu mertuanya ini sudah merestui Pevita. Perempuan yang diakui sebagai salah satu staf di kantor Dion, yang dipilih sang suami untuk menjadi istri kedua.“Tiara, cepat minta maaf, cium kaki ibu mertuamu.” Bu Lela gegas menimpali. Dengan sedikit kekuatan, dia menarik lengan Tiara lalu mendorong pelan, hingga perempuan berambut panjang itu berlutut di dekat kaki Bu Nita. “Ayo minta maaf, Sayang.”Tiara menelan ludah. Sebenarnya dia juga ingin mengucap maaf, tapi entah mengapa suaranya seperti tidak bisa keluar. Tiara pun hanya bisa memegangi kedua kaki ibu mertuanya sembari menundukkan kepala. Tangannya mulai bergetaran.“Maafkan Tiara, Bu Nita. Kami berjanji hal ini nggak akan terulang lagi,” kata Pak Reza. Seakan menggantikan permintaan maaf dari mulut sang putri yang tak kunjung terucap. Dia mengikuti cara istrinya membungkukkan badan, meski tidak mencium tangan besannya itu.Bu Nita mendengus. “Saya bukannya merendahkan Tiara ya, Pak
“Jangan bodoh, Tiara! Cepat kamu balik ke rumah suamimu sekarang juga!” Suara Pak Reza menggelegar. Tak cukup hanya dengan bentakan, ayah kandung Tiara itu juga mendorong Tiara keluar, bahkan sebelum sang anak benar-benar melewati pintu ruang tamu untuk masuk ke rumah mereka. Tiara terhuyung. Terpaksa membiarkan tas besar yang dia bawa lepas dari genggamannya, daripada dia ikut jatuh bersama tas itu. “Ayah….” Tiara menatap ayahnya tidak percaya. Air matanya yang sedari tadi meluncur, bertambah deras. “Kemana lagi aku harus pulang kalau bukan ke rumah ini? Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Yah.”“Tuh, sadar udah nggak punya siapa-siapa, kenapa kamu malah pergi dari rumah suamimu?” timpal Bu Lela, ibu tiri Tiara. Perempuan yang memakai daster itu bersedekap, sedikit mendongak.Tiara menggeleng-geleng. “Mah, Mas Dion mau nikah lagi...”“Ya terus masalahnya di mana?” Bu Lela meninggikan suara. “Suamimu cuma mau nikah lagi, bukan menceraikan kamu.”“Kok Mamah tega ngomong gitu? Kita sam







