Share

Bab 30

Penulis: Yovana
Sore itu, Vanesa tiba-tiba menerima email dari mentornya. Selain terkejut, dia lebih merasa terharu.

Dia mengira mentornya sudah lama menyerah padanya.

Setelah melihat foto itu, Vanesa memberanikan diri menelepon sang mentor.

Telepon berdering tiga kali sebelum akhirnya dijawab.

Vanesa menggenggam erat ponselnya, suaranya agak gemetar. "Pak Marlon ...."

"Saat ini Pak Marlon sedang menjamu tamu penting."

Vanesa terdiam.

"Kamu Vanesa, 'kan?" Suara pria di seberang telepon terdengar arogan. "Sudah lihat foto patung dewa dari porselen itu?"

Meskipun tidak tahu siapa lawan bicaranya, orang yang bisa menjawab telepon sang mentor, seharusnya adalah orang kepercayaan sang mentor juga.

"Sudah aku lihat." Suara Vanesa terdengar tenang. "Kalau boleh tahu, kamu siapa?"

"Jake Harmon," ucap pria itu saat memperkenalkan diri. "Saat ini aku adalah murid genius yang paling dibanggakan oleh Pak Marlon!"

Vanesa lagi-lagi terdiam.

Dia merasa seolah sedang disindir.

"Pak Marlon sudah menduga kamu akan mene
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Sriyati Sri
Steven laki" tp plin plan nggk punya pendirian, udh lupakan Vanesa urus aja tuh si Hanna, Vanesa lbh baik jgn hiraukan Steven, biarkan dia nanti dlm penyesalannya, km hrs urungkan niat buat aborsi
goodnovel comment avatar
Maria Raden
sisteven ni GK ada pendirian bnget suka ksh PHP
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
ceroboh,goblok dan penuh drama
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 914

    "Kali ini dia terluka karena aku juga, jadi bisa dibilang aku memang punya tanggung jawab untuk merawatnya," hibur Alya kepada Fiona sambil tersenyum.Kemudian, Alya berjalan menghampiri Emran. Dia menatap pria itu dan berkata, "Emran, kamu ingin aku merawatmu, 'kan?"Kepala Emran terasa begitu berat, rasanya dia akan pingsan kapan saja.Namun, setelah mendengar suara Alya, Emran memaksakan diri untuk menengadah.Penglihatannya tampak kabur sehingga dia tidak bisa melihat wajah Alya dengan jelas, apalagi ekspresi wanita itu."Sayang, punggungku sakit sekali, tapi nggak apa-apa. Ini tanda kehormatan karena aku telah melindungi wanitaku!"Alya hanya terdiam.Fiona mengangkat tangannya untuk menutupi wajahnya, dia benar-benar merasa malu!Lukas juga merasa sangat malu, terutama karena si kepala pelayan Keluarga Nantar ada juga di situ.Lukas mengepalkan tangannya dan meletakkannya di depan mulutnya, lalu berdeham dengan kikuk, "Jangan bilang bocah ini sudah gila? Kurasa kita harus segera

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 913

    "Nona, sekarang bagaimana?""Sudahlah." Alya terlalu malas untuk berdebat dengan Emran. "Paman Dodit nggak perlu menghiraukannya. Aku akan naik ke atas.""Baik."Alya berbalik badan dan langsung berjalan ke lantai atas.Emran segera berdiri. "Alya, apa kamu nggak punya hati? Aku ini lagi demam tinggi!"Alya tidak menoleh dan langsung berjalan menuju ke lantai dua.Emran memperhatikan sosok Alya yang menghilang di balik tikungan tangga sambil mengerjap dengan tidak percaya.Alya benar-benar meninggalkannya begitu saja?Emran mengangkat tangannya dan mengusap wajahnya.Sedari tadi, Emran berusaha menahan kepalanya yang terasa begitu sakit karena demam tinggi.Meskipun Alya masih mengabaikannya, setidaknya sisi positifnya adalah Emran berhasil masuk melewati gerbang rumah Keluarga Nantar!Kalau sudah melewati pintu masuk, seberapa jauh sih letak kamarnya?Emran terduduk lemas di sofa, dia memejamkan matanya dengan linglung dan bergumam, "Iya, pasti nggak jauh …."...Setelah kembali ke ka

