MasukDi bandara yang riuh, Elara harus merelakan separuh jiwanya pergi. Axel memilih terbang ke Tokyo, meninggalkan kota kecil—dan perempuan yang paling ia cintai—demi satu mimpi besar: menjadi seseorang yang pantas untuk Elara. Di antara janji, pelukan terakhir, dan air mata yang tak tertahan, mereka percaya bahwa cinta mampu menunggu, bahwa jarak hanya sementara. Namun, perpisahan tak pernah sesederhana janji. Saat langkah Axel menghilang di balik pintu keberangkatan, dunia Elara runtuh perlahan. Kesepian, ketakutan, dan rasa kehilangan menyesakkan dadanya—hingga tubuhnya sendiri memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tak beres. Sesuatu yang tak terduga. Sesuatu yang bisa mengubah segalanya. Ini bukan hanya kisah tentang cinta yang terpisah oleh jarak, melainkan tentang janji yang diuji waktu, dan sebuah perpisahan yang mungkin bukan sekadar perpisahan.
Lihat lebih banyakBandara sore itu dipenuhi hiruk-pikuk penumpang yang hendak pergi, suara pengumuman keberangkatan dan derap langkah kaki memenuhi setiap sudut. Di tengah keramaian, Elara dan Axel duduk berdua di salah satu sudut yang lebih sepi, seperti terpisah dari dunia di sekitar mereka. Momen ini terasa begitu berat bagi keduanya, karena mereka tahu ini bukan perpisahan biasa. Axel, dengan tiket pesawat di tangan, siap meninggalkan kota kecil tempat mereka tumbuh untuk mengejar impiannya ke luar negeri, lebih tepatnya ke Tokyo. Namun, hatinya tersayat saat menatap wajah Elara, perempuan yang selalu ada di sisinya selama ini.
Elara menunduk, menatap lantai dengan tatapan kosong. Di dalam dirinya, perasaan takut dan cemas menyatu menjadi satu. Kepergian Axel bukanlah kepergian singkat, melainkan perjalanan panjang untuk meraih cita-cita sebagai penyanyi. "Aku harus melakukan ini, El," Axel berkata dengan nada pelan namun tegas, memecah keheningan di antara mereka. "Aku nggak akan bisa hidup dengan tenang kalau aku nggak mencoba. Aku harus pantas buat kamu. Aku harus bisa mengeluarkan kamu dari rumah itu."
Elara tahu benar apa yang Axel maksud. Keluarganya yang konservatif dan penuh tekanan membuat kehidupan di rumah menjadi tidak tertahankan. Axel, yang hanya anak yatim piatu tanpa harta dan status, merasa tak layak untuk Elara sebelum dirinya bisa menjadi seseorang. Sebelum ia punya cukup uang untuk membawa Elara pergi dari lingkungan toksik itu. Perasaan saling mencintai tak bisa begitu saja menghapus realita pahit yang mereka hadapi. Namun, mendengar kata-kata itu tak membuat hati Elara lebih ringan. Sebaliknya, ia semakin berat.
Axel memegang tangan Elara, menggenggamnya erat, seolah ingin memberikan kekuatan pada perempuan yang dia cintai. “Aku janji, aku nggak akan lama. Aku bakal kembali, aku bakal sukses, dan aku bakal jemput kamu. Kita akan menikah, El,” suaranya dipenuhi tekad. Matanya menatap langsung ke mata Elara, mencoba meyakinkannya, tetapi Elara tetap terdiam.
"Sampai kapan, Axel?" Elara akhirnya bersuara, suaranya terdengar parau, nyaris tak terdengar di antara kebisingan sekitar. “Aku takut…” Matanya berkaca-kaca, air mata yang selama ini dia tahan mulai mendesak keluar. "Bagaimana kalau… kalau kamu nggak bisa kembali? Bagaimana kalau kita terpisah terlalu lama?"
