FAZER LOGINDemi menyelamatkan ibunya, gadis 19 tahun itu rela menjual kehormatannya pada seorang miliarder dingin. Namun satu malam perjanjian berubah jadi takdir. Ketika rasa yang seharusnya salah justru tumbuh, keduanya terjebak antara dosa, cinta, dan rahasia masa lalu yang tak bisa dihindari.
Ver maisCahaya sore menembus tirai kamar rumah sakit, menimpa wajah pucat seorang wanita separuh baya yang terbaring lemah di ranjang sakit.
Bunyi mesin monitor detak jantung terdengar pelan, berirama lambat dan seolah memberi tanda jika waktu terus berkurang. Aira duduk di sisi ranjang. Dia memegang tangan wanita itu dengan erat. Kulit tangan itu dingin dan terasa semakin ringan dari hari ke hari. “Ibu harus sembuh, ya… Aira masih butuh Ibu,” bisik Aira pelan. Air matanya jatuh ke punggung tangan itu. Sang ibu tersenyum lemah, “Ibu kuat kok. Kamu jangan nangis terus ya.” Perasaan Aira benar-benar hancur saat melihat senyum tak berdaya itu. Tiba-tiba, suara pintu terbuka pelan. Ayah Aira berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang. Dia menggenggam selembar kertas hasil diagnosa. Sang ayah tidak mengatakan apapun. Tapi dia hanya menatap Aira, berkedip dan kemudian berbalik untuk keluar lagi. Dari sorot matanya, Aira tahu jika ayahnya sedang membawa kabar tidak baik. Jadi ketika ayahnya berbalik, dia langsung gelisah. Lalu Aira menoleh pada Ibunya kembali. Dia menepuk lembut tangan ibunya dan berkata dengan aga ragu, “Ibu, Aira keluar bentar ya, mau beli air,” Sang ibu hanya mengangguk pelan. Aira kemudian berjalan keluar. Begitu pintu tertutup, suasana di koridor rumah sakit seolah menjadi dingin, sunyi, menekan. Dia melihat ayahnya duduk di bangku panjang dengan menunduk menatap lantai. Perlahan Aira berjalan mendekat, “Ayah…” Ayahnya mengulurkan kertas dengan tangan gemetaran. “Dokter bilang… jantung ibumu harus segera di operasi. Kalau tidak…” Ayah Aira tidak sanggup melanjutkan perkataan dokter tadi. Aira menerima kertas itu dengan tangan yang tak kalah gemetaran. Dia menatap kertas itu. Angka di bagian bawah membuat seluruh sendinya lemas “Empat ratus juta?” suaranya bergetar, hampir tak terdengar. Ayahnya hanya menunduk. “Ayah sudah coba mencari ke mana-mana. Gadaikan motor, meminjam ke teman… tapi uang sebanyak itu, mana mungkin bisa kita mendapatkannya.” Suasana menjadi sangat hening. Yang terdengar hanya suara langkah para perawat yang lewat dan detak jam di ujung koridor. Aira memeluk kertas itu. Dia menangis tanpa suara. Dia benar-benar ingin berteriak. Kenapa harus terjadi pada kami! Sayangnya dia hanya bisa menahannya. Hingga membuat dadanya sangat sesak. Dunia tiba-tiba gelap bagi Aira. Dan waktu seolah berhenti. Apa yang harus mereka lakukan? Memikirkan kehilangan ibunya, dia benar-benar tidak sanggup. Tidak tidak. Dia harus mencari jalan keluar. Dia mengusap air matanya. Lalu meraih tangan sang ayah. “Ayah, jangan khawatir. Aku akan berusaha.” Sang ayah tidak mengiyakan, justru malah terisak-isak. “Aira, bagaimana caranya?” “Ayah, aku akan berusaha. Jaga ibu, ya.” Aira melepaskan tangannya. Menyentuh pipi keriput sang Ayah, lalu mengusap air matanya. ** Langit di luar rumah sakit mulai berubah warna jingga yang perlahan memudar menjadi abu-abu. Aira berdiri lama di depan jendela lorong, memandangi