Share

Bab 2

Author: Iyustine
last update publish date: 2026-08-27 10:38:51

Tiara menggigit bibirnya. Perih. Ternyata benar, ibu mertuanya ini sudah merestui Pevita. Perempuan yang diakui sebagai salah satu staf di kantor Dion, yang dipilih sang suami untuk menjadi istri kedua.

“Tiara, cepat minta maaf, cium kaki ibu mertuamu.” Bu Lela gegas menimpali. Dengan sedikit kekuatan, dia menarik lengan Tiara lalu mendorong pelan, hingga perempuan berambut panjang itu berlutut di dekat kaki Bu Nita. “Ayo minta maaf, Sayang.”

Tiara menelan ludah. Sebenarnya dia juga ingin mengucap maaf, tapi entah mengapa suaranya seperti tidak bisa keluar. Tiara pun hanya bisa memegangi kedua kaki ibu mertuanya sembari menundukkan kepala. Tangannya mulai bergetaran.

“Maafkan Tiara, Bu Nita. Kami berjanji hal ini nggak akan terulang lagi,” kata Pak Reza. Seakan menggantikan permintaan maaf dari mulut sang putri yang tak kunjung terucap. Dia mengikuti cara istrinya membungkukkan badan, meski tidak mencium tangan besannya itu.

Bu Nita mendengus. “Saya bukannya merendahkan Tiara ya, Pak Reza. Tapi… gimana ya, Pevita jauh lebih tau adab. Bahkan demi menghormati Tiara sebagai kakak madunya, dia nggak mau mengadakan resepsi pernikahan, cuma minta sah saja. Secara terang-terangan Pevita juga selalu memikirkan Tiara sebagai istri nomor satu Dion. Tapi yang dijadikan nomor satu malah nggak layak begini.”

“Kami minta maaf, Bu….” Bu Lela kembali membungkukkan badan. “Mohon dimaafkan anak kami. Tiara ini cuma masih sangat berduka karena kehilangan Lio, jadi masih belum bisa berpikir panjang.”

“Ck, alasan utama Dion menikah lagi itu biar punya anak, pengganti Lio. Bukan buat gaya-gayaan punya dua istri, bukan juga karena anak saya mata keranjang. Dion hanya bertanggung jawab menjaga trah keturunan kami.” Bu Nita bicara dengan suara tinggi. “Lagian Dion nggak sembarangan cari istri lagi, dia pilih Pevita karena Pevita begitu paham kedudukannya sebagai istri kedua. Demi Tiara juga.”

“Iya, Bu. Kami sangat–”

“Nah, itu orangnya datang.” Bu Nita memotong ucapan Bu Lela, seraya menoleh pada mobil yang baru saja berhenti, dan terbuka pintunya.

Seorang perempuan muda memakai gaun kasual selutut warna burgundy, rambutnya hitam panjang tergerai halus menutupi sebagian pundak. Bibirnya yang tampak ranum tersenyum, tapi mendadak senyumnya kuncup, berganti dengan wajah yang tampak kuatir.

Pevita, perempuan itu, berlari mendapatkan Tiara. “Loh, ada apa ini? Mbak Tiara, kenapa, Mbak? Ayo bangun.”

Tiara pun bangkit dibantu Pevita dengan sedikit terhuyung. Dia tersenyum, mendadak malu kepada calon adik madunya ini.

“Tuh, Pak Reza dan Bu Lela liat sendiri kan, gimana Pevita menghormati Tiara?” cetus Bu Nita.

Pevita berderai ringan. “Bunda… apaan sih. Kan sudah kewajiban aku menghormati Mbak Tiara. Selain Mbak Tiara adalah kakak madu, umur Mbak Tiara juga hampir sama dengan umur mamaku, jadi ya sudah sepantasnya aku beri penghormatan pada orang tua.”

Pevita terkikik sendirian. Tapi derainya cepat habis. Mungkin dia sadar, tidak ada yang tertawa selain dirinya. “Bercanda ya, Mbak. Jangan diambil hati.”