Axel meraih kedua tangan Elara, menggenggamnya erat seakan mencoba menyalurkan seluruh keberaniannya pada gadis yang dia cintai itu. “Aku nggak akan ninggalin kamu, El. Aku akan buat ini semua berhasil, demi kita. Demi masa depan kita,” Axel berkata, dan kali ini matanya ikut berkaca-kaca. Ia tahu ada banyak ketidakpastian di depan, tetapi ini adalah satu-satunya jalan. Ia harus berhasil. Ia harus jadi seseorang yang pantas bagi Elara.
Hati Elara bergejolak mendengar kata-kata itu. Ia tahu Axel benar, ia tahu ini yang terbaik untuk mereka berdua. Tapi, tetap saja, rasa takut itu tak bisa hilang begitu saja. Mereka sudah bersama selama bertahun-tahun, saling mengisi kekosongan yang mereka temukan dalam hidup masing-masing. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, mereka akan menjalani kehidupan yang berbeda, terpisah oleh jarak dan waktu.
Pengumuman keberangkatan Axel akhirnya terdengar. Waktu mereka semakin habis. Axel berdiri, menarik Elara ke dalam pelukannya. Pelukan itu erat, seolah-olah mereka berdua mencoba menyatukan semua rasa cinta, takut, dan harapan dalam satu sentuhan terakhir. Elara membenamkan wajahnya di dada Axel, menahan air matanya yang semakin deras. Axel mengusap rambut Elara, mencoba menenangkan gadis yang sudah menjadi pusat hidupnya itu.
“Aku sayang kamu, Elara. Jangan pernah ragu soal itu. Aku pasti kembali,” Axel berbisik di telinga Elara, suaranya bergetar menahan emosi yang mulai menguasainya. Elara hanya bisa mengangguk dalam pelukan Axel, tak mampu berkata apa-apa.
Ketika Axel melepaskan pelukan itu, tatapannya penuh tekad, tetapi di balik tekad itu, ada perasaan yang tak bisa dia ungkapkan. Rasa takut akan masa depan, tentang bagaimana dia harus menghadapi dunia yang begitu besar tanpa Elara di sampingnya. Tapi Axel tahu, dia tak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya jalan agar dia bisa membawa Elara keluar dari penderitaan yang selama ini dia rasakan.
Elara mengusap air matanya dengan cepat, mencoba kuat di hadapan Axel. “Aku akan menunggu kamu, Axel. Selalu,” bisiknya pelan.
Axel tersenyum lemah, lalu mengecup kening Elara dengan lembut. “Aku akan kembali sebelum kamu sempat merasa sendiri. Percaya padaku.”
Axel melangkah mundur, matanya tak lepas dari Elara. Ia berjalan menuju pintu keberangkatan, tapi sesekali menoleh, memastikan wajah Elara adalah yang terakhir kali ia lihat sebelum pergi. Setiap langkah yang ia ambil terasa begitu berat, seakan-akan kakinya enggan meninggalkan tempat itu. Namun, impian yang dia kejar sudah terlalu lama berada di depan mata. Dia harus pergi.
Di dalam pesawat, Axel memandang keluar jendela, melihat pemandangan kota yang perlahan-lahan menjauh. Di dalam dadanya, perasaan bersalah dan rindu mulai tumbuh meskipun ia belum benar-benar pergi. “Aku pasti akan kembali, El,” gumamnya dalam hati. “Aku akan jadi seseorang yang pantas untukmu, dan kita akan bersama lagi.”
Sementara itu, Elara tetap berdiri di tempatnya, tubuhnya terasa beku. Air mata masih mengalir di pipinya saat dia melihat punggung Axel yang perlahan menjauh. Di kepalanya, kenangan tentang mereka berdua berputar seperti film yang diputar ulang—setiap momen kebahagiaan, setiap kata cinta, dan janji-janji yang terucap.