titik-titik hujan yang jatuh di kaca. Setiap tetes hujan yang turun terasa seperti pengingat jika waktu tidak bisa menunggu siapapun — termasuk ibunya. Suara langkah kaki para perawat yang sibuk mondar-mandir, roda brankar berderit dan aroma desinfektan menusuk hidung. Tapi Aira tidak mendengar apapun. Hanya perasaan takut yang menjalar ditubuhnya. Takut kehilangan. Takut gagal. Takut tak bisa berbuat apa-apa. “Aku harus cari cara… apapun itu.” Dia berbicara dengan dirinya sendiri. “Tidak boleh terlambat.” Aira berjalan pelan ke taman rumah sakit yang sepi. Disana, beberapa keluarga pasien duduk menunggu dengan tatapan kosong. Aira duduk di bangku besi dingin, menggenggam ponselnya erat-erat. Layarnya retak di sudut, tapi tetap menyala, memantulkan bayangan wajahnya yang basah. Tangannya gemetar saat ia membuka daftar kontak — nama demi nama muncul di layar: teman sekolah, tetangga, kenalan kerja paruh waktu. Semua sudah ia hubungi. Semuanya menolak dengan alasan yang sama: “Maaf, Rai, aku juga lagi susah.” Hujan semakin deras. Aira mendongak, menatap langit yang kini gelap. Lalu entah dari mana datangnya, selembar brosur terbang menempel di kakinya. Dia memungutnya pelan. Sebuah iklan elegan, kertas tebal dengan tulisan emas: "Leonard Alvero Group — lowongan asisten pribadi. Untuk kandidat terpilih, gaji awal: 100 juta rupiah per bulan." Aira menatap tulisan itu lama sekali, antara percaya dan tidak. Hatinya berdebar aneh — antara harapan dan firasat buruk yang tidak bisa dijelaskan. “Seratus juta…” gumamnya pelan. “Kalau aku bisa diterima, aku bisa kumpulkan uang itu dalam empat bulan…” Dia kembali menatap brosur itu. Nama perusahaan itu terdengar asing, namun aura kemewahan dari brosur itu membuat bulu kuduknya merinding. Hujan berhenti. Langit sore menjingga kembali. Aira menatap brosur itu sekali lagi sebelum akhirnya dengan yakin menyimpannya di dalam tas kecilnya. Langit malam menutupi kota dengan warna kelabu yang bikin suasana makin muram. Lampu-lampu gedung menyala terang, mirip dengan bintang yang berpendar di antara sisa kabut hujan. Aira berdiri di depan gedung tinggi bertuliskan “Leonard Alvero Group.” Huruf emasnya memantulkan lampu jalan, seolah kalau tempat itu bukan buat orang seperti dia. Aira menggenggam brosur lowongan yang sudah basah setengah. Jantungnya deg-degan nggak karuan. “Semoga masih bisa diterima, tolong ya, Tuhan,” bisiknya pelan. Itu satu-satunya harapan yang dia punya. Begitu Aira melangkah masuk, pintu kaca otomatis terbuka. Lobi di dalam kelihatan super mewah, marmer kinclong, aroma parfum mahal, dan semuanya terasa terlalu megah untuk seseorang seperti Aira. Bau parfum itu bahkan seperti menampar, ngingetin betapa jauh hidupnya dibanding orang-orang di dalam gedung ini. Resepsionis muda yang duduk di balik meja menatap Aira dari ujung kaki sampai kepala. Sepatu yang udah hampir jebol, rok lusuh, rambut basah, tatapan wanita itu seperti neraca yang lagi ngukur harga diri seseorang. “Permisi… saya Aira. Saya lihat brosur lowongan ini. Saya mau melamar jadi asisten pribadi,” ucap Aira pelan, sambil menyodorkan kertas yang hampir lecek. Wanita itu tersenyum tipis, senyum dingin yang jelas-jelas nggak ramah. “Oh, lowongannya sudah tutup.” Nada suaranya datar, tapi rasanya seperti pintu harapan