Dion datang. Sebenarnya dia tiba bersama Pevita, tetapi lelaki itu harus memarkirkan mobil terlebih dahulu, sehingga baru bergabung. Begitu mendekat, mata Dion terlihat melebar. “Eh, ada Ayah, Mamah… ada apa ini? Tumben.”

Bu Nita spontan tertawa. “Ada yang berdrama, caper… pakai acara minggat segala, tapi belum ada satu jam balik lagi.”

“Maksudnya… Tiara?” Mata Dion semakin melebar. Tatapan yang tadinya kepada Pak Reza, kini beralih pada istrinya.

Pevita gegas bergerak. Bergayut manja di lengan Dion serta mencipta senyum manis. “Mas… sudah. Yang penting Mbak Tiara sudah balik, jangan diperpanjang, kasihan… mungkin Mbak Tiara masih perlu waktu untuk menerima kehadiran aku—”

“Oh, nggak… Tiara sudah menerima semuanya kok,” potong Bu Lela. “Dia tadi hanya sedang sedih keinget Lio. Iya kan, Yah? Tiara?”

Pak Reza langsung mengangguk. Namun Tiara perlu menghela napas terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengangguk samar.

“Yeay, kita adalah keluarga besar yang saling mendukung!” Pevita bersorak kecil. Terkesan terlalu dibuat-buat. Namun itu berhasil membuat Dion tertawa renyah. Bahkan tangan lelaki itu sempat mengelus kepala Pevita sekejap.

“Mumpung kumpul, yuk kita ngobrol di dalam, biar semakin akrab. Aku tadi beli kue sifon keju kesukaan Mbak Tiara,” lanjut Pevita. “Eh, kue-nya masih di mobil ya, Mas?”

Dion mengangguk.

“Gimana kalau kita bagi tugas, Mbak?” Pevita melempar pandang pada Tiara. “Mbak tolong ambilin kue-nya, aku ke dapur buat kasih tau Bibi untuk bikin minum.”

“Iya, ide bagus,” sambar Bu Lela. Segera mengapit lengan Tiara. “Ayo, Ti, biar Mamah bantu.”

“Kalau gitu, sekalian bawa turun barang-barang yang lain ya, Mbak!” seru Pevita ceria.

Lagi, Bu Lela langsung menyetujui secepat kilat.

Setengah menyeret, Bu Lela membawa Tiara menuju mobil Dion. “Liat, nggak ada alasan kamu minta cerai kan? Dion masih memaafkan kamu, meski Mamah rasa Pevita itu pintar akting, baiknya Pevita hanya pura-pura. Kamu harus hati-hati sama dia.”

Tiara melotot. Kaget karena perkataan ibu tirinya, dan kaget lagi ketika melihat barang yang harus dia turunkan dari mobil ternyata banyak sekali.

“Nah ini contohnya langsung ada.” Bu Lela menunjuk barang belanjaan yang bertumpuk di bagasi dan juga tempat duduk penumpang. “Suamimu banyak duit, dan dia pandai menyenangkan perempuan. Dion juga masih memanjakan kamu kan?”

Tiara tanpa sadar mengangguk. Namun memang begitu adanya. Dion bukan suami yang pelit. Selama enam belas tahun mereka berumah tangga, Tiara memang selalu dinafkahi dengan baik. Hampir semua apa yang Tiara ingin, Dion berusaha untuk membelikannya.

Mungkinkah benar kalau Dion terpaksa menikah lagi hanya karena ingin punya anak saja? Tapi kenapa harus secepat ini? Lionel baru berpulang seminggu yang lalu.

“Ck, malah nangis… Kalau kamu terus menuruti perasaan sedihmu, Dion pasti semakin jauh dari kamu,” ujar Bu Lela. Menghembus napas kasar. “Dan Pevita akan menguasai suamimu.”

“Mah, gimana nggak sedih kehilangan anak?” Tiara sedikit menyentak. Hatinya kesal juga. “Kenapa sih nggak ada yang ngerti perasaanku?”

