Share

Bab 126

Penulis: Yovana
Steven melepaskan cengkeramannya, merapikan jasnya, lalu tatapan dinginnya terpaku pada wajah Felix.

"Kamu nggak perlu menggunakan taktik provokasi padaku. Entah itu Vanesa atau Hanna dan anaknya, semuanya nggak akan menjadi milikmu. Sebaiknya kamu sadar diri, kembalilah ke Negara Kartan-mu. Kalau nggak, jangan salahkan aku yang nggak menghargai persahabatan kita!"

Setelah mengatakan itu, Steven mengalihkan pandangan, lalu berbalik untuk pergi.

Felix memandangi punggung Steven yang menjauh. Dia tertawa, seolah menemukan sesuatu yang membuatnya bersemangat. "Steven, orang yang melanggar sumpah akan mendapat balasannya. Apakah balasanmu akan segera datang?"

Jamuan makan malam pun berakhir.

Sekelompok orang keluar dari restoran.

Kota Lenon termasuk kota pesisir tingkat satu. Curah hujannya tidak begitu tinggi, tetapi angin dinginnya sangat menusuk tulang. Terutama saat malam tiba. Angin dingin yang menderu membuat wajah terasa perih.

Setelah meninggalkan restoran, Vanesa menyipitkan mat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 910

    Begitu Alya menelepon, Jefri mengangkat secepat kilat."Bu Alya," panggil Jefri.Alya bertanya, "Kamu benar-benar sudah pergi?""Pak Emran memintaku pulang," jawab Jefri."Kamu biarkan dia begitu saja?" tanya Alya.Jefri menjawab dengan tidak berdaya, "Bu Alya, kamu tahu karakter Pak Emran. Apalagi dia juga minum alkohol, makin sulit dibujuk."Alya mengusap dahinya, kemudian bertanya lagi, "Apa lukanya parah?""Luka cambukan sebelumnya belum sepenuhnya sembuh. Malam ini meskipun dia memakai jas, asam sulfat tetap sedikit meresap ke kulit, jadi luka lama ditambah luka baru. Dokter bilang harus benar-benar dirawat, kalau sampai infeksi, risikonya besar," jelas Jefri.Mendengar itu, alis Alya mengerut."Bu Alya, aku tahu kamu kesal dengan Pak Emran, tapi demi putra kecil kalian, turunlah dan bujuk Pak Emran. Aku khawatir kalau dia terjadi sesuatu," ujar Jefri."Baiklah," kata Alya.Alya menutup telepon, kemudian mengambil kardigan rajut panjang dan memakainya.Kini sudah pertengahan Septe

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 909

    "Biaya pengobatan akan kutanggung sepenuhnya. Soal perawatan, aku akan cari perawat untukmu," ujar Alya."Aku nggak kekurangan uang untuk biaya pengobatan. Aku juga nggak butuh perawat. Aku cuma mau kamu yang merawatku," kata Emran.Alya menarik napas dalam-dalam. Dia berkata, "Emran, jangan bertingkah nggak masuk akal.""Aku nggak sedang mengada-ada. Suruh satpam rumahmu buka gerbang. Aku akan menginap di sini malam ini, supaya kamu lebih mudah merawatku," ucap Emran.Alya tidak bisa berkata apa-apa.Dia mengatupkan bibir, lalu menghela napas berat."Emran, dengarkan baik-baik. Aku sangat berterima kasih padamu karena menyelamatkanku. Aku juga merasa bersalah karena kamu terluka karenaku. Biaya pengobatan yang harus dibayar akan kubayar, aku juga akan cari perawat untuk merawatmu. Tapi selain itu, aku nggak akan membuat kompromi tentang apa pun," ujar Alya."Kamu kejam sekali," kata Emran. Dia melanjutkan dengan suara yang terdengar serak, "Kita bahkan belum resmi bercerai. Kamu nggak