Elara merasa dunia di sekitarnya runtuh. Sebuah perasaan hampa merasuki dirinya, seolah-olah separuh jiwanya pergi bersama Axel. Meski ia berusaha kuat, tetap saja, rasa takut itu tidak bisa hilang. Bagaimana jika ini adalah akhir? Bagaimana jika Axel tak pernah kembali?
Perasaan itu membuat napas Elara tercekik. Ia terduduk di kursi bandara, memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menenangkan diri. Namun, di dalam hatinya, Elara tahu bahwa perpisahan ini adalah awal dari perjalanan panjang yang penuh dengan ketidakpastian.
Cairo, sahabat Axel, berdiri di kejauhan, menyaksikan perpisahan yang penuh emosi itu tanpa ingin mengganggu. Wajahnya tegas tetapi tak dapat menyembunyikan rasa khawatir yang terpancar dari sorot matanya. Ketika Axel akhirnya pergi, ia perlahan mendekati Elara yang masih terduduk lemah, menyeka air mata di pipinya. Dengan suara lembut tetapi tegas, Cairo berkata, "Elara, ayo pulang." Ada perhatian yang tersirat dalam setiap gerakannya, meskipun ia selalu menutupinya dengan sikap kaku dan tenang.
Elara tidak merespons ajakan Cairo. Sebaliknya, tangisannya justru semakin keras, semakin dalam, membuatnya sulit bernapas. Rasa sakit di dadanya menyesakkan, seakan sebagian besar dirinya baru saja pergi bersama Axel. Selama ini, hanya Axel yang memberinya perhatian penuh—seseorang yang selalu menyapa dengan senyum hangat, menciptakan momen kecil yang membuat hidupnya terasa lebih ringan meskipun berada di tengah keluarga yang dingin. Tanpa Axel, dia merasa sendirian, terperangkap dalam kesedihan yang tak tertahankan. Cairo terdiam, tak tahu harus berkata apa, hatinya perih melihat Elara begitu hancur, tapi dia tetap diam, menunggu.
Tiba-tiba, perut Elara terasa bergejolak. Sebuah rasa mual menyergapnya tanpa peringatan, seperti ombak besar yang menghantam tepi pantai dengan kekuatan tak terduga. Elara memegangi perutnya, wajahnya mendadak pucat, dan langkahnya terhuyung. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya, tetapi rasa mual itu semakin menguat. Wajahnya mengernyit, bibirnya gemetar, dan pandangannya mulai kabur.
“El, ada apa?” tanya Cairo cemas. Tetapi gadis muda itu tidak menjawab. Ia bergegas mencari toilet sambil berusaha menahan rasa mual yang semakin menjadi. Dia memegang dinding untuk menjaga keseimbangannya, seakan seluruh dunia di sekelilingnya berputar.
Dengan langkah terburu-buru, ia menemukan sudut yang sepi, lalu membungkuk sambil memegang perutnya, perasaan tidak nyaman itu membuatnya hampir tak sanggup berdiri tegak. Rasa mual yang datang tiba-tiba ini membuat pikirannya semakin kacau. Apa yang terjadi? Kenapa tubuhnya terasa begitu aneh? Di tengah ketidaknyamanan itu, perasaannya campur aduk antara kehilangan dan kebingungan.
