Share

Bab 472

Author: Yovana
"Kalau sudah tahu, Nona Risa, tolong mulai sekarang perhatikan cara bicaramu di depan anak. Aku akan selalu menjadi ibu Alfredo. Meski aku nggak bisa mendapatkan hak asuhnya, merawat dan menyayanginya tetap menjadi tanggung jawab dan hakku sebagai seorang ibu. Itu bukan urusan Nona Risa dan aku juga nggak butuh persetujuanmu."

Mendengar itu, Risa sedikit mengangkat alisnya.

Vanesa berbalik dan berjalan mengitari bagian depan mobil, lalu membuka pintu kursi pengemudi.

Zaina berpamitan kepada Risa, kemudian ikut masuk ke mobil.

Mobil pun menyala dan melaju keluar dari Mansion Resta.

Risa berbalik dan masuk ke dalam rumah.

Dari balik jendela kaca, pandangan Steven terus mengikuti bayangan mobil yang menjauh.

Meskipun musim kemarau, tangan kiri pria itu mengenakan sarung tangan hitam.

"Masih belum puas melihatnya?" Risa berjalan mendekat, menatap wajah samping pria itu yang tegas dan tirus. "Aku tadi kena semprot darinya. Dia seperti induk ayam yang melindungi anaknya, sangat protektif dan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Risa Parsiyah
menurut aku karakter cowoknya itu egois.padahal suka tapi gk mau mengakui bikin cewenya jadi benci.bukanya jujur.semangat ya penulisnya semoga sukses
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 908

    Di detik-detik kritis itu, dua sosok tinggi besar serentak berlarian ke arah Alya.Saat asam sulfat tercurah, Alya menutup mata secara refleks. Namun, dia segera merasakan dirinya terpeluk dalam pelukan yang lebar dan kokoh.Di telinganya terdengar teriakan panik.Udara dipenuhi aroma menyengat."Bu Alya!" seru Lexa dengan panik.Petugas keamanan segera menyerbu, menahan sang istri sah. Botol kaca hitam berisi asam sulfat terjatuh, pecah berserakan.Para tamu panik, menutup mulut dan hidung sambil berlarian menjauh."Dokter Blake, kamu terluka!" seru Lexa.Di tengah kehebohan, teriakan Lexa membuat Alya tersentak.Dia segera mendorong orang di depannya, lalu menatap ke samping pada Blake.Ternyata tangan Blake terkena cipratan asam sulfat."Aku nggak apa-apa, cuma kena cipratan sedikit saja. Kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Blake.Blake menenangkan Alya sambil memeriksa apakah dia juga terkena asam sulfat.Alya menggeleng, lalu menjawab, "Aku nggak apa-apa, tapi tanganmu harus memegang

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 907

    Alya mengumpat dalam hati, dia mendorong Emran dengan keras, membuka pintu, dan melangkah cepat keluar.Emran menyentuh pipinya yang ditampar, bibir tipisnya tersenyum tipis.Dia menoleh dan berteriak mengejar Alya, "Tunggu aku!"…Gaun malam Alya malam itu tidak terlalu praktis, membuatnya berjalan lambat.Emran segera mengejarnya.Bawahan gaun yang menjuntai hingga sepatu hak tinggi membuat Alya beberapa kali hampir tersandung, membuat alis Emran berkerut panik.Dia melangkah cepat beberapa langkah, menunduk, dan mengangkat ujung gaunnya.Alya berhenti sejenak, menoleh dengan tajam, lalu menegur, "Emran, aku bilang jauh-jauh dari aku! Kamu nggak ngerti bahasa manusia ya?"Emran hanya tersenyum tanpa rasa defensif seperti biasanya.Dia tersenyum nakal sambil berkata, "Aku cuma bantu angkat gaunmu. Kalau sampai kamu jatuh, malu 'kan? Bayangkan, CEO Grup Valka jatuh di depan umum, pasti akan jadi berita utama, 'kan?""Itu bukan urusanmu!" jawab Alya.Alya mencoba meraih kembali gaunnya

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 906

    Di toilet wanita.Alya keluar dari bilik, melangkah ke wastafel, dan membuka keran air.Suara air yang mengalir menutupi suara pintu dibuka di belakangnya.Di luar, seorang pria menaruh papan bertulisan 'Sedang Dalam Perbaikan'.Dia kemudian menutup pintu dan menguncinya.Alya berhenti sejenak, menatap cermin.Dalam pantulan itu, di belakangnya, seorang pria bersandar di pintu dengan tangan terlipat sambil menatapnya.Wajah Alya langsung berubah dingin, dia bertanya, "Emran, kamu nggak ada habisnya ya?"Emran menatapnya, matanya berubah muram. Dia bertanya, "Apa yang kamu obrolin sama Blake sampai senang begitu?""Itu bukan urusanmu!" jawab Alya. Dia menutup keran, lalu mengambil beberapa tisu untuk mengeringkan tangan.Dia membuang tisu ke tempat sampah, lalu menoleh ke Emran dan berkata, "Minggir! Aku mau keluar."Tubuh besar Emran tetap tak bergerak. "Aku nggak mau," kata Emran."Emran, kamu gila ya? Ini toilet wanita!" tegur Alya dengan keras. "Kalau kamu nggak minggir, aku akan te

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 905

    Alya berkata sambil tersenyum, "Acara seperti ini sebenarnya cuma formalitas. Awalnya aku juga nggak berniat hadir, tapi penyelenggaranya cukup terpercaya. Selain itu, Ricky sebelumnya bilang mau membantu anak-anak kurang mampu, jadi aku mendonasikan sebagian atas namanya.""Ricky baru sekecil itu sudah punya kesadaran seperti ini, patut diacungi jempol," ucap Blake.Alya tersenyum dan menjawab, "Pikirannya memang lebih dewasa."Blake ikut tersenyum, lalu bertanya lagi, "Gimana kabarmu akhir-akhir ini?""Baik-baik saja," jawab Alya.Mereka bercakap-cakap ringan, seperti teman lama. Orang lain yang ingin ikut bergabung pun tidak mendapat kesempatan.…Begitu Emran memasuki aula, pandangannya langsung tertuju pada Alya. Tentu saja, dia juga melihat Blake yang berada di dekatnya.Mereka berdiri berdampingan, ngobrol santai, tertawa bersama. Pemandangan itu tampak harmonis dan menyenangkan.Emran menggertakkan giginya. Dengan langkah panjang dan cepat, dia melangkah ke papan tanda untuk ta

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 904

    "Melahirkan anak berengsek sepertimu, sampai-sampai aku curiga fengsui Keluarga Witanda bermasalah. Leluhur mana mungkin datang lewat mimpi untuk memarahiku? Orang yang seharusnya mereka marahi itu kamu!" ucap Fiona.Emran memejamkan mata, menghela napas panjang tanpa daya.Dia berkata, "Ibu, aku terus terang saja. Sekarang aku sedang berusaha semaksimal mungkin menghormati kemauan Alya, tapi perceraian masih ada masa tunggu satu bulan. Dalam satu bulan ini, aku akan membuktikan lewat tindakanku bahwa aku benar-benar berubah. Aku nggak berharap Ibu dan Ayah bisa membelaku, tapi seenggaknya jangan menambah kekacauan, bisa?""Memangnya aku masih perlu buat kekacauan?" tanya Fiona. Dia mencibir sinis lagi, "Kekacauanku mana bisa menyaingi ulah Yulia-mu itu?"Emran mengerutkan kening, lalu berkata, "Ibu, aku serius."Fiona mendengus, malas melanjutkan omelan.Mana mungkin dia tidak ingin memberi kesempatan pada anaknya sendiri?Walaupun dia benar-benar merasa anaknya ini gagal total, tetap

  • Cinta Kita Sudah Sampai Ujung   Bab 903

    Mendengar perkataan Fiona, Alya hanya tersenyum tipis.Dia tahu semua yang dikatakan Fiona berasal dari ketulusan hati. Namun, dia tidak ingin membuat hubungan mereka menjadi terlalu rumit.Setelah bercerai nanti, Alya tetaplah ibu dari Ricky. Jika dia benar-benar mengakui Fiona sebagai ibu angkat, maka garis kekerabatan mereka akan menjadi kacau.Lagi pula, dia dan Emran belum resmi menerima akta cerai. Untuk sementara, dia tidak berniat membahas topik itu dengan Fiona.Hubungan mertua dan menantu ini setidaknya masih akan berlangsung satu bulan lagi. Panggilan 'Ibu' itu, untuk saat ini memang masih berlaku.Fiona menatap Alya dari atas ke bawah. "Alya, kamu mau pergi ke acara malam?" tanya Fiona."Iya, malam ini ada acara amal," jawab Alya.Fiona tersenyum sambil mengangguk. "Gaunmu ini benar-benar cocok dengan bentuk tubuhmu, tapi lehermu kelihatan agak kosong. Aduh, aku nggak tahu sebelumnya. Kalau tahu, di rumah Ibu banyak sekali kalung, ambil saja satu untuk dipadukan," kata Fion

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status