digebrak tepat di depan muka Aira. Aira menelan ludah. “Tapi tolong, Mbak… saya bener-bener butuh pekerjaan ini. Ibu saya lagi di rumah sakit. Saya janji bakal kerja sebaik mungkin, saya—” Wanita itu langsung angkat tangan, memotong kalimat Aira dengan sikap angkuhnya. “Maaf, tapi kami hanya menerima kandidat yang layak. Anda bisa lihat diri Anda? Menurut Anda, Anda cocok kerja di sini? Ini Leonard Group, bukan tempat amal.” Kata-kata itu benar-benar menusuk. Pipinya panas karena malu, matanya mulai berkaca-kaca. Tapi Aira tahu dia nggak bisa nyerah. Ini satu-satunya cara buat bantu ibunya. Dia menarik napas, lalu memberanikan diri bicara lagi. “Tolong… kalau saya bisa diterima, saya mohon gaji bulan pertama bisa dinaikkan jadi empat ratus juta. Dihitung hutang juga nggak apa-apa. Ibu saya harus dioperasi minggu ini. Saya tahu itu nggak wajar, tapi saya benar-benar butuh uang itu. Saya janji bakal bayar dengan kerja saya.” Ruangan langsung hening. Hening banget, sampai rasanya waktu berhenti. Resepsionis itu mengerutkan kening, kayak nggak percaya ada orang seputus asa itu. Dan akhirnya dia mencibir. “Empat ratus juta? Kamu pikir ini tempat apa? Permintaanmu itu gila!” Dia berdiri, menatap Aira dari atas ke bawah dengan pandangan yang merendahkan. “Kalau nggak mau makin mempermalukan diri sendiri, tolong keluar. Atau saya panggil keamanan.” Air mata Aira langsung jatuh. Dia buka mulut untuk bicara, tapi suaranya patah. “Saya cuma… mau nyelamatin orang tua saya…” katanya pelan. Resepsionis itu mendengus, lalu menekan tombol di meja. Dua satpam datang. “Tolong antar gadis ini keluar,” katanya tanpa perasaan sedikit pun. Aira memandang lobi mewah itu untuk terakhir kalinya sebelum berjalan pergi. Dia berusaha mengingat setiap detailnya, entah kenapa, mungkin karena itu satu-satunya impian yang sempat dia pegang. Begitu keluar, hujan turun lagi. Seolah dunia ikut menangisi nasibnya. Tubuhnya menggigil. Entah karena dingin, atau karena hatinya benar-benar remuk. Di depan gedung, Aira berhenti. Menatap papan besar bertuliskan “Leonard Alvero Group” lama sekali. Papan itu sekarang terasa seperti tembok besar yang menghalanginya untuk menyelamatkan nyawa ibunya. “Kenapa dunia sekejam ini sama orang yang cuma mau nolong?” bisiknya lirih. Angin malam menyapu wajahnya yang basah oleh air mata dan hujan. Dan tanpa dia tahu, dari jendela tertinggi gedung itu, ada sepasang mata tajam sedang memperhatikannya. Mata dingin. Mata yang menilai.Dua minggu setelah menerima surat dari Pak Sudarto, Alya telah mengumpulkan semua keberanian yang dia miliki untuk mencari tahu siapa orang yang sebenarnya berada di balik semua rencana jahat itu. Dia menemukan loker yang disebutkan Pak Sudarto di kantor lama perusahaan konstruksi yang telah dibubarkan, dan di dalamnya terdapat tumpukan dokumen yang membuatnya menggigil saat membacanya. Hari itu pagi, Alya mengundang Raka, Nadia, Amanda, dan keluarga dekatnya untuk berkumpul di kantor yayasan. Ruangan terasa lebih kecil dari biasanya karena ketegangan yang memenuhi udara. Semua orang melihat Alya dengan wajah yang penuh dengan pertanyaan saat dia meletakkan tumpukan dokumen di atas meja besar. “Saya punya sesuatu yang harus saya tunjukkan kepada kalian semua,” ucap Alya dengan suara yang tegas namun penuh dengan kesedihan. “Ini adalah bukti yang saya temukan dari loker Pak Sudarto. Bukti yang menunjukkan bahwa ada orang lain yang memiliki peran utama dalam semua yang terjadi pada ki