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 908

    Di detik-detik kritis itu, dua sosok tinggi besar serentak berlarian ke arah Alya.Saat asam sulfat tercurah, Alya menutup mata secara refleks. Namun, dia segera merasakan dirinya terpeluk dalam pelukan yang lebar dan kokoh.Di telinganya terdengar teriakan panik.Udara dipenuhi aroma menyengat."Bu Alya!" seru Lexa dengan panik.Petugas keamanan segera menyerbu, menahan sang istri sah. Botol kaca hitam berisi asam sulfat terjatuh, pecah berserakan.Para tamu panik, menutup mulut dan hidung sambil berlarian menjauh."Dokter Blake, kamu terluka!" seru Lexa.Di tengah kehebohan, teriakan Lexa membuat Alya tersentak.Dia segera mendorong orang di depannya, lalu menatap ke samping pada Blake.Ternyata tangan Blake terkena cipratan asam sulfat."Aku nggak apa-apa, cuma kena cipratan sedikit saja. Kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Blake.Blake menenangkan Alya sambil memeriksa apakah dia juga terkena asam sulfat.Alya menggeleng, lalu menjawab, "Aku nggak apa-apa, tapi tanganmu harus memegang

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 907

    Alya mengumpat dalam hati, dia mendorong Emran dengan keras, membuka pintu, dan melangkah cepat keluar.Emran menyentuh pipinya yang ditampar, bibir tipisnya tersenyum tipis.Dia menoleh dan berteriak mengejar Alya, "Tunggu aku!"…Gaun malam Alya malam itu tidak terlalu praktis, membuatnya berjalan lambat.Emran segera mengejarnya.Bawahan gaun yang menjuntai hingga sepatu hak tinggi membuat Alya beberapa kali hampir tersandung, membuat alis Emran berkerut panik.Dia melangkah cepat beberapa langkah, menunduk, dan mengangkat ujung gaunnya.Alya berhenti sejenak, menoleh dengan tajam, lalu menegur, "Emran, aku bilang jauh-jauh dari aku! Kamu nggak ngerti bahasa manusia ya?"Emran hanya tersenyum tanpa rasa defensif seperti biasanya.Dia tersenyum nakal sambil berkata, "Aku cuma bantu angkat gaunmu. Kalau sampai kamu jatuh, malu 'kan? Bayangkan, CEO Grup Valka jatuh di depan umum, pasti akan jadi berita utama, 'kan?""Itu bukan urusanmu!" jawab Alya.Alya mencoba meraih kembali gaunnya

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 906

    Di toilet wanita.Alya keluar dari bilik, melangkah ke wastafel, dan membuka keran air.Suara air yang mengalir menutupi suara pintu dibuka di belakangnya.Di luar, seorang pria menaruh papan bertulisan 'Sedang Dalam Perbaikan'.Dia kemudian menutup pintu dan menguncinya.Alya berhenti sejenak, menatap cermin.Dalam pantulan itu, di belakangnya, seorang pria bersandar di pintu dengan tangan terlipat sambil menatapnya.Wajah Alya langsung berubah dingin, dia bertanya, "Emran, kamu nggak ada habisnya ya?"Emran menatapnya, matanya berubah muram. Dia bertanya, "Apa yang kamu obrolin sama Blake sampai senang begitu?""Itu bukan urusanmu!" jawab Alya. Dia menutup keran, lalu mengambil beberapa tisu untuk mengeringkan tangan.Dia membuang tisu ke tempat sampah, lalu menoleh ke Emran dan berkata, "Minggir! Aku mau keluar."Tubuh besar Emran tetap tak bergerak. "Aku nggak mau," kata Emran."Emran, kamu gila ya? Ini toilet wanita!" tegur Alya dengan keras. "Kalau kamu nggak minggir, aku akan te

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 905

    Alya berkata sambil tersenyum, "Acara seperti ini sebenarnya cuma formalitas. Awalnya aku juga nggak berniat hadir, tapi penyelenggaranya cukup terpercaya. Selain itu, Ricky sebelumnya bilang mau membantu anak-anak kurang mampu, jadi aku mendonasikan sebagian atas namanya.""Ricky baru sekecil itu sudah punya kesadaran seperti ini, patut diacungi jempol," ucap Blake.Alya tersenyum dan menjawab, "Pikirannya memang lebih dewasa."Blake ikut tersenyum, lalu bertanya lagi, "Gimana kabarmu akhir-akhir ini?""Baik-baik saja," jawab Alya.Mereka bercakap-cakap ringan, seperti teman lama. Orang lain yang ingin ikut bergabung pun tidak mendapat kesempatan.…Begitu Emran memasuki aula, pandangannya langsung tertuju pada Alya. Tentu saja, dia juga melihat Blake yang berada di dekatnya.Mereka berdiri berdampingan, ngobrol santai, tertawa bersama. Pemandangan itu tampak harmonis dan menyenangkan.Emran menggertakkan giginya. Dengan langkah panjang dan cepat, dia melangkah ke papan tanda untuk ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status