“Lah terus sekarang kamu mau kehilangan suami juga?” Mata Bu Lela mencorong tajam. “Jangan bodoh, Tiara!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 60

    Bu Nita menghela napas. “Ya nggak dengan cara merendahkan dirimu juga, Dion.”“Merendahkan diri gimana? Justru itu menunjukkan kalau aku masih mengingat kesukaan istriku, pasti Tiara senang.” Dion menghisap rokoknya dalam-dalam.Perempuan enam puluh tujuh tahun itu kembali menghela napas. “Ya… besok Bunda belikan. Sekarang tidurlah, Bunda liat kamu ini sering banget duduk di sini sampai malam. Nggak baik buat kesehatan kamu.”Dion gegas mematikan api rokoknya, dan meninggalkan puntungnya di asbak. Dia bangkit. Menatap ibunya. “Besok tolong Bunda ikut bujuk Tiara ya.” ***Jam setengah satu, Dion sudah berada di ruang tunggu pengadilan. Duduk tidak tenang, menggoyang-goyangkan kaki. Sebentar-bentar dia melongok ke pintu masuk.Sementara sekotak pastel ayam dan sekotak siffon keju, mengisi bangku di antara Dion dan sang ibu. Bu Nita tampak sama gelisahnya dengan Dion, tapi dia masih terlihat bisa mengendalikan diri. Sibuk dengan ponselnya. “Ngobrol sama Pevita?” Dion melongok layar pon

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 59

    Tiara memejamkan mata. “Sebaiknya nggak usah, Mah. Mamah sama Ayah doain aku aja—”“Loh kenapa? Kamu udah nggak mau kenal keluargamu lagi?” potong Bu Lela. Seperti biasa, nadanya meninggi.“Kalau nggak mau kenal pasti aku nggak kirim uang kan, Mah?” Tiara menghela napas. Cepat berpikir, tapi sejujurnya dia tidak punya alasan untuk benar-benar mencegah kedatangan Bu Lela ke persidangannya besok.Hening.“Ya udah.” Suara Bu Lela melunak. “Mamah sama Ayah nggak datang, tapi janji kamu tetap kirim uang rutin ya, dan lebih dari tiga juta.”Hanya helaan napas yang Tiara berikan sebagai jawaban.“Mamah doain kamu banyak uang ya, dan selalu ingat keluarga kamu di sini.” kata Bu Lela lagi.“Udah dulu ya, Mah.” Tiara langsung mematikan sambungan. Mengirimkan nomor Ezra pada Tante Ruth.Setelahnya, Tiara bersiap menggambar. Menyiapkan alat-alat gambarnya dan membuka galeri fotonya, melihat-lihat foto masa kecil Josh yang dikirimkan tadi. Dan dia langsung jatuh hati pada foto candid Josh yang ten

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 58

    “Mas?!” Pevita tak tahan lagi untuk tidak berteriak. Tangisnya pecah. Banyak kata yang ingin keluar dari mulutnya, tapi pada akhirnya Pevita hanya bisa menangis. Kesal luar biasanya.Apalagi saat Dion mematikan sambungan tanpa berkata apa-apa lagi.Pevita terus menangis. Sudah benar-benar tidak paham dengan pemikiran lelaki itu, kok bisa-bisanya cinta Dion yang terasa membara selama dua tahun ke belakang, justru cepat susut setelah menikah. Jauh dari apa yang Dion janjikan, yang dulu katanya akan lebih sayang padanya daripada Tiara.Pevita menggerungkan tangis sejadi-jadinya.***Kret. Pintu terbuka.“Dion, Bunda denger apa yang barusan kamu omongin sama Pevita.” Bu Nita masuk perlahan.Lelaki itu terlihat kaget sebentar, untuk kemudian menghembuskan napas sembari memalingkan wajah. “Bunda nguping?” Nada suaranya terdengar kesal.“Iya. Bunda memang sengaja nguping, Bunda tau itu salah, tapi Bunda lakukan untuk kebaikanmu juga.” Bu Nita mendekat, berdiri persis di samping sang putra ya