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 912

    Udara malam di Kota Amari sangat sejuk dan tenang sampai-sampai bisa mendengar bunyi jangkrik. Selain itu, rasanya juga seperti bisa mencium aroma embun yang sejuk.Alya memperhatikan mobil yang Lexa kendarai menghilang di kejauhan, lalu berbalik dan berjalan lurus menuju gerbang besi rumah Keluarga Nantar.Pria yang duduk di kursi belakang mobil Rolls-Royce itu mengamati sosok yang mendekat melalui kaca spion.Bibir pria itu sedikit melengkung ke atas.Sepertinya wanita itu masih peduli padanya ….Namun, wanita itu berjalan melewati mobil si pria dan langsung menuju pintu kecil di sebelah pos satpam.Senyuman Emran sontak membeku.Ada sebuah pintu kecil di sebelah pos satpam. Alya bisa masuk dengan memindai wajahnya.Tepat saat Alya mendorong pintu hingga terbuka, dia mendengar suara pintu mobil dibanting tertutup di belakangnya. Detik berikutnya, pergelangan tangannya pun dicengkeram!"Alya, apa kamu nggak punya hati!" Kata-kata pertama Emran adalah sebuah tuduhan. "Padahal aku terlu

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 911

    Lukas mengernyit. "Punggungnya cedera, tapi dia masih minum-minum?"Jefri pun menjawab, "Dia minum-minum di pesta dan baru setelah itu terluka."Lukas memijat pelipisnya, dia tidak ingin mengatakan apa pun lagi.Perilaku putranya satu itu selama belakangan ini cukup membuatnya resah.Fiona menghibur suaminya sejenak, lalu berkata kepada Jefri, "Kerja bagus. Kami tahu betul temperamen Emran. Kamu pasti kesulitan juga menghadapinya."Jefri menggaruk bagian belakang kepalanya. "Terima kasih, Nyonya Fiona, tapi Pak Emran sebenarnya orang yang sangat baik. Dia biasanya cukup menjagaku. Hanya saja, akhir-akhir ini dia sedang mengalami masalah emosional, jadi emosinya agak mudah tersulut ...."Jefri pun diam-diam melirik Alya.Fiona juga refleks menatap Alya.Alya hanya terdiam.Dia mengatupkan bibir, lalu berkata dengan suara pelan, "Bu, karena kalian semua sudah di sini, aku pulang dulu. Aku harus menghadiri rapat penawaran hari ini, jadi aku mungkin akan agak sibuk.""Oh, begitu. Kamu pas

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 910

    Begitu Alya menelepon, Jefri mengangkat secepat kilat."Bu Alya," panggil Jefri.Alya bertanya, "Kamu benar-benar sudah pergi?""Pak Emran memintaku pulang," jawab Jefri."Kamu biarkan dia begitu saja?" tanya Alya.Jefri menjawab dengan tidak berdaya, "Bu Alya, kamu tahu karakter Pak Emran. Apalagi dia juga minum alkohol, makin sulit dibujuk."Alya mengusap dahinya, kemudian bertanya lagi, "Apa lukanya parah?""Luka cambukan sebelumnya belum sepenuhnya sembuh. Malam ini meskipun dia memakai jas, asam sulfat tetap sedikit meresap ke kulit, jadi luka lama ditambah luka baru. Dokter bilang harus benar-benar dirawat, kalau sampai infeksi, risikonya besar," jelas Jefri.Mendengar itu, alis Alya mengerut."Bu Alya, aku tahu kamu kesal dengan Pak Emran, tapi demi putra kecil kalian, turunlah dan bujuk Pak Emran. Aku khawatir kalau dia terjadi sesuatu," ujar Jefri."Baiklah," kata Alya.Alya menutup telepon, kemudian mengambil kardigan rajut panjang dan memakainya.Kini sudah pertengahan Septe

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 909

    "Biaya pengobatan akan kutanggung sepenuhnya. Soal perawatan, aku akan cari perawat untukmu," ujar Alya."Aku nggak kekurangan uang untuk biaya pengobatan. Aku juga nggak butuh perawat. Aku cuma mau kamu yang merawatku," kata Emran.Alya menarik napas dalam-dalam. Dia berkata, "Emran, jangan bertingkah nggak masuk akal.""Aku nggak sedang mengada-ada. Suruh satpam rumahmu buka gerbang. Aku akan menginap di sini malam ini, supaya kamu lebih mudah merawatku," ucap Emran.Alya tidak bisa berkata apa-apa.Dia mengatupkan bibir, lalu menghela napas berat."Emran, dengarkan baik-baik. Aku sangat berterima kasih padamu karena menyelamatkanku. Aku juga merasa bersalah karena kamu terluka karenaku. Biaya pengobatan yang harus dibayar akan kubayar, aku juga akan cari perawat untuk merawatmu. Tapi selain itu, aku nggak akan membuat kompromi tentang apa pun," ujar Alya."Kamu kejam sekali," kata Emran. Dia melanjutkan dengan suara yang terdengar serak, "Kita bahkan belum resmi bercerai. Kamu nggak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status