Dua tahun kemudian. Seseorang turun dari pesawat dengan langkah mantap. Axel kembali ke negaranya. Penampilannya jauh berbeda dari dua tahun lalu saat ia meninggalkan Indonesia. Kini, ia adalah pria yang sudah memiliki segalanya, seorang CEO muda di sebuah perusahaan hiburan besar. Mengenakan setelan formal, lengkap dengan jas mahal dan jam tangan eksklusif, setiap gerakannya memancarkan aura kesuksesan dan kekuasaan. Matanya yang tajam menyorot penuh percaya diri, tapi ada sedikit kekosongan di sana—rindu akan sesuatu yang tak bisa ia gapai, atau mungkin seseorang.Begitu Axel menjejakkan kaki di tanah Indonesia, ia langsung disambut oleh bawahannya yang telah menunggu di depan pintu keluar bandara. Tanpa banyak bicara, Axel menaiki mobil yang telah dipersiapkan dan langsung menuju kantor perusahaan yang baru saja diresmikan. Meski hari ini adalah hari yang penting, hatinya diliputi kekesalan yang tak jelas asalnya. Mungkin karena rasa lelah atau karena ada hal-hal yang mengganjal di
Elara menggigil kedinginan. Pakaian yang basah kuyup menempel erat di kulitnya, membuat tubuhnya semakin terasa berat dan lemah. Hujan yang deras membasahi jalan, seolah ikut memperberat langkah kakinya yang semakin lunglai. Setiap tetes hujan yang jatuh mengenai tubuhnya membuatnya menggertakkan gigi, berusaha menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tapi meski tubuhnya bergetar dan terasa lemah, Elara memaksa dirinya untuk terus berjalan.Di tengah keputusasaan itu, sebuah tempat tiba-tiba muncul di kepalanya—sebuah rumah. Satu-satunya tempat yang mungkin bisa menampungnya. Tanpa berpikir panjang, ia mulai menapaki langkah, meski kakinya sudah terasa kaku dan nyaris lumpuh oleh dingin. Malam semakin pekat, dan jalanan semakin sepi, hanya terdengar suara hujan yang menderu, bersaing dengan suara langkah kaki Elara yang terseret di atas aspal basah. Sinar lampu jalan yang redup sesekali menerangi wajahnya yang pucat, mengungkapkan betapa lelahnya ia setelah melalui hari yang
Cairo memegang setir dengan erat, tatapannya lurus ke depan, tetapi sesekali melirik ke arah Elara yang duduk di sampingnya. Wajah Elara tampak tenang, tapi dari sorot matanya, jelas ada badai yang bergemuruh di dalam hatinya. Sejak tadi, Cairo ingin sekali mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata seakan tertahan di kerongkongannya, tak ingin menyakiti Elara yang sudah terlihat begitu rapuh. Akhirnya, ia mengumpulkan keberanian untuk berbicara.“Elara, apa kamu yakin ingin mengatakan ini pada orang tuamu sekarang?” tanyanya hati-hati, suaranya sedikit serak.Elara menoleh ke arahnya, mata mereka bertemu. Untuk sejenak, ada keheningan yang mencekam di dalam mobil, hanya suara hujan yang mulai turun pelan-pelan di luar sana."Aku harus, Cairo," jawab Elara dengan suara pelan tetapi tegas. “Ini bukan sesuatu yang bisa kusimpan lebih lama. Aku harus bertanggung jawab atas kehamilan ini.”“Tapi kamu tahu bagaimana mereka,” Cairo berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar terlalu khawatir.
Elara berdiri di depan cermin kecil di dalam toilet, menggenggam erat tes kehamilan yang baru saja ia beli. Tangannya gemetar, wajahnya pucat, dan napasnya tak beraturan. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari alat kecil di tangannya itu. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat, seolah waktu berhenti di saat kecemasan merayap semakin dalam ke hatinya.Pikirannya dipenuhi ketakutan—sebuah kekhawatiran yang selama ini coba ia hindari. Apa yang akan terjadi jika hasilnya positif? Bagaimana masa depannya? Bagaimana dengan Axel, yang sekarang sudah jauh dari kehidupannya? Pikiran-pikiran itu berputar tanpa henti di kepalanya.Tak lama, hasilnya muncul. Dua garis merah. Elara terdiam, kedua matanya terbelalak. Syok menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Lututnya melemas, dan tanpa ia sadari, tubuhnya jatuh terduduk di lantai marmer dingin. Suara benturan lembut itu bergema di ruangan yang sepi, tetapi di kepalanya, bunyi itu seperti ledakan. Tes kehamilan tergeletak di lantai, ta












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.