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 57

    “Tepatnya di hari Rabu jam satu,” kata Nancy.“Oh, cepat juga ya, Bu.” Tiara menelan ludah. Perlahan menyenderkan punggungnya, sementara duduknya melorot pelan-pelan. Dia perlu rileks karena tiba-tiba merasai seluruh syarafnya lemas.Meski sebenarnya Nancy kemarin sudah memberitahu kemungkinan soal ini, tapi masih saja terasa gemetar ketika akhirnya hal tersebut menjadi kenyataan.“Iya, dan hari ini surat pemberitahuannya akan dikirim ke rumah Pak Dion Setiawan,” ucap Nancy.Tiara menghembuskan napas sedikit kencang.“Bu Tiara baik-baik saja?” Suara Nancy terdengar penuh perhatian.“Sejujurnya saya agak… gimana….” Tiara tertawa canggung. Mendadak susah untuk mendeskripsikan isi hatinya.“Gimana… yang gimana nih?” Nancy ikut tertawa, tapi tawanya renyah. Terkesan ingin menghangatkan suasana. “Bu Tiara nggak perlu takut. Selama persidangan saya sendiri yang akan mendampingi Ibu, pokoknya nempel terus ke Bu Tiara.”Tiara akhirnya terkekeh.Nancy mengimbangi tawa itu lagi. “Nanti memang a

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 56

    “Kamu…?” Wajah lelaki itu kentara terkesiap. Matanya membulat, sedang mulutnya melongo lebar. Namun beberapa detik kemudian berubah membentuk derai tawa. “Ada di sini? Ngapain?” “Kamu kenal dia?” tanya laki-laki lain yang berdiri di sebelahnya dengan wajah cengar cengir. Pandangannya jelatatan menatap Pevita yang memakai baju minim. “Boleh dong kenalan, Cantik.”Pevita langsung menampik sekuat tenaga tangan yang terulur itu. “Woee, galak!” jerit lelaki itu sembari meringis-ringis, tapi tampak sekali hanya akting. Karena setelah itu dia mengerling. “Enak nih yang galak-galak begini.”“Emang sok galak dia.” Widi, laki-laki itu, menimpali ucapan sang teman. Menatap Pevita. “Sumpah, nggak nyangka aja ternyata kamu ada di sini kalau suamimu ada di kantor.” Alis Widi menjungkit-jungkit. “Kayaknya boleh nih—”“Lo belum kapok? Pengen rasain tangan gue lagi?” Pevita berkacak pinggang. Memasang wajah super judes. “Mau sekalian gue ancurin muka jelek lo itu?”Widi tersenyum tipis. Mengedikkan

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 55

    Pevita sudah melek, tapi masih bermalasan di tempat tidur. Sengaja meminta layanan kamar untuk membawakan sarapannya, tapi sedari tadi diantarkan, makanan itu pun belum dia sentuh. Pevita tengah asyik melihat-lihat spesifikasi berbagai mobil di layar ponselnya, jadi begitu Dion mengabulkan permintaannya, dia bisa langsung tunjuk.Perempuan itu menarik napas sementara jarinya masih menggulir. Meski dia tahu awal hubungannya dengan Dion itu salah, tapi sebenarnya dia tidak punya niatan untuk menguras harta lelaki itu. Pevita hanya berniatan menjadi istri Dion satu-satunya, menikmati fasilitas sebagai istri Dion sambil menunggu Dion mati.Selisih usia mereka delapan belas tahun, dan Pevita yakin Dion akan mati duluan, jadi tanpa perlu susah payah semua harta lelaki itu otomatis jatuh kepadanya. Ibarat kata, tidak perlu bekerja keras dapat jaminan hari tua sampai ke anak cucu.Ponsel berdering, dari Tiwi. Jari Pevita gegas menekan tombol terima.“Pev, a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status