LOGINDi bandara yang riuh, Elara harus merelakan separuh jiwanya pergi. Axel memilih terbang ke Tokyo, meninggalkan kota kecil—dan perempuan yang paling ia cintai—demi satu mimpi besar: menjadi seseorang yang pantas untuk Elara. Di antara janji, pelukan terakhir, dan air mata yang tak tertahan, mereka percaya bahwa cinta mampu menunggu, bahwa jarak hanya sementara. Namun, perpisahan tak pernah sesederhana janji. Saat langkah Axel menghilang di balik pintu keberangkatan, dunia Elara runtuh perlahan. Kesepian, ketakutan, dan rasa kehilangan menyesakkan dadanya—hingga tubuhnya sendiri memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tak beres. Sesuatu yang tak terduga. Sesuatu yang bisa mengubah segalanya. Ini bukan hanya kisah tentang cinta yang terpisah oleh jarak, melainkan tentang janji yang diuji waktu, dan sebuah perpisahan yang mungkin bukan sekadar perpisahan.
View MoreAxel berlari dengan napas tercekat, sementara mobil yang melaju kencang itu berhenti tepat di depan anak itu, hanya beberapa sentimeter dari tubuh kecilnya. Anak itu terpaku sejenak sebelum mundur beberapa langkah, wajahnya pucat tetapi tidak terluka. Axel segera menghampirinya, berlutut untuk memastikan semuanya baik-baik saja."Kamu nggak apa-apa?" tanya Axel, suaranya terdengar khawatir.Anak itu mengangguk cepat, meski masih sedikit gemetar. "Gak apa-apa, Om. Makasih ya," ucapnya dengan suara kecil, mencoba tersenyum.Axel menghela napas lega, mengacak rambut anak itu dengan lembut. “Lain kali hati-hati kalau nyebrang, ya. Gak usah buru-buru.""Iya, Om. Aku janji." Anak itu kembali tersenyum, tampak lebih tenang. Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanannya ke apotek dengan langkah lebih berhati-hati.Axel berdiri, kembali ke Elara dan anak-anaknya yang menunggu di taman. Elara langsung bertanya dengan nada cemas, "Anak itu nggak apa
Cairo dan Mila berdiri di depan pintu, bersiap untuk pamit. Elara memegang tangan kecil Arcella, sementara Arxel berdiri di samping Axel dengan wajah sedikit murung. “Beneran kalian mau pulang sekarang? Masih sore lho,” tanya Axel, matanya menatap Cairo dengan sedikit keraguan.“Iya, aku masih banyak urusan,” jawab Cairo sambil melirik Mila di sebelahnya. “Termasuk urusan sama cewek yang satu ini,” tambahnya dengan nada bercanda, membuat Mila mendengus kesal.“Huh, urusan apa sih? Sok sibuk banget,” Mila melontarkan komentar singkat sambil melipat tangan di dadanya.Axel tertawa kecil dan menggeleng. “Ya sudah, hati-hati di jalan. Gak usah ngebut, apalagi kamu, Cairo. Aku tahu kebiasaanmu kalau nyetir,” ucapnya setengah serius, setengah bercanda.Cairo menepuk bahu Axel dengan ringan. “Tenang aja, aku gak bakal bikin masalah. Aku makasih banget, ya, udah diizinin mampir.” Ucapannya tu
Cairo nyaris menjatuhkan cangkir tehnya saat mendengar suara keras dari arah depan rumah. Semua orang di ruang tamu spontan menoleh. Tak lama kemudian, seorang wanita masuk dengan langkah tegas, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal.“Berani-beraninya kamu pulang nggak kasih kabar dulu?” Suara tajam itu milik Mila. Ia berdiri di depan pintu dengan tangan bersedekap, matanya menatap Cairo garang.Cairo terlihat terkejut sekaligus tidak percaya. “Mila? Kok kamu bisa ke sini?”“Mila, masuk dulu. Jangan marah-marah di depan pintu, gak baik,” ucap Axel mengingatkan.“Gimana aku gak marah?” Mila mendekati Cairo dengan langkah penuh emosi. “Dia itu tiba-tiba hilang berbulan-bulan, nggak ngabarin, nggak apa-apa. Sekarang pulang diam-diam tanpa bilang ke aku. Emang aku ini apa? Teman cuma di saat butuh doang?”Cairo mengangkat kedua tangannya, menyerah. “Mila, aku baru mendarat tadi pagi. Belum
Elara masih menatapnya penuh curiga. Ia tahu istrinya tidak akan membiarkan pembicaraan tadi selesai begitu saja. Duduk di samping Elara, Axel meletakkan ponselnya di meja dan meraih tangan Elara. Namun, Elara tidak bergerak.“Dari siapa, Xel? Kok mukanya tadi serius banget?” tanyanya dengan nada yang tidak bisa ditawar.Axel mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. “Oh, tadi… tadi Cairo. Dia bilang pengen balik ke Indo. Katanya udah bosen di luar.”“Terus?”“Terus apa?” tanya Axel bingung.Elara menyipitkan mata, merasa jawaban itu terlalu sederhana. “Gitu doang?” tanyanya, jelas belum puas.Axel menahan senyumnya, mencoba untuk tetap terlihat serius. “Iya. Emang kenapa?” jawabnya polos, tapi matanya berkilat nakal.Elara mulai membuka mulut untuk protes, tapi sebelum kata-kata itu keluar, Axel meledak dalam tawa. Ia terhuyung ke belakang sambil menutupi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.