Tiga minggu telah berlalu sejak Dina datang dengan dokumen dari ayahnya, dan kehidupan Alya serta orang - orang di sekitarnya terasa seperti berada di atas gunung es yang siap runtuh kapan saja. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Rizky telah merencanakan semuanya sejak awal — mulai dari membuat Nadia dekat dengan Raka hingga mencoba menghancurkan yayasan beberapa tahun kemudian. Segala sesuatu yang mereka anggap sebagai pilihan pribadi ternyata merupakan bagian dari permainan yang dirancang dengan cermat untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan. Hari itu pagi, Alya, Raka, dan Nadia berkumpul di kantor yayasan untuk membahas apa yang harus dilakukan dengan bukti baru ini. Ruangan terasa dingin meskipun udara luar sedang panas, dan suasana penuh dengan ketegangan yang bisa diraba. “Kita tidak bisa menyembunyikan ini lagi,” ucap Raka dengan suara yang tegas. “Semua orang berhak tahu bahwa mereka bukan hanya korban dari kesalahan kita, tapi juga dari permainan yang dirancang oleh Rizk
Empat bulan telah berlalu sejak acara “Bunga untuk Kebenaran” yang sukses mengungkapkan kecurangan Rizky. Kasusnya sedang dalam proses pengadilan, dan banyak bukti yang telah dikumpulkan menunjukkan bahwa dia telah terlibat dalam berbagai praktik korupsi dan kecurangan selama bertahun - tahun. Yayasan “Bunga untuk Semua” akhirnya bisa melanjutkan pembangunan gedung baru, dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat yang semakin besar.Hari itu adalah hari peresmian gedung baru yayasan yang terletak di kawasan baru di pinggiran Kota A. Gedung tiga lantai dengan desain modern namun hangat ini dilengkapi dengan ruang pelatihan, ruang bermain anak - anak, perpustakaan kecil, dan juga kebun bunga yang akan digunakan untuk menanam bibit - bibit bunga yang akan diberikan kepada masyarakat.Ratusan orang datang untuk menghadiri acara peresmian, termasuk pejabat pemerintah, pengusaha yang memiliki integritas, serta banyak anak - anak dan keluarga yang telah mendapatkan manfaat dari program y
Hanya seminggu lagi sebelum acara “Bunga untuk Kebenaran” digelar, dan suasana di kantor yayasan semakin tegang namun penuh dengan semangat. Ribuan orang telah mendaftarkan diri untuk menghadiri acara tersebut setelah berita tentang kecurangan Rizky mulai menyebar luas melalui media sosial dan liputan media massa yang semakin banyak. Namun dengan semakin dekatnya acara, ancaman dari pihak Rizky juga semakin nyata. Hari itu pagi, Alya datang ke toko “Hati yang Baru” untuk mengambil bunga - bunga yang akan digunakan sebagai dekorasi acara. Namun dia terkejut ketika melihat pintu toko yang patah dan barang - barang di dalamnya berantakan. Beberapa pajangan bunga hancur berkeping - keping, dan catatan kasar tertulis di dinding dengan semprotan warna hitam: “HENTIKAN SEMUA APA YANG KAMU LAKUKAN, ATAU AKAN ADA KERUSAKAN LEBIH BESAR.” Sari yang sudah ada di toko menangis sambil membersihkan puing - puing. “Bu Alya... saya tidak tahu siapa yang melakukan ini. Saya datang hanya beberapa meni


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações