MasukAnya hancur saat mengetahui suaminya berselingkuh. Bukannya minta maaf pada istrinya, lelaki itu justru menyalahkan Anya karna tak kunjung hamil dan menganggapnya mandul. Terluka dan tak tahu harus mengadu pada siapa, Anya melarikan diri ke sebuah club dan mabuk sampai kehilangan kendali, dan tanpa pernah dia rencanakan, dia menghabiskan malam dengan pria asing di sana. Sebulan kemudian, dua kenyataan menghantamnya sekaligus, dia dinyatakan hamil. Dan suaminya menggugat cerai demi selingkuhannya. Yang lebih mengejutkan Anya, anak yang dia kandung bukan milik suaminya, melainkan pria asing yang ternyata adalah bos dari mantan suaminya. “Jangan sembunyikan kehamilanmu. Anak itu darah daging saya.”
Lihat lebih banyakTubuh Anya menegang melihat suaminya dengan bangga memperkenalkan seorang perempuan yang kini berdiri di samping suaminya sambil bergelayut manja.
“Dia siapa?” Suara Anya hampir tenggelam. “Tentu saja calon istriku. Siapa lagi, kamu bisa melihat sendiri bagaimana mesranya kami sekarang,” balas Kevin dengan santainya dan membelai wajah perempuan itu. “Apa Mas lupa kita masih suami istri dan Mas membawa perempuan lain ke rumah ini! Aku tidak terima!” “Tidak ada yang bisa melarangku terutama kamu, Anya! Seharusnya kamu sadar diri, kamu wanita mandul yang tidak berguna. Jadi, wajar aku mencari perempuan lain untuk mengandung anakku.” Tubuh Anya bergetar ia menatap kembali perempuan di samping suaminya.”Aku tidak mandul, Mas. Dokter bilang aku bisa hamil.” “Kalaupun bisa hamil, kenapa sampai dua tahun tidak hamil? Itu menandakan kamu memang mandul, Anya. Tidak perlu mengelak.” Kevin memilih pergi dengan kekasihnya dan masuk ke dalam kamar. Melihat itu Anya segera mengejar keduanya tapi sebelum ia mencegat, keduanya sudah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. “Mas! Buka pintunya, Mas!” Anya berteriak histeris diiringi dengan tangisan. Tapi Kevin tidak membukanya dan membiarkan Anya menangis tersedu-sedu di luar sana. Kedua tangan Anya terkepal kuat, hatinya semakin sakit dan hancur ketika suara desahan dan lenguhan terdengar samar-samar di dalam sana. “Kenapa kamu tega sekali padaku, Mas.” Anya mencengkram kuat perutnya kalaupun ia memang tidak bisa hamil seharusnya suaminya tidak sejahat itu menjalin hubungan dengan perempuan lain. Ia juga punya perasaan, bukan keinginannya seperti ini. Ia juga menginginkan anak. Tubuh Anya langsung jatuh meluruh ke lantai dan bersandar di depan pintu yang terus terdengar suara lenguhan keduanya, tanpa merasa bersalah dengan hubungan yang di mana Kevin masih berstatus suami Anya. Pukul delapan pagi… Kevin baru membuka pintu kamar dan tampak terkejut melihat Anya bersandar di pintu dan langsung jatuh tersungkur. Wajah perempuan itu terlihat pucat dengan mata yang bengkak, semalaman ia menangis dan tidak tidur sama sekali. Semalaman Anya berada di depan kamar, menunggu suaminya keluar. Anya dengan susah payah berdiri dan mendongak menatap suaminya. “Mas…” Anya menatap suaminya dengan suara sesegukan. Kevin menatap jijik dan mendorong Anya yang hampir jatuh tersungkur.”Aku semakin muak melihatmu. Sudah jelek, mandul!” “Tolong Mas, jangan seperti ini.” Anya menggenggam erat tangan Kevin, tapi laki-laki itu dengan cepat melepaskannya. “Sebaiknya kamu siapkan dirimu. Aku akan segera menceraikanmu.” Mendengar itu wajah pucat Anya langsung menegang.”Mas… tolong jangan ceraikan aku. Aku tidak mau, aku sangat mencintaimu, Mas.” Anya langsung memeluk suaminya, menangis terisak-isak. Tetapi usaha yang ia lakukan tidak ada gunanya. Ia langsung di dorong hingga jatuh terjungkal. “Dengar Anya, aku sudah sangat muak denganmu. Kamu tidak secantik dulu, jelek, mandul. Seharusnya aku tidak menikahimu. Kamu memang pantas aku ceraikan dan aku pun pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik darimu.” Anya merangkak dan memeluk erat kaki suaminya, ia mendongak menatap penuh permohonan pada suaminya.”Mas aku tidak mau cerai. Sampai kapanpun aku tidak mau cerai.” Meskipun begitu Anya tetap mendapatkan perlakuan yang sama, dikasari dan dihina habis-habisan oleh suaminya. Suasana rumah yang selalu sunyi dan tenang kini penuh kesedihan dan amarah yang tidak bisa direndam. Sikap suaminya yang selalu dingin dan enggan menyentuhnya, menjawab semua keresahan Anya beberapa bulan ini. Tapi ia tidak menyangka suaminya akan selingkuh dan berniat menceraikan dirinya dengan mudahnya perkara ia tidak kunjung hamil. • • Suara musik disko yang memekakkan telinga justru menjadi hiburan yang menyenangkan untuk para pengunjung yang ada di sana. Di tengah Euforia club yang semakin ramai oleh pengunjung, sosok Anya duduk termenung dengan tatapan kosong seperti mayat hidup. Dalam kondisi yang kacau dan perasaan yang hancur ia datang ke tempat ini. Tempat yang dulu selalu ia datangi dan menjadi tempat yang sangat dilarang suaminya untuk ia datangi. Entahlah, ia hanya melampiaskan apa yang bisa dilakukan untuk melupakan semuanya meskipun hanya sesaat. Ia langsung meminum wine yang langsung menyebar rasa pahit dalam mulutnya. Rasanya ia ingin muntah, tapi justru minuman ini membuatnya ingin meminumnya lebih banyak agar lebih jatuh dalam halusinasi yang membuat akalnya menipis. Sambil meneguk setiap minuman itu ia menangis seperti orang gila. Suara tangisannya terendam oleh suara musik yang semakin keras. Beberapa saat kemudian, ia mulai merasa mabuk dan kepala yang terasa pening. Ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju toilet dengan langkah sempoyongan. Namun, ia justru menabrak seseorang dan hampir jatuh bila sepasang tangan tidak menangkap tubuhnya. Anya mendongak menatap laki-laki di hadapannya. Laki-laki berparas tampan dengan tubuh kokoh yang sempurna. Kedua tangannya mencengkram kemeja laki-laki itu. “Lihatlah, aku hancur sekali. Aku mandul, apakah perempuan mandul tidak boleh dicintai dan mendapatkan kebahagiaannya?” Anya menangkup wajah laki-laki itu yang tampak menegang sekaligus terkejut.”Apa wajahku sangat buruk , apa aku tidak secantik perempuan di luaran sana hingga pantas diselingkuhi suamiku?” Ia kembali merancau, mengeluarkan segala rasa sakit yang ia rasakan. Laki-laki itu hendak membuka suara, tapi Anya tanpa ragu memeluknya dan tiba-tiba langsung pingsan. Tubuhnya hampir jatuh ke lantai dan laki-laki itu untuk kedua kalinya langsung menahan tubuh ringkih tersebut. “Hey! Bangun!” Laki-laki itu menepuk-nepuk pipi Anya yang tak merespon sama sekali. Ia berdecih dan hendak meninggalkan perempuan itu di sini, karna ia pun tidak kenal dan tidak peduli. Namun, antara pikiran dan hatinya saling bertolak belakang. Dengan enggan, laki-laki itu akhirnya menggendong perempuan tersebut dan membawanya ke kamar di lantai atas club. Niatnya sederhana, meletakkannya di tempat aman, lalu pergi. Tapi rencana itu berantakan seketika. Begitu tubuh perempuan itu terbaring di atas kasur, matanya perlahan terbuka. Anya sadar. Tangannya refleks menahan lengan laki-laki itu, tepat sebelum tubuhnya nyaris jatuh menimpanya. Laki-laki itu tertegun, jarak mereka kini begitu dekat, bibir keduanya hampir bersentuhan. Ia bisa merasakan hembusan napas Anya yang bercampur aroma alkohol. "Bisakah kamu puaskan aku, biarkan aku merasakan milikmu. Suamiku sudah lama tidak menyentuhku.” "Saya tidak akan menyentuhmu apalagi menanamkan benih saya di rahimmu. Apalagi pada perempuan bersuami.” "Tolong, sekali saja lakukan ini.” Anya merengek dan mengalungkan tangannya di leher laki-laki itu.”Aku akan membayar mahal.” “Aku mandul, mau beberapa kali pun kita berhubungan aku tidak akan hamil,” ucap Anya dengan suara yang tak jelas karna mabuk, tapi laki-laki itu bisa memahaminya. “Baiklah bila kamu yang memintanya lebih dulu. Jadi, jangan menyesal!”Suara bel yang berbunyi keras membuat seorang perempuan yang tengah sibuk menghias wajahnya langsung menoleh ke sumber suara.Senyuman terbit di wajahnya. Ia segera bangkit dari kursi, namun sebelumnya ia membenarkan piyama yang ia kenakan. Memastikan dirinya benar-benar seperti orang sakit.Ia melangkah cepat menuju pintu, begitu dibuka. Senyuman terukir di bibir Elsa begitu melihat sosok Rayden. Laki-laki itu benar-benar datang ke sini. Sesuai keyakinannya, Rayden takkan bisa mengabaikannya dalam waktu yang lama.Elsa langsung memasang raut wajah yang menahan sakit.”Maaf membuat kamu repot datang ke sini, Rayden. Aku sakit jadi…”Perkataan Elsa terjeda begitu seorang perempuan muncul di belakang Rayden. Melihat arah pandang Elsa, Rayden melirik Anya di sampingnya.“Aku lupa memberitahumu, aku datang bersama dia. Kenalkan dia Anya,” ucap Rayden.Anya mengulurkan tangannya, namun tidak di sambut oleh Elsa yang justru menelisik penampilannya dari ujung kaki sampai rambut. Hingga membu
Melihat wajah tegang Anya, Rayden tiba-tiba terkekeh, membuat perempuan itu memasang wajah bingungnya.“Aku bercanda,” ucapnya.Raut wajah Anya yang tegang kini sedikit melunak, tapi tidak sepenuhnya menenangkan detak jantungnya yang berdebar tak karuan.Melihat Anya masih diam mematung, Rayden mengalihkan topik.“Anya, bisa buatkan kopi?”Anya yang sebelumnya diam kaku, kini mulai bergerak dan menganggukkan kepalanya. Tanpa mengatakan apapun ia beranjak dari tempat itu, melangkah menuju dapur.Begitu tiba di sana, bi Jumi langsung memberikan godaan pada Anya.“Gelangnya bagus, Mbak,” ucapnya sambil melirik gelang yang Anya kenakan.”Sepertinya Pak Rayden tahu gelang yang cocok untuk Mbak Anya.”Anya tidak menjawab. Ia tetap fokus meracik kopi untuk Rayden, seakan setiap gerakan tangannya adalah cara untuk menghindari percakapan . Namun, ucapan Bi Jumi berikutnya membuat gerakan tangannya seketika terhenti.“Sepertinya Pak Rayden sangat mencintai Mbak Anya. Saya bisa lihat dari gerak-g
Dalam masalah belanja bulanan, Rayden selalu menyerahkan semuanya pada bi Jumi. Karna hanya wanita paruh baya itu yang tahu bahan makanan apa saja yang habis.Namun, saat bi Jumi akan pergi dari apartemen tanpa diduga Anya keluar dari kamar, berjalan dengan tergesa menghampirinya.“Mbak Anya jangan lari, nanti jatuh,” tegurnya sambil meringis ngilu.Sementara Anya hanya tersenyum kecil seakan menganggap hal itu terlalu berlebihan. Lagipula ia hanya lari ringan, tak akan membuat kandungannya kenapa-kenapa.“Bibi mau ke pasar?” tanya Anya yang terlihat mengenakan pakaian rapi serta tas selempangan kecil.“Iya, Mbak Anya. Apa mau menitip sesuatu?”“Tidak. Justru aku ingin ikut dengan Bibi ke pasar.” Anya tersenyum sumringah mengatakan hal tersebut.Mendengar itu justru bi Jumi merasa ragu sekaligus takut. Karna majikannya, pak Rayden, justru memintanya agar mengawasi Anya agar tidak keluar dari apartemen ini kecuali setelah majikannya itu pulang.“Aduh, kalau untuk itu saya tidak bisa, M
Anya buru-buru menjauh dari Rayden, ia segera turun dari ranjang. Namun, karna tak hati-hati ia langsung terjatuh ke bawah. Rayden refleks langsung bangun dari kasur. Ia segera membantu Anya yang memegangi perutnya. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Rayden begitu khawatir. “Aku… aku tidak apa-apa,” jawab Anya sambil berdiri itu pun dibantu oleh Rayden. “Lain kali lebih hati-hati saat turun dari ranjang, kamu sedang hamil besar, Anya.” Perempuan itu hanya mengangguk. Ia melirik kedua tangan Rayden masih memegang pinggangnya. “Bisa dilepaskan?” Rayden langsung melepaskan rengkuhannya. “Bapak bisa kembali ke kamar Anda sendiri.” Ucapan Anya yang tersirat sendirian halus membuat Rayden langsung tersadar. “Maafkan aku, Anya. Aku sampai tidak sadar tidur di sini.” Anya hanya mengangguk kecil, dan setelahnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Pun saat Anya sudah di dalam terdengar suara Zico di sana. “Hati-hati di dalam sana, jangan sampai terpeleset.” Setelahnya terdenga
Awalnya Anya ingin langsung istirahat. Tapi ia urungkan ketika ingin memakan buah-buahan yang disediakan oleh Rayden.Suasana ruang makan sunyi, hanya terdengar bunyi kecil garpu yang menyentuh piring. Anya menyuap potongan buah ke dalam mulutnya perlahan. Tatapannya melayang ke arah balkon yang se
Setelah terdiam karna terkejut, kini Kevin membuka suara.”Ada hubungan apa Bapak dengan dia?” tanyanya.Rayden semakin menarik Anya hingga masuk ke dalam dekapannya, membuat dua orang di depannya semakin terkejut dengan tindakannya.“Saya rasa kamu bisa menilai sendiri,” jawab Rayden dingin.Kevin
Pukul lima sore….Rayden berpamitan pada Hanum, lalu meminta izin untuk membawa Anya pergi bersamanya. Anak-anak panti tampak berat berpisah dengan Anya. Beberapa di antara mereka bahkan tak kuasa menahan tangis ketika harus ditinggalkan oleh perempuan itu.“Selama Tante tidak ada, kalian jangan na
Rayden memijat pangkal hidungnya, dan perlahan menoleh pada gorden tipis yang terlihat di luar sudah sangat terang.Ia pun bangun dari kasur yang tadi malam ia tempati. Entah tidak biasa atau bagaimana, tapi yang jelas tubuhnya terasa pegal-pegal sekali.Rayden masih mengenakan pakaian yang semalam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan